"Mbak Nay percuma punya handphone mahal, tapi nggak diaktifin. Huh," omel Gita saat Kanaya sudah kembali lagi ke butik.
"Di Bali nggak ada sinyal, Git. Gue kan ke pantai." Kanaya mencoba beralibi. Padahal selama di Bali, khususnya di homestay ada fasilitas wifi. Namun ia sengaja menonaktifkan handphonenya dengan alasan menenangkan diri. "Gue kasih bonus deh buat lo udah handle semuanya, Git."
"Bukan masalah bonus Mbak Nay, tapi Gita tuh khawatir sama Mbak."
Kedua sudut bibir Kanaya tertarik, Gita memang bukan hanya sekadar asisten, tapi gadis berhijab itu sudah menjadi adik sekaligus sahabat untuknya. "Ulu-uluuu makasih lho Git, gue terharu dikhawatirin gitu,"ujar Kanaya dengan nada jenaka. Senyumnya semakin mengembang saat melihat wajah Gita yang manyun. Seperti sebal karena Kanaya yang menganggap rasa khawatirnya itu sebagai candaan.
"Jangan manyun gitu, ntar nggak gue kasih bonus lho."
"Eh." Mau tak mau Gita langsung menarik kedua sudut bibirnya secepat kilat. "Udah nggak manyun nih mbak."
Kanaya terkekeh melihat ekspresi Gita yang lucu.
"Waktu Mbak Nay ke Bali, Popeyenya Mbak Nay ke sini," ujar Gita yang membuat Kanaya langsung terpaku. Tubuhnya seolah menjadi kaku seperti patung hanya karena mendengar nama itu.
"Gue nggak mau denger nama itu lagi, Git," lirih Kanaya. Entah mengapa sebuah ruang di hatinya terasa hampa sekaligus sakit mengingat kepergian Popeyenya yang tanpa pamit. Delapan tahun bukanlah waktu yang sebentar. Kanaya sudah mati-matian menjaga kesetiannya hanya untuk satu orang. Menolak semua laki-laki yang berniat mendekatinya. Namun balasan yang ia dapat tidak seperti apa yang ia perbuat.
"Tapi Mbak Nay ...."
"Sekali lagi lo sebut nama itu di depan gue, gue pecat lo!" sentak Kanaya menyela ucapan Gita. Gita langsung menutup mulutnya sendiri karena merasa sudah lancang. Tidak seharusnya ia ikut campur terlalu dalam masalah Kanaya.
"Maaf Mbak Nay."
Kanaya menarik napas dalam, tidak seharusnya ia seperti itu pada Gita. Gadis itu hanya menyampaikan apa yang perlu disampaikan olehnya. Tapi hanya karena mendengar nama itu, amarahnya kian memuncak.
"It's okay." Kanaya mencoba tersenyum untuk mengurangi situasi hatinya yang memanas. "Selama gue pergi ada kabar apa lagi?"
"Gita sampai lupa," ujar Gita yang selanjutnya berlari mengambil sebuah tablet dan memberikannya pada Kanaya. "Dua hari yang lalu, manager Shenina Renata email Mbak. Shena mau Mbak yang desain evening gown buat menyambut kepulangannya ke Indonesia."
"Serius dia pulang ke Indonesia?" tanya Kanaya antusias. Pasalnya Shenina Renata adalah model favoritnya. Bisa dibilang ia sangat menyukai model itu sejak pertama kali terjun ke dunia fashion. Bahkan Kanaya sempat bercita-cita ingin membuatkan desain gaun yang dipakai oleh Shena, tapi belum kesampaian. Shena terlanjur pindah ke Los Angeles.
Gita mengangguk. "Jadi, Shena pengen buat acara malam gitu terus ngundang teman-temannya yang lain," jelas Gita.
"Oke, lo atur aja jadwal pertemuan gue sama dia. Tapi setelah gue pulang dari Bandung."
"Lho Mbak Nay mau pulang kampung?" tanya Gita yang dibalas anggukkan oleh Kanaya. Belum sempat Gita bertanya lagi, sebuah mobil berwarna hitam terparkir di depan butik Kanaya.
Pintu mobil terbuka, menampakkan sosok laki-laki berambut jambul nan klimis, dengan kemeja putih panjang garis-garis hitam. Ditambah celana hitam berbahan katun. Wajahnya yang segar tertampar sinar matahari siang. Membuat wajah itu semakin bersinar, hingga kedua gadis di butik tak lepas menatap ke arahnya.
"Itu si Mas GGS makin ganteng aja Mbak Nay," seru Gita sambil tetap memandang lelaki yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka. "Kalo dilihat-lihat lagi nih Mbak, Mas GGS itu mirip Rory Asyari, news anchor favorit kita Mbak."
