Nasi Goreng Seadanya

1133 Words
Sabina menaruh frying pan berisi nasi goreng di atas talenan di meja makan. Rudy, Lana dan Theo yang sudah duduk langsung menusukkan sendok, menyerbu nasi goreng. Cewek berkepang itu memukul meja. “Makan pelan-pelan ...,” geramnya dengan mata melotot. Lana tersedak. “Iya, Bun,” ujarnya. “Padahal gue berharap bisa makan yang beda gitu,” timpal Theo sambil memindahkan nasi goreng ke piringnya. “Makan apa? Semua ayam, ikan, daging udah lo jadiin bahan eksperimen. Yang ada di kulkas tinggal sayuran sama nasi kemaren doang. Lo kalo tinggal sendiri, setidaknya, belajar bikin nasi dong,” ceramah Sabina yang ikut memindahkan nasi ke piring. Theo tersenyum masam. “Nyesel gue, protes malah di ceramahin.” Sabina menarik senyum. “Makan yang banyak, yaaa,” ledeknya. “Tapi gue gak tau kalau kol sama wortel enak dijadiin campuran nasi goreng,” timpal Lana disela kunyahan. “Lebih enak lagi kalau ada telor, Na, tapi di kulkas udah abis kayaknya.” Lana melirik sinis ke Theo. “Lo kalo gak bisa masak gak usah maksain, Theo. Kasian tuh telor, lo pecahin tapi gak ada yang di makan.” “Yang numpang makan diem aja, Ya,” lontar Theo. Rudy mendengus. “Kok lo tawa?” bentak Lana menyikut Rudy. “Bisa diem gak?” geram Sabina, membuat ketiga temannya langsung kalem. Selepas makan, Theo langsung menyingkir dari meja makan. “Anjir, gue kebelet.” Mata Rudy melirik ke piring yang lain, dia juga ikut menyingkir. “Gue juga.” Lana sadar akan situasi, dia berdiri perlahan. “Aduuuh, gue mules kayaknya—“ “Duduk,” tekan Sabina. “Baik, Bunda,” gumam Lana ngeri, kembali duduk. “Cepet kumpulin piring kotornya, biar langsung kita cuci.” Lana merengek, menggoncang-goncangkan kaki. “Baru juga makan, Binaaa. Nanti aja, laaah.” “Sekarang.” Cewek tanpa poni itu mengerucutkan bibir, mulai menumpuk piring kotor di meja dan membawanya ke wastafel. Selepas mereka berdua membersihkan piring—plus dapur. Mereka menonton film, duduk berjejer di sofa lebar. “Film apa?” tanya Theo. “Sweet Home,” ujar Rudy. “Mr. Queen!” seru Lana. “Enaknya film Dokumenter soal Suku Maya. Gue lagi ngapalin materi buat isi tes bonus,” timpal Lana. Fu*k it. Theo memilih filmnya sendiri. Fabricated City. “Ini film laga korea.” Theo merebahkan diri dengan miring di sofa. “Oh iya, ngomong-ngomong soal Laga, tadi malem gue liat preman cewek keren banget di tikungan depan.” Sabina membulatkan mata, langsung tau kalau Theo sedang membicarakan dia. “Gak ada preman di sini tau,” ujar Lana yang memilih men-stalk IG idolanya dibanding nonton film Laga. “Yaaa, gue gak tau dia preman apa bukan. Intinya, tadi malem dia kaya berantem gitu sama cowok and dia menang.” Rudy mulai agak tertarik. “Lo liat pas mereka tonjok-tonjokkan?” “Et, diem-diem apah! Kagak kedengeran filmnya,” timpal Sabina. Stop ngomongin gue! Bentak hatinya. Suara tombol password terdengar, pintu apartemen Theo lalu terbuka dan Victor ada di baliknya. Dia bersetelan rapi, memasang wajah datar sambil membawa kantong kresek putih. Keempat remaja itu seketika mengalihkan wajah. Lana langsung duduk tegap, merasa posisi dia sebelumnya sangat senonoh sebagai tamu. Victor berjalan masuk tanpa berkata apa-apa. “Kalian sudah makan?” “Udah. Tadi kita makan nasi goreng,” timpal Theo setengah fokus ke film. “Pesan dari mana? Kamu tidak punya uang, kan.” “Pakai bahan di kulkas, lah.” Victor mengernyit mendapati dapur yang bersih. “Siapa yang masak?” Lengan panjang Theo merangkul Sabina yang duduk di sebelahnya. “This sweety.” Sabina langsung mendorong Theo. Matanya dan Victor bersitubruk sejenak sebelum akhirnya cewek itu memalingkan wajah, kembali menonton film. “Kamu gak kaya siswi SMA biasanya.” Cewek berkepang itu tertohok lagi. Apa maksudnya? Kenapa dia ngomong begitu? batinnya mengira-ngira dengan was-was. “Biasanya gak ada yang mau masakin orang yang baru dikenal.” Sabina menghembus napas lega. Oh, itu toh. “Sabina emang anaknya kerajinan, Bang,” timpal Lana dengan sok akrab. “Aku beli tiramisu. Kalau ada yang mau ambil aja di kantong plastik,” kata Victor yang beranjak ke kamar mandi. “MAKASIH, BAANG!” seru Lana yang tanpa malu langsung ngibrit menghampiri plastik di atas meja dapur. Rudy menggeplak dahi sendiri. “Urat malu lo ke manain sih, Na.” ❣️♥️♥️♥️♥️❣️ Audrey menarik napas dalam-dalam. Senyum memang masih terpasang di wajah, tapi batinnya terus menghujat dan memaki keberadaan Mathan yang berdiri di tak jauh darinya, sedang mengobrol dengan wanita yang terlihat lebih tua darinya. Saat ini, tepat di malam tanggal dua puluh tiga Januari, Papinya berulang tahun. Setelah merayakannya dengan private pagi tadi di rumah, Papinya ingin merayakan hari itu dengan karyawan-karyawannya dengan menyewa sebuah Aula di Hotel. Pak Taka meminta karyawannya memakai kimono agar dia merasa sedang berada di kampung halamannya. Jadi, tak ada yang berpakaian formal dengan jas dan gaun di sini. Audrey sendiri memakai kimono berwarna ungu cerah bercorak awan putih. Rambutnya dikepang dan digulung membentuk sanggul kemudian di hias dengan tusuk rambut. Mathan memakai kimono pria berwarna ungu indigo dengan rambut di sisir ke samping bergaya slicked back. Dia menyadari tatapan sinis Audrey dari kejauhan dan tanpa segan melambai ke gadis itu. Sambil memasang senyum andalan dia menyapa. “Gue kaget ngeliat lo di sini.” “Kenapa? Gue gak keliatan kaya anak elite?” tukas Audrey meraih gelas Champaign berisi jus—Pak Taka tidak mengizinkan adanya alkohol di pesta. “Gak keliatan kaya orang yang bakal dateng ke pesta.” Audrey menunjuk Papinya dengan mata. “Kalau bukan pesta ulang tahun Papi, mana mau gue dateng. Mending menginvestasikan waktu buat latihan akting,” tuturnya yang kemudian meminum jus. Mathan ikut minum. “Gue heran dari siapa lo dapet sikap kaku itu. Setau gue, Mr. Taka orangnya easy going. Oh, apa dari Nyonya Taka?” “Bukan urusan lo. Gue ngerasa sikap gue normal.” Laki-laki itu mendengus. Marah-marah terus itu normal? “Lo kok bisa kenal sama Papi?” tanya Audrey. “Ayah gue pemilik Julian Corp..” Audrey tentu familier dengan nama itu karena sang Papi sering menyebutnya. “Aaah, lo anaknya Pak Julian, toh.” Seseorang memanggil Mathan dari jauh, laki-laki itu mengangguk. “Gue denger lo sama Nova hampir pengen di jodohin.” Cewek dengan t**i lalat di pipi itu mendelik. “Lo ngeledek?” “Gak. Gue lega aja itu gajadi. Bisa bunuh diri Nova kalau dipasangin sama maung.” “Maung?” Mathan menaruh gelasnya di meja terdekat. “Lo gak perlu tau artinya. Gue cuma pengen bilang—“ Cowok itu berhenti tersenyum. “Kepribadian lo yang sekarang gak mendukung karier lo di dunia akting.” Audrey bungkam, sampai cowok itu lenyap dari penglihatannya baru dia murka. “Emang dia siapa ngekritik diri gue? Dasar gak jelas.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD