Selamat membaca! Tuan Firdaus menarik tubuhku hingga membuatku sangat terkejut. Pandangan kami beberapa saat saling bertemu. Aku bahkan dapat melihat pantulan diriku dari bola matanya yang begitu jernih. Sesaat aku terdiam hanya menatapnya. Sampai akhirnya, suara tegasnya menyadarkanku dari lamunan singkatku. "Dinda, apa kamu ingin mati? Kenapa kamu menyebrang tidak lihat jalan dulu?" Dia masih menggenggam tanganku dengan kuat, wajahnya terlihat marah atau mungkin lebih tepatnya dia takut kehilanganku. Aku pun mulai memperhatikan sekitar. Rasa tidak nyaman seketika muncul saat pandangan heran Nona Reva tampak jelas di wajahnya. Namun, wanita cantik itu masih tersenyum kecil, entah apa dia pikirkan. Kini aku kembali melihat Tuan Firdaus yang masih menatapku tegas. "Maafkan saya, Tuan. Sa

