Chapter 13

1403 Words
"Itu Ayah sama si Aa lagi ngomong apa si Teh?" tanya Faraz sambil berbisik. Mereka berdua sedang bersembunyi di balik pohon untuk mendengarkan pembicaraan Kenan dan juga Ayahnya. Setelah Kenan berkata kalau ia adalah calon suami Kanaya, ayah langsung membawanya menuju taman belakang rumah. "Nggak tau nih, nggak kedengeran." "Lagi berani-beraninya si Aa teh langsung bilang kitu. Eh, tapi Teh kok beda sih sama yang Teteh kasih fotonya ke Faraz?" "Cicing Ulah gandeng! Ntar Ayah tau kita ngintip di sini!" cecar Kanaya dengan kesal. Bisa gagal rencananya kalau sampai ayah tahu. "Neng Noynoy, Ujang! Ulah ngintip. Mau matanya bintitan?!" Hal yang Kanaya takutkan terjadi. Ayahnya itu tahu mereka mengintip. Ditambah panggilan itu keluar dari bibir sang ayah. Bisa gawat! Keduanya langsung keluar dari tempat persembunyian. Dengan cengiran lebar Kanaya menghampiri Ayahnya yang tengah duduk di kursi jati. "Hampura, Yah. Tuh idenya si Faraz." "Ih Teteh kok playing victim sih! Kan Teteh yang ajak Faraz buat ngintip." Kanaya langsung menginjak kaki adiknya itu dengan Kencang. Faraz merintih kesakitan. Ia mengalihkan pandang pada laki-laki yang tengah duduk di samping Ayahnya. Semua ini karena laki-laki itu yang tidak bisa sedikit saja berbasa-basi. Kanaya melotot padanya, memberikan tatapan maut. Kemudian menyengir saat ayah mulai menatapnya curiga. "Dari pada kalian di sini, lebih baik buatin Ayah sama Nak Kenan ini makanan." "Iya, Yah." Kanaya langsung menarik Faraz dari tempat itu. "Teh Naya belum jawab pertanyaan Faraz, kok beda sih sama yang difoto?!" Faraz mencecar Kanaya dengan pertanyaan. Kanaya mendengus sebal. "Ya bedalah, orangnya juga beda! Kakak udah putus sama Marvin!" "Hah kenapa?! Teteh bilang kan udah delapan tahun pacaran!" "Dia selingkuh. Istrinya dateng ke Teteh marah-marah. Gila bener kan dia?!" "Sabar Teh ini ujian. Untung aja bejatnya ketauan sebelum Teteh bawa dia ke Ayah. Kalo Teteh udah bawa dia ke Ayah sret!" Faraz menghentikan ucapannya. Tangannya berada di leher seperti orang mau memenggal. "Habis dia sama ayah!" "Terus sama si Aa ini udah pacaran berapa lama, Teh?!" Kanaya yang sedang memasukkan gula ke dalam gelas menghentikan gerakannya. Ia bingung harus menjawab apa. "Teteh nggak pacaran sama dia." "Bahkan kita baru sebulan ini kenal." "Dia langsung ngelamar Teteh." Faraz terkejut mendengarnya. "Terus Teteh terima?!" "Ya kalo nggak Teteh terima, Teteh nggak akan bawa dia ke sini atuh, Jang!" "Iya juga sih Teh. Dia kerjanya apa Teh?" "Pilot." "Yang kemaren di laut, sekarang di udara. Nggak bisa apa Teh cari cowok yang ada di darat aja!" "Ya gimana? Biarin deh, yang penting bukan buaya darat!" "Tapi keren si Teh, ntar kalo mau ke luar negeri dapet diskon." Faraz menyengir dan langsung mendapat jitakan di kepalanya dari Kanaya. "Kasih nih teh sama biskuitnya! Teteh mau mandi dulu!" **** Kanaya baru keluar kamarnya setelah shalat Isya. Hawa dingin alami tanpa ac serta suara jangkrik yang terdengar menemaninya dalam kesunyian. Jadilah setelah selesai mandi sore tadi, ia ketiduran di kamarnya. Namun saat ia berjalan ke ruang tamu, ia tidak menemukan siapa-siapa. Rumahnya nampak kosong seperti tak ada tanda-tanda kehidupan. Ke mana tiga orang laki-laki itu? Akhirnya Kanaya pergi ke dapur untuk membuat cokelat panas agar tubuhnya tidak lagi kedinginan. "Assalamu'alaikum." Terdengar suara salam dari arah ruang tamu. Sepertinya mereka sudah kembali lagi ke rumah. Setelah Kanaya selesai membuat cokelat panas, ia langsung melangkahkan kaki ke ruang tamu. Pertama kali yang Kanaya lihat adalah sosok Kenan. Laki-laki itu tengah berbincang hangat dengan Ayahnya. Senyuman manis nampak di wajahnya seperti biasa. Namun penampilannya kali ini yang membuat Kanaya terkesima. Biasanya Kanaya menyukai laki-laki yang tengah memakai jas, namun berbeda untuk saat ini. Laki-laki itu memakai baju koko, ia yakin baju itu adalah milik Ayahnya. Karena kalau milik Faraz yang dipakai pasti tidak akan muat di tubuhnya yang besar. Sedangkan postur adiknya itu kerempeng. Kenan juga memakai kain sarung yang membalut kakinya. Di tambah peci hitam di kepalanya. Ia pikir Kenan akan keren saat topless saja, ternyata tidak! Bahkan saat penampilannya seperti santri, tingkat kerennya naik seratus tingkat. Sadar sedang diperhatikan oleh Kanaya, laki-laki itu mengangguk seraya melempar senyum. Seperti ada yang meleleh di hati Kanaya. "Itu muka apa ubin masjid sih? Kok adem banget liatnya?" gumam Kanaya yang hanya bisa didengar olehnya saja. "Kalian habis dari mana?" Jelas-jelas dia sudah tahu jawabannya. Sial! Otaknya jadi blank setelah melihat wajah Kenan. "Ya habis shalat dong, Teh. Emangnya Teteh, yang shalatnya setahun cuma dua kali doang!" Kanaya langsung melempar tatapan mematikan pada Faraz yang bawelnya seperti mercon itu. Tidak bisa apa menjawab nama baik Tetehnya sendiri di depan calon suaminya? Eh, omong-omong bagaimana nasib Kenan? Apa Ayah sudah menerimanya? Kanaya jadi penasaran. "Mumpung Teteh di sini, bikinin seblak dong Teh. Kangen euy seblak buatan Teteh," pinta Faraz sambil memasang wajah melas. "Memang bahannya ada?" "Ada Teh di kulkas. Sok atuh Teh bikin!" "Iya iya!" Kalau sudah seperti itu, Kanaya tidak bisa menolak permintaan adiknya. "Ayah mau?" tanyanya pada Ayah dan dijawab oleh anggukkan kepala. Kali ini pandangannya beralih pada Kenan. "Mas juga mau?" Kenan balas mengangguk juga. "Caelaaah manggilnya udah Mas aja. Kemarin yang delapan tahun manggilnya nggak pake mas-mas segala tuh," ledek Faraz. Lagi-lagi Kanaya hanya bisa membesarkan matanya. Wajahnya sudah panas, ia langsung mengambil langkah seribu menuju dapur. "Kamu tau nggak percakapan Ayah sama Mas Kenan tadi?" tanya Kanaya pada Faraz. Ternyata adiknya itu mengikutinya sampai ke dapur. "Nggak tau Teh." "Kamu tau nggak apa Ayah nerima Mas Kenan jadi menantunya?" "Nggak tau Teh." "Kamu taunya apa sih, Jang?! Nanya ini nggak tau, itu nggak tau!" "Faraz emang nggak tau Teh Noynoy!" "Emangnya tadi pas di masjid nggak dapet bocoran sama sekali?" "Nggak! Padahal Faraz juga berharap dapet bocoran, Teh." Kanaya tersenyum dan mengelus lengan atas adiknya. "Bocoran jawaban UTS maksudnya." Plak! Kanaya langsung memukul lengan itu.  "Teh sakit! Tega banget sama adiknya." "Sabodo teuing! Punya adik satu biji malah buat darah tinggi!" Faraz mendengus kesal mendengarnya. "Tadi Teteh naruh sudip di mana, Jang?" "Itu Teh, di atas wajan." "Oh iya. Hehe." "Ini apa dulu sih yang dimasukin?" Kanaya bergumam sendiri. Cabe mana cabe? Ya Allah Ujang! Nggak ada cabe di sini!" Faraz menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ujang lupa beli cabe tadi pagi Teh. Hehe." **** Seblak baru matang saat Kenan memenangkan permainan catur dengan Ayahnya. Ini semua gara-gara Faraz yang lupa membeli cabai, akhirnya Kanaya harus menunggu anak itu membelinya terlebih dahulu di warung yang lumayan jauh dari rumahnya. Saking lamanya menunggu Kanaya sampai bosan, untung saja kotak hitam putih catur itu tidak berubah menjadi hitam merah jambu. "Dari baunya sih keliatannya enak nih," ujar Ayah saat Kanaya meletakkan beberapa mangkuk ke atas meja. "Kalo nggak enak salahin si Faraz, Yah." "Lho kok Faraz sih Teh?" "Karena kamu mood masak Teteh jadi ancur!" Terdengar suara kekehan, ternyata Kenan yang entah mengapa senang melihat adik kakak yang sedang beradu mulut seperti itu. "Begitulah Nak kalau mereka udah ketemu. Cuma dua orang, rasanya seperti mendengar suara orang se-kampung." Ayah berucap pada Kenan dengan suara beratnya. Baik Kanaya maupun Faraz, tidak ada lagi yang menyahut. Keduanya diam, sibuk memakan seblak masing-masing. "Tapi kalau nggak ada salah satu dari mereka, rumah ini terasa sepi seperti kuburan. Kadang saya justru merindukan saat-saat mereka seperti ini." "Ayah." Kanaya meletakkan mangkuknya ke meja. Kemudian berjalan mendekati Ayah. Lalu duduk di samping Ayah dan memeluknya. "Kan Naya udah bilang, ikut Naya aja ke Jakarta. Tapi Ayah keukeh nggak mau." "Jawaban Ayah masih tetap sama Neng. Bandung bukan hanya tempat Ayah lahir, tapi Bandung adalah hidup Ayah. Terlalu berat rasanya meninggalkan kota ini." Sepasang netra memperhatikan kehangatan antara Ayah dan putrinya itu. Di sini, Kenan merasa mendapatkan keluarga baru. Kata keluarga sudah lama tidak ada dalam kamus hidupnya. Beberapa tahun belakangan ini ia merasa kesepian. Oleh karena itu, Kenan mencoba membangun sebuah keluarga saat usianya masih muda. Waktu itu usianya 25 tahun saat ia meminta seorang gadis menjadi ibu dari calon anak-anaknya. Namun ternyata ia harus menelan pil pahit. Harapannya tidak sesuai dengan kenyataan. Ya, tugas manusia hanya berencana. Namun Tuhan lah yang menentukan. Saat rencana tak sesuai dengan yang diharapkan, mungkin Tuhan mempunyai sesuatu yang jauh lebih baik dari rencana manusia itu sendiri. ***** "Mas Ken gimana?" tanya Kanaya saat keduanya hanya berdua saja di ruang tamu. Ayah telah masuk ke kamar, sedangkan Faraz, keluar sebentar membeli bolpoint untuk besok UTS. Kenan yang tengah sibuk memasukkan anak catur ke dalam kotak menghentikan gerakannya. "Gimana apanya?" "Ayah nerima Mas nggak?" Kenan diam sejenak tak menjawab. Ia menutup catur itu dan meletakkannya di meja. Sebuah gelengan kepala ia tunjukkan. "AYAH NOLAK MAS KENAN! KOK BISA?!" "Saya juga nggak tau Nay." "Emangnya Ayah ngomong apa aja sama Mas?" Kanaya tidak habis pikir dengan ayahnya. Sampai saat ini pun ia tidak tahu, sebenarnya bagaimana tipe menantu idaman sang ayah, karena ayah tidak pernah bercerita padanya. Tapi dalam hati Kanaya yang paling dalam, ia kecewa. Berarti ia gagal kawin! "Kita terlalu cepat Nay. Baru sebulan kita saling mengenal. Ya, saya paham, seorang ayah pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Dan mencari calon suami untuk putri kesayangannya itu tidak mudah." Helaan napas berat terdengar dari bibir Kanaya. Padahal Kenan yang ditolak, tapi mengapa ia yang merasa sakit? "Saya ingin bertanya sesuatu sama kamu. Boleh?" Kanaya mengangguk. "Apa kamu serius sama saya?" "Kalau iya, saya akan berjuang untuk kamu." **** Happy reading... Luvvv  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD