Di malam yang sama, Sabina pulang larut setelah memalak dua orang yang berhutang pada Yono. Pria itu kali ini tak menemaninya karena ada keperluan lain, jadi hanya Sabina yang pergi menagih. Orang pertama langsung membayar, dia pernah berurusan dengan Sabina dan tak mau lagi menunda bayar hutang lebih lama.
Orang kedua adalah seorang karyawan wanita yang sangat boros. Sabina tak mau main tangan, tapi wanita itu yang lebih dulu menampar dan menjambaknya. Tanpa aksi cakar-cakaran dan teriakan kata-kata kotor, Sabina membekuk wanita itu di tempat, membongkar lemari baju dan setiap laci, mengambil uang kertas yang hanya mampu melunasi seperempat hutang si karyawan.
Dia berjalan menepi saat ada mobil yang melintasinya dari lawan arah. Mobilnya sama kaya Theo. Matanya menyisir sekitar. Iyalah, ini kawasan apartemen.
Matanya melirik seorang cowok yang sedang merokok di depan apartemen putih bertingkat empat, di sebelah kanan tempat Sabina berdiri. Dia duduk di pinggir beton yang dijadikan pot pohon. Seolah sadar, cowok itu membalas tatapan Sabina.
Sabina langsung memalingkan muka. Guguk! Itu Theo!
Cewek itu berjalan cepat melewati cowok itu. Walaupun gue pake masker, tetep aja gue takut ketauan. Bisa ‘selesai’ idup gue kalo sekolahan tau.
Mata Theo mengikuti punggung Sabina hingga ia hilang di tikungan. “Berani banget tuh cewek jalan sendirian tengah malem gini.” Dia menyesap rokok, membiarkan asap keluar dengan sendiri dari mulutnya.
Seorang cowok yang lebih tua darinya, mengenakan jaket motor berwarna abu-abu, berjalan cepat melewatinya. Dari raut wajahnya saja, Theo tau cowok itu nampak murka, tatapannya seolah dia ingin menyantap orang hidup-hidup. Dia berjalan di jalur yang cewek tadi lewati.
Tak lama setelah cowok itu menghilang di tikungan, terdengar suara hentakan kaki yang cukup kencang dan bentakan. Theo berdiri, menjatuhkan puntung rokok ke jalan dan menginjaknya. Haaaaah, dasar kriminal kelas teri. “Well, mumpung gue bosan,” tukasnya yang kemudian berlari ke arah tikungan itu.
Setelah berbelok, cowok Spanyol itu terdiam. Cowok dewasa yang lewat tadi kini terkurap di aspal, meronta cewek bermasker hitam tuk tak menginjak punggungnya. Cewek dengan pakaian serba gelap itu malah menekan injakan semakin kuat.
“Balikin duit cewek gueeee!” bentak cowok yang diinjak.
“Ooh, lo pacar jamet tadi. Lo tau dia utang berapa ke bos gue? Delapan juta. Ini aja kagak nyampe seperempatnya. Dia nggak bisa bayar utang tapi hapenya kekinian,” tukas Sabina.
“Uwoah ...,” ujar Theo menutup mulutnya sambil terkagum.
Sabina langsung menoleh kaget. Sebelum kabur, dia menendang wajah si cowok membuat orang itu pingsan. Theo berjalan mendekat, melihat wajah cowok yang berdarah di tulang pipi dan sisi bibir. Dia mendesah kagum lagi. “Impressive ....”
Sabina sampai di teras kecil kontrakannya. Dia duduk dengan napas tersengal. Pintu terbuka, ayahnya keluar dari sana. “Baru pulang, Bina?”
Cewek itu membuka masker. “Iya. Bapak juga?”
“Iya.” Wajahnya nampak sedih. “Pangkalan sepi banget dari kemaren.”
“Yah, semenjak ada kendaraan online, pasti orang lebih pengen ke sana,” gumam Bina. “Bapak mau ikutan jadi Ojol nggak? Seenggaknya nanti banyak penumpang dibanding mangkal?” tanyanya sambil melangkah masuk ke rumah.
“Bapak kan gak punya hape. Lagi pula bapak nggak ngerti cara makenya.”
“Nanti Bina beliin. Uang tabungan Bina udah cukup kok.”
Di ruang tengah yang sempit, mereka duduk tanpa alas tikar. Sabina meraih teko plastik di sudut ruangan beserta dengan sepasang gelas yang menjadi satu-satunya wadah minum mereka. “Kamu nggak mau lanjut bela diri lagi? Temen-temen kamu pasti—“
Sabina membanting teko, membuat airnya tumpah ke ubin putih. Dia langsung sadar kelakuannya tak pantas. “Ta-tangan Bina licin abis lari ...,” gumamnya langsung meraih baju lama yang di jadikan kain lap di dekat pintu.
Si Bapak melepas topinya. Kepala setengah botak dan kantung matanya membuat hati Sabina terenyuk di dalam. Andai aku punya kemampuan lain selain bela diri, mungkin aku bakal lebih gampang cari duit.
“Bina udah nggak suka bela diri.” Aku cinta bela diri!
Mata Sabina menatap segelas air di tangannya. “Aku sanggup kok nyari duit begini.” Aku benci memeras orang, tapi ini terpaksa, bohongnya pada diri sendiri.
“Nanti kalau ibu kos dateng nagihin duit sewa, bapak ambil aja di celengan barbie itu. Nggak di konci.” Cewek itu bangkit. “Bina mau tidur.”
❣️♥️♥️♥️♥️❣️
Audrey baru saja turun dari tangga, melangkah cepat dan riang ke ruang makan. Tiga orang pembantu wanita muda dengan pakaian formal dan rok span selutut melintas pergi setelah menyusun piring di meja makan dari marbel putih.
Papi dan Maminya sudah menyantap sarapan khas jepang di ruangan lapang serba putih itu. “Pagi, Papi!” serunya yang duduk di sisi lain meja makan.
“Pagi, Audrey,” balas Papi disusul Maminya. Darah jepang memang mengalir dalam dirinya, tapi sosok cewek judes itu lebih mengikuti sang ibu yang merupakan orang Minangkabau.
Tak ada pembicaraan selagi makan, itu salah satu aturan di keluarga besar Shimada Taka. Apa Audrey muak dengan setiap aturan keluarga? Tidak. Dia setuju setiap orang harus bersikap sopan. Cewek itu hanya melakukannya di sekitar orang-orang yang dekat dengan keluarganya. Di belakang mereka, yah ... kalian tau sendiri bagaimana.
Di mobil barulah dia dan ayahnya berbincang. “Walau kalian udah bukan tunangan lagi, Papi harap kalian tetep akrab. Sama kaya Papi ke Om Ken.”
“Pastinya, Papi. Audrey kan deket sama Om Ken.” Lagi pula, bisa bahaya juga kalau si Nova itu ngadu ke ortunya. Yah, gue galak buat bikin dia menjauh. Nggak bermaksud membully atau apa. Ih, nggak elite banget gue ngebully orang.
“Selain Nova, temen kamu siapa lagi?”
“Banyak, Pi. Ada yang namanya Theo, Cecilia, Matthan.” Huh, nama-nama anak brandal. Oke, mereka emang nggak elite, tapi gue tau keluarga mereka elite.
Sampai di sekolah, dia turun dari mobil, melewati gerbang dan langsung pergi ke loker. Sabina juga baru saja membuka lokernya yang berada di sebelah kanan Audrey. Loker sengaja tak di urutkan lewat nama atau kelas. Mata cewek judes itu menatap Sabina dari kepala sampai kaki. Anak kelas profesor. Ih, sepatunya N*rth star yang KW. Kasiiiian.
“Kenapa lo liat-liat begitu?”
Audrey membuka pintu lokernya yang menghalangi tatapan Sabina. “Gue gak liatin lo, kepedean amat.”
Cewek dari kelas X-1 itu tak menghiraukan dan kembali ke kelas. Selagi Audrey merapikan lokernya dengan buku binder yang dibawa dari tas, seseorang menyenggol badannya hingga tasnya jatuh dan dia menabrak pintu loker.
“Eeeeeh, maap, maap!” seru Lana yang tadi kabur setelah menelepak kepala Rudy. Dia meraih tas Audrey, menepuk-nepuknya hingga terbebas dari debu lantai.
Audreu merebut tasnya dengan kasar. “Ngapain lari-larian di sekolah? Lo kira ini sekolah TK?” bentaknya.
Lana mengerut dahi karena jengkel. “Lah, nggak ada aturan yang ngelarang. Kok lo sewot,” cibir Lana.
Rudy baru saja sampai, dia memegang lutut sambil mengatur napas. “Heh, s****n lo ...,” gumam cowok itu ke Lana.
Lana membuka lokernya yang berada lima barisan sebelum loker Audrey. Setelah cewek judes itu pergi ke kelas, baru dia lanjut mencela. “Iih amit-amiiit deh. Jadi orang kerjaannya marah-marah terus, kagak pernah seneng apah.”
Rudy ikut membuka lokernya. “Itu dia tuh, si maung dari kelas X-3.”
“Sekelas sama Theo dong?”
“Iya. Si Theo pernah ngomong ke gue katanya si Audrey itu ngomelin anak kelas lain yang ngumpul di kelasnya.”
Lana bergidik. “Untuung gue kagak sekelas sama dia.”