Part 18

1679 Words
“Gue ga terima perlakuan lo Megan!” Salsa Memekik kesal di dalam kamarnya. “Argh!!!” Ia menggeram dengan sejadi jadinya. Sudut bibir kanan Salsa terangkat. “Lo bakalan tahu akibatnya Megan.” “Haha haha haha.” Kini, suara tawa jahat Salsa yang mendominasi ruang kamarnya. **** “Pagi Megan.” Sapa Rain ceria. “Iya Rain.” Balas Megan lesu. Megan melipatkan kedua tangannya di atas meja untuk dijadikan tumpuan kepalanya. Rain heran, tumben sekali Megan tak bersemangat seperti itu. “Apa Megan belum sarapan ya?” Gumam Rain. Rain menepuk bahu Megan pelan. “Megan kenapa? Ko lesu banget? Megan belum sarapan ya?” Megan mengangkat kepalanya dan menoleh pada Rain. Matanya terlihat sembab dan wajahnya pucat pasi. Apa Megan sakit? “Gue ga kenapa napa Rain.” Rain menggeleng cepat. “Engga! Megan pasti kenapa kenapa.” Elak Rain seraya memegang kening Megan. “Megan sakit ya? Eh, Tapi keningnya ga panas.” Megan tersenyum. “Gue kan udah bilang, kalo gue tuh baik baik aja. Gue cuma ngantuk, semalem abis begadang nih” Megan beralih mencubit dengan gemas pipi Rain. “Lo gausah khawatir ya Rain.” Ujar Megan. “Aaaa... Megan, sakit tahu.” Rain memekik sembari melepas cubitan Megan. “Iya maaf haha, yaudah gue mau lanjut tidur ya.” “Iya Megan, nanti Rain bangunin ya kalo udah ada guru yang masuk.” “Lo gaperlu bangunin gue Rain, karena harapan gue, gue gabisa bangun lagi hari ini.” Batin Megan. Megan mengakat kedua sudut bibirnya. “Iya Rain, makasih ya.” Flashback on “Assalamualikum mah. Kaka pulang nih.” Salam Megan dengan ceria. Megan menyalimi tangan mamahnya dan mengusap singkat puncak kepala kedua adiknya yang sedang duduk menyila sembari menonton televisi dan Megan juga memberikan dua buah es krim coklat sebagai hadiah karena kemarin malam kedua adiknya bisa menghapal surat surat pendek yang sudah Megan ajarkan. Oiya, adiknya Megan yang pertama itu bernama Maya dan yang kedua bernama Miya. Mereka adalah anak kembar yang baru masuk TK pada tahun ini.Megan sangat menyayangi kedua adiknya, meskipun di sekolah Megan terkenal berparangai galak dan selalu berani terhadap siapa saja yang mengganggunya, tapi di rumah ia beda 180 derajat. Megan yang galak akan berubah menjadi malaikat baik hati terhadap kedua adiknya dan juga orangtuanya. “Kaka, Mamah udah masakin makanan kesukaan kamu tuh.” Ujar Mayka, Mamah Megan. “Wah... tongseng sapi pedas mah?” Tanya Megan yang dibalas anggukan oleh Mayka. Sontak saja balasan Mayka membuat Megan memekik gembira. “Yey!!! Makasih banyak ya mah. Mamah tahu aja kaka lagi kangen makanan itu.” Megan memeluk Mayka. “Udah gih kaka mandi dulu, bau acem tahu badannya. Hehehe.” Canda Mayka. “Ih.... ka Megan bau asem.” Ujar Maya tiba tiba setelah itu Miya pun ikut meledek Megan dengan cara menutup hidungnya. “Ih... kaka bau asem. Miya harum dong.” Megan melepas pelukannya pada Mayka, ia menatap gemas kedua adiknya yang sepertinya sedang ingin bercanda dengannya. “Oh gitu ya...” Megan mengambil ancang ancang untuk bersiap memeluk kedua adiknya itu. “Sini, kaka peluk kalian berdua biar ikutan bau asem juga. Rawwww.” “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.... Ka Maya ayo kita lari.” Miya Memekik. Mereka pun lari terbirit untuk menghindari pelukan Megan. “Ehh, udah dong main kejar kejarannya. Kaka nyerah deh, kalian semua cepet banget larinya.” Ujar Megan dengan napas yang sengaja ia naik turunkan dengan cepat. Jujur ini tidak ada apa apanya jika dibandingkan dengan latihan silatnya di sekolah. Megan hanya berbohong agar adiknya tertawa lepas karena mereka berhasil membuat dirinya menyerah. Maya dan Miya melakukan high five ria sambil mengucapkan kata kata yang tak dimengerti oleh Megan. Megan pun kini memilih untuk ke kamarnya dan bersiap mandi. “Seger banget.” Gumamnya sambil mengelap air di wajahnya menggunakan handuk yang ia kalungkan pada lehernya. Megan sudah ada di kamarnya sekarang, ia pun keluar lagi untuk menuju ruang makan karena cacing cacing di perutnya sudah tidak bisa lagi diajak kompromi. Sesampainya di ruang makan, Megan segera menyiapkan piring beserta sendok dan ia mengambil 2 centong nasi hangat tak lupa juga dengan menu tongseng sapi pedas kesukaannya. “Beuh, enak banget. Masakan mamah emang gaada duanya.” Gumam Megan . Sudah masuk suapan terakhir, Megan akhirnya dapat menghabiskan makanannya dengan penuh kenikmatan. Perutnya sudah sangat kenyang, ia punberjalan menuju dapur sembari membawa bekas piring dan gelasnya untuk ia cuci kembali. Setelah itu Megan beralih melihat jam dindingnya ternyata masih menunjukkan pukul 5.20. “Papah pasti lembur lagi.” Gumam Megan. Akhir akhir ini papah Megan memang sering pulang terlambat karena harus lembur Mengingat besok ada tugas yang harus dikumpulkan, dengan langkah kaki cepat Megan berjalan menuju kamarnya. “Gue ngerjain tugas dulu deh biar tenang.” Gumamnya. Megan sudah duduk di kursi belajarnya, ia mengambil buku buku yang berkaitan dengan tugasnya dan mulai menuliskan sesuatu di setiap lembaran kertas itu. “Gue inget nih, Rain pernah ngajarin gue caranya.” Cicitnya pelan. Megan masih mengerjakan tugasnya, sampai ia tak sadar bahwa dirinya sudah menghabiskan waktu 3 jam lamanya di meja belajar. Sebenarnya, pekerjaan sekolah Megan sudah selesai dari satu jam yang lalu, hanya saja waktu luangnya itu ia gunakan untuk memainkan handphonenya. Megan menguap berkali kali, tapi ia tidak mengantuk. “Hoamz.....” “Masih jam 7.40 .” “Duh pengen pipis lagi.” Gumam Megan, karena ia tidak punya kamar mandi dalam kamarnya, Megan pun terpaksa keluar untuk menuju kamar mandinya. Sudah berada di luar kamarnya, Megan berjalan dengan langkah kaki tenang. Baru pukul setengah delapan saja rumahnya sudah sangat sepi. Adiknya pasti sudah tidur, Mamah juga pasti sedang istirahat di kamarnya sambil menunggu kedatangan papah. “Lega banget.” Gumam Megan saat sudah keluar dari kamar mandi. Ia pun kembali berjalan menuju kamarnya. Saat langkah kakinya melalui kamar Mayka dan Malik, orangtuanya. Tak sengaja Megan mendengar kata PHK diantara percakapan kedua orangtuanya itu. Karena penasaran, Megan akhirnya memilih untuk meguping pembicaraan antara Mayka dan Malik. “Mas, memang apa sebabnya sampai kamu di PHK seperti ini?” Mayka bertanya dengan nada lirih. “Mas juga ga tahu, Mas rasa selama mas bekerja belum ada satupun kerjaan yang mas tunda, dan Pak Bimo pun selalu puas dengan hasil kerja Mas.” “Apa Mas sudah menanyakan pada pak Bimo tentang kesalahan apa saja yang telah dibuat oleh Mas?” “Mas sudah meminta semua penjelasan pada Pak Bimo, tapi dia seakan menutup nutupi kebenaran yang ada dan selalu mengalihkan arah pembicaraan yang Mas ajukan.” Mayka menangis tersedu sedu. “Hiks... kalau begini bagaimana kita membayar uang sekolah Megan, Maya dan Miya, Mas?” Deg Seketika itu pula jantung Megan seperti tertusuk oleh ribuan duri. Mendengar pertanyaan Mayka membuat air matanya tak terasa lolos menetes begitu saja. “Maya dan Miya baru saja memasuki taman kanak kanak, apa kita harus menundanya saja Mas sampai keadaan ekonomi kita membaik?” Pertanyaan berikutnya tak kalah menyakiti hati Megan. Ia tak bisa membayangkan perasaan bahagia dan sanyum ceria kedua adiknya itu akan berakhir dengan luka karena mereka harus putus sekolah. Megan kembali meneteskan air matanya, ia tak tahan jika terus mendengarnya. Megan pun memilih untuk berlari menuju kamarnya sambil terus meneteskan air mata. Malik memeluk Mayka dengan penuh kelembutan, ia menyalurkan segala kehangatan yang ia punya untuk menenangkan Mayka. Malik tahu bagaimana perasaan istrinya saat ini. “Kamu tenang aja ya, untuk sekolah Maya dan Miya kita tidak harus menundanya, dan biaya sekolah Megan pun sama. Mas masih ada sisa tabungan untuk membayar biaya sekolah mereka. Dan untuk kebutuhan sehari hari, perusahaan memberikan pesangon untuk Mas. Kamu ga usah khawatir ya, Mas juga akan segera melamar kerja di perusahaan lain.” Ujar Malik yang begitu lembut. Malik mengusap air mata Mayka. Ia tersenyum. “Ini cobaan, kita harus sabar menjalaninya. Yang terpenting itu kita tidak memutuskan doa dan usaha. Insyaallah, semuanya akan segera membaik.” Mayka yang awalnya menagis dengan tersedu sedu kini sudh berangsur membaik, ia membalas pelukan Malik dengan hangat pula. Ia sungguh tak salut kepada suaminya, selalu bisa menenangkannya di kala keadaan sedang terpuruk sekalipun. “Makasih banyak Mas, makasih...” Hanya ucapan terimakasih yang dapat Mayka sampaikan. Ia tak tahu harus mengucapkan apalagi untuk seorang suami tangguh yang sedang memeluknya saat ini. Flashback off ”Megan,bangun.” Rain mengguncang bahu Megan dengan pelan agar Megan bangun, karena sudah ada guru yang masuk ke dalam kelasnya. “Megan... Guru nya udah masuk, Megan bangun yuk.”Ucap Rain lembut. Akhirnya Megan pun bangun dengan mata yang masih perlahan terbuka. “Ah iya Rain, makasih.” “Megan, matanya sembab banget. Rain temenin Megan basuh muka ya ke kamar mandi.” Megan menggeleng pelan. “Gausah Rain makasih, gue bisa sendiri ko.” Balas Megan kemudian bangkit dari tempat duduknya dan meminta izin untuk ke kamar mandi. Sesampainya Megan di pintu kamar mandi, ia tak sengaja berpapasan dengan Salsa yang keluar dari kamar mandi tersebut. Megan menghiraukan tatapan sinis Salsa saat berpapasan dengannya tadi . Ia masih memikirkan pembicaraan orangtuanya tadi malam. “Huft.” Megan melihat wajahnya ke cermin, wajahnya pun sudah ia basuh berkali kali agar terlihat lebih segar. Megan merapihkan baju seragamnya yang agak berantakan kemudian kembali lagi ke kelasnya. “Megan.” Sapa Rain ramah saat Megan sudah duduk kembali di sebelahnya. Namun Megan hanya tersenyum tipis menanggapi sapaan Rain. Sedaritadi pelajaran berlangsung, tidak biasanya Megan diam. Biasanya Megan selalu bertanya pada Rain tentang apa yang dijelaskan oleh guru di depan atau sekedar mengajak Rain mengobrol duluan pun hari ini tidak. Timbul di benak Rain, sebenarnya apa yang sedang terjadi pada Megan saat ini? Bel istirahat berbunyi, jika biasanya Megan keluar kelas untuk memburu makanan di kantin, hari ini juga ia tidak melakukan itu. Megan hanya diam tak bergeming dari tempat duduknya. “Mmm... Megan ga ke kantin?” Rain bertanya dengan hati hati. “Ga laper.” Jawab Megan berbohong. Ia lapar, tapi sekarang ia lebih memilih menyimpan uang bekal sekolahnya untuk jaga jaga apabila ia berada dalam keadaan darurat nanti. “Beneran?” “Iya Rain.” “Rain bawa bekal banyak nih, kayaknya ga mungkin deh Rain abisin semuanya. Mmm... kalo Megan bantuin Rain makan mau ngga?” “Pliss... Megan mau ya. Plis... setiap istirahat kita kan gapernah makan bareng.” Rain membujuk Megan sambil mengedip ngedipkan matanya. Megan membuang napas beratnya kemudian tersenyum kecut. “Kenapa si muka lo itu selalu aja berhasil buat orang luluh?” Rain terkekeh pelan. “Yey, berarti Megan mau makan bareng Rain dong.” Tanpa mendengar jawaban Megan, Rain langsung membagi dua bekalnya lalu ia berikan pada Megan. Walaupun kini Rain tidak tahu masalah apa yang sedang dihadapi oleh Megan. Namun, dengan melihat Megan yang lahap memakan bekalnya membuat Rain senang, setidaknya perut Megan terisi sekarang. Rain yakin sekali bahwa tadi Megan itu sebenarnya lapar. Jadi, usaha Rain untuk membuat Megan mau makan bersamanya itu berhasil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD