YM ~ Kekecewaan

1781 Words
"Kamu lapar nggak?" Zaine mengakhiri argumen manis yang tidak akan ada ujungnya jika tidak di hentikan. Dilara menganggukan kepala. "Aku lapar banget, aku emang belum sarapan." Dia memang belum sarapan karena napsu makannya hilang seketika saat melihat Angga. Pria menyebalkan dan tidak tau malu itu benar benar mengganggu fisik dan mentalnya. "Tumben? Bibi pulang kampung?" Zaine mencoba menelisik lebih jauh. Dia tidak percaya jika Dilara melewatkan sarapan paginya. Juga tidak biasanya Dilara datang tanpa sarapan. Aneh.. seperti bukan Dilara yang biasanya. "Bibi ada, cuma.." Dilara menghentikan ucapan yang tiba tiba tersekat di tenggorokan. Serasa ada sesuatu yang menghambat di sana, dan rasanya.. menyesakan. "Aku cuma nggak mau sarapan sendiri." Tambahnya dengan senyum canggung, menunjukan gigi giginya yang tertata rapi. "Ih.. kamu ini.." Zaine mengusap puncak kepala Dilara. "Ya udah, kamu kan nggak bisa masak, aku juga nggak bisa masak, kita pesan makanan aja ya? Nggak apa apa, kan?" "Nggak masalah. Yang penting.. aku bisa sarapan. Kamu kan tau sendiri kalo aku nggak bisa diet, Yang." Dilara berucap dengan nada manja. "Nanti aku bisa sakit." Tambahnya kemudian. "Iya, tau. Lagian, siapa sih yang nyuruh kamu buat diet? Aku tuh sayang sama kamu apa adanya. Mau kamu kurus atau gemuk, perasaanku nggak akan berubah." Zaine mencoba menghibur Dilara. "Percaya deh!" Lanjutnya. ---------• --• "Hari ini, kamu kuliah?" Dilara memulai pembicaraan setelah menyelesaikan sarapannya dan duduk di sofa dengan memeluk Zaine. "Iya, rencananya gitu. Kamu mau ikut? Atau.. mau di sini aja?" Zaine menawarkan dua pilihan yang salah satunya wajib di pilih. "Zaine, aku nggak mau kuliah, tapi kalo tetap di sini, aku maunya sama kamu." Dilara mempererat pelukannya. Selain tidak ingin sendirian, dia juga tidak ingin jauh dari Zaine. Zaine mengecup dahi Dilara. "Aku janji cuma bentar. Habis itu, aku langsung pulang ke sini buat jagain kamu, ya? Mau kan?" Sejenak Dilara diam. Masih memikirkan ucapan Zaine yang terdengar cukup meyakinkan. Dia menghembuskan nafas panjang dan berakhir dengan anggukan kepala. "Iya, tapi jangan lama lama." "Nah, gitu dong." Zaine kembali mengecup dahi Dilara. "Aku berangkat dulu ya? Kamu hati hati, jaga apartemen kita baik baik." Petuahnya lebih terdengar seperti suami yang berpesan pada istrinya, sangat manis. Dilara tersenyum, wajahnya bersemu. Dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya dan langsung memeluk Zaine, lalu menyembunyikan wajahnya pada d**a bidang pria itu. Zaine menepuk punggung Dilara, "udah ya, aku berangkat dulu." Dilara mengangguk, melepaskan pelukannya. "Hati hati." Ucapnya malu malu. Mengawasi kepergian Zaine dengan pipi menggembung. Meski marah, tapi dia tidak bisa menahan Zaine lebih lama lagi. Dia sadar dengan situasi yang tidak menguntungkan untuknya ataupun untuk Zaine. Sudahlah! Sekarang Dilara tidak ingin memikirkan masalah itu. Dia hanya ingin menikmati dunia bahagianya dengan pangeran berkuda yang sekarang sedang berperang. Sebagai Tuan Putri, dia akan menunggu dengan setia sampai sang pangeran datang dan menjemputnya dalam kemenangan. Sebelum itu terjadi, dia akan menjaga istana mereka bersama agar selalu hangat dan nyaman. Mungkin seperti itulah penggambarannya. Lagipula, hanya dengan ini dia bisa memiliki masa depan setelah hidupnya di hancurkan sebelumnya. Juga ada banyak harapan yang dia gantungkan pada Zaine, salah satunya adalah harapan tentang pria dan wanita dalam ikatan suci pernikahan. ---------• --• Sepulang kuliah, Zaine kembali ke apartemennya. Berjalan dengan pelan, namun tidak mendapati siapapun di ruang tamu. Dia meletakan tasnya di atas meja, melanjutkan langkahnya ke kamar tidur, dan.. benar saja, Dilara tampak santai berbaring di atas ranjang dengan pandangan yang fokus membaca majalah. Penampilan Dilara juga sangat menggoda. Mengenakan kaos longgar miliknya yang panjangnya bahkan tidak mampu menutupi setengah pahanya. Merupakan keadaan yang mampu membangkitkan insting liar seorang pria. Zaine tersenyum, lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Memeluk Dilara erat. Dilara yang tidak menyadari kepulangan Zaine, sangat terkejut. Dia hanya bisa memegangi dadanya yang berdebar. Dia takut, takut jika itu bukan Zaine, takut jika itu adalah orang lain yang akan berbuat m***m padanya, dan dia takut jika itu adalah Angga. Meski itu tidak mungkin, tapi.. Dilara tidak menampik jika ketakutannya akan sosok yang menodainya membuatnya mengalami mimpi buruk setiap waktu. Entah saat dia tertidur atau terjaga, semua sama saja. Rasa takut itu tidak memudar bahkan semakin setia menghantuinya. "Aku pulang." Zaine berbisik manja di telinga Dilara. Menghujani wajah gadis itu dengan ciuman hingga membuat Dilara tidak berkutik. "Zaine, stop!" Dilara mencoba menghentikan aksi Zaine yang menciumnya secara membabi buta. "Aku bisa mati." Zaine terkekeh mendengar penuturan Dilara. "Kamu tenang aja, ciuman nggak bisa bikin orang mati." Memangnya ciuman bisa membunuh orang? Membayangkannya saja membuatnya tertawa sampai menangis. Dilara turut terkekeh, mencoba menghentikan pergerakan Zaine dengan menahan d**a pria itu. Tindakan yang Dilara lakukan juga membuat Zaine menghentikan kegilaannya, merapikan rambut Dilara yang berantakan, lalu menatap wajah kekasihnya lekat. "Aku sayang sama kamu, lebih dari apapun." Ucapnya dengan suara lembut. Suara Zaine terdengar magnetis, mampu menariknya pada pusaran cinta hingga tanpa sadar Dilara mengaitkan tangannya pada leher Zaine, "aku juga sayang sama kamu, melebihi apapun." Ucapnya kemudian, mengikuti apa yang Zaine ucapkan. Zaine tersenyum tipis, menyentuh bibir Dilara. "Aku nggak bisa jauh dari kamu." Memandangi gadis itu rasanya tidak ada bosannya. Dia justru semakin terpesona di setiap harinya, di setiap detiknya. "Aku juga." Tanpa ragu, Zaine segera menanamkan ciuman lembut pada bibir Dilara, melumatnya pelan pelan dan sangat hati hati. Seakan tidak ingin menyakiti Dilara, dia memperlakukannya layaknya barang yang rapuh dan mudah pecah, seperti jika di sentuh sedikit saja akan hancur berkeping keping. Namun itu pula yang membuat Dilara terbuai. Perlakuan manis Zaine membantunya melupakan segalanya. Tragedi yang kelam, masa lalu yang suram, semua menguar begitu saja. Sangat lepas dan tanpa beban. Dia bisa menjadi dirinya sendiri, dirinya yang dulu saat semua masih baik baik saja. Aktifitas mereka tidak berakhir sampai di situ, Zaine memperdalam ciumannya, hingga Dilara kepayahan membalas. Dia bahkan mulai menyentuh titik titik sensitif yang di yakini mampu merangsang hasrat seorang wanita. Zaine melepaskan ciumannya, melucuti pakaian Dilara hingga menampakan pemandangan yang luar biasa indah. d**a yang bulat dan besar, juga p****t dan daerah kewanitaan yang merangsang jiwa buasnya. Ciumannya turun ke leher, lalu berhenti pada dua gundukan Dilara, memainkan lidahnya di sana, Zaine merasa jika semesta berpihak padanya. Sangat nikmat dan lembut, seperti candu yang membuatnya melayang di udara. Dia memberanikan diri untuk menyentuh paha Dilara dan mulai naik ke atas. Meraba dan menyusuri setiap jengkal tubuh Dilara, tidak ada yang luput dari perhatiannya. Tubuh Dilara sangat halus dan kencang, membuatnya tidak bisa berhenti untuk tidak menyentuhnya. Tangannya berhenti pada daerah kewanitaan Dilara yang masih tertutup celana dalam. Zaine membelainya, memainkan tangannya di atas kewanitaan yang masih terhalang sekat berupa jaring pada celana dalam gadis itu. Sangat menggoda. Tidak ingin menunggu lagi, perlahan namun pasti.. dia memasukan tangannya dan menyentuh kewanitaan Dilara secara langsung, tidak terhalang apapun lagi. ---------• --• Dilara sangat menikmati ini, dia menggeliat dalam kenikmatan. Sekarang dia percaya jika semua yang di lakukan dengan cinta dan sepenuh hati, hasilnya memang tidak mengecewakan. Terbukti saat Zaine melambungkannya ke awan dengan sentuhan yang pria itu lakukan padanya. Semua keluh kesah sirna, yang ada hanya rasa puas dan kebahagiaan. Dia berharap Zaine akan melakukannya hari ini, selain dia ingin mengubur Angga dan menggantinya dengan Zaine, dia juga akan memberikan pilihan kepada Zaine saat pria itu tidak merasakan kegadisan di antara pahanya. Dia bersumpah akan berkata jujur dan membiarkan Zaine memilih untuk bertahan dengannya atau pergi meninggalkannya. Dilara sudah siap dengan segala konsekuensinya dan dia juga akan menghargai pilihan yang akan Zaine ambil sekalipun itu menyakiti hatinya. Dilara menutup matanya saat merasakan jari jemari Zaine memasuki celana dalamnya, menyentuh dan membelai kewanitaannya. Antara senang dan sedih. Tiba tiba pikirannya kacau, dadanya terasa amat sakit. Seperti puluhan jarum menancap di sana. Tidak hanya merasa bersalah, tapi juga berdosa. Terbuai dalam kenikmatan ternyata tidak bisa menghilangkan kebenciannya pada dirinya sendiri. Kebencian akan penghianatan yang dia lakukan di belakang Zaine. Dia benar benar menjijikan sampai titik dimana dia ingin membunuh dirinya sendiri. Setitik air mata mengalir di wajahnya. Jika dia bisa mengembalikan waktu, dia akan memilih untuk melakukan hubungan seperti ini dengan Zaine lebih awal dan tidak akan pernah menyesalinya. Zaine menghentikan aktifitasnya, lalu memeluk Dilara erat. "Ra, maaf." Ucapnya dengan suara samar, namun Dilara masih bisa mendengarnya dengan jelas. Dia merasa sudah menyakiti gadis itu sangat dalam. Dilara terpaku. "Zaine." Dia menyentuh wajah Zaine, mengusapnya penuh cinta, "kenapa kamu berhenti?" Zaine mengusap setitik air mata pada wajah Dilara. "Ra, aku minta maaf. Aku udah keterlaluan. Aku janji akan jagain kamu dan nggak akan ngelakuin hal konyol kayak gini lagi. Aku nggak akan bikin kamu kecewa lagi." Merupakan hal yang jarang Zaine lakukan. Meskipun Dilara tidak pernah menolak sentuhannya, juga tidak menghentikan perbuatannya, tapi dia merasa jika ini bukanlah ide yang baik. Terlebih, Zaine sudah berjanji akan menjaga, melindungi, dan tidak akan menyakiti Dilara. Jadi, dia pikir.. jika melakukannya sebelum menikah, sama saja dengan menyakiti gadis kesayangannya. Tapi, hari ini.. entah kenapa dia tidak bisa melawan saat hasrat memenuhi pikirannya. Membuncah hingga menanggalkan janji yang sering dia ucapkan. Zaine yang melihat Dilara menangis juga tidak bisa pura pura tidak melihat. Dia yang sudah terlanjur tau, tidak bisa bersikap seakan semua baik baik saja. Dia sedih saat melihat gadisnya kecewa padanya atas indakan gila tidak bermoral yang dia lakukan. "Zaine." Dilara membalas pelukan Zaine. "Aku tau.. kamu orang yang baik. Nggak tau kenapa, aku jadi ngerasa kalo aku nggak pantes buat kamu." Ucapnya dengan meletakan pipinya pada d**a bidang Zaine. Menyalurkan kesedihan dan kekecewaan kepada diri sendiri karena berdosa telah mengkhianati kepercayaan Zaine menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Semakin di pikirkan, juga semakin terasa sulit. Tidak hanya merasa bersalah, kepercayaan dirinya juga memudar. Berganti menjadi rasa ingin berhenti untuk mencintai dan mengharapkan Zaine. Dia sudah ternoda, sangat kotor sampai dia membenci dan jijik dengan tubuhnya sendiri. Zaine yang sudah sangat baik padanya, namun, yang di berikan kepada Zaine justru sebaliknya. Teganya dia memiliki niat untuk mengubur Angga dengan menggunakan Zaine? Air mata semakin deras mengalir, membasahi wajah Dilara yang sedikit pucat. Dia mempererat pelukannya, ingin minta maaf, mengakui semuanya. Dan jika saat itu tiba, dia akan pergi, meninggalkan Zaine agar pria itu bisa menemukan seseorang yang lebih baik darinya. Zaine menepuk punggung Dilara. "Kamu ini ngomong apa sih? Cuma kamu yang pantes buat aku. Pokoknya, aku nggak mau denger kata kata itu keluar dari mulut kamu." "Tapi, Zaine.. kamu salah paham." Dilara mencoba menjelaskan. "Aku nggak nangis karena kecewa sama kamu, tapi aku nangis karena udah buat kamu kecewa, aku.." "Stt.. aku nggak mau denger apapun lagi. Semua ini salah aku. Aku udah ngelakuin hal yang nggak sopan sama kamu sampai ngebuat kamu berpikir kayak gini. Jadi, yang harusnya minta maaf itu aku." Ucapnya dengan suara tenang. Zaine membantu Dilara berpakaian, lalu memeluk gadis itu kembali. "Kamu jangan nangis lagi ya? Aku jadi semakin ngerasa bersalah." Bukannya berhenti, Dilara justru memperkeras tangisannya. Akankah Zaine masih sama seandainya tau tentang apa yang terjadi padanya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD