Netra Kanaya mengerjap, saat merasakan cahaya masuk melalui celah-celah jendela kamarnya. Alih-alih bangun, gadis itu malah menarik selimut lagi hingga menutupi seluruh bagian tubuhnya. Kanaya kembali lagi masuk ke dalam dunia mimpi. Selang beberapa menit, suara dari ponselnya berhasil memekakkan telinga. Berulang kali, hingga rasanya Kanaya ingin melempar saja ke lantai benda itu, kalau tidak ingat pemberian dari eyang. Mau tidak mau, Kanaya yang masih setengah sadar pun bangkit dari ranjang. Dengan nyawa yang masih belum sepenuhnya kumpul, Kanaya langsung menggeser panel hijau, dan membawa tangannya ke telinga. "Halo? Siapa sih pagi-pagi udah berisik aja?" Bukannya menyapa, Kanaya malah menyembur seseorang diseberang sana dengan ocehannya. "Pagi? Ini sudah jam delapan, Kanaya." "Jam

