Kumpul-Kumpul 2.0

1255 Words
Berhubung hanya lima pelajaran yang diujikan, di hari rabu tanggal tiga Maret, ujian telah selesai dan siswa diliburkan dari kegiatan belajar di hari kamis dan jumat. Namun, mereka tetap hadir di hari kamis untuk kegiatan klub karier yang hanya berlangsung dari pagi sampai jam sepuluh. Pengumuman soal hasil ujian dan siswa yang menyontek akan dikabarkan di tanggal delapan. Sampai saat itu, murid meraki antusias sekaligus was-was dalam menanti laporan nilai mereka dipajang di mading Aula sekolah. “Kita jalan dulu, yuk!” kata Lana pada Matt, Rudy, Sabina, Theo dan Mae yang berjalan di sekitarnya sebelum mereka mencapai gerbang masuk. “Boleh, tuh. Gue chat Cecil sama Nova, ya, biar makin rame,” kata Matt merogoh Iphonenya dari saku celana. “Maaf, gue gak ikut. Mesti bebenah di rumah,” kata Sabina yang hendak mempercepat jalan, tapi Theo langsung merangkulnya. “Kenapa, lo gak ada duit? Bukannya Victor udah kasih gaji lo tadi pagi?” gumam Theo dengan mulut yang dekat dengan telinga cewek berkepang itu. Sabina mendorong wajahnya menjauh. “Itu duit buat kepentingan lain. Lo pikir kebutuhan gue cuma sekedar jajan di kantin doang?” Detergen di rumah abis, terus gue mesti beli pel baru. Gue juga pengen beli kasur busa buat Bapak biar gak tidur di tiker lagi. Terus .... “Buat apaan aja, sih? Emangnya lo ngontrak?” Sabina mendecak, melepas tangan cowok itu dari bahunya. “Iyaaa.” “Gue bayarin,” lanjut Theo. “Oke,” balas Sabina cepat. “Siapa bilang kalian boleh nongkrong?” Serentak Sabina, Theo dan yang lain menoleh ke belakang, mendapati Bu Rossie dengan kacamata hitam bermodel cat eyes. Mereka bungkam. Matt langsung mengirim chat pada Nova dan Cecil kalau rencana mereka batal. “Pulang dan istirahatlah. Kalian habis ujian harusnya bersantai di rumah, jangan abisin tenaga dan uang di luar.” Bu Rossie melirik Theo. “Theodore? Saya ada perlu sama kamu.” Theo mengerjap. “Sekarang, Bu?” “Cepat ikut saya.” Theo mengerjap lalu berkata, “Sorry, guys.” Saat masuk ke ruangan pribadi Bu Rossie yang ada di bangunan yang berseberangan dengan bangunan ruang kelas, Theo duduk di sofa kulit hitam klasik yang ada di sana, lalu melipat kaki. “Mom bilang kita jangan sampai ada interaksi di sekolah,” cibir cowok bertubuh besar itu. Bu Rossie—Ibu kandung Vernon—menyandarkan diri di meja marmer tempatnya bekerja sambil bersedekap. “Oh, tapi aku bersikap seperti layaknya kepala sekolah kepada muridnya.” Theo mengulas senyum. “Aku lebih senang kalau mereka tau kita Ibu-anak.” “Kamu bakal kerepotan. Belum lagi kalau informasinya bocor sampai ke luar sekolah, di dengar Victor lalu sampai di telinga Yordan.” Bu Rossie terlihat jengkel begitu menyebut nama mantan suaminya. “Dia bakal membawamu paksa dari sini kembali ke Spanyol.” “Yep, that old man b*st*rd.” “Jaga bahasamu di sini. Mom gak suka putra tampan ini bicara kasar apalagi pada perempuan. Don’t be like your dad.” “I won’t.” “Ngomong-ngomong soal perempuan, Mom liat kamu sama Sabina cukup dekat.” Theo refleks mendengus lucu begitu mengingat Sabina. “Ya. Dia menarik. Padahal semua siswi di sini, sampai kakak kelas, sangat tertarik padaku, bahkan terpana. But, dia enggak.” “Kamu seneng mempermainkan perempuan? This boy—“ “Aku hanya menikmati popularitasku, Mom. Aku bahkan tidak berbuat apa-apa untuk menarik perhatian. Caraku bernapas membuat mereka menahan napas,” balas Theo penuh percaya diri sambil bergaya. “Shut it. Ibu ingin kamu jauh dari dia.” Raut Theo langsung berubah datar. “Why?” Ibu kandungnya menghela napas panjang. “Ibu gak bisa bilang alasannya sekarang karena aku sendiri kurang yakin.” “Kalau gitu, aku gak bakal jauhin dia.” “Dia anak bermasalah, Vernon.” Terdengar ketegasan dari suara Bu Rossie. “Jauhi dia, anggap kalian tidak pernah saling kenal.” “Dia baik-baik saja di sekolah. Apa ini masalah dari luar sekolah?” Bu Rossie tidak menjawab, memperkuat dugaan Theo. “Mom benar-benar membuntuti murid di luar sekolah?” “Kan itu memang sudah diberitahu sejak awal.” ❤️❣️❣️❣️❣️❤️ Sabina sampai di kontrakan setelah membeli sekarung beras ukuran lima liter, beberapa sayuran dan lauk. Pintu rumah terlihat sedikit terbuka. Cewek berkepang itu masuk dengan waspada, mendapati Bapaknya yang berbaring di atas tikar menghadap dinding dengan kaki berbalut kain perban. “Bapak kenapa?” tanyanya yang langsung mengguncangkan badan pria paruh baya itu. Bapaknya terbangun. “Ooh, Bina ....” “Kaki Bapak kenapa?” “Tadi motornya jatoh, terus kakinya kegesek aspal, jadi ada yang terkelupas kulitnya.” Sabina meringis. “Udah diobatin?” “Udah, sama penumpang Bapak tadi.” Mata Bapaknya mengerling melihat karung beras dan sayuran yang keluar dari plastik yang Sabina sandarkan di tembok dekat kompor. “Kenapa beli berasnya banyak banget?” Ditanya begitu, Sabina menarik senyum. “Bina abis gajian, Pak.” “Dari Mang Yono?” “Bukan, Bina kerja di tempat lain juga.” Bapaknya memasang raut protes. “Kamu kan masih sekolah, kenapa maksain diri buat nyari duit?” “Terus Bina diem aja gitu ngeliat Bapak duduk di pangkalan gak ada penumpang? Bina bisa kok, Pak. Bina bisa kerja sekaligus sekolah.” “Gimana kalau pihak sekolah tau?” “Kerjaan Bina yang baru gak ada yang tau, Kok. Orang yang memperkerjakan Bina juga setuju buat rahasiain dari pihak sekolah,” kata Bina dengan suara tenang. “Jangan paksain badan kamu. Kalau sakit, keluar aja dari sana.” Sabina mengangguk. Gue lebih pengen keluar dari kerjaan tukang pukul dari pada tukang masak di apartemen Theo. Nanti, gue coba omongin sama Mang Yono. Selesai memasak dan membereskan rumah, tak terasa hari sudah petang. Sabina ke kamarnya, membuka tas dan mengeluarkan paper bag berukuran sedang yang dia lipat. “Ini buat kamu.” Tadi pagi, Victor memberikan paper bag itu ke Sabina sebelum dia dan Theo berangkat. Sabina mengintip isinya. Matanya membelalak, lalu mengoper tas itu ke Theo. “Kak, aku gak bisa nerima itu,” lontarnya resah. “Kenapa? Ini bukan hadiah. Ini aku berikan karena aku ingin komunikasi kita bisa lebih lancar. Kalau ada Handphone, aku bisa mengirim pesan kalau ingin menu sarapannya diubah. Kamu juga bisa kasih tau aku kalau ada bahan makanan yang abis di kulkas tanpa perlu aku cek setiap hari,” tutur Victor yang berpenampilan formal seperti biasa. Sabina paham. “Tapi, aku bisa kok belinya pake gaji yang kakak kasih.” “Bukannya kamu nerima kerjaan ini karena kamu butuh banyak uang? Aku gak tau untuk apa, tapi jujur aja, gaji segitu gak cukup buat kebutuhan kamu sekolah, di rumah sama nabung buat beli Hape.” Theo menyodorkan kembali paper bag itu ke Sabina. “Ambil aja. Biar kita bisa chatting tiap malem.” Cewek itu menatap galak ke Theo selagi menerima tas itu. “Terima kasih banyak, Kak Victor,” gumamnya. “Kartu memori, kartu sim sama paket internetnya sudah aku pasang. Kalau jaringannya lelet, laporkan lagi ke aku biar aku ganti.” Sabina mengeluarkan Hape itu dari kotaknya, menyalakannya. Matanya berbinar menatap betapa bagus benda di genggamannya itu. Maklum, baru pertama kali dia bisa memiliki Handphone. “Bentar, ini makenya gimana dah ...,” gumamnya bingung. “Binaaaa!” Sabina panik, nyaris membiarkan benda besi pipih itu jatuh ke lantai. Akhirnya dia menaruh kembali benda itu bersama kotaknya ke dalam tas, lalu bangkit dan keluar dari kontrakan. “Et, Dudung. s****n, bikin kaget aja lo,” umpat Sabina.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD