Mobil yang Ervan kendarai kini seperti dirasuki setan. Membelah jalanan dalam hitungan detik perkilometernya. Tak ada alasan lebih dari selain dia yang hanya ingin cepat sampai di tempat Zack yang menyembunyikan Reva.
Ada pertanyaan lain yang timbul, untuk apa dirinya pergi ke markas Zack jika tau Zack tak ada di sana? Jawabannya hanya Ervan yang tau. Yang jelas, dia hanya ingin memastikan sesuatu, memperjelas semua yang buram selama ini. Yaa, sadar dirinya akan keterlambatan dalam memperjelasnya, tapi tak apa, Ervan bukan orang yang akan menyesal hanya karena terlambat dalam berbuat.
Atau mungkin belum. Selama gadisnya masih aman karena itu, maka rasa sesal tak akan dia rasakan.
"Amankan tempat itu. Aku yang akan menghadapi Zack sendiri," ucap Ervan cepat dengan pandangan tak lepas dari jalanan depan.
Melin yang mendengarnya dari earpiece milik Baza, langsung mengernyit tak suka.
"Nggak bisa--"
"Kau dengan itu Baza?!" potong Ervan cepat dengan nada tegasnya membuat Melin urung merampungkan kata-katanya.
"Akan saya lakukan, Bos!" jawab Baza juga dengan nada tegas.
Melin menoleh, menatap penuh tanya pada Baza yang kini kembali sibuk mengendalikan kemudi.
Tatapan Melin mendatar. Wajah tanpa ekspresi itu kembali tampak, kemudian di alihkan tatapannya menatap lurus ke depan sana.
"Saya tidak setuju," ucapnya tiba-tiba.
Baza menoleh, dan menghela nafas pelan, tak menanggapi ucapan Melin, meski tau betul apa yang gadis itu maksud.
"Dia adik saya dan saya berhak atas keselamatannya." Melin tak merubah posisinya sama sekali.
"Cobalah untuk mengerti, Melin. Ini bukan situasi di mana kau dapat memimpin," jawab Baza setelah lama pemuda itu terdiam.
Terpaksa. Baza hanya tak ingin lebih banyak lagi yang terlibat dalam urusan mereka. Dia tau bagaimana kemampuan Melin, hampir sama dengan dirinya. Tapi bukan berarti mereka dengan mudah mengizinkan Melin untuk turun tangan dalam bahaya. Banyak hal yang mereka pertimbangkan untuk itu.
"Kau meragukan saya?" tanya Melin menoleh dengan tatapan tajamnya.
"Saya yang meragukanmu." Bukan Baza, namun Ervan yang menjawabnya.
"Hanya karena kau pernah memimpin anggotamu di Tim Alpha, bukan berarti kau juga bisa ikut serta dalam hal ini. Saya pemimpin di sini jika kau lupa. Dan apapun menyangkut Reva, itu adalah urusan saya," ucapnya membuat Melin bungkam.
Dia tau posisinya. Dia tau betul bagaimana sekarang Ervan adalah orang yang berdiri paling depan untuk adiknya. Tapi apakah salah jika dia juga ikut berperan di sana?
"Sekali lagi, cobalah untuk mengerti situasi ini, Melin."
Kepalanya yang tadi tertunduk, perlahan dia angkat untuk menoleh pada Baza yang masih menatap lurus jalanan sana. Melin pernah bertanya pada dirinya sendiri, memangnya apa yang di dapat dengan menjadi anggota kelompok mafia? Dan akhirnya terjawab. Selain kesenangan, ternyata bahaya tak pernah hilang dari pandangan.
"Bersihkan mereka semua!"
Melin tersentak dari lamunan saat Baza memberi perintah dengan nada tegas pada anak buahnya.
Tak lama, ada beberapa mobil hitam lainnya ikut bergabung dengan mereka. Itu anggota Ervan. Dan satu lagi mobil mewah berwarna hitam. Itu mobil Ervan.
"Jangan keras kepala, Melin." Baza dengan sigap menahan pergerakan Melin yang hendak turun dari mobil itu.
"Ervan tidak sebaik yang kau pikir. Jadi, turuti saja. Sejauh ini, apa yang dia perintahkan, itu adalah jalan terbaiknya," lanjutnya lagi tak sekalipun menatap Melin yang menatapnya dari samping.
Di depan sana, Ervan turun dari mobilnya, berjalan penuh amarah melewati anggotanya yang dengan brutal membersihkan anggota lawan.
Di kepalnya kuat ke dua tangannya, beriringan dengan rahangnya yang semakin mengetat.
Pintu di depannya sudah terbuka, seakan memang sengaja di buka untuk dirinya bisa leluasa masuk tanpa harus merusaknya.
"ZACK!"
Percaya atau tidak, Melin yang masih berada di dalam mobil memperhatikan kondisi di luar sana, terkejut hanya karena gema dari suara Ervan yang luar biasa seram di pendengaran.
Pertama kali dia mendengarnya, pertama kali dia menyaksikan sendiri, aura marah dari seorang ketua mafia.
Itu mengerikan, sungguh.
Ervan mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Menelisik setiap inci yang ada di sana, sambil menerka di mana instingnya akan menaruh curiga kuat pada salah satu ruangan yang di dalamnya terdapat Reva.
Maka, pada saat mata elangnya terkunci pada satu ruangan tepat berhadapan pada pintu masuk, Ervan langsung menarik belati dari dalam sepatu yang dia kenakan.
Jleb!
Tepat. Belati itu menancap tepat pada pintu tersebut, membuat pintu yang memang tidak di tutup rapat terbuka walaupun tidak terlalu lebar.
Tak ada kata ragu bagi Ervan untuk segera berjalan cepat ke depan sana, tepat pada pintu masuk yang di dalamnya terdengar suara tawa juga tepuk tangan dari si musuh. Dia hapal semua yang ada pada musuhnya, suara tepuk tangannya sekalipun.
"Wah wah ... hanya butuh waktu ...." Ucapan itu menggantung seraya Zack melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Dua jam lebih, woah! Aku perlu memberimu tepuk tangan untuk ini," ucapnya semangat seraya dirinya berdiri dari duduknya.
Sedangkan Ervan, tangannya tak tahan lagi ingin mencabik-cabik organ dalam dari orang yang tertawa puas di depannya saat ini.
"Cukupkan omong kosongmu, bajing*an! Di mana Reva?!" teriaknya marah.
Urat-urat lehernya bahkan timbul saking kuatnya dia menahan emosi. Setidaknya teriakkan pada musuhnya yang satu itu untuk tidak bermain-main dengannya saat ini, hanya untuk saat ini.
"Kau ini. Kenapa mulutmu itu kotor sekali? Bukankah di telfon sudah kubilang jangan berteriak padaku?" ucap Zack dengan senyum miring yang terpatri di bibirnya.
Tak ingin lebih banyak membuang tenaga, tak ingin banyak berdebat, tak ingin melihat wajah Zack lebih lama, Ervan membuang nafas kasar.
Tatapan datarnya juga raut tanpa ekspresinya mengubah semua suasana di sana. Tak lepas mata itu menatap Zack intens, selagi tangannya bekerja melepas sarung tangan yang dia pakai.
Berlanjut pada jaket yang dia pakai, tentu para senjata yang bersembunyi di jaket tersebut ikut teronggok di lantai sana saat Ervan melepasnya.
Menyisakan kaos hitam berlengan pendek di tubuh, dengan bawahan masih sama seperti awal, Ervan menekuk tangan di pinggang, membuat biceps di lengan itu tampak semakin jelas.
"Katakan apa maumu sekarang juga. Aku sudah menuruti permintaanmu untuk datang ke sini, lalu sekarang apa?" tanya Ervan, tampak menyerahkan apa yang akan terjadi nantinya pada Zack.
Zack mengernyit awalnya, namun berusaha tak mau ambil pusing, dengan kemudian seringai timbul di wajah tampannya. Tampak puas dengan ucapan Ervan.
"Gampang saja. Sangat sederhana. Berikan kuasa kelompokmu padaku, dan akui kalau kau adalah pembunuh ayahku," ucapnya menyampaikan apa yang dia inginkan.
Rahang Ervan kembali mengetat. Kelompoknya adalah keluarga tersendiri baginya, namun itu tak lebih berharga dari pada Reva. Namun untuk mengakui kesalahan yang sama sekali tidak dia perbuat, itu tidak bisa di lakukan. Itu harga dirinya. Namun, keselamatan Reva membuatnya berpikir berkali-kali untuk mempertimbangkannya.
"Kau tampak ragu. Baiklah, akan kubuat keraguanmu itu hilang," ucap Zack mengambil alih kesadaran Ervan untuk terpusat padanya.
"Ah ya, sebelum itu, kau bisa berbalik. Bukankah kau mencarinya sejak tadi?" ucapnya lagi membuat Ervan dengan perlahan berbalik badan.
Di sudut ruangan di belakangnya, ada seorang gadis yang tengah meringkuk dengan kedua kaki dan tangannya yang di ikat ke belakang, juga mulutnya yang di sumpal kain, tak lupa dengan luka yang terdapat di sekujur tubuhnya.
Tak tergambarkan lagi rasa amarah Ervan saat ini, menuruti kehendak si musuh berharap Reva tetap aman selama dirinya tak berbuat aneh yang akan membuat Zack melakukan hal yang tidak dia inginkan pada Reva. Namun yang dia temui sekarang, Reva yang bisa di katakan berada di ujung hidupnya dengan nafas yang hanya sesekali keluar dari hidungnya.
"Kau!"
Prok! Prok!
Zack memotong ucapan Ervan saat kedua telapak tangannya bergesekan satu sama lain menimbulkan bunyi yang khas.
Dapat Ervan lihat, seorang anak buah Zack datang membawa sebuah ember berisi air.
Ervan memelotot kaget bercampur marah dan emosi.
Itu air panas.
"Apa itu sudah cukup menghilangkan rasa ragumu?" Suara Zack kembali mengganggu di telinganya.
Pemuda itu dengan sengaja memancing kemarahannya dan menyulut emosinya. Tak pernah dirinya merasa amarah ini pada seseorang sebelumnya, termasuk pada saat kematian adiknya.
"Jauhkan itu dari Reva," ucapnya kemudian.
Tak ada pergerakan dari anak buah musuhnya, masih bertahan di posisi yang sama dengan ember itu tak lepas dari tangannya.
"Kubilang jauhkan!" teriak Ervan selanjutnya membuat pemuda itu sedikit mengambil langkah takut saat mendengar teriakan yang tidak terlalu mencolok.
Pemuda itu menoleh pada Zack. Dari tempatnya berdiri, dari tempatnya Ervan, Zack menyuruh agar pemuda itu mengikuti perintahnya, meletakkan ember itu menjauh dari mereka.
Jleb!
Tepat stelah pemuda itu melepaskan si air, belati milik Ervan sudah lebih dulu menyapa organ dalam pemuda itu. Tetancap tajam seolah sangat menantang, membuat anak buah Zack yang satu itu tumbang tanpa sisa nyawa.
******