Hari senin tanggal satu Maret, anak SMA Meraki menggelar ujian. Sesuai kesepakatan yang sudah didengar jauh-jauh hari, salah satu anak kelas sepuluh yang mendapat nilai tertinggi akan mendapat kupon makan gratis North Cafe selama sebulan.
Untuk kelas sebelas yang paling berprestasi nantinya akan mendapat kupon kebebasan memilih klub karier—karena diangkatan ini masih banyak yang ‘tersesat’ dalam memilih kariernya dan ingin pindah, tapi terhalang karena peraturan sekolah yang tidak memperbolehkan berpindah klub di kelas sebelas.
Untuk kelas dua belas, Bu Rossie menawarkan paket karier. Salah seorang anak kelas dua belas yang berhasil mencetak nilai tinggi di ujian tengah semester ini akan dibelikan peralatan yang mendukung kariernya—misalkan, jika dia ingin menjadi desainer baju, pihak sekolah akan membelikan berbagai bahan kain, buku referensi desain baju yang diminati, peralatan jahit, dan lain sebagainya.
Audrey pernah bertanya ke wali kelasnya, “Bu, kenapa Bu Rossie kasih hadiah? Padahal kan ini cuma ulangan tengah semester.”
Pertanyaan ini juga pernah ditanyakan di angkatan sebelumnya, jadi Miss Luna langsung melontarkan jawaban yang dijawab Bu Rossie.
“Katanya, ‘saya kebanyakan uang dan bingung ngabisinnya gimana',” tutur Miss Luna yang kemudian menggeleng pelan. “Gitu katanya.”
Lana mendecak saat mendengar jawaban itu dari Cecil saat belajar bersama di kantin empat hari lalu. “Boleh gak, sih, gue bercita-cita jadi Bu Rossie aja?”
“Gue juga pengen, tapi gue gak tau kerjaan Bu Rossie apaan sampe duitnya kebanyakan gitu,” balas Cecil.
Ujian dimulai jam setengah delapan, kelas masing-masing dan tidak diawasi oleh guru. Ya, tidak diawasi oleh guru. Kenapa?
Bu Rossie sebelumnya pernah memberi peringatan saat upacara penerimaan murid baru. “Saya benci anak yang menyontek. Di sekolah ini mereka diberi hukuman setimpal, yaitu dikeluarkan. Saya gak merasa itu hukuman yang berlebihan, karena saya merasa siswa yang menyontek ini tidak bisa membalas kebaikan saya. Saya menyewa guru yang berkualitas, memberikan makanan berkualitas, tak dipungut biaya pula, lalu memberikan sarana prasarana terbaik dan saya tidak menagih biaya jika ada kerusakan. Bahkan biaya masuk dan bulanan sekolah ini tergolong murah. Lalu, kenapa dia tidak belajar sebaik mungkin untuk membalas kebaikan saya ini?”
Walaupun begitu, ruang kelas telah dipasang kamera pengawas. Satu di atas meja yang mengarah ke lembar jawaban, satu lagi di depan masing-masing lorong antar meja untuk memantau jika ada yang menyelipkan contekan di dalam kaos kaki.
Maka dari itu, sejak jadwal ujian terdengar, murid Meraki benar-benar belajar—karena sebagian besar lebih takut pada hukumannya dari pada menginginkan hadiahnya.
Murid-murid juga diberitahu untuk meninggalkan tas mereka di rak yang disiapkan di luar kelas. Soal ujian akan ditampilkan di layar proyektor di depan kelas, jawabannya di tulis di kertas daur ulang.
Mata pelajaran yang diuji hari ini adalah Geologi dan Histori. Dua pelajaran yang paling susah Lana ingat. Gadis itu menelan ludah saat Pak Jun memberinya kertas daur ulang.
Pak Jun menepuk pundak muridnya yang berkeringat dingin itu. “Fighting.”
“Fighting!” balas Lana dengan logat korea sambil mengayunkan gepalan tangan di udara.
Selesai membagikan lembar jawaban, Pak Jun kembali ke depan, mulai menunjukkan lembar soal di layar proyektor yang dikontrol dari meja guru. “Sudah siap semua?”
“Sudah, Paaak!”
“Waktunya lima puluh menit, oke. Silakan dimulai.”
Sepuluh pertanyaan isian muncul. Murid berkedip heran. “Langsung isian, Pak?” lontar Kinan.
“Aaah, iya. Maaf, Bapak lupa kasih tau kalau gak ada soal pilihan ganda,” kata Pak Jun yang meringis kesal pada diri sendiri.
“Isian semua, Pak? Berapa soal?” kata Lana yang juga syok.
“Isian biasa lima belas, pertanyaan Essay-nya lima.”
Lana merotasikan mata ke atas, tubuhnya bersandar lemah di bangku. Mae melotot. “Na? Lana? Lana lo gak pingsan, kan?” seru cewek bersurai sepundak itu sambil menggoncangkan badan temannya.
“Paaak, Kinan nge-blank, Pak,” kata Nova yang menoleh ke siswa di belakangnya.
“Waaah, ini namanya k*******n, Miss,” protes Matt di kelas X-C.
Cecil mencibir, “Kekeradan apaan. Makanya jangan nge-chat cewek bae.”
Matt menoleh ke cewek itu dengan mata melotot. “Dari mana lo tau? Lo indihome ya?”
“ASEM!”
“Gak ada protes. Kalau kalian benar-benar belajar, mau itu pilihan ganda atau soal essay, jawabannya tetap sama,” balas Miss Luna.
“Yap, beda bentuk bukan perihal, yang penting inget jawabannya,” kata Theo yang sedang menulis jawaban.
Setelah lima puluh menit berlalu, murid Meraki istirahat. Cecil dan Lana duduk berbarengan, saling memangku dagu dengan cara berbeda. Mereka menghela napas panjang.
“Abis ini Histori, ceunah. Bayangin aja soalnya mesti nuntut kita sedetail apa nantinya ...,” gumam Lana.
“Dari pada Histori, gue lebih risau sama Matematik nanti,” lontar Cecil.
Mata Lana melotot pada cewek modis di sampingnya. “Jugetta (mati gue) ....”
Mae meminum s**u pisang yang diberikan oleh pihak kantin khusus ketika hari ujian. “Na, lo gak makan?” tanyanya sambil menyantap onigiri.
“Gue rasa gue bakal b**o kalau makan.”
“Tapi lo bakal kelaperan loh pas ujian.”
Lana berdiri dengan lemas. “Gue mau s**u pisangnya aja lah.”
Rudi yang baru keluar dari antrian makanan menjumpai Lana. Dia menepuk pundak cewek itu. “Gimana tadi?”
“Yaaa, gitu. Ada yang inget, ada yang gak gue inget ....”
Rudy mendekat, matanya berkilat, lalu dia berbisik, “tenang aja, gue bakal amanin itu kupon buat lo.”
Lana membelalak semangat. “Beneran—“
“Tapi, peringkat lo mesti naik. Paling enggak masuk pertengahan.”
“Itu sama aja kaya lo nyuruh gue jadi peringkat satu,” protes Lana yang jengkel dan menjauhi Rudy.
Ujian kedua di mulai. Bu Rossie dan wali kelas memantau dari ruang rapat. “Sejauh ini belum terlihat siswa yang menyontek,” kata Miss Luna.
“Kelas sebelas dan dua belas juga tak ada yang mencurigakan. Mereka pasti belajar dari murid yang sudah dikeluarkan tahun lalu,” timpal Mr. Vann, wali kelas XII-b.
“Tahun kemarin berapa siswa yang dikeluarkan, bu?” tanya Pak Jun ke guru lain.
“Tiga. Dua dari kelas dua belas dan satu orang dari kelas sepuluh. Namun, enggak kayak beberapa tahun lalu, mereka mulai memaklumi peraturan sekolah kita. Dulu pernah ada yang menuntut Bu Rossie gara-gara anaknya di keluarin,” kata Bu Akiko, wali kelas XI-c.
Pak Jun—selaku guru yang baru mengajar di Meraki tahun ini—membelalak. “Terus gimana, tuh?”
“Tuntutannya di cabut pas saya bilang alasan pengeluaran anaknya dari sekolah juga karena dia jadi pengguna n*****a,” timpal Bu Rossie.
Mr. Taro yang melipat tangan sambil bersedekap membalas, “padahal n*****a itu lingkaran setan tanpa akhir. Dasar anak-anak.”
Bu Rossie mengetuk jari di meja. “Salah satu pasti bakal gatel buat nyontek. Jangan lengah sampai hari terakhir,” tegasnya.
“Menurut Ibu sendiri, siapa yang kira-kira bakal rangking satu di angkatan kelas sepuluh?” tanya Pak Jun.
“Entahlah. Kalau dilihat dari nilai ijazah dan hasil tes masuk mereka kemarin ... siswa bernama Rudy dan Theo yang paling unggul, sementara siswinya bernama Sabina sama Audrey.”
Miss Luna setuju. “Theo walaupun kepribadiannya agak serampangan, tapi dia memang cepat menangkap materi.”
Bu Rossie mendengus tawa. “Serampangan? Di mata saya dia terlihat seperti murid populer biasa.”
“Dia itu calon-calon CEO b*st*rd selanjutnya, Miss Rossie,” balas Miss Luna dengan mata malas.
Bu Akiko—selaku penikmat cerita berbau CEO—mendelik pada cctv kelas sepuluh, mencari siswa yang dimaksud. “Jadi penasaran sama anaknya.”
“Bagaimana kalau yang dapat nilai sempurna bukan cuma satu orang, bu?” lontar Mr. Taro.
Bu Rossie mengulum senyum lebar. “Saya ada rencana soal itu dan seru sekali kalau benar-benar terjadi.”