Meski menganggap ini semua terjadi karena perbuatan Reva, tapi tetap saja Baza mendengarkan ucapan Reva yang menyuruh dirinya untuk membawa Ervan ke rumah sakit dekat apartment pemuda itu. Dan di sinilah Baza, duduk di kursi tunggu depan ruangan UGD yang ada Ervan di dalamnya.
Di sampingnya, berjarak satu bangku kosong dari tempat duduknya, ada Melin yang tengah memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. Baju dan tangan wanita itu habis terkena darah Ervan, namun sepertinya Melin sama sekali tak memiliki niat untuk sekedar menghilangkan jejak merah yang hampir mengering itu.
Baza tau alasannya apa, dia pun juga sama sedang memikirkannya, tapi ingin berkata apa? Menjelaskan dari mana? Memulai dengan kata apa? Baza sama sekali belum merangkainya dengan baik dan apik, agar nanti Melin dapat menerima ucapannya dengan baik. Maka untuk sekarang, dia membiarkan sampai gadis itu sendiri yang bertanya padanya.
Cukup lama, hampir setengah jam mereka berdiam diri seakan tak mengenal satu sama lain. Hingga suara nada dering di ponsel Baza menjadi satu-satunya suara yang terdengar di sana.
Padahal baru saja Baza akan menanyakan perihal makanan pada Melin.
Tak ingin mengganggu lebih lama, Baza segera mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, berdiri dan berjalan sedikit jauh ke depan.
"Ada apa?" tanyanya datar pada anak buahnya yang menelpon.
"Bos, anak ini menanyakanmu," jawabnya.
Terdiam sejenak. Dia sampai melupakan Jio yang mereka tinggalkan di markas. Pasti anak itu sudah bingung dengan dirinya dan Melin yang tak kunjung kembali menjemputnya.
"Berikan ponselnya padanya," ucap Baza, mendapat jawaban patuh dari seberang sana.
"Halo ...." Suara halus nan lucu, khas anak kecil menyapa saluran pendengarannya.
Entah apa yang membawa garis lurus di bibirnya jadi melengkung sesaat ketika mendengar suara anak itu. Terdengar sangat polos dan lugu, seperti raut wajah si kecil.
"Halo Jio ...."
Mendengar kata Jio, Melin langsung memutar arah pandanganya. Matanya kini menatap punggung tegap Baza yang satu tangannya terangkat memegang benda pipih canggih di telinganya.
"Jio mau Kakak. Jio sama Kakak aja," ucapnya sedikit terdengar memelas.
Jelas sekali terdengar suara anak itu sedikit serak. Pasti anak itu terbangun dari tidurnya.
"Kenapa masih bangun? Jio nggak ngantuk?" tanya Baza malah menanyakan hal lain.
Di sana, di dalam markas, anak itu terlihat mengusap sudut matanya yang berair. Dia bahkan berkali-kali menguap lebar tanda kantuk masih sangat menumpuk di pelupuk matanya. Seperti yang di perkirakan, dia memang baru saja terbangun dari tidurnya, dan langsung merengek ingin bertemu Baza dan Melin.
"Jio mau sama Kakak ...." Terdengar sedikit rengekan di sana.
Baza memutar sedikit tubuhnya, menatap Melin di belakang sana yang baru dia ketahui bahwa gadis itu sudah bisa menatap ke arah lain, ke arahnya.
"Ya udah, nanti Kakak suruh om yang di dekat Jio ngantar Jio ke tempat Kakak ya? Kakak nggak bisa jemput Jio soalnya. Nggak apa-apa, 'kan?" tanya Baza setelah menjelaskannya.
Jio mengangguk tanpa Baza sendiri tau apa yang sebenarnya yang anak itu lakukan sekarang.
"Jio mau," jawabnya mmebuat senyum Baza kembali menyapa wajah tampan itu.
"Kalau gitu, Jio siap-siap. Kasih lagi HPnya sama om yang tadi," ucap Baza memberi perintah yang langsung di turuti oleh Jio.
"Antar dia ke rumah sakit di dekat apartment Ketua. Bawa dia langsung ke ruangan UGD," ucap Baza lagi memberi sebuah perintah pada anak buahnya.
"Baik, Bos!" jawab orang di seberang sana dengan tegas.
Baza kemudian memutuskan sambungannya dan berbalik, kembali berjalan dan duduk di tempat duduknya sebelumnya.
"Jio mau ke sini," ungkap Baza pada Melin yang hanya diam tak membalas ucapannya.
Baza menoleh, saat terdengar helaan nafas kasar dari Melin. Kepala gadis itu tersandar ke dinding, dengan mata tertutup. Terlihat sangat frustasi. Mungkin mulai lelah dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung dia dapatkan jawabnnya.
"Apa sebenernya yang terjadi?" Pada akhirnya Melin tetap menanyakan hal itu pada Baza. Tak ada lagi yang bisa dia harapkan selain jawaban dari Baza.
"Kamu udah liat yang sebenernya terjadi, Mel. Aku perlu jawab apa lagi?" Baza memutar pertanyaannya.
Meski dirinya memang menunggu untuk Melin yang bertanya, tetap saja dia belum mempersiapkan jawabnnya. Dirinya terlalu lelah.
"Kamu tau pasti maksud aku, Za. Kenapa kalian harus rahasiain ini dari aku?" tanya Melin lagi, menuntut penjelasan dari yang lebih muda.
Helaan nafas berat juga ikut keluar dari mulut Baza. Ikut menyender di dinding dengan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku jaketnya.
"Kalau kamu pengen tau detailnya, aku tetap gak bisa ngasih tau, karna aku memang gak tau banyak tentang ini. Yang aku tau, Ervan ngasih tau aku kalau ada yang janggal dari Reva. Aku paham, kalau dia sebenernya udah tau apa yang janggal dari Reva, tapi, dia sama sekali gak mau cerita lebih banyak." Baza mengambil nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Terlalu berat dan terlalu rumit untuk di ceritakan. Sampai sekarang, Baza saja tidak mengerti dengan akar permasalahannya yang seperti apa.
"Kamu tau 'kan, kalau Ervan orang yang paling keras kalau jaga privasi. Ya, walaupun dia selalu cerita sama aku, tapi kalau ini, dia sama sekali gak banyak ngasih tau aku apa-apa," lanjutnya menolehkan kepala menatap Melin.
Melin tak puas. Sama sekali tidak menghilangkan tanda tanya besar di dalam pikirannya mengenai Reva saat ini. Kenapa adiknya jadi seperti ini? Tunggu, masalah adik, apakah Reva juga berpura-pura tentang itu? Apa Reva juga membuatnya mengambil peran dalam drama kehidupan nyata ini? Tapi kenapa Melin bisa melihat ketulusan dan kejujuran di mata Reva? Apalagi saat gadis itu bersama Ara, Melin sama sekali tak melihat kebohongan di sana. Tapi kenapa? Kenapa pada akhirnya Reva memilih jalan ini? Apa alasannya?
"Bersihin dulu baju sama tangan kamu, baru kamu pikirin kenapa adik kamu kayak gitu," ucap Baza mengalihkan perhatian Melin pada tangannya yang masih terdapat noda darah di sana.
"Nyeremin ya?" tanya Melin mengangkat satu tangannya yang penuh darah.
Baza tersenyum, hampir terkekeh mendengarnya. Di anggukkan kepalanya mengiyakan.
"Iya, nanti Jio takut liat kamu," jawabnya membuat Melin akhirnya tersenyum tipis.
"Ya udah, aku mau cuci dulu," ucapnya sembari berdiri sedangkan Baza hanya mengangguk.
Memandangi gadis itu yang berjalan semakin menjauh, sampai di mana langkah Melin terhenti, saat di depan sana ada Reva yang berjalan mendekat ke arah mereka.
Baza, mau tak mau ikut berdiri, menatap heran juga terkejut dengan kehadiran Reva di sana. Dia pikir Reva hanya membual saat mengatakan akan menyusul mereka ke rumah sakit, ternyata gadis itu benar-benar menyusul mereka ke rumah sakit ini.
"Reva ...," gumam Melin pelan.
******
Total urung, niat Melin yang awalnya ingin membersihkan tangan serta pakaiannya, tak terpikirkan lagi olehnya. Yang sedari tadi memenuhi kepalanya ada di depan mata, bagaimana bisa Melin tidak kembali terpikirkan tentang apa yang di pikirkannya tadi?
Reva? Gadis itu masih berdiri di sana, lengkap dengan pakaian serba hitamnya yang rapi, berbeda sekali dengan tampilannya tadi, juga dari tampilannya yang biasa. Tampilan ini terlihat sedikit lebih cocok padanya, entah karena apa.
Di tangan kiri Reva ada sebuah paper bag berukuran cukup besar yang isinya entah apa, dan di tangan kanannya ada sebuah kotak persegi, berukuran sedang yang pas untuk di genggam oleh tangannya.
"Ini." Reva mengulurkan paper bag terlebih dahulu pada Melin.
"Berikan pada Ervan," ucapnya lagi meletakkan paper bag tersebut di lantai saat Melin tak kunjung menyambut uluran tangannya.
Gadis itu melirik sedikit pada Baza yang masih betah berdiri tegak menatap ke arahnya. Tak perlu di tanya lagi kenapa tatapan pria itu seperti itu, Reva tau pasti jawabannya. Tapi, biarlah, toh pemuda itu juga sudah tau semuanya.
"Dan ini ...." Reva mengulurkan tangan yang lain, memperlihatkan sebuah kotak persegi pada Melin, sepertinya itu sebuah frame foto.
"Berikan pada Kak Ara," lanjutnya membuat Melin menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
Tak mendapat respon, Melin bak patung yang di beri nyawa untuk bertahan hidup. Sekali lagi, Reva mengerti kenapa Melin seperti ini. Sedikit banyaknya, wanita yang mengangkatnya sebagai adik ini, pasti sudah tau kebenarannya dari Baza. Tak apa, dia sudah menduga hal ini akan terjadi.
Di raihnya tangan Melin, di letak kotak persegi tersebut di atas tangan.
"Bilang padanya, aku akan membawakan tulip putih untuknya jika dia sudah tidak lagi di kursi roda. Bilang juga, aku ingin mencicipi masakannya jika nanti aku datang," ucap Reva panjang lebar, dengan nada dan raut yang benar-benar datar, tanpa ekspresi. Dan Melin tak suka dengan ekspresi itu.
Melin tak menjawab, tepatnya tak ingin menjawab meski banyak sekali pertanyaan yang ingin dia lontarkan sekarang, saat ini juga. Dan Reva, gadis itu juga seperti sengaja mengulur waktu lebih lama di sana, seakan memberi kesempatan pada Melin untuk mengajukan pertanyaan padanya.
Cukup lama, hampir 15 menit gadis itu memberi waktu, namun satu kata pun tak meluncur dari mulut Melin.
Menghela nafas berat, Reva memperbaiki posisi topi yang dia pakai seraya mengangguk pelan.
"Kupikir aku sudah selesai," ucapnya lalu beralih menatap Baza, seolah berpamitan pada pemuda itu lewat tatapannya.
Berbalik, Reva melangkah mantap penuh ketegasan di setiap hentakan kakinya, hingga di belokan jalan, dirinya terhenti saat Melin akhirnya bersuara.
"Kau juga berpura-pura padaku dan Ara? Bagaimana dengan Celin, Gunta dan Mbak Nisa?" tanya wanita itu beruntun.
Reva hanya berhenti, tidak menoleh, tidak juga berbalik. Kepalanya perlahan tertunduk mendengar pertanyaan itu. Yang dia harapkan bukan pertanyaan yang seperti itu yang akan Melin lontarkan.
Bagaimana bisa Melin mempertanyakan ketulusannya pada sebuah keluarga? Tapi mengingat kembali kebohongan besar yang telah dia buat, Reva mencoba mengerti kenapa pertanyaan itu bisa terlontar pertama kali di saat banyaknya pertanyaan yang Melin simpan.
Dirinya berbalik, hanya berbalik, untuk menatap Melin di depan sana.
"Aku bukan tipe yang suka bermain-main dalam hubungan keluarga," jawabnya tegas dan lantang, sangat meyakinkan di dengar, karena memang begitulah keadaannya.
Dia pikir, jawabannya sudah cukup, dia yakin hanya itu yang ingin Melin ketahui. Maka tak ada keraguan lagi baginya untuk kembali melangkah pada tujuan awalnya. Pergi dari sana.
******