How You Dare

977 Words
Pemandangan pertama yang Ervan lihat adalah belanjaan Reva yang jatuh berantakan, begitu juga dengan pintu apartment yang sedikit terbuka. Tidak. Reva sudah berjanji kalau dia tidak akan meninggalkannya. Reva tidak mungkin ingkar janji. Gadis itu tidak seperti itu. Apa sekarang Reva sedang mengerjainya? "Reva! Kamu jangan becanda, ini gak lucu!" teriak Ervan di dalam kamar gadis itu. Berpikir positif kalau gadisnya sedang mandi. Sedang asik berteriak mencari Reva, tiba-tiba terdengar suara nyaring dari ponselnya. Suara notifikasi khusus bagi anggotanya. Segera di ambil ponsel yang ada di dalam saku celananya, langsung di tempel pada daun telinga kala panggilan itu dia terima. "KE MANA REVA?!" bentaknya marah membuat takut orang di seberang sana. "B-Bos ... kami kehilangan jejak," cicit anak buahnya membuat Ervan tanpa sadar meremat kuat ponsel yang dia genggam. Melampiaskan kemarahannya. "BODOH! PERCUMA SAYA MEMPEKERJAKAN KALIAN! DASAR TIDAK BECUS!" maki Ervan dengan teriakan kemarahan. Tidak, sebenarnya makian itu tidak hanya dia tujukan pada anak buahnya, tapi juga untuk dirinya sendiri. Dialah yang lebih bodoh di sini, dia yang lebih gagal menjaga Reva agar terhindar dari jangkauan Zack. Tapi yang terjadi adalah mereka yang terjebak. "CARI REVA SEKARANG! SAYA BUNUH KALIAN KALAU SAMPAI TIDAK KETEMU!" teriak Ervan lagi. Prang! Ponsel mahal itu sudah tak berbentuk kala sekuat tenaga Ervan melemparnya mengenai dinding kamar Reva. "Kurang ajar!" Kacau dan berantakan. Semua yang ada di dalam kamar Reva, yang dia sendiri yang menatanya, sudah berantakan dan hancur tak berbentuk. Berjalan ke luar kamar, Ervan dengan aura gelapnya menyambar jaket kulit berwarna hitam miliknya, juga dengan cepat berganti pakaian, tak lupa menyiapkan beberapa senjata di sekitar pakaianya. "Cari mati!" marahnya tergesa memasukkan peluru pada pistol miliknya. Baru saja langkahnya akan keluar dari kamarnya, satu lagi suara melengking keluar dari ponsel Reva yang ternyata tergeletak di bawah meja dekat sofa. Segera dia berjalan ke sana, mengambil ponsel tersebut. Ada telfon, namun tak tertera nama penelfon di sana. "BRENGS*EK!" teriak Ervan marah begitu ponsel di tempel pada telinganya. Suara tawa mengalun di seberang sana usai Ervan mengumpat. Tampak bahagia dengan keberhasilannya memancing kemarahan seorang Ervan. "Jangan berteriak begitu, kau merusak gendang telingaku," balasnya santai menimbulkan bunyi gemeletuk di gigi Ervan. "Kembalikan.Reva!" ucapnya tajam dan mutlak. Aura pemimpin mafia itu memang bukan main kuatnya. Ponsel yang di taruh di tas meja dalam keadaan speaker aktif, membuat anak buahnya yang ada di dalam ruangan itu ikut mendengarnya. Dan si*alnya, mereka juga merasakan gidik ngeri kala musuh dari ketua mereka itu mengeluarkan aura gelap yang sangat kentara. "Hey hey, santai saja. Kenapa terburu-buru seperti itu? Baiknya kita mulai dari mana?" Masih berujar santai, tak mempedulikan urat leher sang musuh sudah tampak karena marah. "Jangan main-main kau Zack. Lecet sedikit saja dia, aku janjikan nyawamu akan melayang!" Ancaman serius dari Ervan di anggap angin lalu oleh Zack. Tersenyum remeh dan mendecih pelan. Baginya sekarang, Ervan tidak akan berani bertindak lebih jauh selama gadis itu ada padanya. Dan itulah yang dia inginkan selama ini. Ervan, si angkuh itu takluk olehnya. "Ingatlah, dude. Kau yang memulainya. Kau membunuh ayahku, dan merendahkanku di markasku sendiri. Itu sudah cukup sebagai ajakan perang bagiku," ucap Zack mulai pada mode serius di wajahnya, membuat suasana mencekam semakin terasa. "Kau yang lebih dulu menghabisi adikku, sial*an!" "Aku tak pernah membunuhnya, kepar*at!" balas Zack cepat, ikut berteriak marah dengan rahang mengeras. "Sekarang, kau harus membayarnya. Kau juga harus merasakan kehilangan orang yang kau sayang," ucap Zack lagi. Nada bicaranya tak lagi tinggi, tertinggal nada sinis di sana. Dirinya kemudian duduk dengan angkuh di kursi kebesarannya, mengambil gelas wine yang dia seruput perlahan, ala-ala bos besar yang berhasil merebut saham perusahaan keluarganya. "Jadi, pergunakan waktumu untuk menyelamatkannya." Di seruput lagi minuman menyengat barwarna sedikit ke emasan itu. Tampak sengaja menjeda ucapannya. "Jika kau bisa," lanjutnya kemudian tawa menggelegar berderai di dalam ruangan itu. Memantulkan gema yang cukup seram di dengar. ° ° "Reva di culik, brengs*ek!" Rasanya petir langsung menyambar tepat ke ulu hatinya saat mendengar teriakan Ervan di seberang sana. "Lacak jam tangan yang ada pada Reva, Baza! Saya tidak mau tau, dalam lima menit, saya sudah mendapat posisinya!" tegas Ervan yang setelah itu langsung memutuskan sambungan teleponnya. Ponsel masih di telinga Baza, namun matanya tak lepas dari sosok Melin yang kini tengah meneteskan air mata meski matanya tak berkedip. Di sentuhnya bahu Melin, terlewat lembut sampai Baza harus sedikit meremat bahu itu untuk membawa Melin untuk menatapnya. "Kita bakal selamatin Reva. Percaya sama Ervan, dia gak mungkin biarin Reva dalam bahaya," ucapnya meyakinkan. Tatapan Baza kemudian beralih pada Jio yang menatap mereka berdua dengan tatapan bingung nan polosnya. Melin benar kalau tidak mungkin meninggalkan Jio di sana, tapi lebih tak mungkin lagi rasanya membawa anak kecil ini terlibat dalam urusan mereka. "Kita bawa Jio ke markas dulu, di sini gak aman. Ayo," ucap Baza berjalan di ikuti Melin di belakangnya yang memegang erat tangan Jio. Meski hatinya cemas tak tergambarkan, pikirannya harus tetap tenang untuk sang adik. Dia tak ingin gegabah yang nantinya malah semakin memperburuk keadaan. "Udah dapat lokasinya?" tanya Melin dari belakang, sementara Baza masih sibuk memperhatikan ipad di tangannya dengan sesekali menoleh ke depan untuk melihat jalan. "Udah. Udah aku share sama Ervan. Sekarang ayo, kita amanin Jio dulu," ucap Baza mengambil alih Jio dan membawa anak itu dalam gendongan, serta satu tangannya kemudian menggenggam tangan Melin untuk di bawa berjalan lebih cepat. "Kasih tau aku lokasinya sekarang. Aku bakal susul Ervan dan kamu bawa Jio," ucap Melin tak menyurutkan langkah teratur milik Baza. "Kita bakal selamatin Reva bareng-bareng, oke? Percaya sama aku kalau Ervan masih bisa tanganin ini," ucap Baza kemudian membuka pintu penumpang pada mobil yang sudah disiapkan oleh anak buahnya. Baru saja ingin menutup pintu mobil, Baza kembali membukanya sedikit. Merundukkan tubuh agar terlihat oleh Melin yang mendongak padanya. "Jangan gunain rasa khawatir kamu. Pake kemampuan kamu waktu mimpin anggota waktu itu," ucap Baza kemudian menutup pintu itu dan mengitari mobil untuk dapat duduk di depan kemudi. ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD