Mathan

1256 Words
“Mathan!” Mathan yang hendak pergi ke ruang guru itu memekik kaget ketika Nova langsung menyambar dan bersembunyi di belakang badannya. Mae bersungut-sungut berhenti di hadapan “Apaan nih?” tanya Mathan pada Mae. “Balikin,” tekan Mae. “Apaan yang dibalikin?” Nova menepuk lengan Mathan, menyodorkan amplop pink kecil padanya. Mathan mencerna situasi. “Lo nembak dia, Va?” lontarnya dengan mata membulat. “Itu namanya bunuh diri,” gumam Nova, masih tak bergeser dari punggung cowok yang lebih tinggi darinya. Mathan mengembalikan surat itu ke Mae. “Terus lo yang nembak Nova?” “Enak aja! Aku tuh tulis ini buat Rudy!” Mae langsung menutup mulutnya dan meringkuk di tempat. Aaaaa! Aku ngomongnya kenceng banget! Cowok berlesung pipi itu mendengus, menarik senyum lebar. “Baru seminggu sekolah, udah ngajak pacaran aja.” “Diem!” bentak Mae, langsung berdiri dan berlari pergi. Mathan terkekeh. “Imut banget dia. Heh, Nov, jelasin lah. Kenapa lo ambil surat dia?” Nova menjauhkan diri, bersandar di tembok lorong. “Bodo ah, capek gue.” “Katanya mau terbiasa sama cewek.” “Lo tau sendiri kenapa gue bisa begini,” balas Nova. Cowok itu terdiam, mengingat Nova kecil yang trauma karena ibunya. “Iya, gue paham. Makanya, gue mau nolongin lo biar nggak gini terus. Seenggaknya, lo bisa ngobrol dah sama cewek.” Memang mudah kalau di bayangkan. Untuk Nova, berjarak semeter dengan cewek aja sudah mustahil. Di kelas X-2, Mae menenangkan diri di tempat duduknya. Dia nggak baca suratnya kan? Astagaaa, kenapa bisa sama dia, sih? Itu kan aku taro di loker Rudy. Cewek itu terkesiap. Jangan bilang kalau dia buang surat itu terus di ambil si Nova? Lah, ngapain dia ngambil surat yang udah di tong sampah? “Kalau aku cuekin, aku takutnya dia ngomong ke orang lain, terus mereka bakal ngejelek-jelekin aku,” gumamnya. Matanya menangkap sosok Nova yang masuk ke kelas dan duduk di bangkunya. “Mending aku tanyain biar pasti.”     Kok gue di labrak lagi? Maki Nova dalam hati. Dia baru saja ingin keluar dari kelas. Namun, Mae berdiri di ambang pintu, menghalangi cowok itu. “Aku mau nanya soal surat tadi.” Nova melangkah mundur, menbuat jarak dua meter antara dia dan Mae. Mereka berdua murid terakhir yang masih di kelas, alhasil cowok itu tidak bisa meminta perlindungan ke siswa lain. “Janji lo nggak bakal ngejar gue?” Mae mengangguk, mengangkat kelingkingnya. “Janji.” Cowok dengan pipi agak tembam itu memeluk tasnya. “O-oke. Lo mau nanya apa?” “Kamu baca surat aku?” Nova mengangguk. “Sedikit. Gue nggak liat nama pengirimnya di luar amplop, jadi gue buka dalemnya.” Mae merapatkan bibir. DI BACAAAAA, ASTOGEE! “Kamu dapet itu dari mana?” “Ada di loker gue.” Mae agak memiringkan kepalanya. “K-kok bisa?” “Nggak tau. Gue buka loker, surat lo udah ada di atas binder gue.” Cewek itu melotot. “MAMPUS!” teriaknya, langsung membuat Nova tersentak dan semakin menjauh. “JADI, AKU MASUKIN SURATNYA KE LOKER KAMU?” “I-Iya kali ....” Mulutnya menganga. “Maaf, maaf banget aku, Nova. Ya ampun ....” “Gak apa-apa. Udah kan? Gue boleh pulang, kan?” tanyanya. Masih was-was pada Mae. “Bentar! Kamu janji nggak bakal kasih tau siapa-siapa?” Nova mengangguk cepat. “Janji.” ❣️♥️♥️♥️♥️❣️ Seperti biasa Lana mampir ke ruang klub Seni sebelum pulang. Sudah menjadi candu untuk menyaksikan latihan suara yang membuat indra pendengaran meleleh. Rudy pun dipaksa menemani. Hari ini penampilan solo seorang kakak kelas cowok yang membawakan lagu In My Blood dari Shawn Mendes. Lana dan Rudy berdiri tepat di depan panggung kecil itu. Lana terkesiap. “Lagunya A’a Shawn!” Kakel Cowok menyanyikan lagu dengan elegan, bahkan dengan improvisasi yang pas dan menarik di dengar. Lana tersenyum lebar dan mengangkat kedua tangan di udara, menikmati penunjukan singkat itu. Lana bertepuk tangan heboh, membuat Rudy menutup telinga. “Kereeeenn! Wuhuuuuu!” Kakak kelas itu turun dari panggung, terang-terangan merangkul Lana. “Kamu suka suara kakak?” “Sukaaaa!” Rudy menarik paksa cewek itu dari si Kakak kelas. Lana mengerut dahi. “Heh, lo nggak sopan!” “Peduli amat.” Cowok dengan kantung mata yang gelap itu menarik Lana pergi dari ruang Klub. “Sumpah, lo malu-maluin gue Dy!” “Nggak mungkin gue biarin cowok napsuan kaya dia deketin lo.” Lana menyernyit. “Ah, perasaan lo doang—“ Rudy berhenti, menyentil dahi Lana. “Lo mana tau. Lo pacaran juga belom pernah.” “Lo juga belom pernah!” seru Lana tak mau kalah. Rudy meringis jengkel. “Gue bilangin, lo mending hati-hati sama semua cowok.” “Terus, lo?” Lana merenggut. “Gue mesti hati-hati juga sama lo?” Cowok itu terdiam. Lana berpaling. “Gue nggak bisa begitu ke lo.” Rudy tersenyum tipis. “Gue bakal jagain lo. Dari kita kecil sampe kapan pun.” Audrey menyelak celah di antara mereka sambil mengumpat. “Mesra-mesraan di sekolah.” Lana melotot. “Guguk banget tu orang,” lontarnya pelan. Mobil porche putih menunggu cewek angkuh itu di samping gerbang masuk. Jendela supir terbuka. “Eh, Non Adri,” ujarnya dengan logat jawa. Cewek itu masuk ke dalam, mendecak. “Audrey, pak. A-ud-rey.” “Iya, Non. Oh, hampir aja lupa, bapak minta jemput juga.” Audrey memasang air podnya. “Emangnya Papi di mana? Biasanya bawa mobil sendiri.” “Dateng ke rumah temen bisnisnya, Non.” Di perjalanan menjemput sang Papi, Audrey melihat Nova yang berjalan kaki di trotoar sambil menunduk. Jadi cowok cupu banget sih, jalan segala nunduk. Mobil berhenti di depan rumah dengan pagar rendah. Papinya berdiri di teras, sedang berbincang sambil berdiri dengan pria paruh baya lain dan istrinya. Audrey melepas Air pods, merapikan rambut, berdeham lalu memasang wajah kalem dan keluar dari mobil. “Papi!” serunya dengan suara girang. Papinya menoleh, memeluk singkat Audrey. “Akhirnya nyampe juga.” Mata Audrey mengerjap. “Loh, Om Ken?” Pria di hadapan Papinya tertawa. “Kirain Non Audrey udah lupa sama Om.” “Enggak, dong! Om sehat-sehat aja kan?” “Iya, dong. Ayo, masuk-masuk.” Audrey melirik foto di pigura yang terpajang di tembok lorong masuk. Anak tunggal, cowok. Hmmm, gue nggak pernah denger. Istri Om Ken melirik jam dinding begitu mereka duduk di sofa ruang tengah. “Kok lama ya?” Om Ken ikut melirik jam. “Sebentar lagi nyampe, kok. Kamu nggak usah risau begitu.” “Iya, Gina. Paling sebentar lagi. Tuh, Audrey aja baru nyampe. Sekolah mereka sama, kan?” tanya Papinya. “Kita ngomong aja dulu yang tadi ke Audrey.” Audrey melirik Papinya. “Ngomongin apa, Pi?” “Papi udah pernah bilang soal pertunangan pas ulang tahun kamu ke lima belas kemarin kan?” Cewek itu merajuk. “Itu beneran? Papi kok begituuu.” “Dari pada Papi nikahin kamu sama anak yang belom jelas orang tuanya gimana, mending Papi kenalin ke temen yang udah Papi percaya. Apalagi kamu juga deket kan sama Ken.” “Aku kan nggak kenal anaknya Om Ken,” melasnya. Sungguh, dia benar-benar berbeda dengan Audrey yang di sekolah. Suara pintu tertutup terdengar. “Oh, itu dia,” ujar Om Ken. “Nova! Sini sebentar, sayang,” panggil Bu Gina. Nova memunculkan diri, langsung berhenti begitu menyadari keberadaan Audrey. Cewek itu mendelik. Loh, itu si cupu. Om Ken menyuruh Nova mendekat. Cowok yang sangat kebingungan itu duduk di tengah orang tuanya. “Kenalin, ini Nova Sabitah. Anak Om,” 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD