Hampir sepuluh menit berlalu, dengan posisi Reva yang berdiri tegak sambil tangannya yang terulur lurus ke depan, dan sebuah pistol yang dia pegang, di arahkan tepat di depan d**a Ervan, meski jarak mereka tak cukup dekat.
Hal itu tak ayal membuat Zack cukup jengah dan kesal. Dia berada di sana, bukan untuk melihat rasa iba Reva yang tiba-tiba muncul karena adanya perasaan pada Ervan. Dia hanya ingin melihat bagaimana tubuh Ervan di hiasi begitu banyak warna merah di beberapa bagian tubuhnya hingga nanti menyebar di bagian tubuh yang lain. Dia suka warna merah itu, terkesan alami.
"Berikan padaku, jika kau tak bisa melakukannya," ucap Zack akhirnya, menadahkan tangan pada Reva.
Perlahan, gadis itu menoleh pada Zack dengan gerakan yang cukup lambat. Tatapan tajamnya cukup mampu merubah suasana di sana. Meski Zack tak memiliki rasa takut padanya, namun Zack tetap mengakui kalau gadis ini akan sama menyeramkannya dengan Ervan.
Zack tau itu, dirinya pernah melihat bagaimana marahnya seorang Reva, ketika dirinya mengancam akan menyakiti Ara, adik dari Melin.
Cukup lama juga Reva menatap Zack, dia kembali mengalihkan tatapan ke depan, pada Ervan.
"Aku tak butuh bantuanmu. Aku bisa menyelesaikannya sendiri," jawabannya setelah itu.
Meski sedikit merasa kesal dengan jawaban itu, Zack tetap mengedikan bahu acuh dan membiarkan apapun yang gadis itu lakukan pada musuhnya.
"Terserah. Lakukan dengan cepat," perintahnya tak mendapat tanggapan apa-apa lagi dari Reva.
Ervan di depan sana, dia masih memasang senyum meski hanya senyum tipis, berikut dengan tubuhnya yang tegak. Tampak pasrah dengan apa yang akan Reva lakukan padanya, sekalipun itu untuk merenggut nyawanya. Ervan siap, selagi Reva yang melakukannya.
Dor!
******
Sesekali, mungkin setiap 5 menit sekali, Baza akan menoleh ke samping, melihat raut gelisah milik Melin yang semakin ke sini bukannya berkurang malah semakin menjadi. Bahkan gadis itu akan meneteskan air mata dan terisak pelan. Maka tugas Baza tak lain tak bukan adalah menepuk pelan punggung Melin, atau sekedar menggenggam tangan gadis itu untuk menenangkannya.
"Aku nggak tau kalau kamu bakal se-patuh ini sama perintah Ervan. Dia dalam bahaya pun kamu masih diam di sini," gumam Melin menatap sinis pada Baza.
"Itu udah kewajiban aku sebagai anak buah. Aku cuma bawahan dia," jawab Baza yang semakin membuat Melin mendidih rasanya.
"Tapi nggak gini juga, Za. Di sana juga ada adek aku. Kamu mau bahayain nyawa Reva?" protes Melin, menghadap pada Baza sepenuhnya.
Tak ada teriakan lagi, menangis membuat suaranya serak dan kerongkongannya sakit.
"'Kan udah aku bilang, Reva bakal selamat kalau sama Ervan. Ervan nggak akan biarin dia kenapa-napa," ucap Baza, sekali lagi meyakinkan Melin.
Mungkin tak bisa di sebut sekali lagi, karena Baza sendiri tidak tau sampai berapa kali dia akan mengulang kalimat yang sama saat Melin juga mengatakan dan menanyakan hal yang sama padanya.
"Tapi ini udah hampir dua jam, Za. Dan mereka juga ga ada yang keluar dari sana. Kalau terjadi apa-apa, gimana? Kita perlu cek ke sana, aku mohon ...," lirih Melin menyatukan kedua telapak tangannya, menatap penuh harap pada Baza.
Baza terdiam, cukup lama menatap Melin hingga akhirnya tatapan dia alihkan pada rumah yang terdapat Zack, Ervan dan Reva di dalamnya.
Tak lama itu berlangsung, sebelum Baza memejamkan matanya kuat, hingga satu tetes air di masing-masing matanya terjatuh begitu saja yang membuat raut Melin berubah. Tangannya yang tadi dia satukan perlahan terlepas dan di jatuhkan ke bawah.
"Kalau kamu sebegini takutnya, apalagi aku yang di dapat amanah buat jagain kamu, dan buat mastiin kalau nanti Reva bakal selamat," ucap Baza memegang kedua bahu Melin, menatap gadis itu lekat seolah apa yang dia katakan terucap jelas di matanya.
Sekali lagi, entah untuk apa, Melin pun tidak tau tujuannya, Baza lagi-lagi menoleh ke arah rumah itu, lalu dengan cepat menoleh padanya lagi.
"Tutup mata kamu sebentar ya?" ucapnya dengan raut yang luar biasa cemas, sampai Melin hanya bisa menuruti tanpa ingin bertanya lebih dulu.
Menutup matanya perlahan, lalu merasakan ada sesuatu terpasang di telinganya, menghalangi semua saluran suara luar untuk masuk ke telinganya. Dan tak lama, dua tangan yang begitu lembut merengkuhnya untuk masuk ke dalam dekapan hangat pemuda yang ada di depan kemudi. Memeluknya erat dengan tangan bergetar.
Dialah Baza. Si pemuda pembawa mood ceria yang seringnya merasa kesal dan marah akan tingkah jahil sang sahabat padanya, sekarang dirinya akhirnya merasakan rasa khawatir yang sangat pada Ervan yang berada di dalam sana.
Jika Melin baru merasakan panik saat mendapat kabar bahwa Reva di culik, Baza sudah lebih dulu panik saat Ervan mengatakan akan merelakan dirinya di bunuh oleh Reva, oleh gadis yang sangat di cintai sahabatnya itu.
Sampai saat ini, tak ada yang bisa merasakan khawatir seperti apa yang Baza tengah rasakan saat ini. Seberapa besar rasa cemas Melin, akan kalah oleh rasa cemas Baza saat ini.
Apa lagi yang lebih menyedihkan saat kau sendiri tau kapan orang yang kau sayangi akan tiada. Tak ada yang lebih menyakitkan dari itu. Siapapun pasti tidak akan mau hal itu terjadi, tidak seperti Baza yang setiap hari sudah berharap bahwa apa yang Ervan katakan itu salah, kini malah terbukti kebenarannya. Dan detik-detik itu terasa sangat menyesakkan baginya.
Sampai tak tertahan lagi tangisnya kala suara tembakan begitu besar terdengar dari rumah itu. Zack memang pandai mengatur timing yang tepat, kapan fungsi kedap suara di rumah tersebut harus di hilangkan, dan kapan harus di pasang.
Yang menjadi harapannya saat ini adalah, dia berharap masih ada waktu untuknya menyelamatkan Ervan nantinya.
******
Begitu bunyi keras yang khas itu berbunyi, menyatu dengan udara, bahu kiri Ervan sedikit tertarik ke belakang saking kuat dorongan dari peluru yang berhasil menembus kulit dadanya dan kini bersarang di sana. Menciptakan cipratan dan lelehan merah yang jelas di sana.
Tangan kanannya perlahan naik, merambat dan merasakan cairan kental itu memang ada di sana, bukan hayalannya.
Memejamkan mata sekali lagi, Ervan meresapi bagaimana rasa sakit itu mendera dan menjalar begitu cepat dari d**a ke seluruh tubuhnya, sampai membuat kakinya kembali melemah untuk sekedar menjadi penopang berat badannya.
Karena memang tak lama, kaki itu mulai kehilangan fungsi, membuat tubuhnya yang beridiri terjatuh. Meski tidak se-lemah itu untuk langsung terguling dan terkapar lemah di lantai.
Dalam posisi yang seperti seorang pemuda yang ingin melamar kekasihnya, dalam konsep yang berbeda dengan satu tangan menyentuh d**a menahan cairan itu keluar semakin deras, dan satu lagi menjadi penumpu di lantai dingin itu.
Terdengar nyaring di telinganya, tawa puas Zack yang mengalun di sana. Tentu, apa yang dia impikan selama ini telah terwujud, apalagi yang lebih menyenangkan daripada itu olehnya.
"Akhirnya! Akhirnya Ervan! Kau! Kau akhirnya berada jauh di bawahku! Kau merasakannya sekarang? Kau tak berdaya, Ervan. Bahkan untuk berdiri saja, kau tidak bisa! Kau lemah Ervan! Lemah!" Tawa Zack kembali terdengar, meninggikan volume tawanya dari pada yang tadi.
Cukup lama sebelum Zack akhirnya menghentikan tawanya, tubuhnya di buat lebih rendah, untuk merunduk menyamakan dirinya dengan tinggi Ervan.
"Kau pergilah Reva, aku yang akan mengurusnya," ucap Zack dengan tatapan yang terus terfokus pada Ervan yang sedari tadi tak melepaskan pandangannya dari Reva.
"Kau ingin membawanya ke markasmu bukan? Aku yang akan membawanya, kau pergi saja," jawab Reva membuat Zack dengan cepat menoleh dengan tatapan tajamnya, seakan sama sekali tak menaruh percaya pada gadis itu.
"Kau ingin mengelabuiku?" tanya Zack masih mempertahankan posisi di bawah sana.
"Pikir saja. Apa aku akan menggagalkan recanaku sendiri?" jawabnya juga tak sekalipun berniat menatap Zack.
Itu cukup meyakinkan. Maka Zack hanya mengedikan bahunya acuh lalu berdiri, menatap Reva dengan satu tangan dia simpan di dalam saku.
"Apa aku bisa memegang--"
"Perlu kuulang sampai berapa kali?" tanya Reva cepat memotong ucapan Zack, begitu dia menolehkan kepala.
Raut marahnya masih terlihat, dan Zack masih ingat saat dirinya mengatakan kalau gadis ini cukup sadis jika sedang marah. Maka tak ada pilihan untuk dirinya mengangguk maklum, gadis ini yang berperan besar dalam rencana ini, jadi dia rasa, itu tak apa selagi juga menguntungkan baginya.
"Baiklah, kupercayakan padamu," ucapnya lalu kembali menatap Ervan dengan senyum remeh miliknya.
"Ck. Lemah!" cemoohnya sekali lagi sebelum beranjak dari sana, untuk pergi dan kembali ke markasnya.
"Kurasa kau belum puas. Silahkan lakukan sesukamu. Bukankah ini yang kau inginkan sampai kau membuat rencana seperti ini," ucap Ervan menyempatkan diri untuk terkekeh pelan sambil meringis menahan denyut nyeri pada bekas tembakan itu.
Tak menjawab apa-apa, Reva berjalan mendekat ke arah Ervan dan berjongkok di depan pemuda itu
"Ayo pergi dari sini," ucapnya.
Mendengar itu, otomatis Ervan menegakkan kepala secara perlahan. Menatap tepat pada manik mata Reva, kemudian kembali terkekeh pelan.
"Kenapa? Kau ingin menyiksaku lebih lama? Tak usah berlama-lama, jika ingin membunuhku, langsung saja bunuh aku," jawabnya sekali lagi.
Tak mendengarkan ucapan itu, Reva langsung meraih satu tangan Ervan untuk di tarik pelan lalu di kalungkan pada lehernya, berikut satu tangannya melingkar di pinggang Ervan, untuk menahan beban pemuda ini.
"Jangan banyak bicara," ucapnya saat tau Ervan kembali ingin mengatakan sesuatu.
"Kenapa kau begini Reva? Apa kau mengurungkan niatmu untuk menghabisiku? Ada apa? Kau ingin menyakiti hatiku seberapa jauh lagi?"
Ervan terus melontar pertanyaan sembari Reva mengatur posisi mereka agar tidak berakhir terjatuh.
"Lepaskan aku Reva. Kau suda bersikap seenakmu padaku, setidaknya beri penjelasan," ucap Ervan lagi.
Ervan terus memberontak dalam keadaannya yang lemah. Bibir dan wajah pemuda itu sudah pucat pasih, serta darah yang keluar dengan deras dari d**a.
"Tak bisakah kau hanya diam saja? Kau tak lihat kondisimu?" ucap Reva tersirat nada khawatir di sana.
"Kalaupun aku mati, apa pedulimu, Reva? Kau sendiri yang membuat keadaan menjadi seperti ini," ucap Ervan.
"Aku tak punya banyak waktu untuk menjelaskannya. Ikut aku dan tutup saja mulutmu itu," perintah Reva, kembali menuntun Ervan menuju pintu keluar.
*****