Besok hari Sabtu, waktu sekolah libur, hari yang biasanya dinanti-nanti. Namun, semenjak kegiatan klub mereka dimulai, beberapa murid Meraki kegirangan sendiri dan tak mau hari Sabtu diliburkan.
Contohnya saja Lana. Cewek tanpa poni itu menghela napas untuk yang ke sekian kalinya di meja kantin. “Sumpah, gue gak ada kerjaan di rumah selain nge-halu-in Idol! Kan kalau di Klub gue bisa teriak-teriakan, nyanyi lagu ini, duet sama si anu, Enak! Berkah gitu loh!”
Rudy menyendok suapan nasi Kari terakhir. “Gak usah ngadi-ngadi. Yang pengen Sabtu masuk sekolah tuh lo doang.”
Mae yang duduk di sebelah Lana tertawa garing. “Iya. Belakangan ini materi pelajarannya juga banyak. Kalau Sabtu gak diliburin, bisa-bisa muridnya pada meliburkan diri.”
“Emangnya Lana bosen di rumah?” Theo tiba-tiba saja datang menyambar percakapan, menaruh nampan berisi tonkatsu ayam di sebelah Rudy lalu duduk. “Kalau gitu, gimana kalau lo main ke apartemen gue?”
Lana membelalak antusias, berbanding terbalik dengan Rudy yang wajahnya mendadak kusut. Mae yang ngeri dengan ukuran tubuh Theo beringsut mendekat Lana dan mengalihkan wajah dari cowok Spanyol itu.
“Serius? Lo mau ngajakin kita makan-makan lagi?” tanya Lana yang langsung diangguki Theo.
“Gue ikut,” lontar Rudy.
Lana mendelik. “Loh, bukannya lo mau tidur seharian besok?”
Mata Rudy melirik Theo. Mana bisa gue tidur tenang kalo lo ke rumah dia?
“Lo juga mau ikut?” tanya Theo ke Mae. Cewek bersurai pendek itu menegang, dia berdiri menarik nampannya lalu melarikan diri.
“Dia kenapa?”
“Takut lah sama buaya,” timpal Rudy.
“Enak aja. Gue orang.” Mata Theo menyisir seisi kantin. “Sabina mana?”
Rudy bangkit, mengangkat nampannya. “Dia di kelas. Gak istirahat.”
“Kenapa?” tanya Lana.
“Dia bilang lagi nabung. Tadi gue tawarin buat jajan pake duit gue, tapi dia gak mau,” balas Rudy yang kemudian pergi di susul Lana.
Usai istirahat, Theo datang ke kelas Rudy, mendapati cewek itu sedang mengerjakan tes bonus di tablet sekolah di kelas yang masih agak sepi. Rudy ada di belakang Sabina, tidur dengan wajah terbenam dalam lipatan tangan.
Theo menarik kursi di depan Sabina, lalu duduk di sana sambil melipat tangan di mejanya. Sabina melirik sekilas. “Apa?”
“Rajin banget lo ngerjain tes bonus. Emangnya nilai lo ada yang kurang?” tanya Theo menarik senyum miring.
“Tes bonus bisa di uangin tau. Lo yang orang kaya gak bakal ngerti rasanya mati-matian nyari duit.”
“Lo emang udah kerja?”
Sabina terkesiap, langsung membelokkan omongannya. “Ayah gue maksudnya. Kalau dengan ngerjain ini gue bisa dapet uang, berapa pun itu, kenapa enggak?”
Manik Theo menerawang gerakan jari Sabina yang menari bersama pensil di atas buku binder. Dia menegakkan badan, menyodorkan dua potong sandwich yang dibungkus kertas roti. “Gue dikasih Ibu-ibu kantin karena gue ganteng. Berhubung kenyang, gue gak bisa abisin,” ucapnya, mendorong makanan itu mendekat ke cewek itu.
Sabina menatap ragu. “Serius dia ngasih lo bonus? Curang amat.”
Theo melipat tangan sambil mengangkat dagu. “Iyaaa, makanya jadi ganteng tuh kutukan buat gue.”
Cewek itu meringis geli, meraih satu sandwich dan melahapnya sambil melanjutkan tes. “Thanks.”
“Esta bien (gapapa), tapi gue gak bilang kalau gue ngasih ini ke lo dengan gratis.”
Sabina langsung berhenti mengunyah. Dari matanya, Theo mendapati cewek itu kesal. “b*****t ....”
Theo terkekeh. “Besok Rudy sama Lana main ke apartemen, gue pengen lo juga ikut. Dengan begitu, gue anggap lo udah bayar sandwich ini.” Alisnya terangkat sebelah. “Gimana, sweetheart?”
Cewek itu meringis jengkel. “Dasar f*ck boy elite,” tekannya.
❣️♥️♥️♥️♥️❣️
Lana berpakaian santai dengan T-shirt putih dari merch album idol grup dan celana jeans pendek dengan tote bag hitam. Rudy mengikuti pakaian Lana dengan jeans hitam robek di lutut dan betis. Mereka berjalan ke arah apartemen Theo di Sabtu siang yang terik.
Sambil mengipasi diri dengan kipas plastik, Lana mengerjap menunjuk cewek dengan pakaian cukup anggun bergaya vintage yang duduk di depan pot beton apartemen. “Buset, itu Sabina?”
Merasakan kehadiran orang lain, Sabina menoleh, berdiri berkacak pinggang. “Lama lo, gue dah keburu gosong ini di luar.”
Lana berlari kecil. “Aturan lo masuk duluan aja.”
Sabina mendecak, terus gue sama Theo diem-dieman gitu nunggu kalian? Awkward lah.
“Tapi ... lo setiap main bajunya begini?” tanya Lana, menatap blouse nude denga bunga-bunga hitam yang dipadu dengan rok jeans selutut.
Cewek berkepang itu menatap dirinya risih. Pakaian gue pada kotor sama bolong. Ini aja punya Ibu gue. “Aneh ya?”
“Enggak lah! Anjir, gue pangling tau,” balas Lana sambil terkekeh.
Sabina melipat bibir ke dalam seraya menyelipkan anak rambutnya ke telinga. Rudy yang sejak tadi menatap Sabina mengerjap terus menerus. Kok dia imut?
“Woy!” Theo menegur dari balik pintu kaca apartemen. “Mau berjemur lo di sana?”
“s****n, gue bisa item, njir,” kata Lana, terbirit-b***t memasuki bangunan.
Sampai di lantai tiga, mereka masuk ke apartemen Theo yang terlalu luas untuk dirinya sendiri. Tembok putih, segala perabotan minimalis yang berwarna hitam dan abu-abu, belum lagi TV lebar dan sofa super empuk yang bisa disatukan membentuk kasur tambahan. Lana terlalu antusias tuk melihat-lihat sampai tersandung vas lonjong putih berisi pohon palem mini. “Giiila! Lo tinggal di sini sendirian?”
Sabina ikut melihat-lihat dengan antusias tapi tidak seheboh Lana. Mendadak Theo mengalungkan tangannya ke pundak cewek berkepang itu. “Style lo oke, tapi gaya rambut lo gak banget,” gumamnya begitu dekat dengan telinga Sabina.
Cewek itu mendorong Theo menjauh. “Serah gue lah. Lo mau gue kepang?”
Lana merebahkan diri di sofa lebar. “Ini mah bisa dijadiin kasur.”
Rudy duduk di dekat Lana yang terbaring, dia menepuk badan cewek b****k itu. “Kelakuan, woy, kelakuan,” tegur cowok itu.
“Theo gak komen tuh. Eeeh, enak banget ini AC nya.”
Sabina yang menjelajah seisi apartemen tanpa dinding itu mengernyit horor begitu melihat area dapur. “Lo abis ngapain di dapur?” katanya tak habis pikir sambil mendekatil area wastafel.
Di bak cuci piring itu bersimbah darah yang amis khas darah ikan. Sisik ikannya pun berserakan sampai ke meja di samping wastafel. Ada dua wajan gosong di atas kompor listrik, piring putih dengan ikan yang hitam karena overcooked, serta potongan sayuran yang asal berserakan sampai ke lantai.
Lana dan Rudy sampai ikut mengerutkan hidung. “Eiwwwwww!” seru cewek tanpa poni sambil memencet hidung.
Theo menggaruk kepala, tertawa garing. “Gue gak bisa masak, jadi gue ikutin resep di HP, tapi gue gak ngerti takarannya sama gak tau berapa lama masaknya.”
Sabina menatap Theo dengan jengkel sekaligus kasihan. Rese banget ini orang, ikan mas dibikin gosong. Dia kagak tau apa ikan lagi mahal?
“Nah, mumpung ada Sabina nih, gimana kalau kita masak bareng-bareng di sini? Bahan-bahannya ada kok di kulkas. Udah Kakak gue isi tadi pagi.”
“Kenapa nggak kakak lo aja yang masakin?” tukas Sabina.
Theo mengangkat kedua alisnya lalu menghempas napas panjang. “Well, kakak gue terlalu sibuk kerja dan gak bisa masakin lauk buat gue.”
“Orang tua lo?” tanya Rudy yang meraih majalah online shop di meja kaca.
Cowok Spanyol itu hanya tersenyum tipis. Dari situ, Sabina merasakan apa yang tidak tersampaikan. Perasaan yang untuknya juga familier. Orang tuanya gak ada? Atau sibuk sama kerjaan?
Lana dan Sabina saling tatap sejenak. “Yaudah. Gue mau masak, tapi kalian yang berbenah ya,” kata cewek berkepang itu yang melipat lengan blousenya.
“Okeeee!” seru Lana dan Theo berbarengan.
Rudy merebahkan diri dengan malas. Lana menarik kaki tetangganya itu agar dia bergerak. “Bantuuiiin, Ruudyyyyy!”