Victor datang ke apartemen tepat sebelum Sabina dan Theo memulai sarapan mereka. Laki-laki itu hari ini berpenampilan agak berbeda.
Rambutnya tumben gak di pomade, batin Sabina.
“Lo keliatan kacau,” ujar Theo yang sudah memakai seragam, tengah menusuk potongan tamagoyaki di piring dan menyantapnya.
Victor mendelik menatap menu sarapan ala jepang di meja makan. Ada onigiri, kaarage, tomat ceri dan sayur bayam sebagai ganti sup miso.
“Ada perayaan apa?” tanya Victor, merebut garpu milik adiknya dan menusuk onigiri. “Tumben sekali banyak makanan pagi ini.”
“Ini semua Sabina yang bikin. Cool, right? Dia juga bisa bikin pasta katanya,” tutur Theo yang ikut memakan nasi gulung rumput laut berisi sayuran itu.
Victor memberi tatapan menyelidik ke Sabina, membuat cewek itu makan dengan was-was. “Kamu ada rasa sama adik saya?”
Baik Theo dan Sabina tersedak.
“Apaan, sih, lo! Bullsh*t, banget! Ini tuh budaya orang Indonesia. Mereka mau ngebantu tetangganya yang kesusahan,” kata Theo.
Sabina meneguk air, bukan tetangga padahal.
“Jangan lupa bayar dia, ya,” sambung Theo.
“Kata siapa aku bakal bayar dia?” ucapan itu berhasil membuat kaarage yang hendak disantap Theo jatuh kembali ke piring.
Theo mendecak. “Kalo gitu kasih gue kartu yang ada duitnya, biar gue yang gaji Sabina,” tekannya.
Victor menusuk lagi nasi gulung rumput laut dan memakannya sambil berdiri. “Sebenernya aku nggak pulang ke rumah semalam—“
“Ga peduli gue,” sela adiknya.
Kakaknya memberi tatapan sinis. “Jadi aku gak makan dari semalam. Aku dateng ke sini karena dia bilang ada keperluan penting, tapi ternyata bohong, ya. Kalau kamu mau bikinin sarapan buatku, aku bakal gaji kamu dengan layak. How ‘bout that?”
“Sa-saya gak tau kakak biasanya sarapan apa—“
“Apa aja yang penting kamu yang masak, bukan anak ini.” Dia menunjuk Theo yang mengejeknya dengan mengikuti caranya bicara. “Dan juga, jam setengah enam aku udah berangkat kerja, jadi sebelum itu kamu udah masak. Kamu sanggup?”
Sabina melirik Theo. “Lo lagi nabung juga, kan? Anggap aja lagi nyari duit tambahan,” sambung cowok itu yang sudah menghabiskan porsinya.
Iya, sih, ekonomi gue lagi kepepet banget, tapi gak tau kenapa gue takut banget sama abangnya. Dari cara dia ngeliat gue aja, gue ngerasa dia tau semua rahasia gue.
Sabina mengangkat kepalanya, melirik Victor sekali lagi. “Err, boleh saya tau gajinya berapa?”
“Kamu mau berapa, dua juta?” Mata Sabina melotot.
“Tiga juta?” Sabina langsung berdiri.
“Empat juta—“
“Du-dua juta aja, Kak! Dua juta aja!” potong Sabina dengan tangan saling bertaut di depan dengan tertib. Bisa dicurigain gue kalau dapet duit banyak-banyak, yang ada mereka bakal nyari masalah ke abangnya Victor!
“Okeh. Kalau begitu—“ Victor mengambil dua potong nasi gulung lagi. “Aku bakal isi kulkasnya biar besok kamu bisa bikin banyak makanan. Besok, saya pengen roti.”
Sabina mengangguk mantap, kemudian mengeling. “Roti ... apa?”
“Terserah kamu mau di apain tapi aku harap bisa dimakan dan enak. Yaudah kalo gitu, aku berangkat, udah telat semenit, nih.”
Victor pergi dengan terburu-buru. Theo memberi senyum lebar seraya tepuk tangan nyaring. “Congrats, lo jadi koki pagi kita sekarang. Eh, keknya gue yang mesti di kasih selamat, soalnya mulai sekarang gue gak bakal dateng sekolah dengan perut kosong lagi.”
Theo mengulurkan tangan, mencubit batang hidung Sabina yang masih belum mencerna situasi. “Apaan, sih!” bentak cewek itu.
“Berhubung dia bawa mobil gue, ayo kita berangkat pake motor.”
❤️❣️❣️❣️❣️❤️
Cecil turun dari mobilnya. Dia berjalan masuk ke taman depan SMA Meraki sambil melompat-lompat kecil. Mathan dan Nova yang baru saja melewati gerbang melihat Cecil dari belakang.
“Kenapa seneng banget dia keliatannya?” tanya Matt.
“Tau, tuh. Dapet gebetan, kali,” timpal Nova tak peduli.
Matt pun mendekati cewek itu di area loker. “Heh, kenapa lo girang banget pagi-pagi?”
“Mau tau? Mau tau, ya? Iiiii, kasih taau gak yaaaa!”
Matt menyipitkan mata. “k*****t, gue jadi iseng lo seneng begini. Kaya bakal ada bencana dateng.”
Cecil mendengus sombong. “Gue punya tas sekolah dari Typhon!”
Matt membelalak. “Typhon?! Lah, setau gue dia gak ngeluarin tas sekolah, tapi tas cewek buat hang out.”
“b**o, Papa gue mesen khusus, lah, berkat ketambengan gue. Hihihi! Akhirnya, akhirnya! Udah gue duga kalau dia yang rancang, tas sekolah gue pasti bakal bagus!”
Nova menutup lokernya, pergi lebih dulu. “Giliran soal beginian aja, lo berdua akrab banget,” ejeknya sambil melintas.
Cecilia memicingkan mata. “Gue cekek lo!”
Nova langsung mengibrit. Matt memukul pundak teman se SMP nya itu. “b**o! Nanti dia pingsan gimana!”
“Iyaaa, iyaa! Iih, sakit tau. Gue, kan, cuma bercanda,” rajuknya. “Kapan sih dia sembuh? Emang dia gak ke sekuter-sekuter itu?”
Matt meringis jengkel. “Psikiater! Udah, kok. Tapi, pasti ada hal yang masih ngehalangin dia buat sembuh.”
Mendapati nada khawatir dari cowok di depannya, dia mendadak ikut merasakan yang sama. Nova juga pernah nangis ketakutan saat berhadapan dengannya di SMP dulu, mengingatnya saja dia jadi tidak tega. Namun, sedetik kemudian, dia menggubrisnya. “Ah, bodo, ah. Tas Typhoon! Mama akan menjemputmu besok, sayaaang!”
Baru hendak pergi, dia mendapati Theo dan Sabina yang lokernya cukup berjauhan darinya. Mereka terlihat akrab. Cecil mengerut dahi. “Siaaapa tuh cewek?”
Matthan menoleh sejenak, lalu memasukkan buku catatannya ke tas. “Aah, dia ... Sabina. Seinget gue dia pernah duduk di samping Nova pas tes masuk.”
“Kok lo sampe inget begitu? Lo ngincer dia, ya?”
Cowok dengan lesung pipit itu menarik napas. “Lo pikir gue apaan?”
“Cekiber.”
Matt merangkul Cecil. “Ya udah, iya. Gue cekiber. Dah, ah, ke kelas.”
“Mentang-mentang tinggi, jangan neken-neken kepala gue! Leher jenjang gue jadi pendek ntar gimana?” bentak Cecil.
“Punya leher jangan panjang-panjang, ntar nyangkut di pohoon.”
“ASEM!”
Lana dan Rudy yang baru saja sampai langsung bergabung dengan Theo dan Sabina. “Ehe, pagi-pagi udah nempel aja lo berdua,” cibir Lana yang berdiri di antara si cewek berkepang dan cowok Spain.
“Kita ngomongin materi. Dia ngajakin kita belajar bareng. Mau ikutan?” lontar Sabina.
Theo mendelik. “Wait, gue cuma ngajakin, lo—“
“Booleh! Di apartemen Theo, kan? Asik!!” sela Lana ber-yes ria.
“Gue juga ikut,” kata Rudy. “Gue sama Sabina jago di pelajaran yang beda. Lumayan, kan? Bisa ngapalin dua materi dalam sehari.”
Wajah senang Lana sontak luntur. “EENGGGAAAAK! GAK MAU! SATU MATERI AJA GUE ENGAP! GIMANA KALAU DUA MATERI BERBEDA? NAAAAJIS!”
Sabina membekap mulut berisik cewek bar-bar itu. “b**o! Nanti kalau ada guru denger gimana?”
“Ruuud, gue cuma mau numpang makan mewah doang kok di sana, jadi jangan paksa gue belajar, oke?” bujuk Lana dengan memeluk lengan cowok itu.
Rudy berdeham, ini cewek ngapa demen banget nguji iman gue?
Lana memasang wajah melas. “Yaaa?”
“Enak aja lo dateng numpang makan doang, belajar!” bentak Sabina.
“Kalo lo mau belajar, lo boleh makan mewah di apartemen gue,” timpal Theo.
Lana cemberut. “Kenapa syaratnya mesti belajar, sih?” rajuknya.