“G-gue balikin aja ke orangnya lah! Ta-tapi gimana caranya balikin tanpa ngomong sama dia?”
Bel masuk berdendang, Nova menengadah sejenak menatap speaker di atas loker. “Gue pikirin aja nanti.”
Surat itu dia selipkan di dalam binder note seraya berjalan masuk ke kelas.
Wali kelas masuk memulai absen murid. Pak Jun melirik jam tangannya. “Hari ini pendaftaran klub udah dibuka. Seperti yang udah bapak jelaskan senin lalu, kalian bisa ikutan dua klub sekaligus. Kalau ingin pindah, kalian harus nunggu tanggal satu di bulan berikutnya buat pendaftaran ulang ke klub lain. Yang masih bingung, boleh nyoba masing-masing klub selama kalian masih di kelas sepuluh. Soalnya dikelas sebelas nanti kalian sudah harus fokus ke klub karir yang di ambil, jadi nggak bisa pindah-pindah lagi.”
Lana menotol jari telunjuknya ke pundak Mae. “Lo udah fiks ke Klub Desain?”
Cewek bermata besar itu mengangguk, terkekeh pelan. “Aku mau nerusin butik ibu. Lagi pula, aku udah belajar dasar-dasar ngejahit dari sd.”
Pak Jun meletakan tablet di atas meja Lana. Layarnya menunjukkan dokumen ‘Pendaftaran Klub Karier’. “Silakan isi masing-masing, terus save, kasih nama dan kelas kalian. Yang nggak ngerti bapak ajarin. Bergiliran ya.” Wali kelas X-2 juga memberi tablet ke bangku pertama lima barisan.
Lana menulis Klub Seni di kolom dokumen dengan stylus pen. Boleh dibawa pulang nggak ya, ni tablet?
Di kelas X-1, Sabina merenung cukup lama menatap kolom pilihan klub. Dia memintal ujung kepangannya seraya menggigit bawah bibir. Karier mana yang nyetak uang lebih cepet?
Rudy yang duduk di belakangnya menepuk pundak cewek berpenampilan lugu itu. “Udah belom?”
Sabina memberikan tablet itu tanpa mengisi miliknya. Gue pikir dulu baik-baik. Gue nggak mau terjebak di tempat yang salah. Gue masih belom tau potensi sendiri. Dia memangku dagu. Hhh, gue bisa apa selain belajar?
Cowok pencinta animasi raksasa itu mengisi setiap kolom tanpa ragu. Target yang ingin diraih? Bikin animasi terkeren pastinya. Gue bakal bikin studio seterkenal Ghibli. Nggak, lebih hebat dari itu! Terlepas dari genre, gue mau semua animasi yang gue ciptain dinikmatin banyak orang.
Theodore mengisi ‘Billionare on top’ di kolom target. Bu Luna yang berjalan melewatinya mendelik, berhenti melangkah. “Billionare on top?”
Cowok yang paling tinggi di angkatannya itu tertawa dengan suara dalam. “Bukan sembarang Billionare, Mrs. Lune. Ayah saya mungkin megang setengah negara di tangannya, tapi saya bakal genggam dunia.”
Bu Luna menekan ujung belakang pulpen ke dahi siswa kelasnya itu. “Hmmh! Calon-calon sugar daddy.”
“Do you wanna be my suggar baby, Mrs. Lune?” goda Theo, menyandarkan tubuh kekarnya ke kursi yang terlihat kekecilan, bergaya angkuh.
Bu Luna tersenyum miring, matanya memicing seraya meraih tablet dan mengopernya ke belakang. “Jaga sikap, Vernon Theodore.”
❣️♥️♥️♥️♥️♥️❣️
Kantin SMA Meraki adalah yang terbaik. Semua orang tau itu. Selaku pemilik sekolah, Bu Rossie menyediakan yang terbaik dengan biaya yang ditanggung sendiri. Tidak ada yang tau perusahaan besar apa yang beliau miliki. Bahkan status pernikahannya juga masih misteri.
Lana meraih nampan kayu, ikut berbaris bersama murid lapar lainnya di kantin. Jangan harap menemukan makanan ringan. Sekolah ini menjunjung tinggi kualitas, jadi mereka membuat semua menu sendiri. Dari semangkok nasi hangat, sop ayam, tempura udang, sandwich, dan beragam menu sehat lain. Terkadang, mereka membuat dessert berupa kue kering atau minuman manis ala Cafe agar murid tidak jenuh ke kantin sekolah.
“Kan kalo begini, gue bisa nabung buat beli light stick Treasure sama album-albumnya,” kata Lana di sela mengunyah inkigayo sandwich.
Rudi menyeruput banana milk, duduk di sebelah Lana. “Kenapa nggak ditabung aja buat beli peralatan ngerekam. Mic-nya segala macem. Mahal kan itu?”
Lana membelalak, membentuk jari seperti pistol ke arah cowok itu. “Pinter banget lo, Dy! Aah, tapi mesti ada ruangan kedap suara biar bisa latihan di rumah juga.”
“Bisa itu dibikin.”
“Gue nggak ngerti masangnya gimana.”
Rudy menghela napas. “Gue yang pasangin.”
Lana memeluk lengan Rudy. “Beneran? Cius nih? Awas aja boong.”
Cowok itu menarik tangannya dengan paksa. “Iya! Lepasin!”
Cewek ekstrovert itu melirik ke gerbang masuk kantin, mendapati laki-laki berkukit agak gelap dan berbadan tinggi. Itu dia, Vernon Theodore.
“Gue ke sana bentar,” lontar Lana, langsung berdiri dan pergi.
Rudy tak sempat melihat siapa yang Lana datangi karena seorang siswi berdiri di seberang meja, menghalanginya. “Hey, Rudy.” Mae menaruh nampan berisi sepiring kimbab dan segelas air di meja, duduk berhadapan dengan cowok itu.
“Hai.” Matanya menangkap sosok Theodore dan Lana yang berbincang di tengah jalur masuk kantin.
Mae ingin langsung ke topik pembicaraan, tapi dia takut dianggap agresif oleh si kalem Rudy. “Erm, tadi di kelas, kamu ngisi formulir klub karier juga?”
Cowok itu telah menghabiskan banana milk, berpindah ke roti isi cokelat. “Iya.”
“Kamu isi apa?”
“Animator.”
“Yang bikin kartun itu? Kamu bisa gambar?”
Rudy mengangguk. “Udah lama gue suka gambar dan animasi.”
Mata Mae terpaku, berkedip pelan, tak lepas dari wajah cowok di depannya. Aku tau aku konyol! Padahal baru seminggu, tapi pikiranku terus-terusan mikirin dia!
Rudy membalas tatapan Mae, sontak cewek itu terkejut dan berpaling menatap kimbap yang masih utuh. “Kamu udah baca surat dari aku?”
Cowok itu mengerjap, terdiam lama. Surat? Surat apa?
Mae ikut mengerjap. Aaaaaaarg! Kan, aku bilang juga apa! Image-ku pasti udah jelek dimatanya! Udah segala kirim surat, terus sekarang minta kejelasan! Cewek spesies apa sih kamu, Mae?
“E-enggak jadi! Erm, anggap aja apa yang aku tulis itu cuma ungkapan kagum sebagai temen aja.” Mae mengangguk cepat, menyantap kimbab karena panik. “Aku pengen temenan sama kamu, cuma aku takut kamu nggak suka, makanya aku kirim surat tadi.”
Rudy masih tak mengerti apa yang Mae katakan. Surat apa sih?
“Jadi, maksudnya, lo pengen temenan sama gue?”
Mae tersenyum tipis seraya mengangguk cepat. “Nggak usah pake surat segala, sih. Gue nggak milih-milih temen, kok.”
“Aaah, oke, deh. Abisnya, aku belom pernah temenan sama cowok, jadi ....” Lana menertawakan diri sendiri. “Aku pengen tau aja gimana rasanya.”
Lana kembali ke meja. “Eh, Mae?” Cewek itu duduk di samping Rudy. “Baru ke kantin lo?”
“Iya, nih.”
Jam istirahat habis. Mae menghampiri lokernya untuk mengambil buku catatan dan lip balm.
“M-misi ....”
Mae menutup pintu loker, melihat cowok yang berdiri lima loker darinya. Ah, si Nova. “Iya? Kenapa, Nova?” tanya Me.
Nova membulatkan mata. Dia tau nama gue? Anying! Kenapa bisa? Eh, kan kita sekelas, pinter! Cowok itu mengeluarkan amplop kecil dari pertengahan isi bindernya. “Ini.”
Mae menjatuhkan buku catatannya. Kenapa ada sama dia? Cewek itu melangkah mendekat. “Kok itu—“
“STOP!” Nova menjulurkan tangan. “Berenti!”
Mae tak peduli. Alhasil, setiap cewek itu maju, Nova melangkah mundur.
“Kamu yang berenti! Sini suratnya!”
Nova bergidik ngeri. “Lo yang berenti! Plis! Jangan deket-deket!”
“Sini suratnya!” Mae berlari, Nova secepat mungkin melarikan diri.
Audrey yang baru hendak menghampiri area loker terdiam melihat Mae dan Nova yang main kejar-kejaran di sana. “idih! Kebocahan banget.”