Brakk!!
Itu tadi gabungan dari kekuatan setan dan iblis yang terkuat. Bayangkan saja, pintu besar itu sebelahnya telah lepas dari tempatnya, menghempas ke lantai dengan tak ada kata lembut di dalamnya membuat suara yang cukup kuat dan nyaring di dengar oleh semua anggota yang ada di setiap sudut markas besar itu.
Tatapan tajam bak anak panah yang siap melesat menembus jantung sang lawan, menyapu seluruh ruangan yang tampak oleh atensinya. Sedangkan para anggota musuh yang berdiri di depannya, hanya diam memasang posisi siaga dengan tangan siap pada senjata masing-masing, meski Ervan dapat melihat getar takut pada kaki dan tangan mereka.
Dalam hati, Ervan sempat mendecih, meremehkan si prajurit lawannya ini. Boleh saja badan mereka tegap di penuhi otot yang sudah pasti kuat, tapi baru melihatpintu yang di rusak olehnya saja sudah sebegitu takutnya.
Tatapan Ervan terkunci pada seseorang yang berdiri di lantai dua markas megah itu. Orang itu menyunggingkan senyum miring yang Ervan anggap sebagai senyum terakhir yang pemuda itu dapat sunggingkan.
Melangkah tanpa ragu, tanpa pikir panjang dan tanpa peduli kini semua senjata mengarah padanya. Langkahnya sama sekali tak gentar, tak ada kilatan takut, yang ada hanya tatapannya yang terkunci pada pemuda tadi yang sudah berbalik, pergi dari sana.
"HABISI MEREKA SEMUA!!" Suara bariton itu menggema di seluruh ruangan, berikut dengan anggotanya yang tiba-tiba muncul dari segala arah di markas itu, langsung melaksanakan perintah tanpa ingin membantah.
"Tinggalkan bajing*an itu untukku. Dia mangsaku," ucapnya pelan dengan rahang semakin mengetat.
Tumpahan darah di mana-mana. Seketika, hanya dalam hitungan detik, markas yang tadinya rapi dan bersih, dengan lantai putih serta cat dinding berwarna cream, berubah warna menjadi merah. Hanya saja sangat di sayangkan merah kali ini lebih alami, lebih pekat, dan lebih menyengat.
Salah satu kenapa Ervan bisa menjadi pemimpin dunia gelap itu berada pada urutan nomor satu di dunia, yang katanya berhasil menggeser posisi mafia terdahulu, karena kekuatan anggotanya yang tak boleh di pandang sebelah mata. Di belahan dunia, anggota Ervan tersebar dan tak ada yang kuatnya melebihi mereka.
Tentu, Ervan tak tanggung-tanggung memberi pelatihan. Lebih keras di banding mengikuti pelatihan militer sekalipun.
Langkah santai namun tegas milik Ervan terus menapaki udakan tangga, tak lepas menatap pria yang baru saja menghilang di sebalik pintu yang Ervan tidak tau itu pintu apa. Namun yang jelas, hari ini, entah sekarang atau sebentar lagi, pemuda itu tak akan lagi bisa membuat kejahatan lebih banyak.
"Orang-orang seperti kalian memang tidak baik di beri kesempatan dan di beri hati," gumamnya seraya terus berjalan.
Kakinya berjalan seirama dan beraturan, pun tangannya yang bekerja membuat cairan yang ada di sebuah botol kecil itu tersedot masuk ke dalam sebuah suntikan yang dia bawa.
Racun.
Murni racun dari ular paling berbisa.
Jangan pernah bertanya di mana dan bagaimana Ervan mendapatkannya, itu pertanyaan yang tidak patut di pertanyakan kepada seorang ketua mafia sepertinya.
"Harusnya kalian sudah kumusnahkan dari dulu," gumamnya lagi seraya menendang kasar pintu di depannya.
Berdiri di ambang pintu, bibirnya menyunggingkan senyum seram kala kedua matanya mendapati pemuda itu sudah bertekuk lutut di lantai dengan beberapa lebam di sekitar wajahnya.
"Kau pikir dunia ini berpihak padamu?" tanya Ervan seraya berjalan mendekat.
Langkahnya terhenti saat berada tepat di depan pemuda itu.
"Aarrghh ...!"
Luka sayat di pahanya semakin perih dan sakit terasa. Sengaja, dia yakin Ervn debgan sengaja menggesek kasar telapak sepatunya pada permukaan kulitnya yang tak dalam keadaan baik.
Tetes si merah semakin banyak per detiknya. Tentu saja, beban seluruh tubuh Ervan seperti hanya berada pada satu kakinya yang di tekan pada paha.
"Gio ... Gio. Ternyata kau begitu bodoh. Kau berpiki semudah itu untuk lari dariku? Kau pikir semudah itu mengalahkanku?" tanyanya dengan nada pelan.
Tak ingin membuang banyak waktu lagi, Ervan mengapit kuat rahang Gio membuat Gio mendongak menatap mata tajamnya.
"Katakan dengan cepat, Zack yang membunuh adikku?" tanyanya dengan nada yang semakin rendah, di ikuti tekanan kaki yang membuat pemuda ini semakin meringis sakit.
Tak ada jawaban.
"Kau cukup berani," nilainya lalu menadahkan tangannya pada anak buahnya. Lagi-lagi sebuah kode yang untung saja di anggota dapat menangkap dengan cepat. Dan kini,, sebuah belati sudah berada di genggamannya.
Tanpa ragu, ujungnya yang tajam langsung menenbus jaringan epidermis Gio yang langsung saja membuat sang empunya menjerit sakit.
"Katakan dengan cepat, kubilang. Apa perlu telingamu yang kusumpal menggunakan belati lain?" tanyanya santai membuat gelengan samar di kepala Gio terlihat.
Ini benar-benar di luar rencananya. Dalam rencana yang dia dan Zack susun dengan sangat baik dan rapi, hancur sudah. Tak pernah berpikir bagaimana caranya para anggota musuh dapat dengan mudah masuk ke dalam ruangannya.
"Ti-tidak," jawabnya terbata.
Ervan terdiam sejenak. Tidak? Sebenarnya itu adalah jawaban yang dia inginkan dari dulu, alasannya karena untuk menghindari perseteruan yang sudah tidak sehat ini. Tapi untuk sekarang, di mana si musuh yang sudah berani melibatkan gadisnya, dia akan mempertimbangkan jawaban itu.
Namun bukan itu yang membuatnya terdiam. Ingatan akan masa lalunya yang membuatnya berpikir.
"Tidak, ya?" tanyanya membeo.
Di lepaskan kakinya dari Gio, membuat pemuda itu mendesah lega.
Menyugar rambutnya ke belakang lalu terkekeh pelan. Jika dilihat dari sisi oandang seorang gadis, mereka akan menjerit senang melihatnya. Tapi untuk situasi saat ini, dalam pandangan anak buahnya, apa pun yang Ervan lakukan terlalu menyeramkan. Tak terdapat kesan tampan dalam artian sebenarnya di sana.
"Jadi, kau orangnya?" tanyanya dengan nada rendah.
Emosi yang sedari tadi berhasil dia kunci dalam diri, kini beranjang naik, kembali lagi pada tingkat puncak.
"Kau yang mengarang cerita tentang kematian adikku? KAU ORANGNYA?!" teriaknya tepat di depan wajah Gio.
Tak lagi bisa dideskripsikan bagaimana kencang degup jantung Gio, bagaimana kuat getar takut pada dirinya, betapa sulit untuk Gio hanya sekedar menatap tepat pada manik Si pemimpin kejam di depannya ini.
"JAWAB BAJING*AN!"
Bugh!
Gio tersungkur ke belakang, memegang dadanya yang berdenyut sakit menerima tendangan kuat dari Ervan. Belum lagi belati yang masih setia tertancap di bahu kanannya.
"Arrgghh ...!"
Lagi, Gio terpekik, mengerang sakit saat pasokan udara terasa menyempit pada rongga dadanya. Juga sakit yang rasanya meremukkan tulang dadanya. Tangan Gio berpegang pada kaki sosok lelaki tinggi di atasnya, berusaha keras melepas kaki itu dari atas dadanya.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Ervan lagi semakin menekan kuat d**a Gio.
"Uhuk! Uhuk!"
Tak ada jawaban lain selain Gio yang terbatuk dan terus mengerang sakit, membuat Ervan semakin menggeram marah.
Ervan berjongkok, tepat di depan Gio yang nyawanya sudah seperti di ambang batas, lalu mengambil sesuatu di saku jaketnya
"Kau mau menjawab atau kuhabisi sekarang juga?" tanya Ervan memberi tawaran disertai tatapan mengancam dari mata tajamnya.
Dan sayang sekali rasanya, Gio malah memilih tetap bungkam membuat Ervan kehabisan rasa sabar yang memang sejak awal sudah menipis.
"Kesabaranku tidak sebanyak itu," gumamnya.
Tangannya tergerak mengapit mulut Gio agar terbuka, meski tetap terdapat paksaan kala Gio memberontak.
Dan jeritan sakit Gio hanya bisa tertahan kala jarum kecil nan tajam itu berhasil menyalurkan cairan ke dalam mulut Gio, lewat organ mulut gio yang terjulur.
"Sial*an!" umpatnya marah.
******