Cowok di sebelahnya mencibir. “Baris yang bener.”
“Misi,” ujar cewek lain yang tingginya sama dengan Lana. Mata sipitnya menatap ramah. “Boleh aku berdiri di sini? Di belakang nggak keliatan.”
“Sini, sini.” Lana melangkah mundur, membiarkan cewek itu berada di depannya. “Pasti banyak cowok tinggi kan di belakang?”
“Iya, tadi aku liat ada yang tinggi banget, badannya gede. Jadi ...,” cewek itu menertawakan diri sendiri. “Aku takut, makanya aku geser ke sini.”
Uuuh, uwwu banget sih! “Iya, di sini ajaa,” balas Lana dengan gemas.
“Aku Mae. Kamu?”
“Gue Lana. Salken, Mae.”
Suara sepatu menggema di area podium, menarik perhatian Lana, Rudy dan Mae tuk menghadap ke depan.
“Itu kepala sekolahnya, ya?” gumam Mae pada diri sendiri.
Mathan menegur Nova yang berdiri gemetar di samping cewek, lalu menyuruhnya bertukar tempat dengannya yang berada di tengah barisan cowok.
Cowok berpotongan rambut mangkok itu akhirnya menghela napas lega. “Thanks banget, Matt.” Dia melirik Mathan yang asik mengobrol dengan siswi di sampingnya. “Eet, dasar Cekiber.”
Bu Rossie selaku kepala sekolah memulai penyambutan atas kedatangan murid kelas 10 di SMA Meraki. “Seperti yang kalian tau, tahun ini saya sengaja tidak berpatok ke nilai ijazah kalian dan lebih fokus pada pandangan karier masing-masing. Saya harap kalian siap, karena,” dia memberi jeda dramatis. “Sekolah ini sangat berbeda dengan sekolah lain.”
Lana mengerutkan kening mendapati senyum lebar Bu Rossie. “Gue ngerasa ada yang nggak beres ....”
“SMA Meraki, SMA pertama di Indonesia yang menyiapkan murid secara mental dan fisik untuk membentuk masa depan mereka masing-masing. Loh, berarti sama aja kaya SMA lain, dong? Beberapa dari kalian pasti berpikir demikian.”
“Iya, bu.” Lana langsung menutup mulut, sadar suaranya terlalu besar.
Bu Rossie mengerling padanya. “Sekolah ini menuntun kalian langsung ke tempat kerja yang diinginkan. Sekarang saya tanya, kamu mau jadi apa?”
Lana membalas dengan antusias. “Penyanyi, bu!”
“Heh, biasa aja dong, malu maluin aja,” gertak Rudy sambil mendorong kepala cewek itu.
“Iih, kan ibunya nanya!”
“Kalau kamu?” tanya Bu Rossie ke Rudy. “Mau jadi apa kamu setelah lulus dari sinj?”
Manik hitam Rudy berkilat semangat. “Pembuat Animasi.”
Bu kepala sekolah mengangguk-angguk. “Meraki akan bantu kamu mewujudkan itu. Semua mimpi kalian. Apa pun karier yang kalian pilih, di sini adalah tempat kalian menyiapkannya!”
Tanpa aba-aba seluruh murid baru bersorak salut. “Keren juga tujuan sekolahnya,” gumam Theodore seraya menepuk tangannya.
“Nggak salah masuk gue!”
“Gue bakal jadi CEO!”
“Alah, bangun pagi aja susah mau jadi CEO!”
Bu Rossie mengetuk mic. “Informasi pembagian kelas ada di papan mading di depan aula. Jam setengah sembilan, wali kelas akan menjabarkan hal-hal penting lain.”
“Nggak ada kegiatan orientasi, bu?” Sabina yang berdiri paling depan mengangkat tangannya.
“Untuk apa? Ini sekolah elite,” balas Bu Rossie dengan anggun, lalu beliau mengundurkan diri, berjalan turun dari podium.
Lana mengibrit ke luar, menghampiri papan mading di depan tanaman kembang kertas berbunga pink dan kuning. Dia berjinjit di belakang tubuh Mathan, mencari namanya dan Rudy. Cowok itu sadar. “Mau liat?”
Lana mengangguk, langsung bergeser ke sampingnya. Choi Lana ... Choi Lana ... Ah! Kelas XI-2. Sekarang Rudy Hooper. Ruudy Hooper ....
“Aaarg, nggak sekelaas!” serunya kesal.
“Lo di kelas mana?” tanya Mathan, mulai melancarkan aksi.
Tiba-tiba Cecilia merentangkan tangan, menggeser bahu Mathan dan Lana untuk menjauh. “Minggir, Cekiber!”
“Yeee, nenek lampir, nyelak aja,” celetuk cowok itu.
Lana merutuk dalam diam dan keluar dari kerumunan. Aaarg, gak ada yang gue kenal di kelas!
Nova duduk di bangku dekat jendela besar aula sambil menunggu Mathan selesai mencari namanya di papan mading. Seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya. Nova menoleh. “Ya—“ CEWEK! ASKNSIAHDJDSS!!
“Hai, aku Mae—“ Nova melarikan diri sebelum Mae mengenalkan diri dengan lengkap.
Cewek itu mengerucutkan bibir. “Sejelek itu kah gue?” rajuknya sedih.
❣️♥️♥️♥️♥️❣️
Pak guru datang. Sosok berwajah baik itu berdiri di belakang meja guru sambil membawa map. Lana terkesiap. “Ganteng baaanget!” ucapnya pelan.
Mae mengangguk setuju. “Masih muda juga keliatannya.”
“Pagi, anak-anak. Saya Juna, guru Bahasa Indonesia sekaligus pengurus klub Sastra.” Lesung pipi terlihat jelas saat dia menarik senyum. “Saya bakal menjelaskan sistem pembelajaran SMA Meraki yang wajib kalian tau.”
Pak Juna meraih remote mini mirip kunci mobil dari saku celana, menekan tombol pertama ke arah papan tulis hijau. Papan tulis langsung berganti menjadi layar monitor, menunjukkan ikon-ikon perangkat lunak.
“Itu komputer?” seru Lana heboh, membuat satu kelas melirik geli padanya.
Pak Juna terkekeh. “Iya. Nanti semua pelajaran bakal muncul dari sini semua, nggak ditulis sama guru lagi.”
Layar menunjukkan tulisan bergaya lucu. “Kalian udah tau kan kalau sekolah ini fokus ke karir? Kalau di SMK, mereka menyediakan jurusan tertentu. Di jurusan itu mereka mempelajari apa aja hal yang terkait sama bidang yang diambil secara teori dan praktek. Namun, nyatanya, apakah murid-murid yang masuk ke jurusan itu memang punya minat ke jenjang karir yang ditawarkan? Kita ambil jurusan Administrasi Perkantoran. Berapa persen anak yang benar-benar mengambil karir sebagai pegawai administrasi?”
Nova dengan asal bicara. “Sedikit?”
Pak Jun mengangguk. “Pihak sekolah menyurvei anak-anak SMK dan mayoritas mereka bilang karena tidak ada jurusan yang benar-benar mereka minati atau mereka tidak tau karir yang ingin di ambil.”
Layar bergeser menunjukkan daftar klub yang ada di SMA Meraki. “Coba lihat ini dan pilih klub yang mau kalian ikuti.”
Mata siswa-dan siswi di sana melihat satu per satu nama klub. Mae mengangkat tangan. “Klub Desain. Saya pilih klub desain.”
Pak Jun melirik siswi itu. “Karir apa yang mau kamu pelajari di klub itu?”
“Desainer pakaian, Pak Jun.”
Wali kelas X-2 mengangguk salut. “Wah, kamu udah punya pilihan yang diambil ya. Keren, keren.”
“Paak juun!” Lana mengangkat tangan. “Klub nyanyi ada nggak, pak?”
Beberapa murid di kelas tergelak. “Kok diketawain?” tanya Pak Jun, membuat mereka terdiam. “Justru bagus loh, kalau udah tau karier apa yang ingin diambil dan serius untuk menekuninya.”
Lana melirik teman kelasnya. “Gue bakal jadi penyanyi nge-top! Liat aja!”