Di hari jumat pagi, Lana langsung menghampirir Nova di bangkunya. Cowok itu melotot kaget pada Lana, bangkit dari bangkunya dan berdiri bersandar di tembok belakang kelas. Cewek itu mengerjap. “Lo kenapa?”
“Lo ada perlu sama gue?” tanya Nova risau.
Lana agak memiringkan kepalanya. “Gue pengen ngobrol aja sih, kita satu Klub, kan? Lo liat pas gue nyanyi kemaren?”
Nova mengangguk, masih was-was. “Ya, gue liat. Suara lo bagus.”
Cewek itu tersenyum lebar. “Itu dah pasti. Nah, nanti ada waktu sedikit sebelum materi Karier kan? Gue pengen duet sama lo.”
Cowok itu berkeringat dingin memikirkan dirinya berdiri begitu dekat dengan Lana. “G-gue gak bisa nyanyi!”
Lana menghentakkan kaki. “Bukan ituuu! Gue yang nyanyi, lo yang mainin pianonya.”
Nova mengangguk. “Oke. Oke, tapi lo jangan deket-deket gue nanti.”
Cewek itu sontak mencium ketiak bajunya. “Gue bau?”
Mae yang baru datang langsung menghampiri Lana, memegang kedua pundak cewek itu dari belakang. “Paaagii!”
“Paagi.”
Mae menatap Nova yang ada di seberang Lana. Spontan Mae menarik Lana mundur, “Na, sini deh, ada yang aku mau omongin.”
Nova melirik Mae yang menuntun temannya untuk memberinya ruang. Cowok itu bernapas lega, kembali ke tempatnya duduk.
“Kemarin siapa yang main piano di Klub Seni?”
“Aaah, itu.” Lana menunjuk Nova. “Dia yang main.”
Mae membulatkan mata. “Dia juga bisa main biola sama Celo. Sumpah gue kaget banget kemaren dia tampil keren sendirian,” tambah cewek bersurai panjang tanpa poni itu.
Mae menatap cowok tertutup itu lamat-lamat. Nova membalasnya sambil menghindar. Cewek itu terkekeh. Aku jadi pengen liat dia main alat musik.
Audrey berhenti melangkah, mengedarkan pandangan ke kelas yang terbagi menjadi dua gerombolan. Gerombolan pertama terdiri dari siswi kelasnya dan dari kelas lain yang mengerubungi Theo. Cowok Spanyol itu tak mengambil pusing keberadaan mereka dan tetap memainkan game di ponselnya. Gerombolan lain ada di belakang Theo, kali ini bukan hanya siswi tapi juga siswa yang mengerubungi Matthan. Cowok itu kini tengah mengulang lakonnya sebagai raksasa di klub karier kemarin, membuat teman-temannya terbahak dan antusias menyimak lakonnya.
Audrey melipat tangan menghampiri gerombolan Matt. Moodnya sudah jelek karena Nova dan sekarang semakin buruk ketika ada siswa dari kerumunan cowok buaya itu yang duduk di mejanya. “Minggir!” bentak Audrey begitu kencang, hingga menghentikan tawa satu kelas.
Cewek itu memicing pada setiap murid yang bukan dari kelasnya. “Ngapain lo pada di sini? Lupa sama kelas sendiri?!” Tanpa aba-aba, murid itu berpencar kembali ke kelas. Beberapa ngeri pada kegalakan cewek judes itu, beberapa pergi sambil mendumal.
Theo menghela napas lega begitu bebas dari kerumunan yang mengurungnya di tempat, berbeda dengan Matt yang gondok pada Audrey. “Aahelah, tadi lagi seru juga.”
Audrey menarik kerah Matt, membuat cowok itu kaget dan membungkukkan punggungnya. “Diem lo, cecunguk! Sekolah tuh yang niat! Lo dateng cuma buat seneng-seneng doang?!”
Matt tau kalau dia tak bisa main-main dengan cewek di depannya. “Y-yaaa, namanya juga anak SMA wajar lah kalau—“
Cewek itu menggoncangkan badan Matt dari cengkraman di kerahnya. “Oooh, lo lupa? Ini bukan SMA buat bocah-bocah MKKB. Lo kalo dateng ke sini Cuma buat maen-maen doang, sana keluar!”
Theo merasa cewek itu punya visi yang berlebihan. “Ey, caaalm doown~ kita masih enam belas tahun. Kenapa lo kaku banget kaya omah-omah?”
Matt mendengus. Audrey memerah mendengar ejekan itu. Dia melepas Matt dan mendekat ke Theo. Siswa di kelas X-3 perlahan keluar dari kelas karena tak mau ikut campur dan memilih tuk melihat dari jendela luar agar lebih aman jika terjadi aksi lempar-lemparan bangku.
Cecilia baru saja sampai. Dia keheranan melihat siswa kelasnya yang berkumpul di luar. “Ada apaan?” tanyanya ke siswi sekelas.
“Tau tuh, si Audrey tiba-tiba aja ngomel.”
Cewek modis itu mengibas rambut. “Ih, pagi-pagi gini udah narik urat aja kaya emak-emak—“
Mata Cecil membulat saat Audrey mencengkram kerah Theo. Eeeeeeeei! Apa apaaan tuh cewek?! Kok kasar?!
Cecil melangkah lebar-lebar masuk ke kelas, menarik tangan Audrey dari kerah Theo. “Apa apaan lo kasar gini sama Theo?”
Audrey melirik dia dan Theo dengan gondok. “Oh, lo berdua pacaran?” Cewek dengan t**i lalat di pipi itu mendengus. “Haaaaah, gue dah bisa liat masa depan lo berdua bakal gimana. Gelap. Gak ada masa depan yang bagus buat orang pacaran.”
Cewek modis itu tersulut emosi. “Lo siapa ngedikte gue begitu? Temen juga bukan! Lo kalo mau ceramah jangan di sini, bun~” balasnya meremehkan.
Matt berdiri di antara mereka berdua. “Udah, udah! Kelas mau mulai! Ngapain sih masalah sepele di gede-gedein? Malu tau nggak, kayak bocah.”
Audrey setuju. Dia melangkah ke bangkunya masih dengan mata sinis. Cecil mengangkat tinjunya ke udara. “Hiiiih, kagak ada akhlak tu orang!”
Matt menepuk punggung Cecil. “Udah, udah, udah.”
Theo tertawa di bangkunya. Suara itu membuat pikiran gondok Cecil langsung buyar dan terkalihkan. “Jangan dipikirin omongan dia, Vernon,” balasnya dengan lemah lembut. Matt langsung bergidik geli.
Cowok Spanyol itu menarik senyum. Cecil merapatkan bibirnya, sebisa mungkin bersikap biasa walau lubang hidungnya megar karena kegirangan. Jangan gitu dong, Vernooooon! Masih pagi, nih! Senyumnya kaya mau ngajak gue nikah.
❣️♥️♥️♥️♥️❣️
Walau baru dua minggu lebih, murid baru angkatan ke tujuh tahun ini sudah melabelkan julukan ke kelas masing-masing. Anak-anak kelas X-3 diberi label ‘Kelas Maung’ karena keberadaan Audrey. Kelas X-2 dicap sebagai ‘Kelas Seniman’ karena mayoritas anaknya pergi ke klub Design atau Klub Seni. Kelas X-1 yang di tempati Sabina dan Rudy dijuluki ‘Kelas Profesor’ karena banyak juara sekolah di SMP mereka yang berkumpul di kelas itu.
Walau itu hanya label, para guru sendiri sepakat karena merasakan perbedaan yang tajam begitu mengajar di ketiga kelas itu. Rapat yang dilaksanakan oleh Bu Rossie kini membawa topik itu sebagai laporan wali kelas 10.
“Ah, masa sih kelas saya kelas anak-anak pintar,” ujar Mr. Taro selaku wali kelas X-1 dan guru Olahraga.
Bu Luna mengoreksi. “Bukan berarti karena di sana banyak anak-anak yang lulus tes dengan nilai tinggi otomatis kelasnya jadi kelas jenius.”
“Itu kan rumor yang saya dengan dari murid,” ucap Bu Rossie tak bermaksud membuat pertikaian antar wali kelas. “Lagi pula, saya sudah menekankan kalau nilai akademik bukan target kita di sekolah ini.”
Pak Jun mengangguk setuju. “Anak-anak angkatan sekarang sangat ekspresif sampai saya sendiri sering nerima komplain soal mereka dari guru pelajaran lain,” katanya sambil tersenyum pasrah.
Bu Rossie menyipit curiga. “Kenapa? Ada anak bandel di kelas X-2?”
Pak Jun menggeleng. “Di kelas saya—“
“Rame banget, Bu Ross,” balas Bu Luna dan Mr. Taro bersamaan. Pak Jun terkekeh.
Bu Rossie mengerut alis, menggeser panel kayu di meja yang menutup tombol-tombol pengendali sekolah. Kuku berbalut kuteks nude itu menekan tombol layar kamera pengawas. Kaca di tengah meja kayu rapat yang menyatu seketika menyala dan menampilkan ruang kelas X-2 yang saat ini masuk jam bebas.
Terlihat Lana yang menggeser meja guru untuk lebih ke depan dan dia berdiri di atasnya sambil menggenggam kemoceng dengan terbalik. Seisi kelas terlihat menyoraki Lana dari bangku masing-masing, ada juga yang berjalan ke area dekat papan tulis untuk berjoget di sana. Mae ikut bernyanyi walau dia terbatuk-batuk karena napasnya tidak kuat. Mata Bu Rossie menangkap seorang Nova yang diam di bangkunya sendirian.
Pak Jun menganga. “Ini kelewatan!” serunya malu langsung berdiri hendak mengomeli anak kelasnya.
“Nggak usah, Pak Jun. Biarin mereka senang-senang. Toh, kelas sebelas nanti anak-anak itu bakal kesulitan buat bertingkah konyol kaya sekarang,” lontarnya sambil senyum-senyum.
❣️♥️♥️♥️♥️❣️