Terhitung tiga puluh menit yang lalu. Reva dan Devin duduk berdiam diri di cafe seberang perusahaan. Tepat saat Devin sadarkan diri, Reva langsung menyapanya membuat Devin terdiam cukup lama lalu tersenyum setelahnya. Niat hati ingin kembali membawa gadis itu dalam pelukannya, namun menyadari atensi Ervan yang menatapnya dari bankar sebelah, membuatnya urung. Entahlah, jiwa kompetisinya mendadak hilang setelah mengetahui betapa berharganya seorang Ervan bagi gadis yang dicintainya itu. Maka saat Reva memintanya untuk bicara berdua di cafe ini, dia hanya menyetujui. Rasanya memalukan jika mengingat bahwa dirinya seperti ini karena urusan hati. Hah! Tak akan lagi dia cemooh siapapun yang sedang berada diposisinya saat ini. Kini dia merasakan, patah hati memang tak se-sederhana yang orang p

