Menatap Perih

1600 Words

Selamat membaca! Setelah hanya termenung diam dengan pikiranku, aku pun mulai kembali menatap wajah Tuan Firdaus yang tengah menunggu jawaban atas penjelasannya. "Baiklah kalau begitu. Sekarang lepaskan saya! Saya lapar dan jangan paksa saya makan sayuran atau akan saya buat anakmu kelaparan!" ucapku dengan penuh ancaman. Dia tidak melepaskanku begitu saja, dia malah memelukku dan mendekatkan bibirnya ke telingaku. "Kamu marah?" tanyanya seraya berbisik. "Ya! Saya sangat marah hari ini!" jawabku dengan tegas tanpa menutupi perasaanku sendiri, itulah perbedaan antara aku dengan wanita lain yang lebih suka menyembunyikan isi hatinya. "Kalau begitu saya minta maaf, saya tidak bisa menolak keinginan Reva untuk makan bersama. Jadi karena itulah saya mengajakmu ikut demi bisa menepati janji

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD