"Ra, maafin.. gue."
Angga membelai lembut wajah Dilara. Dia benar benar menyesal atas apa yang sudah di perbuatannya kepada gadis manis itu.
Dilara tidak menanggapi. Meski dia tidak sudi di sentuh pria menjijikan seperti Angga. Jangankan di sentuh, melihatpun dia malas. Tetapi, karena dia sudah kehabisan tenaga sampai tidak bisa melakukan apapun lagi. Jadi dia hanya bisa membiarkan tangan kotor itu menyentuhnya.
"Ra, gue janji bakal tanggung jawab."
Suara Angga terdengar sayup di telinganya. Tubuhnya mati rasa, sedangkan hatinya hancur lebur. Tanggung jawab? Dilara ingin tertawa saat mendengar gurauan itu. Pada nyatanya, tidak ada kisah seorang b******n yang akan mempertanggung jawabkan perbuatan mereka.
Itu hanya sebuah kata penghiburan sesaat untuk menutupi rasa bersalah atau rasa takut yang hanya bersifat sementara. Dilara berani bertaruh, beberapa detik kemudian.. Angga akan melupakan semua perkataan yang pernah di ucapkan.
Dan dia.. tidak sebodoh itu untuk percaya.
Dia marah.. sangat marah saat Angga tega menembus mahkotanya tanpa ampun. Merusak selaput daranya secara paksa hingga meninggalkan rasa sakit yang teramat sangat. Dia lunglai di atas ranjang. Dia bahkan sudah tidak memiliki kekuatan meski hanya untuk membuka mata.
Sedangkan tenaganya sudah habis di pakainya untuk memberontak. Menolak segala sentuhan yang Angga berikan kepadanya. Meski, dia kalah pada akhirnya, setidaknya.. ini adalah bukti jika dia pernah berjuang. Berjuang mempertahankan kehormatannya, meski semua sia sia.
Pada sisa sisa ingatannya sebelum dia benar benar kehilangan kesadaran, hanya ada satu yang Dilara minta, semoga ini hanya mimpi.
---------•
--•
Angga meninggalkan rumah Dilara dengan cepat. Dia pasti sudah gila. Bisa bisanya dia memaksa Dilara untuk berhubungan badan dengannya?
Dia pasti kehilangan akal! Tentu saja, jika tidak, dia tidak mungkin melakukan hal tidak manusiawi seperti ini.
"Sial!!"
Angga melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Jalanan sepi membuatnya bebas untuk berkendara. Menyalip beberapa kendaraan lain, dan menerobos lampu merah.
Jika di beri pilihan, rasanya dia ingin mati saja.
Angga menggelengkan kepala. Tidak tau lagi akan seperti apa ke depannya. Dia masih tidak memiliki gambaran apapun.
Dia menepikan motornya saat menjumpai tulisan 'APOTIK' di pinggir jalan. Setidaknya, dia lega karena masih menemukan apotik yang buka pada jam semalam ini.
Dia memasukinya tanpa ragu, lima menit kemudian dia keluar lagi dengan membawa sebuah barang yang dia masukan ke kantong celananya.
Meski semua menjadi sangat kacau. Namun, setidaknya, dia masih bisa berpikir jernih dengan memikirkan segala konsekuensinya. Meski kecil kemungkinan untuk hamil dalam satu kali pertemuan, tetapi.. dia tidak ingin mengandalkan kata 'mungkin'. Semua bisa menjadi mudah dalam situasi yang sulit.
Semisal hamil di luar nikah, mereka melakukan kontak sekali, namun bisa langsung menjadi bayi. Sementara yang berhubungan rutin dengan pernikahan puluhan tahun, masih gagal mendapatkan keturunan. Itu yang Angga maksud dengan kemudahan dalam situasi yang sulit.
Dia kembali melajukan motornya ke rumah Dilara. Dia akan mengantarkan sesuatu yang di belinya di apotik secara langsung. Tentu saja sesuatu yang sangat penting. Seperti.. sesuatu yang bisa mencegah kehamilan, mungkin??
Beberapa saat kemudian, Angga memarkirkan motornya di halaman. Untungnya, Mang Burhan stand by menunggu pagar selama dua puluh empat jam, hingga dia tidak perlu repot untuk membuka dan menutup gerbang sendiri.
Dia menarik nafas panjang sebelum masuk ke rumah dan mengendap endap memasuki kamar Dilara.
Sejenak dia terpaku saat melihat tubuh telanjang Dilara di atas ranjang. Wajah yang tetap cantik meski sudah dia lukai. Sekarang dia mengerti arti dari kata 'penyesalan selalu datang terlambat', kini dia benar benar merasakannya.
Rasanya sesak seperti ada yang mencekik lehernya. Belum lagi rasa bersalah sampai titik dimana dia membenci dirinya sendiri.
Tega teganya dia merusak masa depan Dilara dan sekarang dia justru membelikan pil kontrasepsi sebagai pencegahan agar pergulatan semalam tidak meninggalkan bekas? Mana janjinya yang mengatakan akan bertanggung jawab?
Nyatanya.. semua yang di ucapkannya hanya omong kosong belaka. Dia sendiri bahkan tidak pernah siap untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya. Dia terlalu b*****t untuk mengemban tanggung jawab besar seperti melindungi dan mengurusi seorang gadis. Apa lagi seorang bayi. Dia benar benar tidak mampu.
Angga menggelengkan kepala, tidak bisa.. ini tidaklah benar. Meskipun orang mengatakan jika dia lebih mengerikan dari pada monster, dia tetap tidak peduli.
Angga mengambil pil yang terbungkus rapat dari saku celananya, lalu meletakannya di samping Dilara. Dia membelai rambut Dilara secara perlahan, lalu menyelimuti tubuh gadis itu rapat. Dia hanya berharap, semoga Dilara meminumnya secara rutin selama beberapa hari untuk benar benar menghentikan pembuahan yang mungkin saja terjadi. Dan semoga gadis itu tidak cukup bodoh untuk mengetahui cara penggunaan pil ini tanpa dia harus memberitahukannya.
---------•
--•
Keesokan harinya.
Cahaya mentari yang hangat memasuki ruangan yang dingin. Mengintip melalui celah jendela lebar di kamar tidurnya. Dilara berharap ini hanyalah mimpi. Namun, rasa sakit itu mengingatkan bahwa ini semua.. nyata.
"Aw!"
Dilara meringis saat mendapati tubuh bagian bawahnya sakit bukan kepalang. Membuatnya terpaksa harus mengumpulkan sisa sisa ingatan tentang rangkaian kejadian yang terjadi kemarin malam.
Peristiwa itu.. ah.. rasanya dia tidak ingin hidup lagi. Hidupnya sudah hancur, jadi.. untuk apa dia masih ada di dunia ini? Semua juga akan percuma karena Zaine tidak akan mungkin menerima kondisinya yang seperti ini. Dia sudah ternoda dan kotor. Iya.. dan dia sudah tidak suci lagi.
Dering hp membuyarkan Dilara dari lamunannya. Dia masih membaringkan diri di tempat yang sama hingga dering itu berhenti. Namun, beberapa saat kemudian hpnya kembali berdering.
Dilara menghembuskan nafas panjang. Sekarang dia telah sepenuhnya pulih dari serangkaian khayalan kelam tentang masa depannya yang suram.
Dia meraba nakas, mencari benda pipih yang tidak kunjung berhenti berdering, dan segera menekan tombol jawab untuk menerima panggilan setelah melihat nama yang tertera.
Sesaat Dilara diam. Terkadang dia menjauhkan hp dari telinganya jika ada ocehan panjang Mama dari ujung panggilan.
"Iya, Ma. Dilara tau. Mama gak usah khawatir, Leo di rumah. Dia pasti akan jagain Dilara selama Mama sama Papa gak ada. Percaya deh."
Adalah ucapan terakhir Dilara sebelum dia memutuskan sambungan teleponnya.
Dilara beranjak dengan menarik selimut. Lalu dia mendudukkan dirinya di atas sofa dengan membungkus tubuhnya rapat menggunakan selimut.
"Bi.."
Dilara berteriak nyaring untuk memanggil Bibi Pengurus Rumah Tangga yang biasa membantunya mengurus keperluan sehari hari.
"Ya, Non."
Bibi tergopoh membuka pintu kamar Dilara. Lalu segera masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Ada yang bisa Bibi bantu, Non??"
Dilara mengangguk. "Tolong bantu aku beresin sprei, Bi!"
"Siap, Non."
Bibi bergegas melepas sprei berwarna putih bersih itu dari ranjang. Namun, Bibi terkejut saat melihat noda darah yang tertera di sana. Membuat Bibi menghentikan aktifitasnya dan menoleh seketika ke arah Dilara.
"Seharusnya Non bilang ke Bibi kalo semalam kebocoran, Bibi kan bisa beliin pembalut yang biasa Non pakai. Untung Nyonya nggak di rumah. Coba kalau Nyonya ada, Non pasti habis kena omel."
Dilara tersenyum getir. Bibi mungkin berpikir jika darah di atas sprei adalah darah haid. Tidak tau jika darah itu adalah darah hasil selaput daranya yang telah robek.
"Jangan bilang sama Mama tentang hal ini." Dilara berujar lesu. Biarlah Bibi tetap dengan pemikirannya sendiri. Dia tidak ingin merubahnya sama sekali agar ini tetap menjadi rahasia. Antara dia, Angga dan Tuhan.
Lagi pula, dia yakin jika Angga melakukannya karena pria itu memang b******n. Gemar berganti pasangan layaknya berganti pakaian. Di tambah, dia tidak ingin merusak persahabatan antara Leo dan Angga yang sudah cukup lama terjalin. Jadi dia akan mengalah untuk saat ini.
"Tenang, Non. Bibi gak akan kasih tau Nyonya."
Bibi menjawab cepat. Bagaimanapun dia sudah lama mengikuti keluarga ini, jadi dia sudah paham dengan watak dan karakter Nyonya yang keras yang pecinta kebersihan. Nyonya bisa mengomel tanpa henti jika tau Dilara mengotori sprei dengan darah haid.
"Kalo bisa, spreinya langsung Bibi masukin ke kantong, terus buang di tempat sampah, ya!!" Dilara berbicara dengan serius seolah yang dia takuti adalah kemarahan Mama.
"Bibi kan tau sendiri, galaknya Mama kaya apa." Dilara menambahkan di sertai tawa yang mampu membuat Bibi turut terkekeh.
"Tenang saja, Non. Bibi bisa jaga rahasia." Bibi kembali melanjutkan aktifitasnya, lalu mengambil sebuah bungkusan yang tergeletak di atas sprei. "Ini di buang juga, Non??"
Bibi mengambil bungkusan kecil berbentuk pipih yang tertutup sempurna dengan plastik berwarna putih. Membuat Bibi tidak mengetahui pasti apa isinya.
"Di buang bareng aja sama spreinya."
Dilara berkata tanpa menoleh. Meski dia tidak benar benar tau dengan barang apa yang Bibi maksud, tapi dia tidak ingin melihat apapun yang tergeletak di atas ranjang. Dia tidak ingin mengingat kejadian kelam yang menimpanya semalam.
"Tadi malam, Bibi tidur jam berapa?" Dilara memberanikan diri untuk bertanya. Dia yakin Bibi tidak mendengar suara apapun dari kamarnya. Lagi pula, b******n itu membekap mulutnya, menutup matanya juga memegang tangannya erat sampai dia tidak berdaya saat pria itu memasuki dirinya.
"Setelah Den Zaine pulang, Bibi langsung tidur, Non. Lain kali kalo Non butuh sesuatu, gedor aja pintu kamar Bibi. Bibi siap dua puluh empat jam."
Bibi memperagakan gaya menggedor pintu hingga Dilara terkekeh. "Bibi bisa aja, deh."
"Bibi teh serius, Non." Ucapnya mulai memasang sprei baru dan membawa sprei lama untuk di buang sesuai permintaan Nona mudanya tanpa banyak bertanya. Lagi pula, Nona mudanya memang selalu seperti itu jika ada darah haid di atas spreinya. Selalu meminta spreinya untuk di buang saja, tidak perlu di cuci. Jadi dia melakukannya dengan patuh sesuai instruksi.
Dilara mengawasi wanita paruh baya itu hingga siluetnya benar benar hilang. Setidaknya dia berhasil membuat Bibi percaya. Itu sedikit lebih baik. Dia hanya berharap, semoga tidak ada masalah lain di kemudian hari.