Angga yang semula sibuk bermain dengan hpnya, menoleh ke arah Dilara. Dan ternyata Leo benar. Meski hanya melihat sekilas, tapi wajah gadis itu memang sangat pucat.
Sepertinya, Dilara memang tidak terlihat baik baik saja. Sayangnya, dia hanya bisa melihat senyum manis gadis itu kala menutupi wajah pucatnya. Meski dia khawatir, namun.. dia tidak bisa melakukan apapun. Lagi lagi, dia bukan siapa siapa dan tidak memiliki kuasa.
Terlebih hubungan mereka tidak terlalu baik sejauh ini, Dilara juga sangat membenci hingga mereka nyaris menjadi musuh sejak beberapa minggu terakhir.
Mungkin untuk ke depannya, dia akan kembali ke kehidupan normalnya seakan tidak terjadi apapun. Lagi pula, Dilara yang sejak awal tidak ingin dia bertanggung jawab. Jadi.. ini akan menjadi kesempatan untuknya keluar dari rasa bersalah yang selalu menghinggapi hati kecilnya.
Tentu saja.. dia akan menjauhi Dilara. Semakin jauh maka akan semakin baik. Tapi, pertanyaannya adalah.. apakah dia tega melakukannya? Lari begitu saja seperti seorang pengecut?
---------•
--•
Dilara keluar dari kamar mandi. Membawa tes kehamilan yang dia celupkan ke dalam urine yang dia tampung di sebuah wadah kecil pemberian seorang Ibu yang di jumpainya di Apotek.
Ibu itu adalah seorang Apoteker yang ramah dan baik. Beliau juga mendoakan semoga hasil tesnya positif.
Dilara hanya bisa tersenyum. Gila! Dia justru berdoa agar dia tidak hamil, okey?
Bagaimanapun, dia tidak bersuami. Meskipun dia punya kekasih, namun yang menghamilinya adalah orang lain dan bukan kekasihnya. Jika pelakunya adalah Zaine, mereka hanya perlu menikah dan semua masalah akan selesai.
Sudahlah! Lupakan saja! Dia hanya takut akan membuat nama baik keluarganya tercemar oleh limbah akibat aib yang dia torehkan jika hasilnya positif. Itu pula yang membuatnya berpikiran jauh tentang konsekuensi terburuknya.
Di banding apapun, ada hal lain yang paling dia takutkan, yaitu.. kehilangan kepercayaan keluarganya, membuat mereka kecewa dan sedih.
Dilara sungguh tidak ingin itu terjadi.
Dia duduk di atas ranjang. Menunggu dengan sabar selama beberapa saat. Sebuah tes kehamilan digital yang di sarankan untuk di ujikan pada pagi hari. Katanya.. pagi hari adalah waktu yang paling efektif dan akurat. Namun, Dilara tidak memiliki cukup kesabaran untuk menanti lebih lama lagi. Jadi.. dia memutuskan untuk mengujinya sekarang.
Dilara tidak mengalihkan pandangan walau hanya sedetik. Dia menggigit bibir atau mengacak rambutnya sendiri karena menunggu dengan gelisah, dia benar benar frustasi.
Beberapa saat kemudian, mulut Dilara menganga dengan bola mata yang hampir jatuh kala melihat test packnya menunjukan reaksi. Anehnya.. ada dua garis yang tampak di sana.
Merasa tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, Dilara memiringkan kepala, menelitinya lagi.. tapi tetap saja hasilnya tidak berubah.
Dua garis??
Dilara menggelengkan kepala. "Ini tidak mungkin."
Masih tidak percaya, dia mengerjapkan mata, mungkin penglihatannya salah atau otaknya yang bermasalah. Namun saat melihat ada dua garis di sana, semua terasa tidak realistis. Selain karena mereka hanya satu kali melakukannya, rasio keberhasilan pembuahannya juga kecil.
Jadi kesimpulannya adalah.. dia tidak hamil dan tes kehamilannya yang keliru, okey?
Dia memberanikan diri untuk mengambil benda laknat itu, lalu meletakan wadah kecil berisi urine di atas meja. Dengan tangan yang gemetar, dia membolak balik benda yang dia yakini menunjukan hasil positif. Sekeras apapun dia mencoba, kedua garis itu tetap tidak bisa di hilangkan. Masih dua garis dan tetap tidak berubah.
Dan..
Semuanya nyata.
Sekuat apapun dia berkilah, saat fakta sudah berbicara, opini tetap tidak berlaku.
"Aahhh..."
Dilara menjerit, membuang test pack itu ke lantai. Dia menutup kedua telinganya lalu melompat ke atas ranjang dan menenggelamkan wajahnya di bawah selimut.
Dia menutup mata, menangis sesenggukan saat menyadari dunianya sudah hancur. Tidak ada yang tersisa lagi darinya selain aib dan penyesalan. Dia benar benar tidak tau harus berbuat apa saat hidupnya tidak lagi berarti.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Di sertai teriakan Leo dan suara riuh teman teman gilanya di depan pintu kamarnya.
"Ada apa ini?"
Dilara mengintip dari balik selimut. Menghapus air matanya lalu mendengarkan suara suara bising dari luar sana yang memanggil namanya tanpa henti.
Sejenak hening, Dilara tidak menanggapi ataupun bereaksi. Dia tidak ingin bertemu orang lain, tidak ingin di ganggu, dan dia hanya ingin sendirian. Namun, saat ketukan pintu berubah menjadi gedoran, dia tidak mempunyai pilihan lain.
Dia harus merelakan saat masa tenangnya hilang karena di renggut paksa oleh gerombolan pria yang secara tidak langsung membuat hatinya kian sedih.
"Astaga.." Dilara menyibak selimut yang membungkus tubuhnya, lalu melangkah dan membuka pintu.
Ceklek.
"Ada apa ini?" Dilara bertanya setelah membuka pintu kamarnya. Namun tertegun saat sekelompok pria itu bergegas masuk ke dalam kamarnya. Seperti sedang menyerbu markas gembong n*****a, mereka benar benar tidak menghormatinya sebagai pemilik kamar.
"Hei, kalian mau apa sih?" Dilara mencoba menghentikan pergerakan mereka setelah dia tersadar dari lamunannya. Sayangnya.. kelima pria itu sudah masuk ke dalam kamarnya beserta sapu dan segala perlengkapannya.
Leo memegang bahu Dilara. "Dimana tikusnya??" Ucapnya penuh kekhawatiran. Dia terkejut saat mendengar teriakan Dilara. Jelas gadis itu menjumpai tikus atau sejenisnya.
"Tikus?" Dilara celingukan. Mengerjapkan mata hingga beberapa kali seperti orang bodoh yang benar benar i***t. Dia tidak tau apa maksud Leo yang mengatakan ada 'tikus' di kamarnya.
"Tadi teriakan lo kenceng banget, kedengeran sampai luar, bukannya ada tikus?" Leo menjelaskan apa maksudnya. Gadis i***t ini.. membuatnya menghela nafas sepuluh kali lebih banyak dari biasanya.
Dilara membulatkan bibir, "oh.. itu bukan tikus.." Sekarang dia mengerti apa maksud Leo. Untunglah, otaknya cepat sinkron hingga berhasil menjawab dengan alasan yang masuk akal. "Tapi KE-CO-A." Tambahnya kemudian seraya menunjuk ke ruang wardrobe dimana kumpulan pakaiannya berada.
"Tenang aja, ada kita kita di sini. Lo tunggu aja, kita akan basmi kecoanya." Brian beranjak ke arah lemari di ikuti kedua pria d***u di belakangnya. Sementara Arka dan Angga hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan absurd Brian, Bayu dan Leo. Sangat memalukan.
Sebagai seorang pria, tidakkah mereka malu? Hanya memburu seekor kecoa namun mereka membawa sapu, kemoceng dan lain sebagainya seperti akan membantu Bibi membersihkan rumah. Dasar mereka.. sangat payah.
Dilara yang melihat test packnya berada di lantai, di antara kakinya dan kaki Arka, segera memungutnya secara cepat lalu memasukannya ke dalam saku celana.
"Itu apa, Ra?" Arka bertanya setelah melihat benda aneh yang Dilara sembunyikan. Bentuknya seperti termometer digital atau apapun itu.
"Ini.." Dilara menghentikan ucapannya. Tidak tau kenapa mata Arka sangat jeli dalam mengawasi pergerakannya. Tetapi.. jangan panggil dia Dilara jika otaknya tidak bisa berpikir cepat.
"Ini.. termometer. Digital." Dilara menambahkan, tersenyum canggung. Dia hanya berharap semoga Arka tidak mencurigainya. Lagipula, bentuk termometer digital dan test pack digital sangatlah mirip. Orang tidak akan curiga hanya dengan satu kali lihat.
Angga melayangkan tatapan tajam kepada Dilara. Jika itu adalah termometer, berarti Dilara benar benar tidak enak badan. "Lo sakit?" Tanyanya refleks mengulurkan tangan untuk menyentuh dahi Dilara.
"Aku nggak sakit." Jawabnya menampik tangan Angga sebelum bisa menyentuhnya. Dia sangat menghargai perhatian pria itu terhadapnya, akan tetapi dia hanya tidak ingin ada kontak fisik apapun lagi dengan Angga meski itu hanya berjabat tangan atau apapun itu.
"Terus? Kenapa pake termometer?" Wajah Angga menggelap. Dia tidak senang dengan perlakuan Dilara terhadapnya. Tapi dia juga tidak bisa untuk tidak peduli, meski dia ingin. Hatinya akan terasa sakit saat di paksa untuk melupakan Dilara.
"Aku cuma ngecek suhu, emang itu salah?" Dilara berkata santai dan tenang. Tidak ingin menimbulkan kecurigaan.
"Udahlah." Arka menepuk bahu Angga hingga beberapa kali. Mencoba menghentikan reaksi berlebihan yang Angga tunjukan. "Kayak lo nggak pernah sakit aja? Dilara cuma ngecek suhu tubuhnya sendiri karena ngerasa nggak enak badan. Reaksi lo aja yang berlebihan." Tambahnya kemudian.
Angga memijit pelan ruang di antara alisnya setelah mendapat teguran dari Arka karena sikapnya yang aneh. Reaksinya sebenarnya sangat beralasan, selain dia merasa jika Dilara menyembunyikan sesuatu, dia juga sangat khawatir dengan keadaan gadis itu.
Namun, Angga yang tidak ingin berspekulasi lebih jauh, hanya bisa mengangguk pada akhirnya. Dia tidak ingin mencari tau lebih banyak lagi. Dia merasa bukan siapa siapa dan tidak berhak mencampuri urusan orang lain meski dia sangat peduli.
"Idih.. nggak ada apa apa kok." Leo keluar dari ruang wardrobe di susul oleh Bayu dan Brian di belakang.
"Iya, Leo bener. Nggak ada kecoa atau apapun itu." Bayu menambahkan. Setuju dengan ucapan Leo.
Dilara mengulas senyum. Jelas tidak ada kecoa ataupun tikus. Sebenarnya dia tidak bermaksud untuk berbohong, lagi pula siapa yang menerobos kamarnya dan mengatakan ada binatang di dalamnya? Kalau sudah seperti ini, salah siapa coba? Tentu saja bukan kesalahannya.
"Kalo emang nggak ada, ya udah, kalian keluar aja! Aku mau istirahat." Dilara mendorong punggung Leo agar keluar dari kamarnya. Lalu menutup pintu kembali setelah mereka semua pergi.
Dilara menghembuskan nafas panjang saat tubuhnya luruh ke lantai, di sertai tangisan namun tidak mengeluarkan suara. Dia mendudukkan diri dengan menyandarkan punggungnya pada pintu dengan wajah tertekuk lesu.
Dilara mengambil sesuatu dari saku celananya. Dengan tangan yang gemetar, dia memberanikan diri untuk melihatnya sekali lagi.
Memandang tes kehamilan itu selama beberapa detik tanpa berkedip, lalu meremas test packnya dengan amarah yang mendominasi. Jika ini hanya mimpi, mungkin akan menjadi lebih baik. Sayangnya.. ini semua adalah nyata, bukan sekedar mimpi ataupun ilusi.
Air matanya kembali menetes. Ada banyak hal yang dia tangisi. Salah satunya adalah.. bayi ini.
Dilara mengusap perutnya. Sekarang dia tidak sendiri. Ada kehidupan di sana. Ada sesuatu yang tumbuh dan berkembang di dalam perutnya. Tetapi entah kenapa dia justru sedih atas kehadirannya. Seakan dia tidak menginginkannya sama sekali.
Pada nyatanya.. dia memang tidak ingin membesarkan anak ini di dalam perutnya. Apa lagi, bayi ini adalah bagian dari pria yang sangat dia benci. Rasanya.. dia tidak sanggup untuk melihat masa depannya sendiri kala harus bertatap muka dengan anak yang di hasilkan oleh pria yang tidak dia cintai.
Lalu.. apa yang harus dia lakukan??
Haruskah.. dia melenyapkan anak ini??