Jaket Kelinci 2.0

1424 Words
Matt duduk di sebelah Nova yang menggulung dirinya dalam selimut tipis ranjang UKS. Dia menepuk cowok itu. “Nov, mau pulang, gak? Gue bakal minta Mang Eko biar jemput kita kalo lo mau.” “Udah jam berapa emang?” “Udah pengen jam tiga.” Nova menyembulkan kepalanya. “Yaudah.” “Terapi lo ... gimana?” tanya Matt yang ragu menanyakannya. “Masih jalan. Cuma dia bilang gue harus mulai sendiri. Inisiatif memulai obrolan sama cewek, minimal salaman.” “Gimana mau salaman, semeter kurang aja lo udah kaya begini,” tukas Matt. “Makanya ....” Nova duduk bersila. “Apalagi si Lana tuh serem banget.” Cowok berlesung pipi itu mendengus. “Cewek asik kaya dia lo bilang serem?” “Lo kan cekiber,” cibir Nova. “Cara pandang lo aja yang sempit.” Matt bangkit, berpindah tuk duduk di sisi ranjang. “Kalau sama cewek yang kalem gimana?” Terdengar ketukan di pintu UKS, Matt dan Nova langsung saling bertukar pandang. “Sana buka,” titah Nova yang kembali menggulung diri. Matt mendumal, bangkit membuka pintu UKS. Di baliknya ada Mae, dengan jaket kelinci berwarna soft pink. Gadis bersurai sepundak itu mengerjap mendapati Mathan. “H-hai,” tegurnya pelan. Matt memasang senyum andalan. “Hai, manis. Kenapa? Kamu sakit juga?” “Bukan, ini ....” Mae menyodorkan tas Nova ke Matt. “Ketinggalan di depan loker ....” Matt mengangguk. “Ooh, makasih, ya.” Cewek itu berjinjit mencoba mengintip ke dalam ruangan dari pundak Matt. Cowok itu mengerjap. “Mau ngobrol sama Nova?” “Jangan!” Mae menutup mulut menyadari suaranya yang mendadak lantang. “Jangan?” ulang Matt. Mae menggeleng. “Nova udah gak apa-apa, kan?” Cowok dengan suara manis itu mengangguk. “Iya.” “Yaudah, aku pulang duluan. Dah.” Matt melambai sambil berkata, “Dadah, manis.” Cowok itu mengerling ke Nova. “Katanya gak ada cewek lain yang deket. Terus itu siapa, k*****t. Mana manis banget lagi,” gumamnya. Matanya membelalak. “s****n, gue lupa nanyain namanya.” ❤️❣️❣️❣️❣️❤️ “Padahal gue gak jahatin dia, loh,” kata Lana, masih membahas soal Nova di meja makan bersama Rudy. Mereka berdua sedang menunggu Ibu Rudy yang membuat mie ayam di dapur. Rudy di seberangnya setengah fokus mendengar omongan Lana, setengah teralihkan ke film anime di layar ponsel. “Hmmm.” “Kemaren gue juga liat dia ketakutan begitu sama Maung. Gue gak tau itu cewek apain si Nova, tapi tu cowok kicep banget sambil mojok di tembok belakang.” “Mmm.” “Apa mungkin tadinya dia sekolah khusus cowok kali ya, makanya pas ngeliat cewek secantik gue jadi gemeteran ....” “Mmmm.” Lana mendecak. “Lama-lama gue joget Treasure yang Mmm, nih. Dengerin gue ngomong, apah! Biasanya lo ngoceh kalau gue deket sama cowok, kok tumben lo anteng?” “Kalau dari sepengamatan gue, dia B aja, sih. Gak apa-apa kalau lo sekelompok sama dia, yang penting jangan sama Kakel yang kemaren itu,” tutur Rudy. “Lah, Kakel yang kemarin lebih jago main pianonya justru.” “Kagak boleh,” tekan Rudy. “Iih, kenapa sama Nova boleh, sama Kakak yang itu gak boleh?” Rudy tak menjelaskan, mengacangi Lana sampai ibunya mendatangi mereka, menaruh dua mangkuk mie ayam di meja. Dia menelepak Hape anaknya sampai jatuh ke meja. “Lana-nya kok dicuekin, Dek.” Ibu Rudy mendatangi mereka, menaruh dua mangkuk mie ayam di meja. Dia menelepak Hape anaknya sampai jatuh ke meja. “Lana-nya kok dicuekin, Dek.” Cowok bersurai agak cepak itu menatap Lana. “Abis dia ngomongin orang mulu” Ibunya mencibir. “Bilang aja kalau iri karena Lana punya banyak temen. Makanya, kamu tuh jangan dikamar mulu! Temenan sama kartun, sama yang serem-serem.” “Itu namanya Anime, bu, bukan kartun.” Ibunya mengibaskan tangan di udara sambil berlalu. “Mau kartun kek, Animun kek. Sama bae.” Lana terbahak. “Wah, Bu, banyak banget ini mie ayamnya.” “Iya, Na. Kemaren ada yang ngasih mie mentahnya banyak banget. Kalau mau nambah ambil aja, ya.” Cewek tanpa poni itu mendapat ide bagus. “Kalau gitu aku panggil Enon aja ya kemari, sekalian bantu ngabisin.” Rudy membulatkan mata. “Jangan—“ “Nah, cakep, tuh, Na. Panggil si Enon,” balas Ibu Rudy. “Ah eelah! Ngapain sih manggil dia?” protes cowok itu sambil berusaha mencuri Hape Lana. Lana melawan tangan Rudy dengan Hape ditelinga. Teleponnya di angkat. “Enon? Lo lagi di rumah gak sekarang?” ‘Iya. Kenapa?’ “Dateng sini, ke rumah Rudy. Ada mie ayam gratis.” “I’m on the way,” terdengar senyuman dari suara itu, lalu panggilan pun berakhir. Theo menatap abangnya yang duduk menunggu di sofa. “Victor, gue gak bisa ikut.” Abangnya memutar kepala dari layar Hape. “Kenapa?” Theo buru-buru meraih jaket jeans yang tergeletak di sofa seberang Victor. “Temen gue lagi butuh bantuan gue.” “Hah? Tapi, Dad, suruh kamu dateng sekarang!” protes Victor. “Temen gue lebih urgent!” Sambil berseru demikian dia membanting pintu apartemen. Victor menyisir rambutnya ke belakang, stress karena kelakuan si adik. “Aku tau dia gak bakal mau ikut.” Di jalan, Theo melihat dia lagi. Girl fighter yang pertama kali dia lihat di belokan dekat apartemen. Ada rada ingin menghampirinya, tapi cewek berpakaian serba hitam itu terlihat terburu-buru. Lain kali gue bakal ajak dia ngobrol. Pintu rumah Rudy diketuk. Lana langsung menghampiri pintu. “Enoooon, masuk ajaaa!” Cowok dengan kantung mata gelap ikut bangkit, ingin menghalangi laki-laki itu masuk. Yang bener aja, masa di rumah sendiri gue ngerasa terintimidasi gara-gara ada itu orang? Lana membuka pintu. “Waalaikumsa—“ Mata gadis itu membulat. Rudy yang berhenti di belakang Lana ikut membelalak. Theo mengerjap, menatap diri sendiri yang terbalut rapi dalam kemeja putih, celana bahan hitam panjang serta dasi. “Ooh, tadi Victor ngajak gue pergi, tapi gue males ikut sama dia,” jelasnya. Ibu Rudy pun kaget melihat penampilan formal Theo. “Diundang makan mie ayam kaya diundang kondangan aja, si Enon,” katanya sambil tertawa dan menaruh satu mangkuk mie ayam di depan Vernon. Dilain tempat, Sabina berhenti di depan area kontrakannya yang sepi. Dia langsung membuka tas selempang di pinggang, menyerahkan amplop cokelat panjang yang tebal ke Bosnya. “Kenapa mesti buru-buru, sih, bang Jurik?” tanya Sabina ke salah satu anak buah Yono. Laki-laki bernama Jurik tidak terlihat seperti namanya. Cowok itu memiliki wajah garang yang tampan dengan kulit sawo gelap dan rambut gondrong diikat. Dia berusia dua puluh satu sekarang dan merupakan keponakan dari si bos sendiri. Dia yang menjadi pengurus uang pembayaran hutang. “Ada yang mau minjem, Bina. Duit Mang Yono kurang.” Jurik membuka mulut amplop coklat, lalu melebarkan senyum, menarik selembar bernilai seratus ribu. “Nah, bagus. Ini buat lo.” “Eh?” Sabina yang duduk meringkuk di aspal sambil tersengal mengangkat kepalanya, menatap jurik heran. “Buat apa, bang?” Jurik menampar duit itu ke kepala Sabina. “Ambil bae, ah. Segala nanya. Beli es, sono!” Sabina mendesah protes. “Gue barusan lari, loh, bang!” “Bodo ah, gue pengen es yang magnum. Lo sekalian beli buat sendiri,” titahnya. Tangan Jurik menarik masker hitam Sabina ke bawah. “Makanya, lo gak usah segala pake masker.” Cewek itu menelepak tangan Jurik. “g****k, ntar gue ketauan orang sekolah.” “Udah sore begini, mana ada guru yang ngeliatin muridnya? Gaji mereka aja kecil buat ngajar, kerajinan amat sampe ngawasin siswa.” Sabina terdiam. “Iya juga, sih ....” “Kan? Mending maskernya dibuka—“ “Gak, temen gue ada yang tinggal di sekitar sini, bisa kelar gue kalau ketauan,” balasnya sambil bangkit berdiri. “Magnum, kan? Oke.” Selagi cewek itu pergi, Jurik kembali mengintip isi amplop. “Haaaah, maap ya, Bina. Kalau bisa, gue pengen lo gak pernah tau soal ini,” gumannya sambil menarik sekantong serbuk putih sabu-sabu. Yang dihimpit di antara lembaran duit. Ada sepasang mata yang memperhatikan Jurik dari tepi g**g seberang, orang itu memotret Jurik dan sabu-sabu digenggaman. “Wah, ada anak Meraki yang jadi p**************a? Gimana pendapat Bu Rossie soal ini, ya?” Cewek dengan rambut kepang itu mengirim foto tadi ke nomor Bu Rossie lewat WA, bersama foto Theo yang tadi mengendarai motor ke rumah Lana. Matanya yang tajam seperti mata rubah menatap foto Jurik lekat-lekat. “Apa gue laporin polisi aja?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD