Berjalan santai, dengan Ervan yang sudah di ambang sadar, seakan tak mengindahkan begitu banyak tubuh manusia tanpa nyawa yang tergeletak di bawah sana, ah ralat, berserakan di sana. Seolah sudah terbiasa dengan pemandangan menyeramkan seperti itu.
"Apa kau masih orang yang sama?"
Reva menoleh cepat, hanya beberapa detik sebelum kembali fokus pada jalan yang akan di laluinya.
"Aku tak pernah menjadi orang lain," jawabnya tegas, tanpa raut yang terpancar di wajah yang selalu memunculkan raut lucu setiap saat.
Jawaban itu membuat kekehan tipis keluar begitu halus dari belah bibi Ervan.
"Jadi ini aslimu?" tanyanya sekali lagi yang kali ini tak mendapat jawaban apa-apa dari gadis itu.
"Lalu siapa yang bersama denganku selama ini?" Pertanyaan kembali terlontar, masih seputar topik yang sama.
Terjeda cukup lama, dan Reva merutuk dalam hati. Kenapa perjalanan mereka menuju mobil Ervan yang terparkir di luar sana terasa begitu jauh.
"Menurutmu?" Reva balik bertanya seraya sesekali menyingkirkan tubuh yang menghalangi jalan mereka dengan menggunakan kakinya.
"Dia gadis yang kucinta," jawab Ervan tegas dan cepat.
Langkah Reva melambat mendengar jawaban yang terdengar penuh kejujuran itu. Terdengar sangat meyakinkan.
"Berhenti mencintainya," pinta Reva membuat kening Ervan mengernyit dalam.
"Kenapa? Kau mengenalnya?" tanya Ervan lagi.
Sesekali pria itu akan meringis pelan kala denyut sakit bekas tembakan begitu sangat menusuknya, sementara satu tangannya menahan kuat pancuran merah yang keluar dari sana, perintah Reva sebenarnya.
Dalam pikirannya, gadis ini cukup plin plan.
"Perhatikan langkahmu!" peringat Reva padanya.
Posisi mereka cukup menyulitkan Reva sebagai penuntun jalan di sini. Ervan sepenuhnya tidak memperhatikan jalan, hanya menatap wajahnya dari samping dan membiarkan Reva yang memimpin jalan tanpa memperhatikan jalannya sendiri.
"Tidak mau menjawab?"
Reva kembali menoleh membuat jarak di wajah mereka semakin terkikis. Namun tak lama, Reva dengan cepat memutus kontak, memperbaiki posisi Ervan.
"Tidak bisakah kau diam saja? Itu akan lebih baik," ucapnya membuat Ervan tersenyum hambar.
"Tentu. Aku bisa. Lagipula sebentar lagi, aku akan diam," balasnya.
Karena memang benar. Tidak berselang lama setelah Ervan mengatakan hal itu, tubuhnya luruh berikut kesadarannya yang sepenuhnya sudah hilang, membuat Reva mau tak mau juga ikut tertarik ke bawah. Padahal di depan sana, mobil hitam yang dia yakini ada Baza dan Melin di dalamnya sudah terlihat di depan mata.
"Ck. Bukan diam yang seperti ini yang aku maksud," gumamnya pelan.
Di dalam mobil sana, Baza yang masih memeluk tubuh Melin, tiba-tiba melirik ke depan, dan betapa terkejutnya dia mendapati Reva yang tengah kesusahan membawa tubuh Ervan sampai akhirnya mereka berdua terjatuh karena Ervan yang tidak sadarkan diri.
"Ervan ...," gumamnya pelan.
Dengan cepat, dia mengurai pelukannya, mengambil headphone yang menyumpal telinga Melin, bertepatan dengan gadis itu yang akhirnya membuka mata.
"Reva," ucapnya pelan yang masih mampu di dengar dengan baik oleh Melin.
Wanita itu, langsung memelototkan matanya dengan raut yang kembali panik dan cemas, cepat-cepat meremat tangan Baza dengan isyarat mata yang sangat Baza mengerti.
"Di depan, ayo turun," ucapnya kemudian keluar dari mobil meninggalkan Melin yang tengah menatap syok ke arah adiknya dan juga Ervan.
Setelah cukup mampu menenangkan pikiran juga rasa terkejutnya melihat keadaan dua orang di depan sana, Melin dengan cepat membuka pintu mobil dan berlari dengan tergesa, tak peduli dengan pintu mobil yang di buka tanpa kembali di tutup.
"Dia terluka parah?" tanya Baza saat sudah akan mengambil alih tubuh Ervan.
"Haruskah kujawab?" Reva malah balik bertanya dengan nada datar dan dinginnya, menatap Baza dengan tatapan yang Baza tak bisa memprediksi apa maksud dari tatapan itu.
Yang Baza mengerti adalah, wanita ini bukan Reva yang di kenalnya.
"Kupikir kau benar sudah tak punya hati dan membiarkannya mati," ucap Baza seraya mengalungkan tangan Ervan pada bahunya.
"Terimakasih, meski kau harus menghancurkannya lebih dulu," lanjutnya kemudian berjalan menjauh dari Reva, membawa Ervan menuju mobilnya.
Sedangkan Reva di sana hanya diam mematung, memandangi punggung Ervan dan Baza yang semakin jauh dari pandangannya.
Dirinya tersentak, hampir terjungkal ke belakang akibat pelukan tiba-tiba dari seorang wanita yang sudah sangat dia kenal hanya dari baunya saja. Pelukan hangat yang beberapa hari ini hilang darinya. Dan mungkin sekarang akan hilang untuk selamanya.
"Kamu baik-baik aja 'kan Dek? Astaga, Kakak khawatir banget sama kamu ... luka kamu ... ayo ikut mereka, kamu juga harus di obatin. Ayo."
Melin segera menarik pergelangan tangan Reva. Namun Reva bergeming. Bukan tubuh Reva yang bergerak, tangan Reva yang akhirnya malah terlepas dari Melin kala gadis itu tetap mempertahankan posisi tegapnya di sana.
"Dek, ayo! Kamu harus di obatin, Kakak gak mau kamu tambah luka lagi, ayo!" seru Melin panik, kembali meraih pergelangan tangan Reva yang tetap diam di sana.
Reva yang diam membuat Melin ikut terdiam, menelisik jauh pada manik mata Reva seakan bisa menembus indera penglihatan gadis itu pada titik terdalam.
Dan Melin baru menyadari sesuatu di sana. Tatapan Reva, tatapan gadis itu bukan tatapan biasanya yang sering dia lihat. Tatapan itu seperti kosong, seperti hilang dari raganya, seperti tersesat di jurang terdalam di hatinya, mengubur tatapan hangat dan cerah seperti biasanya.
Ada apa dengan adiknya?
"Pergilah dengan mereka, aku akan menyusul," ucapnya dengan nada luar biasa datar.
Perlahan, genggaman Melin terlepas, pandangannya menyiratkan tanda tanya yang begitu besar.
"Dek ...," lirih Melin.
Tak ingin berlama, Reva segera meraih pergelangan tangan Melin, di tarik lembut untuk berjalan menuju mobil Baza yang sedari tadi sudah siap membawa Ervan menuju rumah sakit. Dan salah satunya alasan Reva menarik Melin adalah, hanya supaya Ervan tak segera kehabisan darah karena terlalu lama menunggu mereka berbicara.
Membuka pintu belakang mobil yang di sana sudah di isi oleh Ervan yang tak sadarkan diri.
Melin tak banyak protes. Di kepalanya berputar berbagai pertanyaan beruntun yang membuatnya pusing sehingga sulit untuk sekedar berkata. Hanya memandangi Reva yang kembali menutup pintu mobil setelah membuatnya terduduk di dalam dengan kepala Ervan yang berada di pangkuannya.
Gadis itu bergeser sedikit, lalu merunduk untuk dapat melihat Baza.
"Bawa ke rumah sakit yang di dekat apartment Ervan. Jaga mereka," ucapnya, sekali lagi menoleh pada wajah Ervan yang pucat, sebelum benar-benar melangkah pergi dari sana.
Baza tak ingin banyak berpikir sekarang. Ervan lebih penting dari pada pertanyaannya. Maka begitu tak lagi melihat tubuh Reva, dia segera melajukan kendaraan dengan sesekali akan menengok kaca spion dalam untuk melihat dua orang di belakang sana.
"Kau bisa memikirkannya setelah Ervan aman di rumah sakit, Melin. Perhatikan Ervan dulu, hentikan pendarahan di dadanya," ucap Baza yang melihat Melin hanya melamun, menatap kosong ke depan.
******
Sementara itu di lain tempat, seorang pemuda hanya bisa tersenyum miring menatap tiap potongan adegan di layar besar di depannya.
Dia sudah menduga ini sebelumnya. Dirinya membiarkan Reva berlaku sesuka hati, hanya untuk membiarkan pikiran gadis itu tenang, agar dia merasa Ervan aman jika nanti gadis itu pergi.
"Kuakui, dia memang gadis yang cerdik dan misterius," gumamnya memuji.
Mata tajamnya memicing penuh selidik pada gadis yang kini membereskan barang-barangnya di tempat tadi mereka bertarung.
"Sampai sekarang, aku bahkan tak tau menau tentang siapa sebenarnya gadis ini," Lagi dia bergumam, masih memandang kagum pada sosok itu.
Iya, Zack memang kagum padanya. Gadis cantik yang penuh dengan hal misterius termasuk pada tipenya. Tapi gadis ini sedikit pembangkang, itu yang tidak dia sukai.
"Tak apa. Aku bahkan bisa menjinakkan seekor singa. Jadi, tak ada salahnya mencoba, bukan?" ucapnya lagi.
Sebuah senyum terukir di wajahnya setelah selesai dengan rencana yang tersusun apik di dalam otaknya. Awalnya dia hanya berniat menjadikan Reva sebagai jembatan untuk dirinya membalas dendam pada Ervan, tapi siapa yang sangka jika akhirnya akan seperti ini.
Matanya kemudian beralih pada sosok tangan kanannya yang sudah tak bernyawa. Berdecih pelan, dan berjalan ke arah sosok itu.
"Bawa, dan makamkan dia dengan layak. Dia pantas mendapat penghargaan atas jasa-jasanya padaku," ucap Zack yang langsung di iyakan oleh anak buahnya yang masih tersisa di sana.
"Ck. Sudah sekarat, masih saja membuatku marah," ucap Zack lalu keluar dari markas ruangan itu.
******