Tiga hari sebelumnya. Flashback on.. Malam harinya. Angga yang depresi karena kehamilan Dilara yang mendadak masih mencoba berpikir jernih. Dia akan menjadi Ayah, tidak! Tapi dia memang sudah menjadi Ayah. Ada seorang bayi dalam perut Dilara, menandakan kalau dia sudah berhasil menumbuhkan seseorang untuk mewarisi DNAnya. Angga mengawasi wajah Dilara lekat. Pandangannya sayu, bingung, pening, pusing, kepalanya memikirkan banyak hal yang seharusnya di gunakan untuk memikirkan pekerjaan dan tugas kuliah, justru harus di gunakan untuk memikirkan Ibu dan Bayi. Tentu saja karena ulahnya sendiri. Meski dia menyesalinya, tapi menyesal sekarang tidak ada gunanya. Sakit menimpa sesal terlambat, atau.. sudah terlanjur, sesal kemudian tidak ada gunanya. Semua sudah terjadi dan waktu tidak bisa k

