Jum’at malam sabtu, terlihat Radafa yang sedang duduk di sofa kamarnya sedang asyik memainkan gitar. Besok libur, malam ini mungkin Radafa akan begadang. Ah.. malam malam biasa pun Radafa selalu begadang, entah itu untuk mengerjakan tugas, belajar, membaca novel science fiction yang ada di rak bukunya, ataupun bermain game bersama teman temannya.
“You’re just too good to be true...” Suara berat Radafa mengalun indah menyanyikan lagu Frankie Valli, Can’t take my eyes off you dengan disertai petikkan gitar.
“Can’t take my eyes off you.”
“You feel like heaven to touch”
“I wanna hold you so much”
“At long last love has arrived.”
“And i thank God i’m alive.”
“You’re just too good to be true...”
“Can’t take my eyes of you..”
“I..”
Ting
“Arghhhh...” Radafa menggeram, ia benar benar lupa untuk mematikan suara notifikasi di handphonenya itu.
“Pasti Rain.” Gumamnya sembari mengambil handphone yang berada tepat di sampingnya.
Salsa X IPA 1
Ka Radafa, maaf kalo aku ganggu waktunya (20.00)
Aku ada tugas matematika nih yang belum ngerti, kaka bisa tolong ajarin aku ga?
Anda
Liat soalnya.
Salsa X IPA 1
Oke Ka, aku kirim gambarnya dulu ya
(GAMBAR SOAL MATEMATIKA NOMOR 6-10)
Anda
Oke, gue jelasin
Salsa X IPA 1
Kaka bisa jelasinnya lewat video call aja ga?
Plissss yaa, biar aku ngerti
Anda
Gue ketik, lebih ngerti.
Salsa X IPA 1
Aku bakalan lebih ngerti kalo kaka jelasin langsung
Ka Radafa ngga keberatan kan?
Anda
Ya.
Salsa X IPA 1
Oke ka, aku video call sekarang ya (Baca)
Radafa membuang napasnya kasar. Radafa bukan termasuk orang yang pelit terhadap ilmu, mata pelajaran apapun yang bisa ia kerjakan dan berguna bagi orang lain pasti dia akan bantu. Lain halnya ketika ada orang yang meminta bantuan di luar permasalahan seputar pelajaran, sudah pasti ia akan menolaknya. “Huft...”
“Hai ka!” Sapa Salsa dari layar handphone, sementara Radafa mengabaikannya
“Kita mulai nomor 6.” Ujar Radafa, ia mulai menjelaskan pekerjaan sekolah Salsa satu demi satu, namun yang terlihat oleh Radafa, daritadi Salsa hanya menatapnya saja tanpa mendengarkan semua penjelasanya.
“Salsa lo denger ga?”
“Eh, iya ka. Coba ulangi penjelasan nomor..... 8.” Pinta Salsa.
Radafa kembali membuang napasnya secara kasar, ia masih bisa sabar saat ini. “Oke gue jelasin.”
“Oh.... gitu, iya ka, aku ngerti.” Ujar Salsa tersenyum senang.
20 menit sudah Radafa menjelaskan pekerjaan Salsa yang menurut Radafa soal itu seharusnya mudah bagi seorang murid berprestasi seperti Salsa ini. Namun balik lagi, Radafa bukan orang yang termasuk pelit ilmu.
“Berhubung lo udah ngerti, gue tutup.”
“Eh, ka tunggu dulu, mmm.. ka Radafa belum ngantuk ya? Mau aku temenin ga?” Tawar Salsa. Tunggu dulu, apa Salsa ini sudah tidak waras? Otaknya ia simpan dimana sampai sampai dia berani berkata seperti itu? Apa ia tidak malu? Ah... Radafa tak habis pikir dengan adik kelas yang satu ini.
“Ga.” Balas Radafa dingin,dan dengan langsung menutup sambungan video call itu.
Niat Radafa yang akan melempar benda pipih itu ke sembarang arah ia urungkan, ia teringat bahwa di galerti handphonenya itu ada foto seorang perempuan yang selalu mengganggunya, yang belum ia lihat. Ya, siapa lagi kalo bukan Rain.
Radafa mulai melihat satu demi satu foto Rain. Ah, sial! Malam ini dia tersenyum, sangat lebar ketika melihat foto Rain bersama manusia levitasi Gatot Kaca sewaktu di Kota Tua. Di foto itu ekspresi wajah Rain seperti orang kebingungan.
Radafa menggeser lagi foto Rain yang lainnya. Terlihat Rain sedang memakai topi bundar sewaktu ia akan menaiki sepeda onthel di lapangan Fatahillah. Untuk foto ini, Radafa memang sengaja mengambilnya tanpa sepengetahuan Rain. Rain terlihat sangat lucu di foto itu. Ya, Radafa tak henti hentinya tersenyum. Sepertinya, senyum ini adalah senyum yang terlebar sepanjang hidupnya. Haha, hiperbola memang. Tapi itu kenyataannya.
Seketika itu, Radafa teringat belum mengirimkan foto foto Rain yang ia ambil dari handphonenya, padahal Rain sudah memintanya dari jauh jauh hari.
“Apa gue kirim aja ya?” Radafa masih berpikir.
“Mmm... gue kirim deh.”
Anda
(4 GAMBAR TERKIRIM) (21.30)
Belum ada satu menit, ternyata Radafa sudah mendapat balasan.
Rain Bowie
Aaaaaaaa Rain cute banget di situ
Foto Rain yang keempat itu cantik banget
Eh yang kedua juga imut
Yang ketiga juga sama gakalah imut
Dengan percaya dirinya yang sangat tinggi, Rain memuji dirinya di pesan pribadinya dengan Radafa.
Anda
Narsis.
Rain bowie
Gapapa wle :p
Oiya, Radafa jangan hapus foto Rain ya, kalo perlu cuci sekalian
Anda
Iya gue cuci ntar.
Rai Bowie
Kyaaaaaaaa!!!!!! Radafa beneran mau cuci foto Rain?
Nanti pajang di kamar Radafa ya
Anda
Mau gue pajang di gudang.
Rain Bowie
Lho, ko di gudang?
Anda
Banyak tikus soalnya.
Rain Bowie
RADAFA!!!!!!!!!!!!!!!! NYEBELIN BANGET SI
Emangnya wajah Rain nakutin apa?!
Huh
Radafa nyebelin banget
Membaca balasan Rain membuat Radafa tertawa pelan, ia sedang membayangkan bagaimana ekspresi wajah Rain saat ini. Pasti sekarang Rain sedang mengembungkan pipinya. Gemas sekali.
Anda
Emang.
Rain Bowie
Huh, Radafa nih ya.. ishhhhh
Oiya, Radafa ko belum tidur?
Anda
Belum ngantuk.
Rain Bowie
Sama, Rain juga belum
Anda
Gue gananya.
Rain Bowie
Rain Cuma ngasih tahu ko
Anda
Terserah lo. (Baca)
Sudah hampir 5 menit pesan terakhir yang Radafa kirim hanya Rain baca, biasanya meskipun Radafa membalas sesingkat apapun Rain pasti akan selalu membalasnya. “Tumben. Apa dia ketiduran?” Gumamnya.
Rain Bowie
Radafa
Rain abis minum s**u tadi
Radafa terseyum. “Muncul lagi.”
Anda
Oh.
Rain Bowie
Radafa, Rain udah ngantuk mau tidur duluan ya
Radafa jangan begadang, oke
Dah Radafa... (Baca)
“Kebiasaan.” Gumamnya seraya terkekeh. Menurutnya Rain itu manusia yang aneh, kenapa? Karena setiap Rain bilang bahwa dirinya belum mengantuk, 5 menit kemudian pasti dia akan memberitahu Radafa bahwa matanya sudah berat dan ingin tidur secepatnya.
Radafa menaruh handphonenya kembali ke meja belajarnya, tak lupa juga ia bisukan semua notifikasi yang ada di handphonnye agar tidak ada yang menganggu malamnya.
****
“Radafa...” Panggil seorang pria sembari mengguncang guncangkan tubuh Radafa.
“Radafa bangun nak, ayo temenin papah main badminton.” Ujar Doni, papah Radafa.
Radafa diam tak bergeming. “Radafa, bangun.”
“Radafa!!!!!”
Merasa terusik dengan suara suara yang terus memanggil namanya, dengan sangat terpaksa Radafa harus bangun dari tidurnya. Dia masih mengantuk saat ini.
Radafa melirik ke arah jam dindingnya. “Pah, masih jam 06 pagi.” Protesnya.
“Lah, emangnya kenapa?” Tanya Doni.
Radafa melihat Doni yang sudah siap dengan pakaian serta sepatu olahraganya, tak lupa juga raket yang Doni genggam di tangannya. “Pah, Radafa masih ngantuk.” Ujar Radafa dengan nada lemas.
“Kamu bisa cuci muka dulu.”
“Pah..”
“Ayo lah Radafa, mumpung kamu lagi libur papah pengen kita bisa main bareng.” Bujuk Doni.
Kalau papahnya sudah seperti ini Radafa tidak bisa lagi menolaknya. Ia akui, bahwa dirinya memang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamarnya ketimbang berkumpul bersama keluarga. Padahal Doni ini bukanlah seorang pegawai yang terikat waktu dan pekerjaannya pada sebuah perusahaan, jadi banyak sekali waktu Doni untuk bisa quality time bersama dengan Dita, Samuel, dan juga Radafa. Ah, dasar Radafa nya saja yang selalu menginginkan sendiri.
“Iya pah, Radafa mau siap siap dulu.” Balas Radafa.
Senyum Doni mengembang, karena tumben sekali Radafa mau menemaninya untuk berolahraga. “Nah gitu dong.”
10 menit berlalu, kini Radafa dan Doni sudah ada di halaman belakang rumahnya untuk bermain badminton pagi ini.
“Daf, papah dulu ya yang mukul.”Teriak Doni
“Iya, terserah papah.” Sahut Radafa.
Permaian dimulai, baik Doni maupun Radafa terlihat sangat fokus bak pemain badminton asli yang sering muncul di televisi ketika ada perlombaan.
Sayang sekali, baru juga 10 menit bermain, poin Doni sudah tertinggal jauh dari Radafa. “Masih mau lawan Dafa pah?” Ujar Radafa dengan senyum miringnya.
“Hah, siapa takut.” Balas Doni semangat.
Pukulan pukulan yang Doni layangkan sepertinya tidak berpengaruh bagi Radafa. Dengan mudahnya Radafa menyambut pukulan itu dengan tenang, hingga skor babak pertama ini Radafa unggul 21 poin sedangkan Doni hanya mendapat 15 poin.
“Hey.... nih mamah udah buatin kalian makanan dan minuman. “ Ujar Dita sembari menaruh di lantai penampan yang berisikan makanan dan minuman .
Radafa dan Doni pun mendekat, mereka mulai meminum air yang telah disediakan oleh Dita dengan sangat nikmat. “Seger mah.” Ucap Doni.
“Oh... iya dong, buatan siapa dulu. Dita.” Balas Dita seraya megibaskan rambutnya.
Doni terkekeh, begitupun Radafa meskipun terkekeh dengan malu.
“Sam kemana mah?” Tanya Radafa.
“Sam lagi ngambil mobil mobilannya.”
“Nah itu dia.” Tambah Dita saat melihat Sam sedang berjalan menuju arahya sambil membawa mobil mobilannya.
“Oiya Daf, mamah mau minta bantuan sama kamu. Tolongin mamah buat antar dress ke rumah tante Rani ya.”
“Rain.” Batin Radafa.
“Kapan?” Tanya Radafa.
“jam 1 siang aja. Kamu mau kan?”
Radafa mengangguk sebagai balasan, meskpiun terlihat cuek, hatinya ada sedikit perasaan bahagia ketika dimintai bantuan oleh Dita untuk ke rumah Rain.
“Ka Afa... temenin Sam main mobil.” Pinta Sam, ia menarik narik tangan Radafa sambil memperlihatkan puppy eyesnya.
Radafa melirik ke arah Doni seakan meminta izin apakah ia boleh menemani Samuel bermain atau tidak. Yap, tentu saja Doni mengizinkannya. Malahan sekarang Doni pun ikut serta menemani Samuel bermain bersama Radafa.
Dita yang melihat kebersamaan antara Doni, Samuel dan Radafa hanya bisa tersenyum bahagia. Ia sangat bersyukur masih diiznkan oleh Tuhan tuk bisa berkumpul dengan keluarga kecilnya ini dengan tidak kekurangan sedikit apapun.
“Hey... Hati- hati mainnya.” Ujar Dita.