Part 16

1597 Words
"Good morning Rain.” Sapa Rani seraya mengecup kening Rain. Rain masih menggeliatkan tubuhnya, pagi ini sorot matahari sudah menembus kaca jendela kamarnya. “Morning too Mah.” “Masih ada kerasa pusing kepalnya ga Rain?” Tanya Rani. Rain menggeleng pelan. “Udah ngga ko mah, Rain udah baik baik aja.” Rani memeluk Rain dengan hangat seraya berkata, “Alhamdulilah, anak mamah udah sehat sekarang.” “Iya mah, emmmm..” Rani pun melepaskan pelukannya kembali. “Oiya, berhubung sekarang hari minggu mamah mau ajarin Rain masak.” Mata Rain berbinar, ia langsung berdiri dan melompat lompat di atas tempat tidurnya. “YEYYY!!! Rain mau mah!!!” Ujar Rain semangat. “Oiya, mamah mau ajarin Rain masak apa?” “Mmm.... apa yaa?” Ucap Rani sambil berpikir, sementar Rain diam menunggu jawaban Rani. “Kita masak daging cincang.” Jawab Rani. “Daging cincang yang suka ada di masakan padang itu kan mah?” Tanya Rain polos. “Iya, Rain betul.” Rain pun menarik tangan Rani untuk membawanya ke lantai bawah. “Ayo mah, kita mulai masaknya.” Rani menahan Rain “Ettt... Rain, kamu mandi dulu dan siap siap. Habis itu kita belanja bahan bahannya ke supermarket.” Tita Rani membuat Rain hanya terkekeh pelan. “Oiya mah, mamah bener Rain kan belum mandi. Heheheh.” “Yauda, kalo gitu mamah mau ke bawah dulu ya.” “Oke mah, Rain mau siap siap dulu ya.” Rain bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Hari ini ia memlilih mengenakan pakaian striped T-shirt dan high waisted pants serta Rain juga mengepang rambutnya sendiri menggunakan model dutch braid pigtails yang pernah ia pelajari tutorialnya di youtube. Setelah selesai, Rain dengan cepat ke bawah untuk menemui Rani. “Mah, Rain udah siap nih, ayo berangkat.” Kata Rain semangat. Mereka pun kini berjalan menuju garasi, Rani mengeluarkan mobilnya sedangkan Rain membukakan pintu gerbang. Mobil sudah berada di luar, Rain pun sudah mengunci pintu gerbangnya dan masuk ke dalam mobil. “Jangan lupa pakai safety belt nya Rain.” Ucap Rani mengingatkan.Seperti biasa, setiap kali Rain memasuki mobil ia sering lupa memakai safety belt padahal Rani selalu mengingatkannya. “Oh iya mah, Rain lupa. Hehehe.” Rain mulai memakaikan safety beltnya. “Siap mah.” Rani mengangguk, ia menancapkan pedal gasnya dan mobil mulai berjalan dengan kecapatan rata rata. Jarak dari rumah ke supermarket hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit jika tidak ada kendala macet. Rani dan Rain sudah sampai di supermarket dan Rain pun kini sudah memegang troli dan mulai mencari bahan bahan apa saja yang dibutuhkan nanti. “Kita ke tempat daging dulu ya Rain.” “Oke mah.” Rani sedang memilih daging yang akan ia dan Rain masak nanti, dan akhirnya Rani mengambil 2 bungkus daging sapi beku di freezer. Lanjut lagi ke tempat bumbu bumbu, di sana Rani membeli berbagai macam bumbu dapur. Dan terakhir Rani dan Rain membeli beberapa makanan yang habis di kulkasnya. “Mah, persediaan s**u masih ada ngga si?” Tanya Rain. “Masih ada Rain, kamu mau beli s**u lagi?” “Ah engga mah, Rain mau habisin aja dulu s**u yang masih ada.” “Yauda kalo gitu, berhubung semua bahan udah sap, kita langsung ke kasir aja yuk.” Ajak Rani. “Oke mah siap.” Beruntung meskipun sekarang hari libur, di kasir ini Rani tidak terlalu mengantri begitu panjang. “Totalnya Rp. 375.000 ya bu.” Kata Kasir itu dengan ramah. Rani memberikan 4 lembar uang seratus ribuan ke kasir itu kemudian mengambil belanjaannya. 45 menit berlalu, kini Rani dan Rain sudah ada di rumahnya lagi setelah menghabiskan waktu perjalanan pulang dengan situasi jalanan yang macet. Tak langsung memasak, Rani dan Rain istirahat sejenak meregangkan otot otot mereka. Setelah dirasa cukup waktu mereka untuk beristirahat, Rani pun langsung mengajak Rain ke dapur dan mulai mengajari Rain memasak. Layaknya chef handal, Rani dan Rain sudah mengenakan celemek dan mengikat rambut mereka supaya tidak ada rambut yang jatuh ke dalam masakannya. Rain pun kini sedang memotong motong daging dan tetelan sapi itu menjadi ukuran yang kecil kecil kemudian mencucinya. Setelah selesai mencuci, Rani mengarahkan Rain untuk menumbuk halus bumbu bumbu seperti lengkuas, jahe, ketumbar, kemiri dan cabai keriting. Dengan cekatan tangan Rain menumbuknya. “Udah gini gimana mah?” Tanya Rain saat ia rasa bumbu yang ia gerus sudah halus. “Kamu tumis bumbunya ya Rain, kalau bumbunya udah harum tinggal masukin bumbu bubuknya.” Balas Rani. “Bumbu bubuk yang ini mah?” Rain menunjukkan pala bubuk, merica, asam kandis dan kayu manis. “Iya Rain betul.” “Okey mah..” Rain sedang sibuk menumis bumbu. “Udah harum.” Gumamnya, ia pun segera memasukan bumbu bubuk tadi. Masih sama seperti cara yang tadi, Rain menumis semua bumbu sampai matang dan harum. Setalah dirasa bumbu tersebut memenuhi 2 kriteria itu Rain pun segera memasukkan potongan kecil daging dan tetelan sapi yang sudah ia cuci tadi ke dalam wajan berisi bumbu dan menambahkan air secukupnya. “Rain, tunggu sampai dagingnya lunak nanti kamu masukkin daun jeruk, daun kunyit, sereh sama cengkeh ya.” “Oiya, jangan lupa juga kamu masukkin santan kentalnya.” Tambah Rani. Rain mengangguk patuh seraya tersenyum . “Oke mah, siap.” Sembari menunggu matangnya cincang ala padang, Rain mengambil beberapa buah mangga dan mengupasnya. Niatnya Rain ingin membuat jus mangga. “2 buah aja deh, mamah juga pasti mau.” Pikirnya. Buah mangga yang sudah dikupas daging buahnya Rain masukkan ke blender dengan tambahan s**u kental manis putih dan beberapa potongan es kecil agar terasa menyegarkan saja. “Udah jadi.” Rain pun menuangkan jus buah mangga tersebut ke dalam 2 buah mug polos abunya. Selesai menuangkan, Rain berjalan menuju ruang keluarganya dimana terdapat Rani disitu sedang menonton televisi yang menayangkan sebuah acara talk show. “Mamah, tebak Rain bawa minuman apa?” Ujar Rain yang disambut mata penasaran Rani. “Wah... apa yaa..” “Mamah tau nih, kayanya jus.” Tebak Rani. “Iya mah betullll, coba tebak jus apa?” “Jus.....” Ucap Rani memanjangkan kata ‘jus’ sambil menampilkan eskpresinya yang sedang berpikir. “Jus mangga ya.” Rain bersorak dan tepuk tangan tatkala mendengar jawaban Rani itu benar. “Yeyy mamah emang hebat! Nih Rain kasih hadiah buat mamah satu gelas jus mangga segar buatan Rain yang cantik.” Ujar Rain ceria, Rani pun menerima dengan senang hati. Glek “Wah.... seger banget Rain, manisnya juga pas buat ukuran mamah. ” Puji Rani. “Kamu emang anak mamah yang pintar.” Rani menoel hidung Rain. “Hehehe, iya dong mah...” Saat sedang asyik berbincang bincang, tiba tiba Rani mengingatkan Rain perihal masakan yang mereka buat. “O iya Rain, coba kamu cek gih barangkali udah matang masakannya.” “Iya mah, Rain cek sekarang.” Rain menyicipi masakannya itu, dan ia juga mengambil satu potong daging untuk mengetahui apakah daging tersebut sudah empuk atau belum. “Aaa... enak banget. Dagingnya juga udah empuk.” Gumamnya seraya tersenyum. Rain pun dengan cepat mengambil mangkok yang ia gunakan sebagai wadah makanannya itu. Semuanya sudah beres. “Mah..... Mamah ke sini dulu.” Teriak Rain. “Yaampun Rain kamu ga usah teriak teriak ah. Kebiasaan banget si.” Ujar Rani saat mendekati Rain. Rain hanya terkekeh sambil terus memakan bumbu daging cincang tersebut. “Yauda, ayo makan mah, Rain udah laper nih.” “Iya iya ayo, kelihatannya enak banget nih.” Rain sudah menyiapkan nasi dan menuangkan daging cincang tersebut ke dalam piringnya dan juga piring Rani. Mereka pun kini sedang menyantapnya dengan nikmat. “Buat percobaan pertama kamu, ini ituh udah enak banget Rain.” Puji Rani, Rain hanya tersipu malu mendengarnya. Tok tok tok Suara ketukan pintu membuat Rani dan Rain menghentikan makannya sejenak. “Biar Rain aja mah yang buka.” Clek Pintu utama rumah Rain telah terbuka, seketika itu pula Rain terdiam, kaget. “Lo kebiasaan banget si gasuka ngunci gerbang.” Ujar Radafa datar namun Rain masih diam. “Rain.” Rain mengerjapkan matanya berkali kali. “Radafa ko kesini?” “Nih, tolong kasih ke tante Rani dari mamah gue.” Ucap Radafa sembari memberikan bungkusan berisi dress kepada Rain. “Oh... buat mamah. Iya, nanti Rain kasih ke mamah.” “Yauda, gue mau balik lagi.” Saat Radafa akan membalikkan tubuhnya, Rain mencegah Radafa dengan memegang pergelangan tangan Radafa. “Eh, jangan dulu pergi” “Gue masih ada urusan.” “Hari ini Rain buat daging cincang ala ala padang gitu, Radafa harus nyobain masakan Rain ya.” Pinta Rain. “Gue gabisa Rain.” Rain menunduk lesu. “Plis, Rain bakalan senang banget kalo Radafa nyicipin masakan Rain.” Radafa membuang napasnya, sebenarnya ia mau saja mencicipi masakan Rain yang menurutnya itu enak. Tapi, ia tak langsung menerima karena gengsi. Jual mahal sedikit tidak apalah. “Yauda.” Rain menatap Radafa dengan mata berbinar. “Hah? Radafa mau? Yey!!! Yauda ayo masuk.” Ajak Rain dengan semangat. Radafa dan Rain sudah sampai di ruang makan, dan terlihat Rani yang sedang duduk di mini bar dapur sedang menyantap makanannya. “Tante.” Radafa menyalimi tangan Rani dengan sopan. “Radafa mau anterin dress nya tante ya?” “Iya tan.” “Oh iya, ayo makan dulu nih. Ini semua Rain yang masak. Tante jamin kamu bakalan ketagihan.” Ujar Rani,. Ah, mamah ini bisa saja memuji Rain dengan cara berlebihan seperti itu di hadapan Radafa. Membuat pipi Rain panas saja. Rain menyiapkan satu porsi nasi hangat dengan daging cincang untuk Radafa. Dan Radafa pun menerimanya kemudian mulai menyantapnya. “Enak.” Batin Radafa memuji masakan Rain pada suapan pertamanya. “Tante mau ke atas dulu ya kalo gitu.” Ujar Rani saat akan meninggalkan Radafa dan Rain yang dibalas anggukan secara bersamaan. “Gimana? Enak ga?” Tanya Rain. Radafa hanya diam sambil terus melanjutkan makannya. Rain mengerucutkan bibirnya, kesal. “Kebiasaan banget si, setiap Rain nanya pasti ga dijawab.” “Enak.” Cicit Radafa pelan, bahkan hampir tak terdegar oleh Rain. “Hah? Radafa tadi ngomong apa ngga si ?” Diam. Radafa selalu seperti itu. Memang suatu kebiasaan yang bisa bisa membuat Rain darah tinggi. “Masakan lo enak Rain.” Batin Radafa. Hahaha lucu sekali Radafa hanya bisa mengungkapkannya dalam hati. Ia terlalu malas memuji Rain karena khawatir ia akan membuat Rain merasa terbang. Tidak, tidak, Radafa tidak mau seperti itu. “Nanti Rain bungkusin buat tante Dita sama om Doni ya.” “Gausah.” Tolak Radafa dingin. “Radafa harus mau tolongin Rain, lagipula ini buat tante Dita sama on Doni, bukan buat Radafa. Huh.” Sewot Rain. “Ya ya ya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD