Heningnya malam ini, benar-benar membawa Ervan pada tiap-tiap kenangan yang dia lalui bersama Reva. Di rumah ini, semuanya mereka rangkai dan Ervan merekamnya dengan baik, apik dan disimpan rapi di dalam ingatan, pun dalam hatinya. Kepergian gadis itu nyatanya memang menyita seluruh akal sehatnya, membuatnya berpikir sempit dalam kurun waktu yang tak sebentar, sampai sekarang, mungkin? Dan dirinya sadar, dia terlalu banyak berdiam diri selama ini. Terlalu banyak berpikir dan mempertimbangkan, juga terlalu lama bersikap tenang dan sabar, seolah dia benar-benar pasrah dengan keadaannya. Namun itu hanya alibi. Yang sebenarnya terjadi, yang sebenarnya dirinya alami adalah dirinya tengah kepayahan mengusir rasa takut yang mengunci mati pikiran dan hatinya. Rasa takut akan kemungkinan terburu

