Dangerous

1433 Words
Reva, gadis itu terus berjalan lurus ke depan, menyusuri koridor rumah sakit yang masih ramai oleh keluarga pasien. Pandangannya lurus ke depan. Di lihat dari jauh, dan sekilas terlihat sangat tajam, seolah mengintruksi orang-orang yang menghalangi jalannya untuk segera beranjak dari sana. Tak tau saja, karena tak akan ada yang tau selain dirinya sendiri, bahwa pandangannya kini telah memburam karena genangan air di pelupuk mata. Reva tak menghapusnya, dia membiarkan air mata itu jatuh dengan bebas, dengan sendirinya tanpa campur tangan dari jari tangannya. Dalam hatinya dia kembali menguatkan diri. Mengatakan dengan lantang bahwa dia harus pergi. Pergi dari kehidupan Ervan, dari Melin, dan dari semua orang yang mempunyai hati yang tulus menyayangi dan mencintainya. Itu kata hatinya, berbeda lagi dengan apa yang pikirannya teriakkan. Dia adalah seorang pengecut yang lari dari masalah yang dia buat sendiri. Dia pergi untuk menghindar, untuk tidak melihat mereka lagi. Karena setiap kali Reva melihat wajah Ervan, Melin maupun Baza, selalu saja rasa bersalah yang muncul di lubuk hatinya. Dia pikir, dia akan merasa puas setelah ini terjadi, dan hatinya merasa tenang karena dendam terbalaskan. Namun memang dasarnya hati, adalah hal yang paling sulit untuk di bohongi. Sampai-sampai, semua rencananya melenceng dari rencana awal yang dia buat. Kakinya berhenti melangkah, tepat pada anak tangga teratas saat parkiran luar sudah berada tepat di depan mata. Entah kenapa, langkahnya terasa berat, kakinya enggan untuk di gerakkan, tubuhnya seakan memiliki sebuah magnet yang sedari tadi berusaha dia tahan sekuat mungkin untuk tidak kembali berbalik, dan yang paling penting, hatinya lantang sekali meneriakkan nama pemuda yang tadi hampir saja dia habisi nayawanya. "Hah ...." Hembusan nafas panjang nan terasa berat itu terus keluar tanpa ada kata yang menyertainya. Terasa sulit untuk sekedar mengucap huruf. Katakanlah dia gadis labil yang plin plan di umurnya yang sudah dewasa ini. Dia tidak akan menyangkalnya, karena memang itulah dirinya. Bukankah semua orang pernah melakukan hal yang sama? Tak tetap pada pendiriannya, benar, 'kan? "See you ... and sorry ...," gumamnya kecil lalu kembali memaksakan langkahnya untuk menuju mobilnya tak terparkir. Mobil milik Zack tepatnya. Pria itu yang memberinya fasilitas tersebut. Dirinya baru saja akan masuk ke dalam mobil, namun beberapa orang dengan pakaian serba hitam, begitu menarik perhatiannya. Sedikit banyaknya, dia tau dengan orang-orang suruhan Zack. Meski ini adalah anggota yang berada di luar negara, Reva cukup terampil dalam mengingat sesuatu. Kembali menutup pintu mobil, Reva berjalan cepat ke arah orang tersebut, ada kira-kira lima orang di sana, berjalan ke dalam rumah sakit dan menyebar. Reva mengetatkan rahangnya melihat itu. "Sialāan!" umpatnya dengan ke dua tangan yang mengepal kuat di masing-masing sisi tubuhnya. Satu orang yang menjadi targetnya, ada di depan mata, sama sekali tak menyadari keberadaan gadis itu sedang berjalan di belakangnya. Dengan gerakan cepat, Reva sekarang sudah berada sangat dekat dengan orang itu, tanpa jarak malah. Dengan posisi Reva yang memeluknya dari belakang. "Hentikan teman-temanmu, atau kau kubunuh sekarang juga!" desis Reva pelan. Orang itu, sedikit terkejut, banyaknya takut merasakan benda tajam yang sudah pasti sedikit menggores punggungnya. Benar ternyata, Reva bukan gadis yang sembarangan. Di sisi lain, tepat di belakang Reva yang terlihat sedang memeluk seorang pemuda di depan sana, Melin berdiri dengan tatapan tak percaya. Gadis itu benar-benar bukan adiknya. Bukan adiknya yang bahkan akan marah jika di sentuh sembarang pria, tapi ini, gadis itu memeluknya, di depan umum, di rumah sakit yang mana sekarang banyak pasien yang menatap ke arah mereka, membicarakan mereka terang-terangan. Tidak ada kata malu bagi mereka berdua berbuat hal seperti itu di sini. "Kamu emang bukan Reva," gumam Melin tersenyum kecut. Tadinya, dirinya hendak menyusul sang adik, ingin memeluknya, ingin mencurahkan seluruh keluh kesahnya, ingin menyampaikan semua yang akan dia katakan, ingin melontarkan pertanyaan yang membuncah di kepala, tapi berakhir mendapati hal semacam ini. "Jangan terlalu cepat nyimpulin sesuatu." Melin tak terkejut, sama sekali tak menunjukkan keterkejutan. Dia hapal dengan suara ini. "Dia sempat bilang sama aku. Gimanapun dia nantinya, dia cuma berharap kita semua nunggu dia buat perjelas keadaannya," lanjut Baza. Kali ini Melin tertarik, menghadap pada Baza. "Sempat? Kalian pernah ketemu sebelum kejadian ini? Kamu udah tau dia bakal lakuin ini?" tanya Melin beruntun dengan tampang yang sedikit terlihat marah. Baza menggeleng, berusaha setenang mungkin menjelaskan pada gadis di depannya ini. "Dia emang bilang itu dari lama, tapi aku nggak pernah ngira kalau ucapan dia untuk hal ini," ucap Baza. Sekali lagi mereka menoleh pada Reva yang kini telah berjalan menjauh dengan tangan yang di lingkarkan pada lengan laki-laki yang sama sekali tak mereka kenal itu. "Ayo. Suatu saat kita bakal tau apa yang sebenarnya Reva lakuin sekarang," ucap Baza menuntun Melin untuk kembali ke ruangan Ervan. ****** Pria itu membawa Reva menuju belakang rumah sakit, yang sudah mereka jamin keamanannya dari para manusia yang ada di dalam rumah sakit. Mendorong pelan pria yang sedari tadi dia gandeng tangannya, berikut empat pria berbadan kekar lainnya yang berdiri di hadapannya. Menatap mereka berlima bergantian, Reva lalu mendecih dan membuang nafas panjang. Hampir saja belati yang sedari tadi Reva pegang tertancap di salah satu kaki mereka, jika saja mereka tak mempunyai refleks yang bagus. Gadis itu tampak mengambil benda persegi dari dalam saku jaketnya. Menekan beberapa digit angka dan menempelkan benda itu pada telinga saat nada sambung terdengar. "Hal--" "Bajīingan!" Sergah Reva cepat, belum sempat orang di seberang sana merampungkan kata-katanya. "Apa kau berusaha untuk melanggar perjanjian kita?! Apa-apaan kau mengirim anak buahmu ke sini!" marah Reva dengan wajah memerah padam, lengkap dengan alis menukik tajam dan pandangannya yang menusuk. Terdengar kekehan di seberang sana yang membuat Reva semakin muak mendengarnya. Di tatapnya lima orang pria dengan badan berotot di depannya, kembali mendecih saat mereka semua langsung menunduk dan mengalihkan pandangan. Pantas saja mereka tak pernah bisa mengalahkan anak buah Ervan, lihat saja pria di depannya ini, badannya saja yang penuh otot, di pandangi tajam oleh dirinya saja sudah menciut duluan. "Tenang, Pretty ... kau akhir-akhir ini terlalu banyak memasang wajah menyeramkan. Tak lihat anak buahku ketakutan semua karena wajah cantikmu itu?" Jika saja Reva tak sedang dalam keadaan terburu-buru, maka tak ada pilihan bagi dirinya untuk segera meluncur ke tempat Zack dan menghabisi pemuda satu itu. "Dengar ini Zack, kita sudah membuat perjanjian sebelumnya, dan kau telah menyetujuinya, jika kau memang seorang pria, kau pegang janjimu itu. Aku benar-benar tidak akan berpikir dua kali untuk menghabisimu jika kau berani melanggarnya Zack, kau paham itu?" ucap Reva panjang lebar menyampaikan segala ancaman pada Zack. Zack, dia tidak marah. Malah sedang mengulum senyum, menurutnya ancaman Reva itu terdengar lucu. Ah, apakah ini yang di rasakan semua anak muda ketika mencintai seseorang? Ternyata ini memang menyenangkan. "Ya ya, aku akan menepatinya," jawab Zack kemudian. Tak ingin menjawab lagi, Reva kemudian memutuskan sambungannya sepihak. Tatapannya kembali mengarah pada lima orang di depannya. "Kuperingatkan untuk tidak terlalu membuatku marah, ingat itu!" peringat Reva menunjuk mereka semua satu persatu, lalu pergi dari sana dengan langkah lebarnya. "She is a dangerous girl," gumam salah satu dari mereka, yang sempat di todong belati oleh Reva. ****** Duduk di kursi kebersarannya, pria paruh baya yang hampir seluruh rambutnya sudah berubah warna menjadi putih, namun berbeda dengan aura dan tenaganya, masih saja bugar. Kakinya di silang di atas kakinya yang lain, satu tangannya di tumpu pada tangan kursi, satunya lagi bertumpu pada dagu, terlihat sangat serius melihat penampilan adegan di layar besar komputer miliknya. Sesekali kedua alisnya akan menyatu pertanda bingung, lalu kemudian menggangguk pelan di iringi seringai tipis. Entah apa yang dipikirkan otak liciknya itu. "Apa benar dia anak Ranti?" tanyanya pada si tangan kanan yang masih sedia berdiri tegap di samping kursinya, ikut menonton apa yang ada di layar sana. "Benar, Tuan," jawabnya tegas. Si Tuan mengangguk-angguk mengerti. "Pantas saja dia mirip dengan putriku," gumamnya lalu terkekeh pelan. Punggungnya di hempas pada sandaran kursi yang empuk. Tampak senang melihat kenyataan di depan matanya. "Dunia memang sangat sempit. Dalam satu waktu, aku bisa mempertemukan orang-orang yang berkaitan denganku, tanpa terlalu banyak gerakan yang kulakukan. Hanya menambahkan sedikit jeruk nipis, maka mereka akan mengerubungi untuk menyembuhkan luka yang sama tanpa sadar mereka sendiri ikut terluka," ucapnya panjang lalu tertawa kemudian. Tawa yang tak pernah terdengar ramah dan tulus. Boleh di katakan, si tuan itu tak pernah tertawa dengan alasan yang benar-benar tulus, tak pernah tersenyum hangat yang benar-benar hangat, semuanya hanya palsu. "Kau amati pergerakan gadis itu. Dia cukup berbahaya jika di lepaskan," ucapnya memerintah. Kembali dia tatap layar komputer yang menampilkan sosok Reva yang seperti seorang artis terkenal yang sedang menghindari gelombang paparazi. Bersembunyi di balik topi dan masker hitam yang di pakainya. "Tapi akan menguntungkam jika di bawah kuasaku," lanjutnya seiring jelas tercetak seringai di wajah yang sudah terlihat mulai berkeriput itu. ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD