Malam itu seperti malam-malam sebelumnya. Dinda selalu seorang diri memeluk sepi, sementara Putra bersenang-senang dengan kekasihnya, Safira.
"Muka kamu kok cemberut gitu, Sayang. Kenapa ... ada yang kamu inginkan?" tanya Putra saat makan malam dengan wanita pujaan hatinya di Kafe AA tempatnya bisa nongkrong dengan wanita itu. Wajah Safira yang cantik jelita dengan hidung mancung dan bibir seksi membuat Putra semakin gemes ketika manyun.
"Aku ingin beli sesuatu, tapi Om Rudi gak ngasih," ucap Safira dengan muka masam. Menurut pengakuan Safira, Rudi adalah adik dari Mama Safira. Pria paruh baya itu adalah orang yang merawatnya sejak kedua orangnya meninggal.
"Memangnya kamu mau beli apa? Perhiasan, berlian, nanti aku belikan lagi. Jangan cemberut, dong!" rayu Putra.
"Perhiasanku udah banyak. Kemarin juga baru kamu belikan," balas Safira. Gadis itu berpindah duduk mendekati Putra, kedua tangannya kemudian bergelayut manja di lengan pria tampan itu.
"Lalu, kamu mau beli apa?" tanya Putra sembari menaikkan sebelah alisnya.
"Aku ingin mobil terbaru. Aku sudah inden mobil Porshe warna merah favoritu, tapi Om Rudi gak mau bayar DP-nya." Safira melepaskan kedua tangannya dari lengan Putra dan memasang muka jutek.
"Jangan jutek gitu, dong! Nanti cantiknya ilang." Putra mencubit hidung Safira dengan gemas.
"Habis aku sebel sama Om Rudi."
"Ya udah, nanti aku transfer kamu buat DP mobilnya. Udah jangan cemberut lagi, ya!" Putra mencubit hidung mancung Safira, seketika wajah gadis itu berubah ceria.
"Serius kamu bakal bayarin DP-nya, Honey?" tanya Safira meyakinkan.
"Kapan sih aku pernah gak serius sama kamu, Sayang?"
"Makasih ya, Honey. Kamu selalu bisa aku andalkan." Safira memeluk dan mencium Putra.
"Kalau sudah dikirim, nanti aku lunasi sisanya," lanjut pria tampan itu. Safira tampak bahagia. Gadis itu tersenyum puas.
Tak jauh dari mereka makan, tampak seorang lelaki yang sedari tadi mengutit keduanya. Lelaki berjaket kulit warna hitam dengan topi warna senada serta memakai masker itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Tuan Surya, dugaan Anda ternyata benar. Putra masih berhubungan dengan Safira. Bahkan barusan dia mentransfer uang satu milyar untuk gadis itu," ucap pria yang ternyata mata-mata Surya Adinata. Pria itu melaporkan apa yang dia lihat hari ini serta laporan mutasi dari rekening Putra yang langsung tersambung ke ponselnya.
"Benar-benar kurang ajar anak itu. Terus awasi mereka. Aku tunggu kabar selanjutnya," balas Surya kesal dari seberang telepon. Panggilan pun berakhir setelah pria itu memaparkan apa yang dia lihat malam itu.
Pria berjaket hitam yang tidak lain adalah Romi, orang kepercayaan Surya Adinata itu menurunkan topi lalu membuka maskernya. Dia kemudian menyeruput cappucino di depannya yang sudah mulai menghangat sambil kedua matanya tidak lepas dari dua orang yang dimabuk cinta itu.
***
Siang hari setelah pulang kuliah, Dinda merebahkan tubuhnya di ranjang. Dia belum berniat mandi. Matanya seolah tak sanggup terbuka lagi karena rasa kantuk yang menyerang. Semalaman Dinda tidak bisa tidur memikirkan nasib pernikahannya. Jujur saja dia tidak nyaman dengan keadaan ini.
Meskipun dia tidak mencintai Putra, tapi hatinya sakit setiap kali mengingat lelaki bergelar suaminya itu masih berhubungan dengan wanita lain dan mengabaikan janji suci ikatan pernikahan mereka. Meskipun cuma dijodohkan, tetapi Dinda tidak pernah menganggap pernikahanya main-main. Namun, setiap malam Putra selalu menghabiskan waktunya dengan pacarnya. Lelaki itu tidak peduli meski sekarang statusnya sudah menikah. Apa yang mereka lakukan pun Dinda tidak tahu. Dia ingin mengakhiri semua ini, tapi tidak bisa karena yang semua orang tahu, rumah tangganya dengan Putra baik-baik saja.
"Neng, ada Tuan Surya dan Nyonya Erlin di bawah," ucap Narti setelah mengetuk pintu kamar Dinda, membuat gadis itu terperanjat dan bangun dari ranjangnya.
"Iya, Mbok! Saya mandi dulu," balas Dinda. Gadis itu bergegas masuk kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Selang berapa menit, Dinda sudah turun ke ruang tengah. Nampak Surya Adinata dan istrinya sudah duduk di sofa sambil menikmati teh hangat buatan Narti.
Sebagai menantu, Dinda segera menyambut hangat kedatangan kedua mertuanya, lalu bersalaman dan mencium punggung tangan kedua mertuanya.
"Papi dan Mami tumben datang tidak memberitahu dulu," ucap Dinda seraya duduk di depan kedua mertuanya.
"Papi sama Mami mau kasih kejutan. Di mana Putra?" tanya Erlin, istri Surya.
"Ehm, Mas Putra belum pulang, Mi," jawab Dinda jujur.
"Jam berapa biasanya dia pulang?" tanya Surya Adinata seolah menginterogasi.
"Ehm, biasanya ...." Dinda menggantung ucapannya. Gadis itu menggigit bibir bawahnya agar tidak terlihat gugup ketika kedua mertua menatap tajam ke arahnya. Tidak mungkin Dinda mengatakan kalau Putra pulang menjelang subuh setiap harinya.
"Katakan, Dinda! Jam berapa biasanya Putra pulang?" Surya Adinata mengulang pertanyaannya.
"Eum, tidak pasti, Pi. Terkadang saya sudah tidur saat Mas Putra pulang," jawab Dinda sambil menundukkan wajahnya. Sementara Surya terlihat geram. Dia tahu benar kalau kantor sudah tutup di jam empat sore dan Putra tidak pernah lembur.
"Dinda, katakan pada Mami. Apakah Putra sering keluar malam dan pulang menjelang subuh?" tanya Erlin. Wanita paruh baya itu mendekati Dinda dan merangkul pundak menantunya. Erlin tidak ingin membuat Dinda takut untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Namun, gadis itu hanya menggeleng. Dia tidak ingin berbohong pada mertuanya, tapi takut kalau Putra marah karena menganggap dirinya telah mengadukan kebiasaan lelaki itu pada sang mertua.
"Papi akan menginap malam ini." Ucapan Surya Adinata membuat Dinda terlonjak kaget. Bagaimana jika mertuanya itu tahu tentang hubungan pernikahan mereka yang sebenarnya? Ah, seandainya memang harus terkuak itu lebih baik supaya dirinya tidak terlalu lama terjebak dalam pernikahan pura-pura ini.
Narti mempersiapkan kamar untuk Surya dan istrinya. Kamar tamu di lantai bawah sedangkan Dinda mulai gelisah. Dia mencoba menelepon Putra agar segera pulang, tapi ponsel pria dingin itu tidak aktif.
Pukul tujuh malam terdengar deru mobil Putra di halaman depan. Dinda mengintai di balik tirai jendela kamar. Tumben suaminya itu pulang jam segini. Mungkin Surya meneleponnya agar segera pulang. Dinda berniat turun menemui Putra, tapi langkahnya terhenti saat mendengar Surya Adinata berbincang dengan anak lelakinya di ruang tamu. Wanita itu memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
"Papi dapat laporan kalau hari ini kamu mentransfer sejumlah uang yang cukup besar. Katakan untuk apa?" tanya Surya Adinata sembari menatap tajam anak sulungnya itu.
"Oh, itu. Ada teman minta suntikan dana. Jadi, aku menanam saham di perusahaannya," jawab Putra enteng. Kedua tangan Surya mengepal keras mendapati anak lelakinya berani berbohong pada demi perempuan matre itu.
"Berikan pada Papi surat perjanjian penanaman sahamnya besok. Papi tidak mau ada alasan," tegas Surya. Lelaki paruh baya itu kemudian bergegas memasuki kamar dengan perasaan kesal.
"P-Papi menginap di sini?" tanya Putra membuat papinya menghentikan langkah. Lelaki paruh baya itu membalikkan tubuhnya menghadap Putra.
"Iya, Papi mau tinggal beberapa hari di sini. Papi ingin kalian cepat memberikan cucu buat kami," jawabnya penuh penekanan.
"Kalau soal cucu, Papi tak perlu khawatir. Nanti kalau sudah saatnya, aku pasti kasih cucu buat Papi," jawab Putra meyakinkan. Namun, dalam pikirannya bukan cucu dari Dinda melainkan Safira karena lelaki itu berniat menikahi pacarnya setelah bercerai dari Dinda.
"Sebelum Dinda hamil dan melahirkan anakmu, Papi tidak akan memindahkan hak kekayaan atas nama kamu. Ingat itu!" ancam Surya. Setelah berkata demikian, lelaki paruh baya itu masuk ke kamar meninggalkan Putra yang masih bengong.
"Ah, Papi. Kenapa harus nunggu Dinda punya anak, sih? Aarrgghhh ...." Putra terlihat frustasi. Entah sampai kapan dia akan terjebak dalam situasi ini.