“Assalamualaikum Mah, Kaka pulang.” Megan masuk ke dalam rumahnya dan melihat Malik, Mayka dan kedua adiknya sedang berkumpul menonton televisi.
Kedatangan Megan disambut dengan ceria oleh Maya dan Miya. Mereka berhambur menghampiri Megan dan menarik narik tangannya. “Ka Megan... habis shalat isya nanti kaka ajarin aku sama adek hafalan surat pendek lagi kan?” Tanya Maya.
Megan membungkukkan badannya untuk mensejajarkan dengan tubuh kedua adiknya yang lebih pendek. “Iya, nanti kaka ajarin kalian ko.”
“Terus, nanti kaka bakalan kasih kita hadiah es krim lagi kan?” Tanya Miya dengan wajah polos.
Sudut bibir Megan terangkat. “Iya, tapi kalo kalian udah hafal. Kalo ngga hafal, kaka gabakalan kasih.”
Maya dan Miya bersorak gembira, mereka beralih memeluk Megan. “Emm, kaka bau acem.” Celetuk Miya tiba tiba yang membuat Megan tertawa.
“Hahaha. Yauda, udahan dulu ya pelukannya, kaka mau mandi.” Ujar Megan yang dibalas anggukan oleh kedua adiknya.
Saat Megan melewati Mayka dan Malik, ia tak lupa untuk menyalimi tangan orangtuanya. “Mah, pah.” Sapa Megan tersenyum.
Seakan akan tidak terjadi apa apa, Malik dan Mayka juga membalas Megan dengan senyuman. Mereka bahkan tidak berkata apapun tentang masalah yang sedang dihadapi.
Megan sudah membersihkan dirinya dan sedang berbaring sembari melamun menatap langit langit kamarnya.
Tok, tok, tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Megan, ia menoleh ke sumber suara, karena pintu kamarnya kebetulan tidak ia kunci Megan pun berteriak mempersilakan orang yang mengetuk pintunya untuk masuk ke dalam kamarnya.
Terlihat wanita paruh baya sedang berjalan menghampiri Megan. Wanita itu selalu terlihat cantik walaupun usianya sudah menginjak kepala 4. “Mamah.” Megan segera bangkit merubah posisinya menjadi duduk menghadap Mayka.
“Megan, ayok makan dulu. Yang lain udah pada nunggu kamu tuh di ruang makan. .” Ujar Mayka.
“Oh iya mah Megan lupa.” Balas Megan disertai kekehen kecil. Megan dan Mayka pun berjalan bersama menuju ruang makan. Benar saja sudah ada Malik, Maya dan Miya di sana.
“Maaf kaka lama ya, abisnya kelupaan tadi. Untung mamah ke kamar Heheh.” Ujar Megan tak enak, saat sudah sampai di meja makan.
“Udah gapapa, yauda kaka duduk gih.” Sahut Malik.
Megan sudah duduk di tempatnya, Mayka juga sudah menyiapkan menu sesuai porsi suami dan masing masing anaknya. Sebelum makan, tak lupa mereka mengawalinya dengan doa yang dipimpin oleh Malik.
“Wah... enak mah.” Ujar Miya yang masih mengunyah makanannya.
“Oiya pah, pas di sekolah temen temen banyak yang cerita sama aku sama Miya juga.” Ujar Maya.
“Iya pah, bener kata kaka.” Miya pun ikut menyahuti ucapan Maya.
“Wah, cerita apa tuh?” Tanya Malik dengan raut wajah penasaran.
“Jadi gini pah...” Baru saja Maya akan mulai bercerita, Miya dengan cepat memotongnya. “Ka Maya, biar Miya aja yang ceritain.”
“Gamau. Kaka aja yang ceritain, kamu diem aja dengerin.” Maya menolak.
“Gamau ah, Miya aja yang ceritain ke papah.” Miya pun tak kalah kekeuh dengan kakanya itu
Melihat Maya dan Miya yang saling cekcok, Malik pun dengan cepat melerainya. “Udah, Maya sama Miya boleh cerita. Tapi satu satu ya.” Ujar Malik dengan lembut.
“Kalian berdua setuju?” Tanya Malik. Maya dan Miya pun mengangguk patuh.
Semua hening, hanya terdengar suara sendok yang bersentuhan dengan piring. Maya mulai bercerita setelah tadi tertunda oleh adu cekcok dengan adiknya.
“Jadi gini pah, Laura cerita tentang liburannya ke taman safari waktu hari minggu. Kata Laura di sana banyak banget hewannya, ada yang buas ada juga yang ngga buas. Laura juga kasih makan hewan hewan di sana pake wortel.” Saat Maya berhenti berbicara karena ingin minum, Miya pun dengan cepat melanjutkan cerita itu.
“Iya pah bener, kata Laura dia keliling kelilingnya pake mobil, terus pengunjung di sana juga banyak. Kata Laura juga, dia foto foto bareng sama hewan yang lucu lucu di sana.”
“Wah, seru ya.” Balas Malik.
“Iya pah seru banget. Kita ke sana yuk pah hari minggu. Aku pengen lihat banyak hewan di sana.” Pinta Maya
“Iya pah, Miya juga pengen lihat singa di sana.” Sahut Miya.
Megan hanya diam tak mengeluarkan suara apapun. Rasanya tak ada gairah untuk mengunyah makanan yang ada di mulutnya itu. Begitupun dengan Mayka dan Malik, mereka saling melirik satu sama lain. Bingung apa yang harus mereka katakan nanti
“Mmm...gimana kalo hari minggu kita buat acara di rumah aja? Pasti bakalan lebih seru tuh.” Tanya Malik.
Megan tahu Malik memberi jawaban seperti itu hanya untuk mengalihkan pembicaraan saja, karena biaya masuk ke taman safari untuk 5 orang saja sudah besar,belum lagi untuk bekal makan dan jajan di sana. Bisa dibayangkan berapa banyak uang yang harus ia keluarkan saat dirinya sedang menyandang status pengangguran seperti ini.
“Acara apa pah?” Tanya Maya.
Malik menaruh sendoknya seraya tersenyum menatap anaknya. “Hari minggu pagi kita bakal lari pagi dan bermain di taman, setelah itu kita makan sama sama di rumah. Dan siangnya.... kita sulap ruang keluarga menjadi bioskop yang bakalan kita gunakan buat nonton bareng film kesukaan anak anak papah.” Ide Malik yang ternyata membuat Maya dan Miya seolah takjub mendengarnya.
“Wah, kayaknya bakalan seru pah. Ayo pah kita buat acara itu aja di rumah.” Pinta Maya antusias.
“Iya pah, Miya juga mau.”
Malik dan Mayka tersenyum. Setidaknya mereka sedikit lega dengan jawaban anak anaknya itu. “Oke, kalian semua setuju ya.”
Maya dan Miya mengangguk antusias tanda setuju.
Sesi makan bersama sudah berakhir, Megan pun juga sudah berada di dalam kamarnya lagi. Kini, Megan sedang duduk di kursi belajarnya, ia melihat kalender segitiga yang ada di meja belajanya ternyata 2 hari lagi sudah memasuki awal bulan. Waktu dimana Megan harus membayar uang SPP sekolahnya yang selalu ditagih setiap bulannya.
Megan membuang napas beratnya, ia mengambil celengan yang ia simpan di nakas meja belajarnya. “Gue buka aja kali ya.” Gumam Megan. Ia masih menimang nimang keputusannya untuk membuka celengannya itu.
Tok, tok, tok
Saat sedang berpikir, Megan dikagetkan dengan suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Khawatir yang mengetuk adalah Mayka, Megan pun dengan cepat mengembalikan celengannya kembali ke dalam nakasnya. Setelah itu ia bangkit dari tempat duduknya dan membukakan pintu kamarnya.
“Eh mamah, ada apa?” Tanya Megan sedikit gugup. Benar saja dugaannya, itu pasti Mayka.
“Mamah ke sini Cuma mau ngasih ini.” Ucap Mayka seraya memberikan amplop putih untuk Megan dan Megan pun menerimanya.
“Ini uang buat bayar SPP dan bekal sekolah bulanan kamu. Maafin mamah ya, mamah kasih uang bekalnya ga kaya biasa yang dua minggu sekali.”
Megan tersenyum. “Gapapa mah, Megan lebih seneng malahan kalo dikasih nya bulanan.”
Mayka mengusap singkat puncak kepala Megan seraya tersenyum. “Yaudah, kalo gitu mamah mau ke kamar lagi ya.” Pamitnya yang dibalas anggukan oleh Megan.
Megan pun menutup pintu kamarnya dan duduk kembali di kursi belajarnya.Ia membuka amplop putih itu, mengeluarkan dan menghitung lembaran uangnya. “Masih sama, mamah sama papah ga ngurangin uang jajan gue.” Gumam Megan. Sebelum ia masukkan uang itu ke dalam dompetnya, terlebih dulu Megan menyisihkan uang jajannya untuk ia masukkan ke dalam celengan yang tak jadi ia buka tadi.
“Alhamdulilah, gue masih dikasih kecukupan.” Gumamnya seraya terenyum sembari memasukkan beberapa lembar uang ke dalam celengannya.
“Semoga papah bisa cepat dapat pekerjaan yang baru dan lebih baik lagi.”
Tok tok tok
Tok tok tok
Tok tok tok
Suara pintu kamar Megan kembali berbunyi, namun irima ketukannya kali ini berbeda. Agak sedikit cepat dan terburu buru disertai juga dengan suara teriakan anak kecil yang memanggil namanya.
“Kaka...”
“Ka Megan...”
“Ka Megan...”
Teriakan di luar terdengar jelas di telinga Megan. “Oh iya, udah isya.” Megan dengan segera membuka pintu kamarnya, saat pintu sudah terbuka Megan melihat kedua adiknya sedang berdiri sembari membawa juz amma nya masing masing.
“Kaka ga lupa kan mau ajarin kita?” Wajah polos Maya bertanya.
“Engga dong, ayo masuk kamar kaka.” Ucap Megan mempersilakan adiknya.
Mereka sudah duduk di atas tempat tidur Megan. “Nah, kita mulai hapalan surah ke 93. Coba kalian cari surah ke 93 itu surah apa?” Tanya Megan. Miya dan Maya pun segera membuka juz amma untuk mencari surah yang ditanya kakanya
“Miya udah ketemu ka.” Ujar Miya dengan semangat.
“Maya udah ketemu?”
Maya menggeleng pelan. “Belum ka, aku masih nyari.”
“Gapapa, kita tungguin kamu ko.” Ucap Megan lembut agar Maya dapat tenang mencari.
“Iya Ka Maya, Miya juga bakalan tunggu kaka ko.” Sahut Miya yang membuat Maya tersenyum.
“Udah ketemu ka.” Ujar Maya
“Nah, kalo udah ketemu kalian jawab bareng bareng ya. 1, 2, 3. Jawab!”
“Surah Ad dhuha Ka.” Jawab Maya dan Miya secara bersamaan.
“Iya betul. Yaudah, kaka mau bacain dulu ya Nanti kalian ikutin.”
Hafalan dimulai, baik Maya maupun Miya sama sama menghafalnya dengan serius, meskipun sedikit juga diselingi dengan candaan. Sampai akhirnya jam sudah menunjukkan pukul 8.20, waktunya Miya dan dan Maya, Megan pun mengakhiri hafalan kedua adiknya karena besok Maya dan Miya harus berangkat sekolah tanpa harus kesiangan.
“Kita lanjutin besok ya, sekarang waktunya kalian tidur.” Ujar Megan. Miya juga dari tadi terihat sudah menguap berkali kali.
“Iya Ka, kita ke kamar ya. Makasih ka Megan.” Balas Maya sembari menguap.
“Selamat tidur adik kaka yang cantik.” Megan mecium kening Maya dan Miya secara bergantian.
“Iya, Kaka juga selamat tidur."