Casey yang mendapati Dilara tengah duduk dengan tenang di dalam kelas, mendekat dan mendudukkan dirinya di samping Dilara.
"Cincin lo baru, Ra?" Tanyanya pada gadis cantik sahabat baiknya.
Dilara mengulas senyum. "Iya." Ucapnya seraya menunjukan cincin titanium yang melingkar di jari manisnya. "Dari Zaine." Tambahnya dengan senyum mengembang penuh kebahagiaan.
Dia benar benar bahagia saat mendapat hadiah dari Zaine. Bukan karena dia melihat dari segi harganya, melainkan dari ketulusan pria itu saat memberikannya.
Wajah itu.. ah.. sangat menggemaskan. Membuat hatinya luluh dan jatuh semakin dalam akan pesona Zaine yang memikat.
Casey menyenggol lengan Dilara. "Cieee.. bikin iri aja!"
Dilara mengerucutkan bibir. "Ih.. apaan sih? Kamu sama Kak Arka juga sering bikin aku iri tau." Ucapnya mengerucutkan bibir. Bagaimanapun, keromantisan Arka, si ketua SEMA dengan Casey sudah menjadi buah bibir di kalangan Mahasiswa. Dan dia juga sangat bahagia karena Casey sudah menemukan kekasih hati yang siap mendampingi selamanya.
Tidak seperti dia dan Zaine. Meski dia sering memamerkan kebahagiaan dengan Zaine, tapi sebenarnya masa depan hubungan mereka masih di awang awang. Dia bahkan selalu siap kapanpun Zaine memutuskannya jika Zaine mengetahui dia bukan lagi gadis perawan.
Dilara memijit pelan ruang di antara alisnya, lalu mengerjap saat pandangannya mendadak kabur. Kepalanya benar benar pusing dan perutnya terasa mual. Tidak tau apa yang salah dengan dirinya. Tadi.. dia masih baik baik saja, meski belakangan ini dia sering mengalami gejala serupa, namun.. sejujurnya dia sangat sehat.
"Ra, lo gak ada masalah, kan?" Casey menangkup wajah Dilara dan mulai mengawasi wajah gadis itu dengan serius. "Muka lo pucet." Tambahnya.
Dilara lantas menggeleng, "aku baik baik aja kok, aku cuma capek karena tadi malam begadang, ngerjain tugas design dari Miss Laurencia." Jawabnya asal dengan alasan masuk akal. Lagi pula, mungkin saja dia masuk angin karena mengalami gangguan susah tidur. Membuatnya sering terjaga kala malam tanpa tau penyebabnya.
Sementara dia yang tidak terbiasa minum obat, tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya akan mendengarkan musik klasik untuk meningkatkan rasa kantuknya. Itupun kalau berhasil, kalau gagal.. dia tetap akan terjaga sampai waktu yang tidak di tentukan.
"Yakin?" Casey mengeluarkan sebuah botol air mineral dari dalam tasnya, lalu menyodorkannya ke arah Dilara. "Minum dulu!"
Dilara menerima botol itu, lalu meminum isinya hingga kandas. Dia menghembuskan nafas panjang, namun tidak merasa lebih baik.
"Merasa lebih baik?" Casey memijat bahu gadis itu secara perlahan. Dia khawatir dengan kondisi sahabat baiknya yang satu ini.
Dilara mengangguk setelah pandangannya kembali jernih. "Sepertinya begitu." Dia tersenyum tipis. Sekarang dia merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Meski pusing dan mualnya tidak berkurang, tapi dia masih bisa menahannya.
"Syukurlah." Casey menghembuskan nafas lega. "Mungkin lo anemia. Lagi datang bulan kan??" Dia mencoba menebak penyebab Dilara mengalami gejala ini. Karena biasanya para gadis akan seperti itu saat kedatangan tamu bulanan.
Dilara memutar bola matanya, "iya." Jawabnya ragu. Menampilkan senyum canggung namun tampak sopan. Mencoba menutupi kegelisahan saat dia mencengkeram tangannya sendiri sangat erat.
"Ya udah, lo balik aja! Istirahat di rumah. Soal presentasi, serahin aja ke gue." Casey menepuk dadanya. Seakan dia akan menjadi penyelamat kali ini. Lagipula, dia tidak mungkin memaksa Dilara untuk presentasi bersamanya. Itu bisa memperburuk kondisi Dilara.
Sejenak hening, Dilara memikirkannya sebentar. Namun, saat melihat raut khawatir yang Casey tunjukan, dia tidak akan segan.
"Okey, kayaknya aku bakal ngerepotin kamu." Dilara mulai mengemas barang barangnya tanpa berpikir lagi. Pada dasarnya dia memang tidak ingin mengikuti mata kuliah kali ini. Membuatnya senang saat mendapat tawaran menakjubkan dari Casey.
Meski dia sendiri terhitung sebagai anak rajin yang jarang bolos, namun.. untuk sekali ini saja, biarkan dia menikmati waktunya untuk merenungkan banyak hal tentang banyaknya masalah yang melilitnya akhir akhir ini.
"Laptopnya sama kamu, ya?" Dilara menambahkan setelah berhasil memasukan barang barangnya ke dalam tas.
Casey mengangguk, "iya, nanti gue balikin deh."
"Sip! Kalo gitu, aku duluan." Dilara menepuk bahu Casey sebelum melenggang meninggalkan kelas dengan wajah kusut.
Tidak ada senyum yang tampak meskipun itu hanya senyum palsu. Dilara benar benar pusing dengan dirinya, dengan hidupnya, dengan dunianya. Dia merasa asing dengan tempat yang selalu dia pijak.
Merasa dia entah berada dimana. Merasa tubuhnya di sini, namun jiwanya melayang layang mencari pembuktian tentang semua yang terjadi.
Semakin di pikirkan, semakin terasa rumit.
Dilara menghentikan langkahnya di taman Kampus. Lalu mendudukkan diri di salah satu kursi yang tersedia di sana. Dia memegang dadanya. Ada sedikit kekhawatiran yang tersemat di dalam hati. Membuat tubuhnya gemetar hebat. Keringat dingin juga merembes melalui pori pori kulitnya.
Datang bulan?
Kata laknat itu mulai menari nari dalam memorinya. Kenapa bulan ini dia tidak kedatangan tamu bulanannya? Apa yang salah dengan dirinya?
Dilara mulai mengingat tanggal terakhir dia kedatangan tamu bulanannya. Rasanya.. sudah sangat lama. Dia bahkan sudah lupa tanggalnya dan tidak mengingatnya sama sekali.
Dilara memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, dia merasakan perasaan takut yang luar biasa. Dia menutup mulutnya kala lelehan bening mengalir dari kedua matanya.
Pikiran negatif tentang dirinya sendiri tanpa sadar telah meninggalkan rasa perih yang sudah menyebar di seluruh pembuluh darah. Terasa menyakitkan sampai dia kehabisan akal sehat dan tidak bisa berpikir dengan normal.
Meski semua tanda tanda kehamilan melekat padanya, namun.. Dilara masih menampiknya dengan gigih.
Dia menggelengkan kepala. "Tidak! Ini tidak boleh terjadi." Gumamnya dalam hati. Ini tidaklah benar. Dan dia juga tidak boleh seperti ini.
---------•
--•
Dilara mengendarai mobilnya dengan cepat keluar dari Universitas. Dengan pikiran kacau dan beban berat yang berkecambuk dalam hati.
Meski takut, namun dia tidak memiliki celah untuk bersembunyi lagi. Dia tidak akan pernah tau hasilnya sampai dia mengujinya sendiri.
Dia menepikan mobilnya begitu melihat kata APOTEK di pinggir jalan. Antara iya atau tidak, antara benar atau salah, dia tidak lagi peduli. Namun, saat keraguan kembali merayapi kepala, dia menjadi murung seketika.
Dilara menjatuhkan kepala pada stir. Mencoba berpikir positif dan memikirkannya kembali dengan hati hati. Ini bukan masalah kecil yang bisa di selesaikan dengan satu atau dua patah kata.
Dia memejamkan mata, lalu menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.
Begitu seratus persen keyakinan kembali menyelimutinya, Dilara mulai meyakinkan diri untuk keluar dari mobil. Meski dia sering datang ke apotik, tetapi untuk saat ini dia tidak sedang baik baik saja.
Tidak hanya sakit secara fisik, tapi juga gila secara mental. Terlebih, hal kecil seperti ini membutuhkan mental baja seakan dia akan memasuki rumah hantu. Sensasinya benar benar berbeda dari situasi pada umumnya.
Rasanya.. Dilara ingin menemui Mama dan menangis di pangkuannya. Mengadukan tentang banyak hal, menceritakan semuanya.
Sayangnya.. dia tidak memiliki kuasa untuk melakukannya. Seakan ada sekat tipis yang menghalanginya untuk berkata yang sebenarnya kepada Orang Tuanya. Terlebih, sekalipun dia menceritakan masalah ini kepada orang tuanya, dia yakin semua tidak akan berakhir baik.
Cukup!! Dilara mencoba menghentikan argumen konyol dalam benaknya.
Segalanya terlihat tidak mungkin sampai semuanya selesai. Jadi.. dia harus memulainya atau.. ini tidak akan usai.
Dilara mengawasi sekeliling, memutar bola matanya ke kiri dan kanan. Setelah di rasa aman, dia segera turun dari mobil dan memasuki apotik dengan santai. Beberapa saat kemudian dia keluar dari apotik dan masuk kembali ke dalam mobil secepat kilat.
Serasa di kejar hantu saat keringat menetes di dahinya. Dia lantas mengambil tissue lalu mengelap tetesan itu dengan helaan nafas panjang setelah berhasil melalui serangkaian misi level ke dua.
Sekarang.. saatnya dia untuk melanjutkan misi pertamanya, yaitu.. memberikan tamparan pada hati kecilnya. Dia akan membuktikan jika pikiran buruk tentang dirinya sendiri adalah suatu kesalahan.
Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah. Beberapa saat kemudian, dia menghentikan mobilnya begitu tiba di halaman.
Dilara mengerutkan kening setelah turun dari mobil. Melihat mobil Leo sudah tertata rapi di halaman bersama tiga mobil lainnya dan sebuah motor sportbike, membuatnya murung seketika.
Tidak tau kenapa kegelisahannya semakin nyata. Namun, dia tetap melangkah masuk ke dalam rumah seakan semua baik baik saja.
"Dilara."
Panggilan lembut itu membuat Dilara menoleh, penampilan sekelompok pria yang tengah duduk di ruang tamu tersaji di depan mata. Sangat tampan.. kebetulan teman teman Leo memang memiliki kualitas rupa di atas rata rata. Namun, sekarang bukan waktu yang tepat untuk memikirkan itu.
Dilara mengulas senyum. "Iya." Jawabnya mendekat. "Ada apa?" Dilara menambahkan. Dia mengepalkan tangan untuk menutupi gemetar di tangannya.
Leo menggeleng, "nggak ada masalah, gue cuma mau bilang kalo Mama sama Papa berangkat lagi ke Medan. Mereka nitipin lo ke gue."
Dilara melebarkan mata, "apa? Ke Medan lagi?" Meski dia tau jika Papa tengah merintis usaha baru di perkebunan kelapa sawit, namun dia tidak menyangka jika kedua Orang Tuanya akan sangat sibuk hilir mudik Jakarta Medan. Belum lagi, mereka bisa berhari hari berada di sana.
"Iya, sampai waktu yang nggak di tentukan. Mungkin satu atau dua bulan." Leo menjawab santai.
"Oh.." Dilara membulatkan bibir, sedikit kecewa. "Ya udah, aku capek, aku ke kamar dulu."
Leo mengangguk, "istirahat yang bener, muka lo kelihatan pucet banget."
Dilara mengangguk. "Iya."