Tiga hari kemudian. Dilara membuka mata secara perlahan. Dia merasa sudah tidur sangat lama sampai badannya sakit semua. Pandangannya masih buram, belum bisa melihat dengan jelas. Kepalanya juga serasa berputar. Seperti sedang berhalusinasi atau berada di alam mimpi. Tapi, dia merasa ada bau obat di sini. Meski aromanya tidak menyeruak tajam, tapi dia masih bisa mencium aroma obat dengan baik. Dilara menggerakkan tangannya, namun terasa ada yang menghalangi gerakannya sampai tidak leluasa. Dia berusaha mengumpulkan nyawa yang masih mengambang dan belum terkumpul sepenuhnya. Mencoba mengais sisa sisa ingatan yang seharusnya bisa menjawab semua pertanyaannya, tapi, dia masih tidak menemukan ingatan yang berguna. Mengerjapkan mata hingga berkali kali, pandangan menjadi sedikit lebih baik.

