Dua tahun telah berlalu semenjak kematian Cyntia. Sesuai janjiku pada almarhum, aku telah menganggap Amel seperti putriku sendiri. Anak cantik ini sering kubawa menginap di rumahku, bahkan terkadang Amel kecil lebih sering tidur di rumah kami daripada rumahnya sendiri. Dan dia punya kamar sendiri di rumah kami. Kamar yang kudesain cantik untuk seorang putri yang tak pernah kumiliki. Amel menuntaskan kerinduanku akan anak perempuan yang ingin kumiliki sejak dulu. Pagi ini aku akan mendaftarkan si kecil Vino dan Amel ke sekolah Taman Kanak-Kanak. Alvaro jadi sewot karena aku melakukan tugas yang sebenarnya milik Kak Ardian. Dia menggerutu sementara aku merias wajahku di cermin kamar kami. “Aku tahu, kau menganggap bocah itu seperti anakmu sendiri. Selama ini aku sudah toleran mene