"Apaan sih kamu Git. Ya masih gantengan Rory Asyari lah," sergah Kanaya. Ia tak terima kalau Kenan disamakan oleh news anchor kesayangannya.
"Beneran Mbak Nay, sama-sama punya kegantengan khas Indonesia banget. Muka khas Jawa yang semanis gula aren, beneran nyegerin kalau dibuat es kelapa muda."
Kanaya geleng-geleng karena tidak mengerti dengan ucapan Gita. Apa korelasinya antara muka ganteng dengan es kepala muda? Ck.
"Istigfar kamu, Git. Udah zina mata." ingat Kanaya yang membalikkan ucapan Gita kala ia berteriak histeri melihat Rory Asyari membawakan berita. Kali ini Kanaya bisa tertawa puas.
"Astagfirullah, ya Allah maafin Gita."
"Permisi, Assalamu'alaikum." Laki-laki yang menjadi objek pembicaraan keduanya sudah menampakkan diri dengan senyum semanis gula aren kalau kata Gita.
"Waalaikumsalam," jawab keduanya kompak.
"Nay sudah siap?" tanya Kenan pada Kanaya.
"Sudah, Mas."
"Lho, katanya Mbak Nay mau pulang kampung. Kok malah pergi sama Mas ganteng?" tanya Gita bingung.
"Dia pulang kampung sama saya, Mbak Git," jelas Kenan. Gita langsung menatap ke arah Kanaya menuntut penjelasan. Namun Kanaya hanya mengendikkan bahunya saja.
"Mau ngapain?" tanya Gita lagi.
"Kepo banget sih lo, Git!" seru Kanaya.
"Mau minta izin sama Ayah Kanaya. Kami mau menikah," jawab Kenan.
"APA?!" Gita sampai berteriak. Selanjutnya ia langsung menutup mulutnya sendiri karena tidak sopan. Kepalanya sampai geleng-geleng karena tidak menyangka keduanya akan menikah.
Dulu, kalau Gita tidak salah Kanaya pernah bilang Kenan itu sinting. Namun sepertinya yang lebih sinting itu Kanaya. Pacarannya dengan siapa, tapi nikahnya dengan siapa. Benar-benar di luar nalarnya.
"Ayo Mas kita berangkat, nanti sampai sana takut kesorean."
Kenan mengangguk. "Mari Mbak Git kami berangkat dulu," pamit Kenan pada Gita yang masih terpaku.
"Jagain ya Git butik gue. Nanti bonusnya gue transfer," seru Kanaya sambil mengerlingkan mata kirinya.
"Ck, orang cantik mah bebas ye," lirih Gita saat Kenan dan Kanaya sudah berjalan menuju mobil. Tapi apapun keputusan Kanaya, Gita hanya berdoa, semoga Kanaya mendapatkan kebahagiannya.
****
Mobil Kenan sudah memasuki tol Cikampek. Berkali-kali Kanaya menarik napas dalam, seraya menetralkan degupan jantung yang di luar batas normal. Segala cara juga sudah dilakukan oleh Kanaya, mulai dari membuka akun instagramnya, melihat beauty vlogger di youtube ataupun food vlogger, namun hal itu tidak mengurangi detak jantungnya. Malah semakin mobil Kenan melaju lebih jauh meninggalkan Jakarta, jantung Kanaya semakin berdetak hingga menggedor tulang rusuknya.
Ekor matanya melirik laki-laki yang tengah berkonsentrasi menyetir. Nampak serius, seolah tidak tahu kalau di sampingnya ada Kanaya yang deg-degan setengah mati karena ulahnya.
"Mas deg-degan nggak mau ketemu Ayah?" tanya Kanaya untuk memecah keheningan diantara keduanya. Sekaligus untuk menjawab rasa penasarannya.
"Nggak, biasa aja."
Sial! Jadi cuma Kanaya yang deg-degan sampai rasanya mau semaput.
"Kenapa? Kamu deg-degan?" tanya Kenan seraya menaikkan satu alisnya ke atas.
Kanaya mengangguk. "Masalahnya ini pertama kali laki-laki dateng ke rumah buat ketemu Ayah," aku Kanaya dengan jujur. Bahkan Marvin yang sudah berpacaran delapan tahun pun belum pernah bertemu dengan Ayahnya.
"Seriously?" tanya Kenan dengan antusias. "Wah kalau gitu suatu kehormatan buat saya dong," ujar Kenan dengan nada menggoda. Kanaya hanya bisa merengut sebal mendengar hal itu. Bisa-bisanya Kenan tidak punya rasa simpati pada detak jantungnya yang tidak bisa diatur ini.
Kenan menyentuh sesuatu di dashboard, tidak lama muncul sebuah alunan musik. Kanaya memejamkan mata menikmati lagu yang berjudul Jealous dari Labrinth itu. Secara perlahan detak jantungnya tidak seheboh tadi. Terlebih saat mendengar suara laki-laki di sampingnya yang ikut menyanyi.
"Cause I wish you the best of
All this world could give."
Mata Kanaya terbuka, ia melirik Kenan yang juga tengah melihatnya. "And I told you when you left me. There's nothing to forgive." Itu suara Kenan yang masih menyanyi. "But I always thought you'de come back, tell me all you found was. Heartbreak and misery."
"It's hard for me to say, I'm jealous of the way. YOU'RE HAPPY WITHOUT ME."
Kenan terkekeh saat Kanaya menyanyikan lirik terakhir dari lagu itu dengan penghayatan yang dibuat-buat.
Lagu berganti. Kali ini berjudul I'm Not The Only One dari Sam Smith. Kanaya pun langsung berkomentar, "lagu gue banget ini mah Mas." Lagi-lagi Kenan terkekeh mendengarnya.
"You say I'm crazy
Cause you don't think I know what you've down.
But when you call me baby
I know I am not the only one."
Keduanya bernyanyi bersamaan. Suasana mobil yang tadinya awkward, ditambah rasa deg-degan Kanaya kini menghilang. Keduanya seperti teman yang sudah lama kenal dan tidak bertemu bertahun-tahun. Bernostalgia melalui sebuah lagu dari tape yang ada di mobil.
Sampai pada lirik, "I have loved you for many years. Maybe I am just not enough. You've made me realise my deepest fear. By lying and tearing us up." Kenan membiarkan Kanaya bernyanyi sendiri. Memberi kesempatan gadis itu untuk berteriak hingga tanpa sadar pelupuk matanya mengembun. Basah. Kanaya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Menyembunyikan air matanya di hadapan Kenan yang tanpa malu mengalir di kedua pipinya.
"Maaf Mas, gu-saya jadi melow gini," ujarnya seraya menyeka air matanya dengan punggung tangan. Ia meraih tissue yang disodorkan oleh Kenan. Kemudian mengucapkan terima kasih.
"Ternyata kalau galau jangan dengerin musik ya. Malah jadinya makin galau," seru Kenan yang disetujui oleh Kanaya.
Kini lagu sudah berganti lagi, berjudul Pamit dari Tulus. Kanaya tidak ikut bernyanyi karena tidak hapal. Ia hanya mengamati liriknya saja.
"Kamu tau nggak Nay?"
"Nggak Mas."
"Saya belum selesai bicara Kanaya," seru Kenan.
"Oh iya Mas lanjutkan!"
"Kamu tau ini lagu siapa?"
Kanaya mengangguk. "Tau, Mas. Lagu Tulus judulnya Pamit."
"Dari lagu ini kita tau, yang tulus pun bisa pamit kalau dikecewakan," ujar Kenan dengan serius. Kanaya melongo mendengarnya. Tapi benar juga apa yang dikatakan oleh Kenan.
Diam sejenak, baik Kanaya maupun Kenan tidak ada yang berniat bersuara.
Hingga beberapa menit kemudian Kanaya kembali bertanya mengenai hubungan mereka.
"Saya punya masa lalu yang nggak enak, Mas. Apa Mas nggak takut, suatu saat nanti saya nggak bisa berdamai dengan masa lalu saya?"
Kenan tidak langsung menjawabnya, ia terdiam sejenak. "Saya rasa semua manusia juga punya masa lalu, Nay. Kamu punya masa lalu, begitu pula dengan saya. Melihat kamu sekarang, saya seperti melihat diri saya beberapa tahun yang lalu. Kita adalah dua orang yang pernah terluka, pernah dikecewakan, pernah disakiti. Tapi jangan sampai kepercayaan akan cinta terenggut begitu saja. Apa salahnya dua orang yang pernah disia-siakan seperti kita bahagia. We deserve happy."
Netra Kanaya mengedip tak percaya kalau kalimat itu keluar dari bibir Kenan. Manusia kaku. Manusia yang paling menyebalkan. Mungkin saat ini, rasa ketertarikannya pada Kenan hanya sebatas fisik semata. Tapi ia tidak pernah tahu kedepannya akan seperti apa. Yang jelas satu yang ia benarkan dari perkataan Kenan, bahwa ia dan laki-laki itu berhak bahagia.
*****
Beruntung keduanya pergi ke Bandung bukan saat weekend. Jalanan lancar tanpa hambatan, hanya ada beberapa titik kemacetan namun tidak seberapa parah seperti saat weekend. Itu sebabnya kalau Kanaya pulang ke Bandung ia lebih memilih kereta api agar terhindar dari macet.
Empat jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah Kanaya yang berada di daerah Lembang. Mobil Kenan langsung memasuki sebuah pekarangan yang cukup luas dengan ditumbuhi bunga-bungaan dan pepohonan yang tertanam rapi. Di sebelah kiri pekarangan terdapat rumah pohon yang dilengkapi dengan anak tangga dari kayu. Dulu, Kanaya sering menaiki rumah pohon itu.
"Ayo Mas," ajak Kanaya. Rasa deg-degannya sudah meluap entah ke mana. "Mas ayo!"
Kini malah Kenan yang terus-terusan menarik napas dalam. Menarik napas, kemudian mengeluarkannya secara perlahan. Begitu seterusnya sejak Kanaya bilang kalau mereka sudah semakin dekat dari rumahnya.
"Mas Ken deg-degan?" tanya Kanaya seraya menggoda. Laki-laki berjambul itu terlihat menggaruk tengkuknya sendiri.
"Nggak! Siapa bilang?!"
Sebuah senyum mengembang di wajah cantik Kanaya. Tanpa menjawab pun ia sudah tahu, dari air muka Kenan yang nampak gugup.
Keduanya keluar dari mobil. Sebelum memasuki rumah, Kenan melihat wajahnya terlebih dahulu di kaca mobil. Memastikan bahwa penampilannya rapi dan tidak memalukan di depan calon ... maksudnya Ayah Kanaya.
Seorang laki-laki muda berdiri di depan pintu. Wajahnya sumringah melihat kedatangan mereka. Saat Kanaya mendekat, tanpa babibu lagi dia memeluk Kanaya dengan sangat erat. Kening Kenan mengerut, siapa laki-laki yang berani memeluk Kanaya seperti itu?
"Kumaha damang atuh, Teh? Faraz teh kangen pisan."
"Alhamdulillah, pangestu. Maneh teh meuni kasep pisan euy!"
Kenan hanya memerhatikan dua orang yang tengah bercengkerama itu. Sisi hatinya merasa aneh, saat tangan Kanaya membenarkan rambut dari laki-laki itu.
"Saha eta, Teh?" tanya Faraz saat menyadari Kanaya tidak datang sendiri. Tetapi bersama dengan laki-laki yang tengah memperhatikan keduanya. Belum sempat Kanaya menjawab pertanyaan itu, terdengar suara deheman dari dalam. Dan selanjutnya muncul sosok laki-laki paruh baya yang sangat Kanaya rindukan.
"Ayah!" Kanaya langsung menuju laki-laki yang dipanggil dengan sebutan ayah itu. Mencium punggung tangannya, kemudian memeluknya seraya mengobati rasa rindu selama ini.
"Neng makin geulis pisan. Sehat Neng?" tanya Ayahnya dengan suara berat.
"Alhamdulillah, sehat, Yah. Ayah kumaha?" tanya Kanaya balik.
"Sehat juga Neng. Alhamdulillah."
Kanaya merasa lega mendengarnya. Ia hanya mempunyai satu orangtua, dan harus dijaga baik-baik. Andai saja ayahnya itu mau ikut ke Jakarta, pasti Kanaya akan senang. Namun Ayahnya tetap kekeuh untuk tinggal di Bandung dengan alasan tidak ingin meninggalkan rumah ini, karena begitu banyak kenangan di sini.
"Neng, saha eta?"
Tatapan Ayah tepat menghunus mata Kenan, dan berhasil membuat Kenan merasa ciut seketika. Terlebih saat di mobil tadi Kanaya bilang kalau Ayahnya itu pensiunan TNI AD. Walaupun sudah tidak muda lagi, namun wibawanya masih sangat terlihat.
Ternyata benar mitos yang beredar, kalau anak cantik pasti mempunyai ayah yang galak. Dan Kenan baru percaya akan hal itu sekarang.
Ia menarik napas panjang seraya mengumpulkan keberaniannya. Memasang senyum ramah yang biasa digunakan sebagai andalannya. Namun hal itu tidak merubah ekspresi wajah Ayah Kanaya. Laki-laki paruh baya dengan kumis tebal itu tetap menatapnya dengan tajam.
"Assalamu'alaikum, Om." Kenan mengulurkan tangan ke arah Ayah Kanaya dan langsung dibalas, sehingga keduanya saling berjabat tangan. "Saya Kenan, calon suami Kanaya."
Baik Kanaya, Faraz maupun Ayah terkejut mendengarnya. Kanaya merutuk dalam hati, laki-laki itu benar-benar tidak bisa basa-basi.
*****