Jus Bayam

1562 Words
Esok paginya, Sabina datang ke Apartemen Theo jam lima pagi. “Passwordnya aku kirim lewat WA, jadi aku minta nomer kamu,” tanya Victor kemarin pagi. Saat itu, Sabina mengatakan kalau dia tidak punya ponsel. Alhasil .... “Ya udah, sekarang kamu tulis. Passwordnya 230193.” Sabina langsung mengeluarkan pulpen dari tas dan menulisnya di notes kecil. “23 ... 01 ... 93.” “Aku bakal dateng jam enam pas, jadi sebelum jam segitu sarapan harus udah ada.” Sabina menekan deretan angka, kemudian bunyi klik terdengar, mengizinkan cewek itu masuk. Lengannya meraba tembok dalam di samping ambang pintu, menekan sakelar. Lampu gantung modern di ruang tengah yang meliputi dapur menyala. Tanpa basa-basi, cewek berkepang itu melepaskan tas dan membuka kulkas. Sandwich dan jus bayam dengan pisang serta yoghurt sudah ada di meja. Sabina selesai tepat lima belas menit sebelum jam enam. Dia duduk sejenak di meja makan. Tadi gue udah masak nasi sama lauk buat Bapak, semoga dia gak kelupaan sarapan sebelum berangkat ngojek. Gue takut mag-nya kambuh. Jam enam pas, Victor masuk ke apartemen Theo. Dia mengerjap mendapati Sabina terlelap di meja makan. Cowok itu menepuk pundaknya. “Kamu kurang tidur semalam?” Cewek itu bangun, langsung beranjak dari bangku, melipat tangan di depan seraya menunduk sopan. “Enggak, Kak, Maaf.” Victor melonggarkan dasi. “Santai aja. Aku bukan atasan kamu, kenapa sampai sesopan itu.” Sabina memperhatikan gerakan Victor yang meraih potongan Sandwich di piring. s**l, gue lupa nanya soal sayuran yang gak disuka Bang Victor! Theo keluar dari kamar, seperti biasa bertelanjang d**a dan rambut berantakan. Matanya yang masih susah terbuka menatap Victor dan meja makan bergantian. “Mornin’,” gumamnya sambil menguap. Sabina membalik badan membelakangi Theo. “Cepat mandi biar kuantar kalian sekolah.” “Tak perlu, aku bawa motor.” Theo duduk di sebelah Victor, tangannya meraih Sandwich. Victor menelepak lengan adiknya. “Mandi.” “Shut up.” Theo meraih gelas, langsung menyeruputnya tanpa bertanya. Dia langsung membelalak. “What the f*uck!” “Heh!” seru Sabina karena mulut kasar Theo. “Apa ini?” tanya cowok Spanyol itu dengan wajah mengerut ngeri. “Jus bayam dengan pisang dan yoghurt.” Theo mendecap mulut, menatap segelas jus itu seperti alien. “Harusnya lo tambahin yoghurtnya yang banyak.” Victor yang ikut menyesal jus mengangguk-angguk. “Tidak, segini udah pas. Terasa menyegarkan.” Vernon menggidikkan bahu, sambil bangkit dan berjalan ke kamar mandi. “Jus itu seperti mimpi buruk.” Si kakak menyelesaikan sarapan dalam hitungan menit. Dia mengeluarkan sapu tangan dari balik jas. “Besok aku pengen pasta krim kerang.” Cewek itu mengerjap. “O-oke, Kak.” Sebelum Victor benar-benar pergi, Sabina bertanya. “Tunggu, Kak. Makanan tadi gimana?” Cowok itu menatap dingin ke Sabina. “Gimana apanya?” K-kok dia kaya marah gitu? Apa gue naro sayuran yang gak dia suka makanya dia jadi sebel? “Gak jadi, Kak. Hati-hati di jalan,” kata Sabina dengan kaku. Cewek berkepang itu mengelus d**a setelah Victor pergi..”Gilaaa, mendadak muka sama suaranya tuh,” katanya yang kemudian mengusap tengkuk karena merinding. Theo kembali ke meja makan dua puluh menit kemudian. Sabina yang selesai menyantap sarapannya bertanya. “Kakak lo emang kerja apaan, Theo?” Theo mengambil gigitan besar Sandwich, lalu menjawab dengan kesusahan. “Intinya dia bos. Perusahaannya banyak, tapi yang paling gede itu UGS, Ultimate Guard Service. Kakak gue nawarin jasa keamanan gitu, di Indo, Spanyol, Korea sama China.” Cewek itu membeku di tempat. Gak heran aura Kakaknya beda. Gue ngerasa bakal diiket  kalau salah jawab. Theo terkekeh melihat ekspresi cewek di depannya. “Gak usah takut gitu sama dia. Selama ada gue, dia gak bakal macem-macem sama lo.” Sabina mendecak. “Emang gue peliharaan lo,” cibirnya. “Kenapa bisa seyakin itu?” “Kakak gue sayang banget sama gue soalnya,” balas Theo yang tak begitu peduli dengan jawabannya. Iya juga, sih. Namanya juga f*ck boy elite. “Kemaren kenapa lo gak dateng?” Sabina mengerjap. “Hmm?” Matanya bergeser menatap ke arah lain saat dia mencoba mengingat. “Di rumah gue ada urusan mendadak, jadi gue gak sempet ke sini.” ❤️❣️❣️❣️❣️❤️ Hari Jumat ini ada kegiatan klub setelah istirahat. Jadwal untuk anak kelas sepuluh memang masih acak, tergantung penjadwalan dari masing-masing pembina klub. Di Klub seni, Lana dan Nova sedang menyimak Kak Felly yang menjelaskan Musikologi.  “Di dalam Musikologi tuh dibahas sejarah musik, studi norma budaya istiadat dan studi gender, filsafat, estetika dan semiotika, etnologi dan antropologi norma budaya istiadat,  arkeologi dan prasejarah, psikologi dan sosiologi, fisiologi dan ilmu saraf, akustik dan psychoacoustics, ilmu komputer dan matematika.” Lana menjatuhkan rahangnya. “Terus kita harus pelajarin itu semua, Kak?” protesnya. “Enggak lah, kalian masih kelas sepuluh.” Lana berhore ria, murid klub seni musik lain tertawa jenaka sebelum Kak Felly kembali melanjutkan. “Tapi di kelas sebelas nanti kalian bakal pelajarin itu sedikit.” Cewek bersurai lurus tanpa poni itu langsung merajuk. “Aigooo.” “Kakak mau mastiin aja kalau kalian bersungguh-sungguh masuk klub ini. Kakak paling gak seneng kalau ada anak yang masuk klub atas dasar ikut-ikutan. Kenapa? Emang nanti ada jaminan kalian bisa kerja bareng-bareng?” Felly menggeleng. “Non. Gak ada. Kenapa? Karena kehidupan kalian sama temen kalian beda. Dia bisa aja berenti dari musik dan beralih ke desain karena satu dua hal problem. Yang nentuin karier kalian bukan temen kalian, tapi kalian sendiri. Jadi, jangan bergantung sama keputusan temen kamu.” Salah satu Kakak kelas berseru. “Felly gak pantes ngomong bijak.” “Ehe, aku khawatir sama adik-adikku tersayang ini,” lontarnya yang menghampiri Lana dan mengusap kepalanya. “Katanya tadi mau ngasih tugas ke anak baru.” “Oh, iya! Kakak bakal kasih tugas duet ke kalian.” Seruan protes terdengar dari lima anak baru. “Kak, anak kelas sepuluh kan ganjil,” kata seorang dari mereka. “Ya, kalian tentuin kelompok sendiri, nanti yang gak kebagian sekelompok sama kakak kelas.” Lana langsung melempar tatapan ke Nova yang duduk paling ujung. Cowok itu menutup wajahnya begitu tau Lana sedang melihatnya. Jangan sama gue ... Plis, jangan sama gue! “Kak, aku sama Nova!” “Oke. Yang lain?” Kegiatan klub musik selesai, Nova segera memakai tasnya dan melarikan diri dari ruang klub. Lana yang baru menghampirinya terdiam. “Lah, Nova! Jangan pergi, dong!” Nova berlari keluar bangunan klub, melewati aula dan jalan di depan kelas menuju area loker. Dia pikir dia aman, tapi dia tidak tau kalau Lana adalah pelari yang cepat dan segera memburu cowok itu. Lana menepuk pundak Nova, membuat cowok itu tersentak dan berhenti. Dia melangkah mundur merapatkan diri ke loker. “J-jangan deket-deket!” Cewek di depannya terlihat tersinggung. “Kok lo begitu? Kita kan sekelompok.” “Gue gak mau sekelompok sama lo,” balas Nova dengan suara panik. Lana mendekat selangkah. “Kenapa? Kita sekelas, loh. Padahal gue milih lo karena lo jago main biola sama piano. Emang suara gue gak pantes buat duet?” “Bu-bukan itu! Lo gak ngerti—“ Lana mendekat lagi selangkah. “Makanya jelasin ke gue biar gue ngerti!” Nova menjerit, memeluk tasnya dan duduk menghadap loker. Tangan Lana yang hendak meraih Nova berhenti di udara. “L-lo kenapa?” tanya cewek itu. Beberapa murid yang ada di area loker dan taman depan sekolah ikut memperhatikan, bahkan ada yang berhenti melangkah dan menonton kepanikan Nova seolah itu menarik. Lana memperhatikan dirinya yang menjadi pusat perhatian. “Gue gak jahatin dia, ya. Gue gak ngebully dia, sumpah!” Rudy, Sabina dan Theo yang baru sampai ke area loker terdiam melihat Nova yang ketakutan tanpa sebab. “Lo teriakin dia, ya?” lontar Rudy. “Enggaaak! Ih, suer, deh, gue cuma mau ngajak dia diskusi!” Mathan yang tadinya hendak menggoda salah seorang siswi terkalihkan dengan kerumunan, dia langsung berlari begitu tau ada Nova di sana. Cowok itu melihat Lana yang masih berdiri di dekat Nova. “Cantik, boleh jauhan dulu? Dia butuh ruang ...,” bujuk Mathan. Lana mengangguk bingung dan melangkah pergi mendekati Rudy dan yang lain. Mathan menepuk pundak Nova. “Bro, ini gue—“ “Pergi!” bentak Nova yang langsung menutup telinganya. Matt melihat kerumunan, banyak sekali siswi yang memperhatikan mereka. “Anjir, ini gimana caranya gue bawa dia?” gumamnya. “Ngapain kalian ngumpul-ngumpul di sini?” Atensi kerumunan yang bertanya-tanya terkalihkan oleh suara keras Audrey yang menutup pintu loker. Dia sejak tadi ada di sana. Dia berbalik, menatap murid lain di sekitarnya dengan sinis. “Bel pulang udah bunyi, kenapa malah berenti di sini?” “Dih, siapa dia ngomong begitu? Sok berkuasa ....” “Itu tuh, maung kelas X-3.” “Emang dia yang punya sekolah, songong amat!” Audrey memukul pintu loker dengan tinjunya, membungkam mulut kerumunan yang dipenuhi rasa ingin tau. “Berisik, lo pada! Emang ini tontonan! Sini gue tonjok lo semua biar jadi bahan tontonan!” bentaknya yang tanpa ragu berjalan cepat mendekati kerumunan dengan tinju di udara. Gerakan ganasnya langsung membuat beberapa orang pergi melanjutkan langkah pulang dan tak mau ikut campur dengan maung. Matt memanfaatkan situasi, langsung menutupi kepala Nova dengan blazer sekolah miliknya dan menggendong cowok itu ke UKS. Theo menatap Audrey lalu menarik senyum miring. “Interesting baby girl.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD