Soto Ayam

1335 Words
  Theo menatap ngeri masakan yang dia buat sendiri. Wajahnya makin mengerut begitu menyicipi kuah soto yang dia buat. “Taste like a sh*t,” makinya. Dia tak bisa memesan atau membeli uang karena jatah uang bulanannya sudah habis untuk memesan sepatu Nike keluaran terbaru dan dua buah jaket. Bahan-bahan yang dia gunakan sekarang dia dapat dari kulkas. Cowok itu menatap dapur apartemennya yang kotor dan berantakan. Gue masih kesel sama Victor soal kartu, tapi kalau gue nggak minta uang, gue gak bisa makan .... “Bodo amat, ah, gue laper!!” Dia membanting diri ke sofa hitam modern, menelepon kakaknya sambil rebahan. Kakaknya mengangkat panggilan. “Duit,” lontar Vernon langsung. Victor yang sedang mengemudi pulang ke apartemennya menarik napas. “Begitu caramu bicara pada kakak?” Vernon menggigit bibir. Terus lo mau gue merengek kaya bayi gitu? Psycho. “Gue belom makan, duit gue abis.” “Siapa yang suruh kamu abisin?” “Makanya kasih gue kartu!” bentak adiknya. “Kemarin udah aku kasih kan?” Vernon mengumpat pelan. “MAKSUD GUE KARTU YANG ADA DUIT DI DALEMNYA!” Kakaknya tersenyum diam-diam. “Claro (okay), tergantung dari cara kamu memohon.” Adiknya mendumal. “Bastard ....” “Bye.” “TUNGGU! Gue kan belom ngomong!” Vernon menarik napas dalam-dalam, telinganya memerah karena kesal sedang dipermainkan. “I need your money, please ....” Duut, duut, duut, duut. Vernon membelalak. “s****n!” erangnya murka. Cowok itu akhirnya berjalan keluar dari apartemen, mengeluarkan mobil. Begitu duduk di kursi pengemudi, dia teringat pernah bertukar nomor dengan Lana. Vernon menelepon gadis itu. Lana mengangkatnya. “Nde, anyonghaseo?” Cowok itu menatap layar telepon, merasa memanggil orang yang salah. “Ini Lana bukan?” “Yaa! Ooh, ini Enon Ya? Gue lupa nge save nomor lo!” Suara musik yang menggelegar membuat Vernon nyaris tak mendengar ucapan cewek itu. “Enon?” ulang cowok itu seraya mengernyit. “Itu nama panggilan gue?” “Hooh. Ngapa? Lo mau ngajak gue jalan?” “Nggak, gue mau minta nomor Sabina. Lo punya?” Vernon menyalakan mesin mobilnya selagi pintu garasinya otomatis bergerak naik. “Gue pernah mintain nomornya, tapi dia bilang dia nggak punya HP.” Cowok itu mendelik. “Lo percaya nggak pas dia ngomong gitu?” “Rudy juga bilang begitu. Kenapa emangnya? “ “Pengen ketemu aja,” sekalian mintain dia buat masak di sini, batinnya. “Lo tau nggak alamat rumahnya?” tanya Cowok itu. “Ya kagak, lah, tapi kalo lo laper, sini dateng. Gue ada lauk.” Cowok itu mendelik. “Serius?” “Iyaaaa, serius! Udah yok ke sini.” ❣️♥️♥️♥️♥️❣️ Theo mendelik. “Gue kira lo yang masak.” Lana terkekeh, duduk di seberang Rudy. Setelah Theo sampai, cewek itu langsung menyeretnya ke rumah Rudy dan makan bersama di rumah cowok itu. Mereka bertiga kini duduk di atas karpet, mengelilingi meja rendah di ruang tamu Rudy. “Gue juga gak bisa masak, kan, Enon,” balas Lana. Rudy mendelik dari layar HP nya yang menampilkan animasi AOT. “Enon?” Theo merengut. “Gue mending dipanggil f*uck boy daripada itu.” Cowok itu memiringkan badannya mendekati Rudy, menengok film apa yang ditatap serius olehnya. Tepat pada scene seekor titan menggigit prajurit pemburu, Theo langsung bergidik jijik. “Lo bisa makan abis nonton itu?” “Udah biasa.” Ibu Rudy menaruh dua piring berisi soto ayam santan di depan Lana dan Theo. Cewek itu berseru girang. “Makasih, mama Rudy!” “Makan yang banyak, Na. Kamu juga, Enon,” ujar ramah si Ibu. “Saya Theo, bu.” “Ooh, nak Theo? Enon aja lah, lebih gampang.” Si Ibu kembali ke dapur tuk mengambil sepiring nasi. Theo meringis, mencibir ke arah Lana. “Gara-gara lo nih.” Cewek itu asik menyeruput kuah soto. “Duuuh, nama lo bikin lidah orang kelipet. Biar gampang diinget dan gampang disebut.” Theo menyeruput kuah, sudah terlalu lapar untuk melanjutkan argumen. Matanya melebar begitu rasa santan dan bumbunya yang gurih membasahi lidah. Begitu sepiring nasi sampai di meja, cowok itu diam dan fokus pada makanannya. Rudy dan Lana mengerjap. “Buset dah, kaya kagak makan sebulan ini orang,” Lontar cewek itu, menyeruput kuah langsung dari mangkok. Rudy memukul lengannya. “Cewek makan serampangan amat.” “Makanan emak lo tuh nggak bisa bikin gue kalem, Dy. Rasanya kaya pengen bucinin cowok tapi dia udah bucinin lo duluan.” Cowok penggemar anime itu mendengus, lalu mulai makan. Lo belom tau aja siapa yang bucinin lo sekarang. Theo pamit saat jarum jam lewat dari angka enam. Ibu Rudy bilang padanya untuk datang lagi jika lapar. “Nggak bu, makasih banyak. Bukannya nggak sopan ya, dateng buat minta makan ...,” ujar cowok Spanyol itu yang masih kaku dengan budaya kemasyarakatan di Indonesia. “Emang ada yang ngomelin kalo Enon ke sini?” “Enggak ada sih ....” “Yaudah, santai aja. Toh, Lana juga setiap hari dateng ke sini buat makan. Biar tambah rame,” lontar si Ibu sambil tertawa mengejek Lana. Lana memeluk lengan si ibu dengan manja. “Masakan Mama Rudy mah paling enak seantero bandung~” Cowok itu pulang dengan mobilnya. Di perjalanan, HP nya mendendangkan nada dering panggilan. Theo mengangkatnya. “Ya, Mom?” “Kamu ke mana? Mom dateng ke apartemen kamu nih, kok malah nggak ada orang.” Mata Theo membulat. “Mom! Kok—“ “Apa? Salah kalau seorang ibu pengen makan malam bareng sama anaknya yang udah lama nggak keliatan?” Cowok itu tertawa pasrah. “Oke, deh. Kita mesen aja. Mom kan nggak bisa masak.” “Kamu lagi sama Daddy?” Mendengar panggilan itu kembali memunculkan sosok bapaknya yang kasar dalam pikiran. “Nggak. Aku udah usir dia kalau semobil sama aku,” cetus Theo. ❣️♥️♥️♥️♥️❣️ “Om, saya nggak bisa tunangan sama Audrey ....” ucap Nova ke Om Taka. Om Taka mengundang Nova dan ibunya untuk makan malam bersama di Restoran Cina. Audrey seperti biasa memasang topeng ‘Gadis baik dan manis’ di dekat Papinya dan Tante Gina. Namun, Nova tau kalau cewek itu berlakon. Nova tentu tak mau buang kesempatan tuk bicara langsung pada Om Taka. Dia sendiri sudah tak tahan terus dilabrak oleh Audrey di sekolah. Urusan mereka harus berakhir malam ini juga. Tante Gina menatap putra tirinya khawatir. Om Taka melirik putrinya sekejap. “Kenapa? Ada yang kurang dari Audrey?” Audrey terdiam masih dengan senyum tipis di wajah. Oh, lo sekalian pengen ngadu kalau gue jahat sama lo di sekolah? Nova melirik Audrey takut, lalu melanjutkan omongannya sambil menunduk menatap asparagus yang tak dia makan di piring. “Sebenarnya ... saya trauma sama perempuan selain ibu saya, Om.” Om Taka dan Audrey membulatkan mata. “Jadi, saya nggak bisa sama Audrey. Bukan karena anak Om punya kekurangan. Audrey baik kok sama saya di sekolah, tapi saya-nya aja yang nggak bisa deket sama dia ....” Papi Audrey menatap Tante Gina. “Aku istri baru mas Ken, mas Taka. Ibu kandung Nova masih perawatan di rumah sakit dari sepuluh tahun terakhir,” jelas Tante Gina. Audrey meraih gelas, meminum airnya dan melanjutkan menyantap potongan steak terakhir. Harusnya lo ngomong lebih awal kalo takut cewek. Bukan berarti gue kasian sih. “Audrey sendiri gimana?” tanya Papinya. Cewek itu menyeka mulut dengan anggun. “Aku udah tau, Pah. Jadi, aku nggak maksain Nova. Pasti dia takut pas Audrey mau ngajak ngobrol.” Nova mengalihkan mata. Gimana gue kagak takut. Lo murka begitu mukanya. Om Taka meneguk segelas anggur merah. “Oke. Om juga nggak bisa maksa kalian kalau begitu. Kalian masih kecil juga. Kayaknya Om terlalu seenaknya maksa kalian saling deket.” Emang. Batin Nova dan Audrey berbarengan. “Gimana kalau Om ajak kamu buat terapi? Kamu sendiri nggak bisa begini terus, kan?” tanya Papi Audrey. “Gak perlu mas Taka. Nova udah lama konsultasi sama psikolog anak yang dateng sebulan sekali buat ngecek,” jelas Tante Gina. ❣️♥️♥️♥️♥️❣️
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD