B E. Part 13b

1252 Words
“Levia, ngapain kamu di sini?” Gio terkejut saat pintu ruang kerjanya terbuka. Levia muncul di balik pintu dengan senyum mengembang. “Kamu ih kebiasaan. Nanya yang lain bisa kan? Kayaknya kamu nggak suka aku datang ke sini,” gerutu wanita itu. “Kok bisa masuk?” biasanya sekretarisnya akan bertanya pada Gio terlebih dahulu jika ada tamu yang datang tanpa ada janji. Tapi kali ini Levia bisa masuk begitu saja karena Ronan sedang pergi ke bagian keuangan untuk melakukan pengecekan laporan. Levia menghampiri Gio yang sedang duduk di kursi kerjanya. Tangannya bertengger di pundak pria itu, “Sekretaris kamu mejanya kosong, jadi aku masuk aja. Si Ronan kerja nggak bener deh, masa jam kerja malah mejanya kosong.” Gio segera menurunkan tangan Levia, sikap manja wanita ini sangat berbahaya bagi Gio. “Ronan sedang pergi mengecek laporan, wajar dia nggak ada. Lain ketuk pintu dulu kalau mau masuk ke ruangan orang lain. Malah nyelonong aja, nggak sopan. Dan tolong jangan bersikap seperti ini. Aku lagi kerja jadi jaga sikap kamu. Aku nggak enak kalau dilihat orang lain terutama karyawan di sini.” Levia menghentakkan kakinya karena kesal dengan sikap Gio yang selalu seperti ini padanya. “Bisa nggak sih bersikap lembut dikit sama aku. Jangan dingin dan ketus kayak gini. Dulu kamu selalu buat aku nyaman dan bersikap lembut sama aku. Kenapa sekarang seakan kamu jijik tiap ketemu aku?” Gio beranjak dari duduknya dan berpindah ke sofa yang memang tersedia di ruang kerjanya “Vi, jangan bandingan sikap aku dulu dan sekarang. Jelas beda karena sekarang kita nggak ada hubungan apa-apa. Jadi kamu nggak bisa menuntut aku buat bersikap yang kamu mau. Aku udah jelasin ini berulang kali sama kamu, jadi tolong ingat baik-baik.” Levia menyusul Gio, duduk berhadapan dengan pria itu.”Iya aku tahu kalau aku salah. Aku juga mau memperbaiki semuanya, Gi. Kalau kamu nggak bisa menerima aku sekarang, ya kita bisa jadi teman kan? Tapi aku juga harap sikap kamu bisa lebih baik sama aku. Aku juga merasa kamu masih ada perasaan sama aku,” ucapnya percaya diri. Gio mendesah lelah, “Sory, kalau kamu ke sini cuma mau bahas masalah ini jawab aku masih sama. Kalau kamu mau aku menganggap kamu sebagai teman, bersikaplah sewajarnya, jangan manja seperti waktu kita masih ada hubungan. Aku juga nggak bisa bilang kalau aku masih mencintai kamu,” jawab Gio tegas. “Bohong! Kamu masih berharap kita bisa kayak dulu lagi. Buktinya kamu masih sendiri sampai sekarang. Padahal kamu juga udah cukup umur untuk menikah. Jadi kalau bukan karena kamu masih cinta sama aku, apa ada alasan lain lagi? Coba kasih tahu aku,” tantang Levia. “Terserah aku maunya seperti apa. Kalau kamu punya niat baik sama aku, harusnya kamu bisa menghargai keputusan aku. Masih bagus aku mau berteman sama kamu lagi. Kamu pernah mikir dulu gimana hancurnya aku karena kamu ninggalin aku disaat terpuruk? Sekarang aku baik-baik aja, kamu malah berpikir hal bodoh seperti itu,” emosi Gio mulai terpancing. Ia bahkan lupa kalau sedang berada di kantor tempatnya bekerja. Levia terdiam melihat Gio marah padanya, “Iya aku minta maaf. Nggak masalah saat ini kita cuma teman, tapi aku pasti bisa buat kamu sayang lagi sama aku,” ucapnya dengan percaya diri. Gio menggeleng, ia tidak menyangka Levia yang dulu begitu lemah lembut bisa bersikap memaksa seperti ini. Bahakan bisa dikategorikan Levia sudah menjadi wanita yang menyebalkan bagi Gio. Tapi anehnya Gio masih saja tidak bisa mengabaikan Levia. “Terserah kamu saja mau mikir kayak gimana.” “Kalau gitu ayo makan siang sama aku. Aku ke sini buat ngajak kamu makan siang. Kemarin kan kamu nolak pergi sama aku, jadi sekarang kamu nggak boleh nolak. Aku udah luangin waktu kerjaku buat makan pergi sama kamu,” jelas Levia dengan nada memaksa. Gio melihat jam yang melingkar di tangannya. Tepat waktu menunjukkan jam makan siang. Kali ini alasan apa lagi yang bisa gunakan untuk menolak ajakan Levai. “Kamu diam lagi mikir alasan buat nolak aku lagi? Tega banget kalau sampai benar dugaan aku,” ucap Levia dengan raut wajah kecewa. Padahal Gio belum juga menjawab. Gio mendesah pasrah, “Ayo kita makan siang. Tapi kamu harus janji dulu sama aku.” Levia memicingkan mata, “Janji apa?” “Jangan datang ke sini kalau hanya untuk urusan pribadi. Aku nggak suka dan benar-benar merasa terganggu,” jelas Gio. “Berarti kalau ke rumah kamu, boleh dong?” “Terserah. Belum tentu juga aku ada di rumah.” Levia berdecak “Ck. Ketus banget.” “Ayo pergi sebelum aku berubah pikiran,” Gio beranjak dari sofa untuk mengambil ponsel dan kunci mobilnya. “Bawa mobil aku aja,” titah Levia. Gio menurut dalam diam dan pergi mendahului wanita itu. “Aku pasti bisa buat kamu jadi Gio yang dulu,” Levia membatin. *** Setelah sampai di apartemen tepat pukul tujuh malam, Sera membaringkan tubuhnya di sofa. Hari pertama ia bekerja cukup membuatnya lelah. Tapi jika disuruh memilih, lebih baik lelah bekerja dari pada lelah karena diam di apartemen. Kondisi tangannya lumayan baik walaupun digunakan untuk bekerja.Kkalau kakinya hanya sakit ketika ia harus berjalan atau berdiri lama tapi Sera masih bisa tahan dibanding kemarin. Jahitan di keningnya sudah tidak sakit dan beberapa hari ia harus kontrol ke dokter untuk buka jahitan dan melakukan mengecekan kembali pada kakinya. Setelah puas bermalas-malasan, Sera beranjak untuk membersihkan diri. Lalu ia harus mengganti perban di tangan dan keningnya. Agak sulit tapi Sera masih bisa melakukannya sendiri. Ketika akan masuk ke dalam kamar, bel pintu apartemennya berbunyi. Sera mengernyit heran, siapa yang bertamu jam segini. Seingat Sera, ia nyaris tidak pernah dikunjungi oleh teman atau sahabatnya. Bahkan Sera tidak punya sahabat baik dalam hidupnya. Ia hanya akrab dengan beberapa teman kerja terutama dengan Gadis. “Siapa sih?” gumamnya sambil melangkah ke pintu. Sera mengintip dari lubang pintu dan ternyata sosok yang bertamu adalah Gio. Sera terdiam, ia tidak pernah membayangkan Gio akan datang. Sikapnya kemarin masih membuat Sera bertanya-tanya, sekarang ditambah pria itu kembali datang ke sini. Tidak enak membuat pria itu menunggu lama, Sera akhirnya membuka pintu dengan ragu. Maka ketika sosok Gio ada dalam jangkauan matanya, Sera hanya bisa tersenyum kikuk. “Hai Gi..” sapanya. Gio tersenyum ,“Hai. Gue kira lo nggak ada,” ucap Gio dengan canggung. “Maaf bikin lo berdiri lama, masuk?” Sera mempersilakan Gio masuk terlebih dahulu. “Gue bawain lo makan malam,” Gio menyerahkan kantung berisi beberapa box makanan, ketika Sera sudah selesai menutup pintu. Sera menerima dengan sungkan, “Kok lo bawain gue makanan sih, Gi. Nggak usah repot-repot, gue bisa pesan makanan sendiri kok.” “Gue nggak ngerasa repot kok.” “Duduk dulu.” Keduanya duduk di sofa terpisah namun saling menghadap. Sera mendadak canggung berhadapan dengan pria di depannya. Gio juga merasa kikuk dengan situasi saat ini. “Lo ke sini ada keperluan apa, Gi?” tanya Sera ragu-ragu. “Gue baru pulang kerja, sengaja ke sini buat nengok lo,” jawab Gio tenang. Mendadak Sera bodoh menanggapi pengakuan Gio. Biasanya ia punya segudang kosa kata untuk membalas dengan judes setiap kalimat yang Gio lontarkan. Tapi nyatanya sekarang ia dibuat bungkam oleh sikap Gio. “Lo merasa terganggu ya,” tanya Gio hati-hati. ia melihat Sera nampak bingung, takut jika kedatangannya membuat tidak nyaman. Sera mengibaskan tangannya, “Nggak kok, gue senang lo ke sini,” jawab Sera santai sampai beberapa detik kemudian ia menyesal mengatakan itu. Gio pasti besar kepala mendengar jawaban Sera.  ~ ~ ~ --to be continue-- *HeyRan*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD