Cowok yang lebih jangkung darinya itu cekikikan gemas. “Gue kira lo mau masuk pesantren.”
“Gue mau, tapi gue nggak mau jauh dari orang tua gue.”
Mathan mencubit pipi teman se-SMP nya dengan gemas. “Uwwwwuu, manis banget, anak mama.”
“Guguk, lepasin!”
Mata sobatnya membulat. “Heh, siapa yang ngajarin lo ngomong kasar!”
“Berisik, ah!”
Seorang cewek menghampiri mereka yang baru saja masuk ke area taman depan sekolah. Nova dengan cepat bersembunyi di balik punggung Mathan. “Pagi, Fakboy SMP Arjuna!” ujar cewek itu dengan akrab dan angkuh.
Mathan tersenyum puas mendengar julukannya. “Eh, Cecil, masuk sini juga?”
“Iyalah, ini kan sekolah elit.” Cecilia mengibaskan rambut keriting gantungnya sambil merotasikan mata. Dia menangkap sosok Nova di belakang. “Itu ... Nova? Serius lo masuk sini? Entar lo pingsan mulu lagi, kaya pas SMP.”
Mathan menarik Nova keluar dari persembunyian, membiarkan cowok itu menjerit ngeri saat melihat Cecilia. “Tuh kan, ngeliat cewek classy aja dia mati kutu,” lanjut gadis itu.
Nova mengibaskan tangan di udara sambil memiringkan badan, tidak mau berdiri menghadap Cecilia. “H-hush, hush ...,” usirnya gemetar.
Cecil mengangkat kepalan tangan ke wajah Nova. “Iiiih, k*****t! Sono ke asrama cowok!”
Mathan tertawa puas melihat temannya yang tidak juga mengalami perkembangan. “Bener sih kata Cecil. Lo bisa jantungan masuk sini, Va.”
Nova mencibir. “Gue juga mau benerin ketakutan gue, tapi tetep aja susah.”
Mathan menepuk bahu Nova. “Kalem, gans, lo kan punya gue.”
“Halah, lo mah Cekiber, iya lah nemplok mulu sama cewek.”
❣️❤️❤️❤️❤️❤️❣️
Nova masih berlindung di dekat Mathan sambil menunggu giliran masuk ke ruang ujian. Sejak tadi, sobatnya ingin sekali berjalan-jalan mendekati peserta ujian lain—khususnya peserta cewek—tapi Nova terus menahannya agar tidak menjauh.
Lima belas menit lagi, giliran mereka masuk ruangan. Mathan mulai heram. “Nova, lo beneran pengen berubah, kan?”
Nova mengangguk ragu. “Kalau gitu, lepasin tangan gue.”
Cowok bermata besar itu menggeleng cepat, makin mempererat pegangannya pada baju seragam Mathan. “Lo mau bikin gue mati?”
“Ditegor sama cewek kagak bikin lo tewas, cuk,” tukas Matt.
“Jangan bandingin gue sama lo. Lo udah biasa sama cewek.”
“Maka dari itu, sobat, gue ngasih advice buat lo.” Nova mencibir. Dia paham temannya ingin membantu, tapi tetap saja mentalnya terlalu lemah untuk mencoba.
Akhirnya tiba giliran mereka ujian. Nova mencari nomor bangku yang dibagikan lewat email dua hari lalu. Empat belas, empat belas ... eh, bujug!
Matanya membulat melihat bangkunya berada di tengah dua peserta cewek.
MAMPUS GUE, ANYING!!
“Semuanya duduk di bangku masing-masing, ya. Kalau udah, langsung log in aja ke komputernya,” ujar pak pengawas ruangan. Nova bergerak gelisah, ragu untuk duduk di bangkunya.
“Kamu lupa nomor bangkunya?” tanya pak pengawas yang melewati Nova. Cowok itu menggeleng, melangkah berjinjit ke bangkunya sambil memeluk tas, lalu duduk dengan was-was. Mathan cekikikan geli melihat gerak-gerik sobatnya dari kejauhan.
Nova mengeluarkan kertas print berisi email dari sekolah. Dia mengisi nomor peserta di kolom beserta password yang tertera di kertas. Tulisan merah muncul di bawah kolom isian, mengatakan kalau password yang diisi tidak tepat. Nova kembali mengulangnya, tiga kali percobaan tetap saja tidak masuk.
“Itu lo caps-nya masih nyala.” Nova memekik kaget sambil berdiri begitu cewek di sebelahnya tiba-tiba berbicara.
Cewek rambut lurus sepanjang siku dengan kaca mata itu mengerjap heran. Nova melirik sekitar, seluruh peserta ujian kini sedang menatapnya. “Ada apa? Kok teriak?” tanya pak pengawas.
Dada Nova naik turun dengan cepat, lengan dan kakinya gemetar di tempat. Cewek berkacamata itu sadar kalau Nova tidak terlihat sehat. “Lo sakit?”
Mathan langsung berdiri menghampiri sobatnya. Dia meraih kedua bahu Nova. “Kenapa?”
Nova menggeleng. Mengatur napasnya agar tenang. Kontrol diri, tarik napas, hembus perlahan, everythings fine. Itu adalah kata-kata yang menjadi jimat ketika dia ketakutan. “Gue nggak bisa log in,” jelasnya dengan suara tercekat.
Mathan melirik komputer yang ditempati Nova, menekan tombol caps lalu mengisi ulang passwordnya. “Oke, udah tuh.” Mathan melirik cewek kacamata yang masih memperhatikan Nova. “Biasa aja kali liatnya, gue tau gue ganteng.”
Cewek itu mencibir. “Najis.”
“Gue Matt, bukan najis—“ Mata Mathan melirik komputer cewek itu. “Sabina,” lanjutnya sambil tersenyum.
❣️♥️♥️♥️♥️❣️
Empat Januari menjadi hari paling bersejarah untuk Lana. Cewek itu terus berjoget girang di kamar mandi, sampai dia sarapan dengan lontong sayur pun badannya masih bergerak ria. Seperti belatung sagu.
Usai mengunci pintu rumahnya yang kosong, lana langsung menghampiri Rudy yang kediamannya berjarak lima rumah ke samping. Sambil salam dia membuka pintu rumah cowok itu.
“Rudyyyyyyyy, oweeyoh!” panggilnya dengan bernada.
Cowok yang dipanggil keluar dari kamarnya, menyalam sang ibu yang sedang terhanyut dalam sinetron india, lalu memakai sepatu. “Emak lo setiap hari nonton itu mulu,” ujar Lana, mengintip ruang tengah.
Rudy mengembus napas pasrah. “Itulah kenapa gue males nonton tipi, isinya nangis semua.”
Lana mengerjap. “Kantong mata lo makin item dari kemaren, Dy. Lo begadang tiap hari?”
Cowok itu mengacungkan jempol. “Kapan lagi gue bisa maraton Anime.”
“Lo jadi serem.”
Rudy bangkit berdiri, mengusap bawah matanya. “Entar juga ilang.” Dia menatap rambut cewek itu yang melewati bahu, poni tipis yang jarang dan mata bulat cemerlang. “Gue juga bakal libur nonton,” lanjutnya.
Lana menepuk lengan Rudy dengan salut. “Bagus, boy.”
Sesampainya di sekolah, Lana tercengang melihat seorang siswi yang keluar dari mobil sultan di depan gerbang. Mulutnya menganga. “Sumpah, gue insekyur ngeliat mobilnya.”
Siswi itu melepas air pods dari telinga, melirik datar pada Lana sesaat lalu berjalan masuk dengan angkuh. “Ih, belagu banget.”
Rudy menarik Lana agar segera masuk ke area taman sekolah. Cewek itu memekik tertahan pada setiap sisi dan sudut sekolah elite SMA Meraki, berbeda dengan Rudy yang tampak tak begitu peduli dengan penampilan sekolah.
Semua siswa-siswi baru berkumpul di aula untuk penyambutan. Lagi-lagi Lana berseru melihat bagian dalam aula bergaya vintage itu. “Bangunan sekolahnya ala ala negeri dongeng, njir.” Jemarinya menunjuk ke atas. “Lampu gantungnya gede banget, Rud, liat dah.”
“Iyaa, iyaaa, sini baris di depan gue,” balas Rudy menarik bahu cewek itu agar bergeser. Tiba-tiba ada cowok yang tak sengaja menabrak punggung Lana. Cewek itu langsung berbalik. “Eh, Maap—“
Theodore memberi senyum. “Hati-hati, manis.”
Rudy segera menarik Lana dan menatap dingin Theo yang lebih tinggi darinya. Laki-laki berdarah Spanyol itu pergi dengan senyum lebar.
Mata cewek itu membulat, “Itu cowok tinggi banget.”
Cowok di sebelahnya mencibir. “Baris yang bener.”