"Ini sudah terlalu lama, Baza! Kita tidak bisa diam saja!"
Kesal. Dirinya kesal sekali, bercampur marah. Mereka ada di sana sebenarnya untuk apa? Hanya untuk menonton rumah yang menjadi tempat penculikan adiknya? Begitu? Tanpa melakukan hal yang setidaknya menolong? Arrgghh! Sial*an!
"Kita diam, itu sudah sangat membantu, Melin. Selama tidak ada perintah dari Ervan, maka kita akan di sini," jawab pria di sampingnya tak kalas tegas dengan teriakannya barusan.
"Sampai kapan Baza!" teriaknya lagi.
Anggota Ervan sudah memberantas habis anak buah Zack yang berjaga di rumah itu. Sempat terkejut melihat kebringasan anggota mafia itu, tapi lelaki di sampingnya dengan santai berkata "Tidak perlu merasa heran, ini Mafia yang di pimpin Ervan." Dan setelah dirinya pikir, iya juga. Untuk apa lagi terkejut, hal ini pasti sudah di duga oleh orang yang memang mengenal mereka, menduga sedari awal bahwa kelompok mafia itu tidak akan kalah.
"Sampai kapan hanya diam seperti ini? Kau tidak berada di posisiku, kau tak tau bagaimana cemasnya aku saat ini ...," lirih Melin menunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Baza tertegun. Dirinya masih menatap gadis rapuh di sampingnya. Menatap betapa lemah dan tak berdayanya Melin saat ini hanya karena memikirkan adik yang bahkan Melin sendiri tidak tau bagaimana kehidupan Reva sebelumnya. Dalam artian, Melin tidak benar-benar tau Reva itu siapa. Yang dia tau, Reva sekarang sudah menjadi adiknya meski ada embel-embel angkat di belakangnya.
Percaya atau tidak, Melin tak pernah se-berani ini memperdengarkan suara tangisannya di depan orang lain. Bahkan ayah Melin pernah mengatakan bahwa Melin akan menggigit bibirnya sampai terkadang mengeluarkan darah hanya untuk menahan suara tangis saat berhadapan dengan sang ayah, dan akan menumpakannya di kamar pribadinya yang kedap suara.
Dan melihat ini dia berpikir, se-penting itu Reva bagi Melin? Maksudnya, kuat sekali pengaruh Reva pada gadis ini.
Tangan Baza terulur untuk menyentuh bahu Melin, untuk di tarik perlahan agar gadis itu menatapnya.
"Jangan nangis dong, biasanya ga cengeng gini," ucap Baza berusaha melepaskan tangkupan tangan Melin dari wajah gadis itu sendiri.
Sedangkan Melin, dia hanya bisa terisak sambil terus memberi tenaga pada telapak tangannya agar tak terlepas begitu saja dan menampakkan wajahnya yang sedang menangis.
Dia pun tidak tau kenapa ini terjadi padanya. Hanya saja, cemas dan rasa khawatir itu benar-benar hatinya yang mengantarkan pada otaknya untuk di reaksikan oleh tubuh dan mimik mukanya. Perasaan ini lain jika untuk orang lain yang baru dia kenal seperti Reva, namun entahlah, ini seperti perasaannya saat tau ibunya pergi membawa adiknya untuk menyelamatkan sang adik dari mafia yang menjadi incaran mereka kala itu.
Sapuan lembut, Baza berikan untuk menghapus jejak air mata di pipi Melin. Terlalu lembut dan hati-hati, apalagi saat tak sengaja mata Melin menatap tepat pada manik coklat milik Baza yang begitu teduh dan menenangkan untuk dilihatnya, Melin hanya mampu terdiam. Di tambah dengan senyum hangat Baza, bagaimana bisa dia tidak nyaman dengan itu?
Setelah di rasa Melin cukup tenang, Baza membawa tangannya untuk memegang kedua bahu Melin, untuk semakin memusatkan perhatian gadis itu padanya.
"Reva, dia adalah prioritas bagi Ervan. Aku nggak bakal bilang kalau Reva nggak akan terluka sedikitpun, tapi aku janji kalau Reva bakal keluar dengan selamat," ucap Baza.
Tatapan dan kata-kata dari Baza sangat meyakinkan, membuat dirinya semakin hanyut akan rasa percaya padanya.
"Kamu tenang aja, ya. Reva nggak akan kenapa-napa," ucap Baza lagi seraya tangannya memberi elusan lembut di pipi Melin.
******
Ervan membuang nafas kasar, sama sekali tak menaruh pritahin pada anak buah Zack yang tak bernyawa di dekat Reva yang kesadarannya tampak di ambang batas.
Berbalik dengan gerakan yang terlihat cool jika saja tidak berada pada kondisi saat ini. Menatap Zack yang juga tampak tak peduli dengan keadaan anak buahnya.
"Aku bilang jangan menyentuhnya sedikitpun, tapi kau malah melewati batas. Apa selama ini kau tidak juga mengerti kalau tempramenku sangat buruk?" ucap Ervan seraya berjalan mendekat.
"Wow, dude. Jangan berlagak seakan aku sudah berbuat hal yang sangat menyakitkan. Lupa kalau ini semua adalah awal dari perbuatanmu sendiri?" Zack berucap dengan ekspresi sama datarnya dengan Ervan.
Aura permusuhan yang keduanya pancarkan sangat kuat dan mendominasi. Sama-sama tak ingin mengalah. Sama-sama mempertahankan apa yang menurut masing-masing benar. Ego yang sama dari ketua mafia.
"Setidaknya aku tak pernah menyakiti orang-orang yang kau sayangi!" tekan Ervan dengan wajah memerah marah, begitupun Zack.
"Kau lupa dengan ayahku!"
"Bukan aku yang membunuhnya, sial*an!"
Bugh!
Satu pukulan telak di dapat Zack di rahang tegasnya membuat Zack tersungkur ke belakang saking kerasnya pukulan itu.
Tak sampai di sana, pukulan itu masih berlanjut. Tak hanya olehnya, dirinya juga mendapat pukulan yang sama, semakin memacu adrenalin dan emosi secara bersamaan membuat semangat untuk saling menjatuhkan dengan pukulan semakin kuat.
Hingga pada akhirnya mereka sama-sama terengah dengan Ervan yang lebih dulu bisa menyeimbangkan tubuh untuk berdiri.
Berbalik, matanya langsung bersibobrok dengan tubuh Reva yang masih bernasib sama di lantai dingin sana.
Perlahan dia seret kakinya dengan langkah terseok menuju Reva. Melihat kondisi gadisnya yang begitu menyesakkan d**a, Ervan sampai meneteskan air mata melihatnya. Gadisnya sampai sebegini keadaannya, semua ini adalah ulahnya. Ulahnya yang malah membawa Reva dalam jalan hidupnya. Membawa Reva pada masalahnya yang berakhir dengan Reva yang menerima imbasnya.
Ada setitik rasa sesal kala dulu dia lebih mementingkan rasa egoisnya untuk menemui gadis itu secara terang-terangan, merecoki kehidupan aman gadis itu, menuang masalah di dalamnya dengan embel-embel melindungi.
Bullsh*it!
Dirinya tak pernah benar-benar melindungi Reva, tak menepati kata-katanya yang dia janjikan pada Reva.
Perlahan, dengan penuh kehati-hatian, Ervan membuka ikatan tali yang mengikat kuat kaki Reva. Air matanya semakin menetes melihat goresan yang di akibatkan tali membuat darah keluar dari pergelangan kaki Reva.
Tepat ketika tangannya bersentuhan dengan tangan Reva saat hendak melepaskan tali di sana, tubuh Reva tersentak kaget. Matanya perlahan terbuka, meski dengan susah payah gadis itu menahan sakit di pelipis matanya.
Lagi, dengan penuh hati-hati Ervan memperbaiki posisi Reva, kemudian membawa tubuh Reva untuk di dekapnya perlahan, setelah memberikan akses udara lebih leluasa masuk ke dalam mulut Reva.
"E-rvan ...," lirihnya terasa menusuk telinga Ervan.
Inginnya Ervan menambah erat pelukan itu, tapi mengingat keadaan Reva, dia tak bisa berbuat banyak selain menghujani puncak kepala Reva dengan kecupan.
"Kamu baik-baik aja. Aku di sini," ucap Ervan pelan dan lirih, seakan takut jika suaranya dinaikkan sedikit maka Reva akan terkejut dan kesakitan.
Di urai pelukan itu, masih dengan perlahan, di tatapnya wajah lesuh di depannya. Tampilan Reva yang acak-acakan bahkan jaket tebal yang membungkus Reva sudah raib, hilang entah ke mana, menyisakan sweeter lengan panjang yang juga sudah sobek di beberapa bagian karena sayatan.
Hati Ervan berdenyut sakit melihatnya, ada rasa marah dalam hatinya pada dirinya sendiri. Mengutuk dirinya yang tidak bisa menjaga Reva dengan baik.
Di usap pelan segala debu kotor yang melekat di wajah Reva, juga darah yang tampak sudah mengering di sana.
"Maaf ...," lirih Ervan meminta dengan tangan yang bergetar.
Di tangkup pipi Reva, lalu kepala gadis itu di bawa mendekat untuk bibirnya dapat mendaratkan sebuah kecupan di kening. Lama, dan terasa tulus, hingga Reva merasa nyaman hanya dengan kecupan itu.
"Maaf ... maaf ...," lirihnya lagi bergumam setelah melepas belah bibirnya dari kening Reva.
Di peluknya lagi tubuh itu, seakan melupakan keadaan Reva yang cepat-cepat butuh pertolongan seorang dokter. Ah, dan lupa jika dirinya seorang dokter yang prioritasnya adalah keselamatan pasien.
Kali ini Reva membalas pelukan itu, melingkarkan kedua lengannya di pinggang Ervan.
"Aku yang minta maaf ...," sambut Reva lirih.
Di perkian detiknya, tak sampai sedetik rasanya, mata Ervan melotot dengan mulutnya tertutup rapat, juga nafasnya yang tertahan. Tubuhnya seakan membeku, dan rasa sakit menjalar cepat di tubuhnya.
Pelukannya di tubuh Reva mengendur, pun tubuhnya yang perlahan menjauh dari Reva memberi jarak, untuk sekedar menundukkan kepala menatap gadis itu dengan mata yang mulai berair.
Dalam tatapan yang Ervan berikan, Reva dapat melihat rasa kecewa yang sangat besar di sana, tanda tanya yang seolah menyakan 'kenapa?' yang hanya mampu Reva jawab dengan raut datar dan mulut terkunci.
Tangannya yang menjadi penopang, dia lepaskan dari pinggang Ervan, membuat tubuh lemah Ervan akhirnya jatuh dengan keadaan mata terpejam menahan sakit.
"Maaf." ucap Reva dingin.
******
Flashback on
Gadis itu masih duduk di depan komputer besar yang ada di tempat yang sering di sebut warnet itu. Sudah dari tiga jam yang lalu dirinya duduk di sana, seakan matanya tak lelah untuk menatap ke layar beradiasi itu.
Gurat di wajahnya tak terbaca, sungguh berbeda dengan biasanya dia bersosialisasi dengan dunia luar beberapa minggu belakang ini.
Ada satu nama yang dia cari di tiga jam terakhir, satu nama yang sukses membuatnya penasaran dan ingin tau lebih dalam. Nama ini yang dia yakin nantinya akan membawanya pada tujuannya kenapa dia berada di sini, ralat, tujuan dari alasannya kenapa dia masuk di kehidupan orang-orang terdekatnya kini.
Ervan Manuel Dinanta. Nama itu yang sedari tadi dia cari informasinya.
Jangan di pikir kalau gadis itu tak tau menau tenang dunia hacker. Dia juga ahli dalam bidang yang satu ini.
Sejak teror pertama yang dia dapat, juga saat dia tak sengaja menemui Baza di sebuah ruangan yang sepertinya sangat rahasia, gadis itu sudah mulai mencari informasi di sana.
Terlebih, saat bantuan dari musuh Ervan sendiri dia terima, Reva semakin gencar mencari semua informasinya.
Semuanya dia korbankan, berpura-pura polos kala setiap kali teror datang, polos untuk tidak mengerti siapa sebenarnya Ervan, selalu menuruti apa yang pemuda itu katakan dan perintahkan, selalu mencari-cari waktu untuk sejenak terbebas dari jangkauan mereka agar dirinya bisa mencari informasi lebih tentang Ervan, dari Zack.
Intinya, dia yang bermain peran di sini, merelakan Ervan untuk masuk ke dalam hatinya hanya untuk membuat pemuda itu tidak mencurigainya. Itu awalnya, awal sebelum dia lengah dan tak sadar bahwa dia semakin membuka akses untuk Ervan merekatkan nama di dalam hatinya, sampai dia sendiri tak ingin untuk menghapusnya.
Tapi sekali lagi, tujuannya hampir tercapai, dan berkorban hati untuk semuanya. Biarlah nanti jika Ervan sudah tau semuanya dan Ervan akan membencinya, dia sudah memantapkan hati, karena pada akhirnya Ervan akan mengetahui semuanya.
"Maaf."
Hanya satu kata itu. Satu kata yang selalu dia ucapkan setiap saat dirinya akan berbuat hal yang menyakitkan bagi Ervan, juga bagi orang-orang yang menaruh rasa percaya besar padanya.
"Kau yakin?" tanya Zack sekali lagi.
Reva__gadis itu__yang sedang memasang tali sepatunya, menoleh sedikit, menatap Zack dari ekor matanya.
"Kalau tidak, untuk apa aku berbuat sejauh ini," ucapnya dengan nada datar.
Zack terkekeh. Gadis ini memang pintar sekali bermain peran. Aktingnya perlu di acungi jempol. Siapa yang sangka gadis yang tampak polos dan lugu ini ternyata bringas?
"Itu hanya basa basi. Sekalipun kau tak yakin, aku akan tetap melakukannya," ucap Zack lagi.
"Kau akan membunuhnya nanti. Ku harap kau tak lupa menyiapkan pistol dengan peluru di dalamnya," ucap Zack lagi, membuat pergerakan Reva terhenti.
"Haruskah kau mengatakannya beratus-ratus kali? Aku tak pikun kalau kau mau tau," balasnya mendengus kesal.
Zack ini terlalu banyak bicara untuk ukuran seorang ketua mafia.
"Oke oke, aku hanya memastikan," ucap Zack memasang raut acuh.
"Lalu, Melin?" tanya Zack berhasil membuat Reva menghadap sepenuhnya padanya.
"Urusanmu dan aku, hanya pada Ervan. Kau tak perlu berniat untuk menyentuhnya. Jangan pernah berani untuk itu," ucapnya pelan dengan nada mengancam.
Zack akui, kalau gadis di sampingnya ini, memang mempunyai aura pekat akan pemimpin. Setiap ancaman yang dia keluarkan seperti sebuah ultimatum yang tegas dan kuat. Zack jadi penasaran dengan identitas asli yang gadis ini tutupi dengan rapi dan bersih.
"Well, beruntung Melin tak termasuk pada daftar hitamku. Kalau ada, maka kita juga akan menjadi musuh bukan?" ucap Zack seraya berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Reva setelah memberi tepukan ringan di bahu gadis itu.
"Jika sampai dia terluka, maka kau yang akan ada di daftar hitamku dengan urutan paling atas," desis Reva membuat tawa Zack menggema di markas besarnya itu.
Flashback off
******