Pagi di hari selasa masih berlangsung, burung pipit kesayangan Bu Rossie berkicau bebas di taman sekolah. Namun, ada yang berkicau juga selain si pipit.
Cecilia yang baru melewati ruang kelas X-1 saja kaget dengan keributan yang datang dari ruang kelas di sebelahnya. Cewek modis itu mengintip dari ambang pintu kelas Seniman.
“YAAAAAAAAAAAAAHH!” teriak seisi kelas.
Cecilia yang tersentak mengumpat pelan. “Ada apaan, sih?”
Seorang siswa yang duduk di belakang Nova membawa botol air mineral di genggaman, berjalan penuh percaya diri bakal sukses dalam adu flip the bottle kali ini. Siswa kelas seniman menjulukinya ‘Minho Cianjur’.
“Hal su isseo (lo bisa), Minho ya!!” seru Lana yang mengayunkan kepalan tangan di udara.
Si Minho mengambil ancang-ancang dengan serius. Tangannya mulai mengayunkan botol di tangan seraya fokus menatap meja guru.
“Ayo, Kinan!” seru salah seorang siswi bernama Tya yang ikut terbawa antusias.
Keramaian menjadi hening begitu Kinan melempar botol airnya. Sayang, botol itu tidak berdiri di meja, melainkan menggelinding dan jatuh. Kinan menjerit frustrasi.
“Yaaah, payah nih! Masa gak ada yang bisa ngalahin Mae sih!” seru Lana memanas-manasi.
“Kok kamu yang nge-gas, sih?” kata Mae yang gemas dengan temannya.
Kinan menunjuk ke Nova. “Nov, balaskan dendam gue,” ucapnya dengan dramatis.
Nova tersenyum tipis. “Gak.”
“Aaaarrg! Serius, nih? Semua cowok di kelas kita gak ada yang berhasil?” katanya.
Lana merangkul Mae. “Yaaelah, ngaku cowok tapi flip the bottle gal bisa,” ujarnya dengan sombong.
Cecilia yang masih mengamati mendumal. “Dasar, gue kira ada cogan baru makanya pada ribut.”
“Emangnya ada apaan di sana?”
“Pada main flip the bottle mereka.” Cecil mendelik, lalu membalik badannya, mendapati Theo di sana.
Rahang Cecil jatuh, tapi dia langsung mengendalikan rasa kagetnya. “E-eh, Vernon.”
“Pagi,” ujar cowok spanyol itu tak lupa bersamaan dengan senyum.
Cecil menahan senyumnya. “Pagi juga.”
Theo melirik ke dalam. “Kayaknya seru.”
Mata cewek bersurai gelombang itu membulat, mengikuti langkah Theo yang masuk ke dalam kelas X-2. “Gue boleh nyoba itu?”
Seisi kelas senyap. Mae langsung menyembunyikan diri dibalik punggung Lana.
“Ohoo? F*ck boy mau nyoba? Silakan,” tutur Lana, meraih botol minum miliknya yang masih penuh dan melemparnya ke Theo.
“Tapi kalau gak ada taruhannya gak seru, nih.”
“Woey, kita gak main taruhan di sini, okey? That’ illegal,” timpal Kinan yang merupakan ketua kelas.
“Bukan uang. Tenang aja, cuma hal kecil, kok. Kenapa? Lo takut gue menang?”
Kinan terpancing. “Oke. Apa taruhannya?”
“Deh, tadi lo bilang kagak ada taruhan,” cibir Lana yang melipat tangan.
“Gimana kalau yang kalah harus bilang ‘I Love You’ ke seseorang?”
Siswa dan siswi yang lain menanggapi saran itu dengan antusias.
“Lah, emang ada?”
“Baru sebulan kita sekolah.”
“Asik, lah, bisa jadi bahan gibahan nih!”
“Yuk lah!”
Kinan sependapat. “Oke. Siapa orangnya?”
Theo menyisir seluruh kelas, lalu matanya berhenti ke arah Lana. “Lo.”
Lana menunjuk dirinya. “Gue?”
“Bukan, yang di belakang lo.”
Lana melirik ke belakang. “Mae?”
Mae menegang. “A-aku?”
“Kalau gue menang cewek itu harus nembak cowok yang dia suka. Kalau gue kalah, gue bakal nembak seseorang sebagai gantinya.”
Suasana makin panas. Cecil menutup mulutnya tak percaya. Omaigad, gue bingung! Gue kasian liat dia kalah tapi gue pengen dia nembak guee!! Gyaaa!!
“Gue mulai, ya?” ujar Theo.
Eeee, tunggu, gue belom siap! Batin Cecil yang bergerak gelisah.
“Mae, emang ada orang yang lo suka di sini?” tanya Lana.
Mae mendelik ragu, entak kenapa matanya otomatis bergeser ke pintu. Masa aku bilang kalau cowok yang aku suka tuh sahabat Lana?
“Saaatuuu!”
“Duuuuaa!”
“Tiiiiga—“
“Selamat pagi, anak-anak!” seru Pak Juna yang sudah berdiri di ambang pintu tepat di belakang Cecil sejak hitungan pertama.
“Heh, ada Pak Juna! Ada Pak Juna!”
Seisi kelas langsung runyam, bergerak panik kembali ke posisi masing-masing dan duduk dengan tertib. Theo langsung mengundurkan diri setelah melempar botol ke meja paling depan di barisan ke tengah, diikuti Cecilia.
“Tolong, dong. Kalau masih pagi, kalian jangan ribut,” ujar Pak Juna dengan memelas.
Lana tertawa. “Kan bosen, Pak, gak ada kegiatan sebelum kelas mulai.”
“Heh, botolnya gimana?” tanya Kinan dari bangkunya.
Siswa yang duduk di meja paling depan barisan tengah menjawab. “Botolnya tiduran.”
Pak Juna menyalakan layar besar yang juga berfungsi sebagai papan tulis. “Tanggal 1 Maret kita Tes pertengahan semester. Tesnya bakal berfokus ke akademik dulu. Matematik, Biologi, Histori, Geologi, dan Inggris. Untuk ujian bahasa pilihan, nanti info jadwalnya menyusul. Olahraga juga sama.”
Lana merengek, memegang kepalanya. “Tinggal sebulan lagi! Aaaarg, gue benci banget sama ulangan!”
“Jangan gitu, dong, Na. Kamu pasti bisa,” kata Pak Jun sambil mengepalkan tangan di udara, memberi aura positif pada Lana.
Lana menangis aura itu dengan berkata. “Pak, bisa doang gak menjamin saya dapet nilai cukup.”
“Jangan pesimis dulu, lah, Na. Okey?” kata Mar disampingnya sambil ikut menyemangati.
“Intinya gini, gimana caranya seorang Lana yang alergi ngapalin materi buat ngisi jawaban soal?” lontar Kinan yang kemudian mendecak. “Sama kaya nyuruh ikan buat manjat pohon.”
Lana mendengarnya semakin putus asa. Namun, dia kemudian sadar. “Aah! Tenang, Pak! Saya punya Rudy, jadi selama dia ngasih contekan—eh, salah—ngajarin saya, saya bakal bisa.”
“Fightiiing,” seru beberapa anak di barisan belakang.
Di kelas X-1, Rudy bersin dengan kencang. Sabina yang duduk memunggunginya tersentak di tempat. “Lo sakit, Dy?”
Rudy mengusap hidungnya dengan lengan. “Kayaknya ada yang ngomongin gue.”
“Yah, saya gak bermaksud buat manas-manasin, tapi hasil tes ini bakal ada hadiahnya,” kata Pak Taro.
Seisi kelas X-1 mendelik. “Hadiah?” ucap salah satu dari mereka.
“Juara satu diantara seluruh siswa kelas sepuluh akan dapat kupon cafe sebulan,” tutur Bu Luna ke kelas X-3.
Cecil dan Mathan menganga. “Uwooooh! Apaan, tuh! Kok keren!” seru Matt.
“Kalian tau North cafe? Itu cafe punya Bu Rossie,” lanjut Bu Luna.
“Belom pernah ke sana. Lo pernah, Matt?”
“Baru denger. Gue bukan anak cafe sih, soalnya.”
“Jadi cafe itu punya Bu Rossie?” kata Theo.
“Vernon tau?” tanya Matt.
Vernon memiringkan badan besarnya agar bisa melihat Cecil dan Mathan. “Gue ke sana kemarin. Bagus, sih, tempatnya. Makanannya juga banyak.”
“Haah, ini perlombaan buat anak-anak norak,” kata Audrey yang melipat kaki dan tangan di tempat duduknya.
Cecil mencibir. “Bisa gak sih sehari aja gak ngerocos itu mulut.”
“Hadiah yang menarik, bukan? Lumayan juga buat sebulan,” kata Pak Jun.
Lana menatap wali kelasnya dengan berbinar-binar. “PAK! NAH, GITU DONG! KALAU ADA HADIAH, KAN, LANA JADI TERMOTIVASI!”
“Lana, kamu berisik, ih!” timpal Mae yang langsung membekap mulut temannya itu.
Nova di tempat duduknya menghela napas. “Kalau gue yang dapet, gak bakal gue pake juga,” gumamnya.
“Nov! Ambil rangking satu! Lo boleh kasih hadiahnya ke gue!” timpal Lana, membuat Nova keringat dingin.
“Yeee, gue aja dah yang ambil kuponnya,” timpal Kinan.
“Kami gak begitu minat sama hadiahnya, sih, Pak. Namun, kami tetap bakal isi dua puluh rangking teraratas,” ucap Sam sebagai ketua kelas X-1 disusul anggukan mantap seisi kelas kecuali Rudy dan Sabina.
Makan di cafe sebulan penuh gratis? Gila! Bisa hemat banyak uang dong! Batin Sabina.
Lana kemarin suka banget sama makanan di sana. Okelah, gue coba ambil rangking satu, pikir Rudy.