Jebakan

1314 Words
Sudah hampir 30 menit, namun raut kesal di wajah Ervan tak kunjung hilang, padahal kaki sudah terasa pegal di bawa berjalan berkeliling pusat perbelanjaan besar yang niat awalnya hanya untuk mencari makan di sini. Namun niat itu sirna kala di tengah menikmati makanan, si pengganggu__menurut Ervan__tiba-tiba menelfon dengan tidak tau sopan santunnya membuat moodnya hancur lebur bak deburan ombak yang menghantam pasir pantai. Ah, apa itu terlalu berlebihan? Tidak, tidak. Meskipun Ervan termasuk orang yang simple, perumpamaan itu belum cukup baginya mendeskripsikan kekesalannya pada Dev-- lebih baik tidak menyebut namanya. Mood Ervan akan semakin hancur nantinya. Decakan kesal Reva keluarkan, menarik atensi Ervan untuk hanya sekedar menoleh sedikit pada gadis yang tengah mengerucutkan bibirnya lucu. Kesal pada dirinya yang sedari tadi tak menggubris ucapan si gadis sama sekali. "Ngomong ih! Berasa gila aku ngomong sendiri dari tadi," keluhnya di iringi nada kesal yang kentara. Inginnya Ervan terkekeh, terlampau biasa dengan sifat kekanakan Reva yang selalu membuatnya tertawa, membuatnya harus mati-matian mempertahankan garis lurus di bibirnya agar tidak melengkung. Melihat lawan bicaranya yang masih mempertahankan kebisuannya, Reva menghentikan langkah. Melipat tangannya di d**a dengan raut tertekuk kesal. Alisnya menukik tajam, ekspresinya di buat segarang mungkin, berharap dapat mengintimidasi laki-laki di depannya yang masih berjalan santai tanpa tau dirinya yang sudah tak lagi berjalan di sisinya. Mungkin sekitar sepuluh langkah, Erden baru menyadari gadis mungil yang tadinya berjalan berdampingan dengannya sambil memasang wajah kesal, sudah tak lagi berada di sana. Langkah langsung Ervan hentikan, pandangannya mengedar ke seluruh penjuru mall yang ramai akan para manusia pemburu barang mahal untuk di beli. Hingga nafas lega terdengar pelan di helaan nafas Ervan saat mendapati gadisnya berdiri di belakang sana memasang raut yang terlihat semakin lucu. Astaga, bagaimana ini? Awas saja kalau ada yang berani curi-curi pandang-- Tidak, itu sudah terlambat. Bahkan sedari tadi, gadis itu sudah menjadi pusat perhatian. Ada segerombol anak muda, ada pasangan muda mudi, ada anak sekolah, paruh baya, ada yang bersama keluarga, baik itu laki-laki maupun perempuan, mengalihkan perhatian pada Reva yang entah bagaimana menurut pandangan mereka. Namun yang Ervan lihat, mereka seperti akan segera menculik gadisnya dan membawanya kabur untuk diri mereka sendiri. Tidak! Ervan tidak akan membiarkan hal itu terjadi barang sedetik pun. Baru saja dirinya akan melangkah maju mendekat pada Reva, gadis itu sudah lebih dulu berjalan cepat, dengan tatapan lurus pada Ervan. Dan entah apa yang para pengunjung itu pikirkan, sehingga memberi jalan untuk Reva dapat berjalan semakin cepat tanpa hambatan padanya. Sampai di hadapan Ervan, hanya tersisa satu langkah, Reva berhenti dengan nafas yang tak beraturan. Bukan karena kehabisan nafas akibat berjalan cepat, hanya karena kesal yang mendominasi diri gadis itu saat ini. Di detik berikutnya, pukulan tangan Reva mendarat di lengan atas sebelah kiri Ervan. "Nyebelin!" pekiknya setelah itu. Matanya sudah mulai berair, dengan bagian putih di mata itu tampak perlahan memerah. Bibirnya pun bergetar, mungkin menahan tangisan. Apalagi nafasnya semakin tak beraturan karena emosi. Ervan tentu bingung, sekaligus tertegun. Ini benar-benar di luar rencananya. Dia hanya ingin melihat bagaimana Reva membujuknya, hanya itu. Tidak pernah terpikir olehnya bahwa gadis ini akan dengan mudah menangis hanya karena di diami olehnya. "Reva, hey--" Reva menepis dengan kasar kedua tangan Ervan yang akan memegang kedua bahunya. "Jahat tau nggak! Nyebelin!" teriaknya lagi menumpahkan kekesalannya dengan serangan bertubi pada d**a Ervan. Hanya ada dua kemungkinan, dirinya yang memang keterlaluan sehingga membuat Reva benar-benar mencapai puncak kesalnya, dan Reva yang sekarang sedang masa bulanannya. "Hey, tenang dulu dong ... Aduh! Kok jadi brutal gini?" ucap Ervan di sela-sela dirinya mencoba menahan kedua pergelangan tangan Reva yang terus saja melayangkan pukulan padanya. Sesekali Ervan melihat sekitar yang penuh dengan bisikan. Entah itu bisikan prihatin, mencibir dan juga pekikan gemas yang tertahan melihat mereka yang sudah seperti sedang syuting film drama romantis. Melihat Reva yang semakin menangis dan juga pukulannya yang mulai melemah, Ervan langsung menarik gadis itu ke dalam pelukannya meski di sana, Reva masih saja berontak ingin lepas. "Jangan nangis ... nggak malu di liatin banyak orang?" ucap Ervan pelan, sedang kedua tanganya sibuk mengelus rambut dan punggung Reva untuk menenangkan. "Kamu jahat!" Pekikan itu teredam akibat dirinya yang menghadap d**a bidang milik Erden. Meski begitu, setidaknya telinga Erden masih cukup tajam untuk mendengarnya. "Iya, aku yang jahat. Udah ya, kami jangan nangis," ucap Ervan memberi satu kecupan di pucuk kepala Reva. Hal itu mengundang sorakan dan tepuk tangan dari para pengunjung yang sekarang sudah menjadikan mereka tontonan gratis. Entah tujuannya apa, Ervan pun tidak mengerti. Yang jelas, dia merasa senang saat Reva kini balik memeluknya lebih erat, dan menyembunyikan wajahnya semakin dalam di dadanya. Gadis ini pasti sedang malu, pikirnya. "Aku malu ...," cicitnya pelan membuat Ervan terkekeh. Apakah gadis ini baru sadar kalau mereka tengah berada di pusat keramaian? Ke mana perginya sifat bar-bar Reva tadi? "Makanya jangan bar-bar," ucap Reva membuat ringisan keluar dari mulut Ervan di detik berikutnya, saat Reva mendaratkan satu cubitan tak terlalu kuat di pinggangnya. ****** "Ervan udah tau?" tanya Melin pada Baza yang masih mengutak atik keyboard dengan gerakan cepat. "Udah. Aku udah kerahin anggota yang di sana buat memperketat keamanan," jawab Baza tak sedikitpun mengalihkan tatapan pada Melin. Gadis itu mengangguk pelan. Masih sibuk melacak nomor si pengirim pesan pada ponsel adiknya. Iya, jangan pernah salah. Melin juga pro dalam hal ini. Baza saja, belajar dari wanita ini. Jari telunjuknya yang hendak menekan enter di sana, tergantung di udara dengan sedikit lagi jari itu menyentuhnya. "Hentikan, Baza!" perintahnya cukup tegas membuat Baza langsung mebgangkat tangan menjauhkan ke sepuluh jarinya dari keyboard. "Ini sistem akses yang terlalu biasa. Gak ada keamanan, sandi atau kunci ganda," ucap Melin masih dengan posisi yang sama. Keduanya sama-sama terdiam sebelum akhirnya kembali menggerakkan ke sepuluh jari itu dengan lincah. "Sh*t!" "Sia**n!" Umpatan kotor itu keluar bergantian dari bibir mereka berdua sambil jari terus bekerja pada tempatnya. Ctak! Ctak! Tulisan enter pada masing-masing keyboard milik mereka di tekan kuat hampir secara bersamaan, baru kemudian menghempas punggung pada sandaran kursi. Lama-lama mereka juga bisa gila dalam situasi yang seperti ini. "Aarrghh! Bisa-bisanya kita gak ngeh kalau itu jebakan!" marah Melin mengerang kesal. Tak jauh hal dengan Baza. Dirinya juga kesal, sangat. Tapi dia bukan tipe yang akan berteriak sepeti Melin barusan untuk melampiaskan rasa kesalnya. "Beuntung kamu ngeh sebelum mereka berhasil ngebobol data kita," ujar Baza dengan mata tertutup. "Kalau nggak, aku gak tau gimana nasib kita dan yang lainnya," lanjutnya. Satu detik, dua detik, sampai di detik ke lima, kedua manusia berbeda gender itu langsung terduduk tegak dengan mata melotot hebat. "Ervan!" pekik keduanya serentak. Dengan gerakan cepat Baza berbalik memutar kursinya menghadap komputer di depannya, serta dengan gerakan cepat pula Melin mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi ponsel Ervan. "Siaāl! Siaāl! Siaāl!" teriak Baza marah, memukul beberapa kali meja tempat komputer miliknya di letakkan. "Matiin telfonnya," ucap Baza setelahnya membuat Melin langsung mematikan sambungannya. "Mereka udah akses hpnya Ervan," lanjutnya seraya memasukkan laptop ke dalam tas. Melin menggeram marah, namun tak tepat waktunya untuk melampiaskan marah di situasi sekarang. Maka setelah ponsel mahal itu di lempar ke sofa, tangan Melin langsung dengan cepat meraih tas punggung yang ada di sana, memasukkan barang-barang yang sekiranya mereka perlukan nanti. "Ervan bawa hp yang mana! Kenapa bisa gampang gitu aksesnya?" tanya Melin kesal sembari tangannya terus bekerja. "Aku gak tau. Yang jelas kita harus segera sampai di sana," ucap Baza selesai dengan urusannya begitupun Melin yang baru saja menutup tasnya. Melihat jam di pergelangan tangannya terlebih dahulu, Melin lalu menatap Baza yang juga menatapnya. "Kamu duluan ke bandara. Aku mau urus Ara dulu," ucap Melin sambil menyandang tasnya di punggung. "Kita sama-sama aja," balas Baza di jawab gelengan oleh Melin. "Tunggu lima menit di sana, kalau aku gak dateng dalam lima menit, kamu langsung pergi ke Belanda. Aku bisa nyusul," ucap Melin cepat lalu pergi dari sana, tak mengindahkan panggilan dari Baza. "Ck. Terserah dia aja. Ervan dan Reva paling penting sekarang," gumamnya lalu pergi dari sana. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD