Keesokan harinya, murid kelas sepuluh memulai strategi mereka tuk meraih kupon makan gratis selama sebulan di North Cafe dengan menghafal materi pelajaran. Lana yang menunggu Rudy keluar dari kamarnya memasang wajah gusar saat cowok berkantung mata hitam itu sedang menghafal materi Biologi.
“Bisa, gak, sih, gue gak ngeliat lo belajar selama kita jalan ke sekolah?” protes Lana yang menunggu Rudy memakai sepatu.
“Kaya lo gak pernah ngeliat gue belajar aja.”
“Yaaaaa, tapi gak gini juga, dude. Seniat itukah lo buat dapetin kupon makan gratis?”
‘Gak. Gue lakuin ini buat lo, Na’, gak mungkin kan gue se frontal itu ke dia? Batin Rudy.
Cowok itu meraih buku catatan Biologinya sambil bangkit berdiri. “Yuk.”
Baru mereka berdua sampai area sekitar gerbang, Lana mendapati anak kelas sepuluh lain yang juga berjalan masuk ke sekolah sambil menghafal materi di buku catatan masing-masing.
“Buset, dah, terniat banget emang,” gumam Lana.
Lana melihat punggung Theo dari jauh. Dia pun berlari mendekati cowok spanyol itu. “Joeun achiim (Pagi), Enoon!”
Theo menoleh, “Mornin’.” Asik, ada temen males, batin Lana yang mendapati cowok itu tak memegang buku.
“Kayaknya semua semangat buat ngincer kuponnya, ya.”
Lana mengangguk. “Orang mah biasa aja kali. Kaya Enon, gak usah ribet belajar sambil jalan.”
Rudy yang menoleh ke samping bingung mendapati sisi itu kosong. Rautnya menjadi kusut begitu melihat Lana dan Theo bersebelahan di depan.
“Oh, gue udah ngapalin sambil sarapan tadi,” balas Theo.
Cewek bersurai lurus itu mengerucutkan bibir. Yaelaaah, ternyata.
“Pagi, Yorobuuun!” seru Lana di ambang pintu. Namun, tak ada yang menjawab salam cerianya.
“Francis Bacon ialah filosof yang berasal dari Inggris ....” Mae di tempat duduknya sedang mengulang materi Histori.
“Frekuensi relatif adalah perbandingan dari banyak percobaan yang dilakukan dengan banyaknya kejadian yang diamati,” gumam Jun yang mengulang materi peluang di pelajaran Matematika.
“Faktor yang mempengaruhi persebaran flora dan fauna di dunia ada empat. Yang pertama iklim, vegetasi, interaksi ... terus carrier,” ucap teman yang duduk di belakang Nova yang tengah menghafal materi biologi.
Nova yang membantu temannya itu mendecak. “Barrier! Carrier tuh alat pengangkut!”
“Dih, masa?”
“Baca, nih!”
Lana bersungut-sungut melangkah dengan cepat ke bangku Mae dan memukul meja cewek bersurai pendek itu. “AYAM!” latah Mae.
“Lo temen gue bukan?” tanya Lana sambil melotot.
“I-i-iyalah, Na.”
“Kalau gitu gausah belajar!”
“Deh, sebentar lagi ujian tau, aku harus belajar, lah.”
Lana masih berdiri di seberang meja Mae, dia meringis kesal. “Segitu kere-nya kah lo sampe butuh kupon gratis?”
“Gak, aku gak ngincer rangking satu. Cuma, kalau namaku masuk rangking bawah kan malu-maluin ....”
“Ah eeelah, pengkhianat lo semua!” seru Lana.
“Kalo semisal gue dapet kuponnya, bakal gue ajak lo, Na,” timpal Kinan.
“Kinan, neol saranghae!” katanya sambil menyanyi sebait lirik dan menari lagu dari K-pop idol, Treasure.
❤️❣️❣️❣️❣️❤️
Rudy membawa buku catatan sejarah saat dia menyantap ramen di kantin. “Na, ayo belajar.”
Lana melepas sendok ke piring berisi nasi goreng dengan wajah datar yang dipaksakan. “Gue tau lo gak suka, tapi setidaknya hapalin aja beberapa,” lanjut Rudy.
“Gue bakal hapalin, kok, tapi gak sekarang. Gue lagi makan siang, cuy. Kalo gue belajar sekarang namanya gak menghargai makanan.”
“Alah, sok bijak.”
Lana mengedarkan mata ke sekitar, ada banyak murid yang juga menghafal materi di kantin. Dosa lo semua sama makanan! Gue sumpahin lo semua nanti malem mimpi digulung-gulung kaya gimbap.
“Kok belakangan ini gue jarang, ya, liat Theo di kantin?”
Rudy menyeruput kuah ramen lalu menjawab. “Ada dia di kelas gue. Lagi ngebahas materi sama Bina.”
Lana mendecak. “Jangan-jangan f*ck boy elite itu pinter?”
“Permisi, cantik ....” Mathan tiba-tiba menaruh nampannya di depan nampan Lana, lalu berdiri dengan wajah berjarak napas di hadapan cewek itu.
Lana membeku ditempat. Rudy tersedak telur telur rebus yang meluncur ke tenggorokannya. “Boleh gue duduk di sebelah lo?”
“Bo-boleh! Boleh, dong! Duduk aja ....”
Mathan menarik senyum yang biasa digunakan ketika sedang merayu mangsa. “Makasih.”
Mata cewek itu terpaku pada Mathan sampai cowok itu duduk di sebelahnya. “Kita belum kenalan, ya? Gue Mathan, dari kelas X-3.”
Tangan cowok itu terulur, Lana perlahan mengangkat tangannya, lalu langsung diraih oleh Mathan dan mereka bertaut dengan erat. “Nama lo?”
Rudy melotot ke arah tangan mereka seraya meneguk air di gelas sampai habis. Gausah lama-lama, ya, pegangannya!
“L-lana, Choi Lana.”
Lo ngapain segala ngasih tau nama panjang, b**o! Rudy memukul meja, membuat Lana langsung sadar dan menarik tangannya karena kaget.
Sementara itu, Mathan yang baru mengetahui keberadaan Rudy mengerjap. “O-oh, lo lagi sama cowok lo ....”
“Bukan!” seru Lana, setengah tersipu, setengah jengkel.
Sementara itu, dikelas X-1, bukannya berdiskusi materi, Theo malah mengganggu gadis itu menghafal.
“Besok dateng ke rumah gue pagi-pagi.”
Sabina dengan mata masih menatap buku catatan membalas. “Ogah.”
“Bikinin sarapan buat gue.”
Cewek berkepang itu menorehkan stabilo. “Gak.”
“Kakak gue bakal gaji lo, sweety. Gue tau lo ogah masak kalau gak ada duitnya,” timpal Theo masih bersikeras.
“G.”
Theo melipat tangan di meja dan merebahkan kepalanya di atasnya. “Nasi goreng yang kemaren lo bikin, rasanya bikin gue inget sama Mom,” tuturnya dengan suara sendu.
Bina pura-pura tidak mendengar. “Gue masih inget, terakhir kali dia bikin nasi goreng buat gue, delapan tahun lalu. Gue gak berfirasat apapun tuh pagi itu. Gak sadar kalau itu jadi sarapan terakhir dari Mom.”
Sabina merapatkan mata seraya meringis kesal dalam hati. “Hebat banget dramanya.”
“By the way, itu kisah nyata.” Theo kembali duduk tegak dengan senyum tipis. “Kay, gue gak bisa maksa kalo lo gak mau.”
Cowok spanyol itu melangkah pergi keluar kelas, dia merogoh Hapenya. Mom, makan bareng yuk nanti sore, chat Theo ke ibu kandungnya.
Sabina menatap punggung Theo dari jejeran jendela kelas sampai lenyap. Dia menghela napas panjang, merebahkan punggung ke kursi kayu.
“s****n, bikin orang kepikiran aja.”
❤️❣️❣️❣️❣️❤️
Jam masih menunjukkan pukul setengah enam, tapi suara bel dari pintu apartemen Theo sudah berdendang nyaring.
“Sh*t, kenapa itu orang mesti dateng pagi-pagi banget?” ucapnya sambil mengumpat nama Kakaknya.
Dengan t*******g d**a dan celana training abu-abu, dia bangkit dari kasur, berjalan terhuyung-huyung ke pintu.
“What the f*ck, Victor—“
Bukan laki-laki bersetelan jas dengan rambut yang disisir kebelakang yang ada di balik pintu. Melainkan seorang siswi dengan rambut dikepang.
“Sabina?” panggilnya dengan logat spanyol yang kental. Dia mengusap mata, meyakinkan diri.
“Lo gak pake baju kalau tidur?” protes cewek itu dengan telapak tangan kanan yang menutupi mata.
Theo menguap, menarik sisi celananya. “Ini termasuk baju, right? Kenapa lo jemput gue pagi-pagi banget?” tanyanya.
“Sarapan.”
Cowok dengan tubuh yang raksasa—jika dibandingkan dengan Sabina—itu menarik senyum, memiringkan badan mempersilakan cewek itu masuk ke apartemennya.
“Gue boleh minta bayaran berapapun, kan?”
“Tolong palak Kakak gue dengan manusiawi, Manis. Lo gak siap buat ngeliat dia marah, kan?”
Sabina terdiam. Iya, pas lagi diem aja kakaknya serem gitu. Gimana kalau lagi marah?