YM ~ Perubahan Yang Cukup Signifikan

1384 Words
Dilara tiba di rumah dengan bibir yang mengerucut, juga dengan tampang yang cemberut. Leo sudah membuat mood buruknya semakin buruk. Dia marah lantaran Leo terang terangan memarahinya hanya karena sebuah apel. Itu benar benar menurunkan harga diri dan membuatnya kehilangan semangat untuk melanjutkan hari. "Ra." Angga menarik pergelangan tangan Dilara yang berjalan dengan cepat hendak menuju kamar tidurnya. Namun Dilara menghempas tangannya begitu saja. "Apa?" Dilara tidak menghentikan langkahnya, dia terus berjalan tanpa berniat untuk menoleh ataupun berhenti. "Ngomong aja!" Tambahnya kemudian. "Gue minta maaf, ya?" Angga mengikuti Dilara di belakang, namun.. Dilara masuk ke dalam kamar tidur dengan kecepatan cahaya dan menutup pintunya secara tiba tiba. Angga menghembuskan nafas panjang. Dia tau ini akan terjadi. Gadis itu.. sangat mudah di tebak jika sedang marah. Namun, saat mengingat wajah imut Dilara saat menggigit apelnya di pinggir jalan, dia tidak bisa berhenti tersenyum. Lucu saat di suguhkan penampakan Dilara yang biasa saja. Juga merupakan hal yang baru untuk di saksikan. ---------• --• Keesokan harinya. Dilara menggeliat. Menguap. Merasa tidurnya semalam benar benar nyenyak. Juga bermimpi sangat indah kala bersanding dengan Chang Wook Oppa di pelaminan menimbulkan senyum tidak berhenti mengembang dari bibirnya. Dia menghalau sinar matahari yang menembus melalui kaca jendela dengan tangannya. Terasa menyilaukan. Cuaca pagi ini benar benar indah. Secerah suasana hatinya yang tengah bersemi dengan banyak bunga bermekaran di sana. Sejak kepulangannya kemarin, dia tertidur sampai pagi. Tidak menghiraukan dan tidak memperdulikan apapun meski itu adalah Leo yang membangunkannya untuk makan malam. Beberapa hari kurang tidur juga menjadi faktor penting yang mendorong Dilara seperti ini. Jika tidak, tidak mungkin dia akan tidur selama berjam jam seperti orang mati? Itu sama sekali bukan gayanya. Tok tok tok. Suara ketukan pintu dari luar membuat Dilara menoleh, lalu memberi instruksi "masuk" setelah menyadari jika mungkin saja itu Leo. Pintu terbuka dan tergopoh masuk Bibi pengurus rumah tangga. "Ada apa, Bi?" Dilara bertanya dengan suara yang masih menahan kantuk. "Itu, Non. Ada panggilan dari Nyonya. Nyonya teh bilang khawatir, karena Non nggak angkat teleponnya." Bibi menjelaskan dengan pelan. Melihat si Non masih bergelung nyaman dalam kubangan selimut tanpa berniat untuk bangun. Dilara mengangguk, lantas meraba benda pipih yang berada di atas nakas. Benar saja, ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Mama. Dia menghela nafas panjang lalu menonaktifkan hpnya dan melemparnya kembali ke atas nakas. Dia sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun apa lagi dengan Mama. "Bilang sama Mama kalo aku belum bangun. Aku kecapean, banyak tugas. Terus.. siapin sarapan buat aku ya, Bi?" Dilara berkata dengan manja. Nada lembut dan suara pelan seakan tengah bicara dengan Mama. "Siap, Non." Bibi pergi setelah berkata demikian. ---------• --• Dilara menyelesaikan riasan ringannya, memakai sneakers berwarna putih, lalu bercermin sekali lagi. Setelah mendapati tidak ada masalah dengan penampilannya, dia segera keluar dari kamar tidurnya. Melangkah dengan santai menuju ruang makan. Namun dia menghentikan langkahnya tiba tiba setelah melihat sesosok menjijikan tengah menikmati sarapan di meja makannya, di rumahnya. Siapa sangka jika pria tak tau malu itu masih berada di sini. "Ra, duduk! Kita sarapan!" Perintah Leo setelah melihat Dilara mendekat ke arah mereka di meja makan. Dilara masih berdiri di tempatnya. Tidak berniat untuk mendekat apa lagi sarapan. "Kak, kenapa dia masih di sini?" Ucapnya seraya menunjuk Angga melalui lirikan mata. "Aku nggak suka sarapan sama orang asing. Juga.. ini bukan panti sosial. Emangnya dia gak punya rumah?" Dilara tersulut emosi. Meski Angga tidak lagi berulah, namun kebenciannya sudah mendarah daging. Sekalipun Angga melakukan kebaikan hingga 100 kali sekalipun, dia tetap akan menganggap itu sebagai suatu kejahatan, dan tidak akan pernah melihat kebaikannya. "Ra, lo kenapa sih? Biasanya Angga dan temen temen gue juga sarapan di sini dan lo gak pernah bahas itu? Masalahnya apa sih? Salahnya dimana?" Leo bertanya dengan nada ingin tau. Dilara menunjuk Angga dengan jari telunjuknya. "Kamu berteman sama dia aja, udah masalah. Aku pergi, gak selera makan." Dilara melenggang pergi dengan amarah. Belakangan, temperamennya benar benar buruk. Tidak tau apa penyebabnya, tidak tau apa masalahnya. Tiba tiba saja dia menjadi seperti ini. Rasanya sulit mengendalikan diri dengan situasi yang ada. Berbeda 180 derajat dengan dirinya yang dulu. Aneh. Dilara melenggang pergi tanpa menghiraukan teriakan Leo yang memanggilnya. Seharusnya Leo tau jika dia tengah marah. Lagi pula, siapa suruh Angga masih di sini? Membuat harinya semakin kacau saja. Dilara masuk ke dalam mobil, lalu mengemudikannya. Meski Leo tidak mengizinkannya untuk mengendarai mobil sendiri, tetapi siapa peduli? Tidak tau akan kemana, dia sama sekali tidak memiliki rencana. Sebenarnya, dia juga tidak ada niat untuk pergi hari ini, tidak ingin berangkat kuliah, atau melakukan kegiatan yang menguras otak. Dia hanya ingin menghabiskan waktu dan bersantai di sebuah yayasan panti asuhan tidak jauh dari rumahnya. Cukup berjalan beberapa menit dan itu sudah tiba. Tetapi, karena semua tidak sesuai ekspetasi, jadi tidak ada apapun yang ingin dia lakukan lagi. Dilara berkendara tanpa tujuan. Satu jam sudah dia hanya berputar putar tidak jelas, parahnya.. dia bahkan melewati jalan yang sama hingga berkali kali. Benar benar gadis yang kurang kerjaan. Bukannya berangkat kuliah, dia justru kelayapan sebagai seorang pengangguran. Tetapi, dia cukup menikmatinya. Beberapa saat kemudian, Dilara menghentikan mobilnya di bahu jalan. Dia mengerjap, lalu mengawasi sekeliling. Tempat yang tidak asing. Dia lantas membuang pandangan ke sebelah kanan jalan, sebuah gedung mewah tertangkap penglihatannya. Sebenarnya ini adalah.. Apartemen Zaine? Bagaimana mungkin dia bisa berakhir di sini, berakhir di tempat ini? Dilara menghembuskan nafas panjang. Mungkin sejauh apapun tulang rusuk pergi, pasti akan kembali pada tubuh pemiliknya. Filosofi itu mungkin ada benarnya. Karena sejauh apapun dia pergi, kenyataannya dia tetap akan kembali kepada Zaine, bahkan tanpa di sadari dan di luar kendalinya. Sudah tiba di sini, dia tidak mungkin kembali. Tentu saja dia akan masuk dan menemui Zaine. Semoga saja hari ini pria itu berada di Apartemen. Dilara turun dari mobil dan melangkah menuju unit apartemen yang Zaine tinggali. Menekan password yang sudah di hafalnya di luar kepala, dan pintupun terbuka. ---------• --• Zaine tengah sibuk menatap layar laptop tanpa berkedip. Juga memainkan jari jemarinya di atas keyboard penuh keseriusan. Tugas dan pekerjaan, adalah dua hal wajib yang harus dia pertanggung jawabkan hasilnya. Tidak di pungkiri lagi, kedua kata itu adalah motivasi untuknya terus mengasah kemampuan otak agar tidak membeku. Dan semalam, dia juga tidur sini. Tidak tau kenapa. Sejujurnya dia jarang menginap atau menghabiskan hari di tempat ini. Kadangkala hanya saat dia merasa ingin sendiri, baru dia akan datang dan tinggal sementara waktu. Itupun hanya hitungan jam, tidak sampai berhari hari. Zaine yang tengah menikmati aktifitasnya segera menoleh saat mendapati seseorang menekan password pada pintunya. Dia sedikit terkejut. Bukannya dia takut, dia hanya tidak menyangka jika akan kedatangan tamu di tempat persembunyiannya. Sebenarnya, tidak banyak orang yang mengetahui password apartemennya, bisa di bilang, hanya dia dan Dilara saja. Bahkan kedua orang tuanyapun tidak mengetahuinya. Selain orang tuanya selalu sibuk, mereka juga kerap bepergian dan menghabiskan waktu di negara orang. Tidak benar benar peduli dan memperhatikannya. Zaine terus melihat ke arah pintu, menunggu seseorang yang dia harap adalah.. "Dilara?" Ya.. gadis itu.. Zaine terpaku saat melihat kedatangan Dilara. Meski dia sudah menduga jika yang datang memang gadis itu, tapi entah kenapa dia masih saja terkejut. "Kenapa kamu di sini?" Zaine bertanya dengan tidak percaya setelah Dilara mendudukkan diri di sebelahnya dengan bibir yang mengembang. Dilara cemberut. "Kenapa? Kamu nggak suka kalo aku datang?" Zaine menjawil hidung Dilara, "siapa bilang? Aku suka kok, suka banget malah, aku cuma keget. Apa ada masalah sampai kamu datang secara tiba tiba untuk menemuiku?" Zaine yang tidak biasa melihat Dilara datang secara tiba tiba, tidak bisa untuk tidak bertanya. Setidaknya, gadis itu akan menelepon atau mengirim pesan w******p lebih dahulu jika memang akan datang. Wajar jika hal seperti ini terasa janggal di pikirannya. "Masalahnya adalah.. aku kangen sama kamu." Dilara menjawab malu malu. Tidak ada kebohongan, karena dia memang selalu merindukan Zaine di setiap harinya. Lagi pula, tidak mungkin dia berkata jika dia mendadak gila hingga berkendara secara asal, bukan? Selain Zaine tidak akan mempercayai ucapannya, itu juga bisa menurunkan kredibilitasnya. "Ih.. pacarku ini, manis banget, sih. Aku yakin lama kelamaan kadar gula darahku bisa naik kalo keseringan dengerin kata kata manis yang kamu ucapin. Aish.. bikin hatiku nyut nyutan aja." Zaine memegang dadanya. Mendramatisir keadaan dengan ekspresi wajah yang meyakinkan. Mendengar ini, Dilara terkekeh pelan, membelai wajah Zaine penuh cinta. "Zaine.. apa kamu lupa kalo aku itu belajar dari kamu?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD