Takut

1695 Words
Mata Ervan tak lelah menatap gadis yang duduk santai di hadapannya dengan meja sebagai penghalang. Lahap sekali menikmati es krim yang tadi dia pinta setelah selesai menangis dan mengurangi rasa malunya. Sesekali Ervan gelengkan kepala merasa tidak menyangka akan sifat Reva. Pertanyaan yang dari dulu sudah bersarang di kepalanya kembali terlontar tiba-tiba. Apakah Reva ini adalah anak kecil yang terjebak di tubuh orang dewasa? Tingkahnya bahkan tak ubah bak bocah usia 5 tahun. Cara dia merengek, marah, terlihat geli, sedih, tertawa, dan manja, itu benar-benar membuat Ervan teringat pada keponakan Zaki yang baru berusia 4 tahun. "Nggak usah ngeliatin gitu. Walaupun kamu beliin es krim, aku masih kesel ya sama kamu," ujarnya tiba-tiba sesekali melirik sinis pada Ervan. Alis mata Ervan terangkat sebelah. "Harusnya aku yang kesel sama kamu," ucapnya melipat tangannya bertumpu pada meja dengan tubuh yang sedikit condong menatap gadis itu. "Kesel kenapa coba? Aku gak bikin salah tuh," sanggahnya tak mau kalah. Ervan geram sekali. Hingga refleks telunjuknya mendorong sedikit kepala Reva membuat gadis itu mendelik tajam padanya. "Tadi kita gak jadi makan, gara-gara apa? Gara-gara kamu yang malah asik telfonan sama bos kamu itu," jawab Ervan di sertai tekanan pada kata bos saat dia menyebutnya. Kening Reva makin berkerut. Apa-apaan alasannya itu? Menurutnya itu sama sekali tidak masuk akal untuk di jadikan alasan. "Apaan, itu 'kan soal kerjaan. Gak ada hubungannya sama makan," ucap Reva lagi masih tak terima dengan alasan Ervan. "Ya ada dong. Kalau kamu lagi sama aku, ya sama aku aja. Gak perlu ada yang lain," protes Ervan cepat yang setidaknya membuat Reva langsung bungkam. Ervan sudah seperti seorang kekasih yang sedang cemburu pada kekasihnya. Seorang kekasih yang sedang menampakkan sifat possessive-nya pada gadisnya. Dan berkat pemikirannya itu, Reva langsung memalingkan wajah ke arah lain saat di rasa, panas menjalar dengan cepat di wajahnya. Dalan hati dia mengumpat kesal, bisa-bisanya Ervan mengatakan itu dan membuat dirinya malu sendiri. "Ga-gaje banget kamu," Kentara sekali nada gugup dari gaya bicara Reva barusan. Dan hal itu dapat di tangkap dengan baik oleh Ervan yang malah terkekeh geli melihatnya. Gemas sekali melihat rona merah alami di masing-masing pipi Reva. Satu lagi sifat lain Ervan yang keluar hanya dengan gadis di depannya ini, jahil. "Aku serius, tau. Aku aja 'kan udah cukup. Kamu maruk banget mau nambah yang lain," ucap Ervan di iringi senyum usilnya yang tersemat sebentar di bibirnya sebelum Reva menoleh padanya. "Uhuk!" Dengan gerakan cepat, Reva meminum air mineral yang tadi juga di beli oleh Ervan, lalu mengusap sudut bibirnya yang kotor karena es krim. Rona merah itu kian tampak jelas di wajahnya, bahkan menjalar sampai telinga. Menutupi rasa gugup dan malunya, kepalan tangan Reva mendarat di d**a Ervan. Cukup keras membuat pria tampan itu meringis sambil terkekeh. "Kok nyebelin banget sih!" pekik Reva kesal masih dengan wajah yang kentara dengan rona merah di pipi. "Seneng aja liat kamu kesel, arkh ...!" Ervan terpekik saat satu cubitan kuat, Reva berikan di lengannya yang berotot. Kuat juga kekuatan gadis itu, lengan kekarnya pasti membiru sekarang. "Sakit Rev ...," ucap Ervan pelan pada Reva yang menatapnya tanpa rasa bersalah. "Biarin aja. Rasain!" sarkasnya tak peduli. Sibuk mengusap lengannya, mata Ervan tiba-tiba berpendar ke sana ke mari, saat tak sengaja menangkap beberapa anak buahnya yang semakin banyak berada di sekitarnya. Paham akan situasi, Ervan langsung mengaktifkan earpiece yang terpasang di telinganya, memencet sebuah tombol di sana untuk mengirim sinyal pada Baza. Tak ada yang bisa berbuat seperti ini kecuali Baza. Dan Baza tidak akan berbuat seperti ini kalau tak ada bahaya. "Kita pulang ya," ucap Ervan tiba-tiba sudah berdiri dari duduknya. "Loh? Kok pulang? Kita 'kan belum jalan-jalan," ucap Reva bingung. "Besok aja gimana? Aku ada kerjaan mendadak tiba-tiba," ucap Ervan cepat. Tampak terburu-buru. Reva mencoba untuk mengerti dengan menganggukkan kepalanya. Ikut berdiri dan menyambut uluran tangan Ervan yang terulur padanya. "Iya nggak apa-apa," jawabnya sembari memberi senyum manisnya. Ervan turut menampilkan senyum tipis lalu menarik pelan tangan Reva untuk di bawa pergi dari tempat itu. Dan selama perjalanan itu, Reva sama sekali tak mengeluarkan suara. Sedikit tak nyaman dengan aura Ervan yang tiba-tiba berubah. Reva tak tau pasti, yang jelas, dokter tampan itu tengah menahan emosi untuk tak keluar begitu saja. ****** Dengan modal kata nekat Melin masuk mengendap-endap ke kantor tempatnya bekerja untuk sampai ke ruangannya. Terpaksa dia lakukan karena tidak mungkin baginya untuk menggunakan ponsel saat ini. Dan beruntung, tidak ada yang menyadarinya meski ada beberapa karyawan yang menatap aneh padanya. Sampai di ruangannya, masih berdiri di ambang pintu, menatap rekan-rekannya satu persatu, pun mereka yang kini mengernyit bingung menatap dirinya. "Melin?" ucap Celin dengan nada bertanya untuk memastikan. Melangkah masuk ke sana, lalu membuka topi yang dia pakai, menampilkan wajah Melin yang berbeda dari biasanya. Datar dan tak terbaca. Celin dan Gunta lebih dulu berdiri, mendekat ke arah Melin, yang masih diam menatap mereka berdua. Yang lainnya otomatis menghentikan pekerjaan, hanya untuk melihat apa yang selanjutnya terjadi. Karena mau bagaimanapun, ini adalah kejadian pertama saat Melin masuk ke kantor ini. "Pulang nanti, bawa Ara ke rumah kalian. Jagain dia sampai aku jemput dia lagi nanti," ucapnya cepat, masih tanpa ekspresi di wajahnya. Tak ingin mendengar jawaban, Melin langsung berjalan menuju meja kerjanya, mengutak-atik laptop di sana entah untuk apa. Sedangkan yang lainnya masih setia menatap Melin dengan ekspresi bingung. "Mel, lo kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Celin dengan nada yang ikut panik. Menulikan pendengarannya, Melin masih fokus pada komputer di depannya. "Mel, ceritain pelan-pelan. Ada apa ini sebenarnya? Kamu mau ke mana? Kenapa tiba-tiba kita di suruh bawa Ara?" Giliran Gunta yang bertanya dengan pertanyaan beruntun. Gadis itu tak menjawab, malah menekan satu tombol pada earpiece yang ada di telinganya. "Za, itu data punya aku, kamu amanin di sana. Aku udah kasih akses," ucap Melin cepat. "Oke. Aku udah hampir sampai bandara," ucap Baza memberitahu. Melin kembali melirik jam yang terpasang apik di pergelangan tangannya sebelum menjawab. "Sebentar lagi, aku nyampe di sana," ucapnya kemudian menekan kembali tombol tadi. "Mel ...." Melin berbalik, menatap Nisa yang baru saja keluar dari ruangannya. "Ada apa ini, Mel? Kamu mau ke mana? " tanya Nisa meneliti penampilan Melin dari atas sampai bawah. "Butuh banyak waktu buat ngejelasinnya, Mbak," jawab Melin. Gadis itu kemudian mengeluarkan sebuah kertas cek, dari saku jaket yang dia kenakan. "Ini untuk kebutuhan Ara dan pembayaran rumah sakit. Aku udah hubungin pihak rumah sakit, jadi kalian tinggal bawa Ara aja nanti. Bilang sama Ara kalau aku ada kerjaan di luar negri." Kata-kata itu terucap begitu cepat dari mulut Melin. Namun tak sedikitpun dapat menjawab pertanyaan mereka. "Aku pergi," pamitnya menatap mereka satu persatu sebelum melangkah keluar dari ruangan itu. Tepat kedua kakinya berada di ambang pintu, Melin menoleh ke belakang. "Aku titip Ara. Jaga dia," ucapnya lagi sebelum benar-benar pergi dari sana. ****** Pintu apartment sudah terbuka. Pemiliknya pun sudah lebih dulu masuk dengan tatapan waspada yang dia edarkan ke luar sebelum benar-benar menutup pintu itu. "Aku ke kamar dulu ya? Mau ganti baju," ucap Reva dan di balas anggukan singkat serta senyum simpul oleh Ervan. Pintu kamar Reva tertutup, maka Ervan tak lagi membuang waktu untuk berdiam diri. Segera dia ambil ponselnya dan menekan beberapa digit angka di ponsel canggih itu. Selang beberapa detik, jarinya yang hendak menekan diall di sana, terhenti begitu saja, begitu otaknya berpikir sesuatu yang mungkin saja terjadi jika dia menggunakan ponsel ini. "Sialaān!" umpatnya pelan, segera masuk ke dalam kamarnya. Di ambilnya laptop yang terletak rapi di nakas, segera dibuka dan di utak-atik begitu layar di sana tampak mengeluarkan cahaya. "Baza? Ngapain dia di bandara?" gumamnya saat melihat lokasi sahabatnya itu menunjukkan si sahabat sedang berada di bandara. Kembali Erden tekan tombol pada earpiece di telinganya, berharap Baza dapat menerima sinyal darinya. "Ervan, gue lagi di--" "Apa yang terjadi, Baza?" Pertanyaan tak bernada dan terkesan dingin itu terdengar mutlak di telinga Baza. Harus baginya untuk menjawab dengan hormat. "Reva bisa jadi dalam bahaya bos. Zack mengirim pesan pada ponsel Reva dengan menggunakan nomor Gunta. Tapi saya sudah berhasil mengatasinya," jawab Baza cepat dan tegas. Ervan tak senang dengan jawaban itu. Bukan tak senang karena permasalahan selesai, tapi tak senang karena itu bukan jawaban yang dia inginkan. "Itu penyebab kau mengerahkan anggota sebanyak itu?" tanya Ervan mengintimidasi. Tak terdengar jawaban di sana. Membuat Ervan semakin menggeram marah. "Kau tak ingin menjawab?" tanya Ervan lagi. "Saya ceroboh bos. Itu jebakan, dan saya sudah lebih dulu melacaknya. Maafkan kesalahan saya," jawab Baza masih dengan nada tegas meski mati-matian dirinya menahan rasa takut. Apalagi bunyi gemeletuk dari gigi Ervan terdengar di telinganya. Baza tak yakin bisa mendeskripsikan ekspresi marah Ervan saat ini. Ketua Mafia yang satu itu melebihi iblis jika sedang marah. Ervan memejamkan kedua matanya, dengan tangannya yang terkepal, berusaha sebaik mungkin untuk meredam emosi yang rasanya sudah membakar habis organ dalamnya. "Jadi apa saja yang bisa mereka akses?" tanyanya lagi. Meneguk luda dengan susah payah. Entahlah, Baza merasa kerongkongannya terasa amat kering namun sangat susah untuk di basahi. "Ponsel, dan laptop yang biasa kau gunakan, itu yang lebih cepat mereka akses," jawab Baza yang lagi-lagi berusaha mati-matian menormalkan suaranya. "Seberapa jauh mereka dapat mengaksesnya?" tanya Ervan lagi sembari mengutak atik laptopnya. "Selain data penting dan data pribadimu. Mereka sudah mendapatkan aksesnya. Saya akan sesegera mungkin mengembalikan keadaan, Bos." Baza kembali menjawab. Tak menjawab apa-apa lagi, Ervan langsung memutuskan sambungannya dan keluar dari kamarnya. "Reva!" teriak Ervan saat keluar dari kamarnya. Tak mendapat jawaban, membuat pikiran negatif dengan cepat menyerang pikiran Ervan. "Reva!" Tok! Tok! Tok! Lagi, gadis itu tak kunjung menjawab panggilannya. "Reva! Buka pintunya!" Detak jantungnya memompa semakin kuat. Pikirannya kosong saat tak mendengar jawaban apapun dari dalam sana. "Bentar!" Dan rasanya lemas sekali. Rasanya beratus ton beban yang ada di dadanya di hempas begitu saja membuat sedikit banyak energinya ikut terhempas. Ceklek! "Aku baru mau mand--" Grep! Ucapan Reva terputus kala tubuh mungilnya langsung di dekap erat oleh tubuh kekar di depannya. Erat sekali seakan tak membiarkannya untuk bernafas. Reva tak ingin memberontak. Entahlah, Reva merasa Ervan memang benar membutuhkan pelukan ini. Dia merasakan cemas yang luar biasa dari diri Ervan terhadapnya, membuat kedua tangannya yang tadi menggantung bebas, kini perlahan di lingkarkan pada pinggang dokter tampan itu. Memberi tepukan pelan untuk menenangkan. "Aku baik-baik aja," bisiknya pelan di d**a Ervan. ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD