Bab 4-Bersandiwara

1098 Words
Ayu dan Revi duduk bersila di lantai sambil menikmati camilan yang diantarkan Narti ke kamar lantai atas. Kedua gadis itu siap menyimak cerita Dinda tentang suami tampannya. Entah kenapa setelah mereka duduk bersama, Dinda justru ragu saat akan bercerita tentang suaminya. "Oh, ada tamu rupanya." Tiba-tiba terdengar suara bariton seorang pria muncul dari balik pintu kamar Dinda. Seketika ketiganya terkejut dan mengarahkan pandangan pada sumber suara. Seorang lelaki gagah dan tampan sudah berdiri di depan pintu dengan senyum mengembang. Dinda langsung berdiri dan menatap Putra dengan perasaan heran. "Mas, tumben sudah pulang?" tanyanya. Wanita itu merasa aneh dengan sikap manis suaminya. Ia merasa sikapnya berubah karena ada Revi dan Ayu. "Lagi pingin cepat pulang. Aku sudah kangen sama kamu, Sayang." Putra mendekati Dinda dan mencium kening istrinya itu. Hal yang tidak pernah dilakukan Putra kecuali saat akad nikah. Dinda tertegun tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Putra mengulurkan tangannya membuat Dinda gugup. Wanita itu meraih tangan suaminya, lalu menjabat dan mencium punggung tangannya. Sementara Revi dan Ayu saling memandang, mereka semakin merasa iri pada sahabatnya itu. "Oh, so sweet banget," celetuk Ayu membuat kedua pipi Dinda merona. "Kamu gak ingin memperkenalkan teman-temanmu padaku, Sayang?" Putra merangkul pundak Dinda. Wanita itu merasakan getaran aneh saat sang suami memperlakukannya dengan manis. Tak dapat di pungkiri, Putra memang sosok lelaki yang menarik. Tubuhnya yang atletis, kulit putih bersih hampir tanpa cela serta cambang tipis yang memberikan kesan seksi. Bahkan aroma tubuhnya masih terasa wangi meskipun baru pulang dari kantor. "Eum, kenalkan ini Ayu dan yang itu Revi. Mereka sahabat dekatku sejak SMA," ucap Dinda memperkenalkan Ayu dan Revi kepada suaminya. Kedua sahabat Dinda itu berjabat tangan tanpa disuruh lagi. "Senang berkenalan dengan kalian," ucap Putra setelah bersalaman dengan dua sahabat istrinya. "Sama-sama, kami juga," jawab Ayu dan Revi hampir bersamaan. Sementara Dinda masih tertegun dengan perubahan sikap Putra. Ia masih belum percaya dengan apa yang dilihat sekarang. "Kalian bertiga tunggulah di bawah. Aku mau mandi dan bersiap. Kita akan makan malam di luar sebagai salam perkenalan dariku," titah Putra. Ucapan ceo tampan itu disambut Ayu dan Revi dengan mata berbinar. Untung saja Dinda belum cerita apapun pada Revi dan Ayu. Bisa-bisa mereka menganggapnya berbohong. Mereka segera turun menunggu Putra bersiap. Sekitar setengah jam kemudian, Putra turun dari lantai dua dengan penampilan yang mengagumkan. Sungguh pria itu termasuk ciptaan Tuhan yang nyaris sempurna. Ayu dan Revi sempat terpesona dengan suami sahabatnya itu, tak terkecuali Dinda. Seandainya sikap suaminya selalu manis seperti hari ini, mungkin tidak sulit bagi Dinda untuk jatuh cinta pada lelaki itu. "Sampai kapan kalian akan bengong di situ? Ayo, berangkat!!" titah Putra membuyarkan lamunan tiga wanita di hadapannya. Merekapun bergegas keluar mengikuti Putra. Suasana jalanan kota Surabaya padat merayap di jam pulang kerja, membuat perjalanan mereka menuju restoran sedikit terhambat. Di dalam mobil, Putra mengajak Ayu dan Revi mengobrol. Namun, Dinda lebih banyak diam. Putra benar-benar supel, dia sudah mulai akrab dengan Revi dan Ayu. Setelah acara makan malam, Putra mengantar Revi dan Ayu ke rumah mereka masing-masing. Suasana di dalam mobil hening saat Dinda hanya tinggal berdua dengan Putra. Dinda melirik suaminya sekilas, lelaki itu fokus di balik kemudi. Untuk memulai pembicaraan pun Dinda enggan, dia lebih memilih membuang pandangan ke jendela samping. Tak ada pembicaraan yang keluar dari mulut keduanya, hingga mobil Putra memasuki pekarangan rumah mereka di kawasan Royal Residence. "Turun!" titah Putra ketika mobilnya berhenti. Pria itu kembali menjadi lelaki dingin yang menyebalkan bagi Dinda. "Semua yang terjadi hari ini adalah sandiwara. Aku peringatkan kamu, Dinda. Jangan pernah menceritakan apa yang terjadi di antara kita kepada siapapun. Meskipun itu adalah sahabatmu." Putra menatap tajam ke arah Dinda. Hati Dinda seakan ditusuk-tusuk dengan pisau. Marah, kecewa, sakit, perih itu yang dirasakannya. Tanpa menjawab Putra, Dinda turun dari mobil. Dia tahu, malam ini pasti suaminya akan menghabiskan malam bersama kekasihnya seperti malam-malam kemarin. Ketika Dinda sudah keluar, Putra segera melajukan mobil mewahnya itu keluar pekarangan rumah. Air mata Dinda kembali mengalir dari pelupuk matanya. Safira selalu menyita waktu dan perhatian suaminya. Ah, kenapa sesakit ini rasanya? *** Putra memasang beberapa CCTV di rumah. Tidak heran jika dia tau siapa saja yang dibawa Dinda masuk ke rumah dan apa saja yang di kerjakan Dinda selama dia pergi. Namun, Dinda tidak pernah tahu bahwa setiap gerak-geriknya di rumah itu dalam pengawasan Putra. "Kamu sedang sibuk?" Surya Adinata tiba-tiba masuk ke ruangan Putra yang sedang asyik melihat CCTV rumah dari laptop. Sontak Putra kaget dan menutup layar laptopnya. "Tidak terlalu, Pi. Tumben Papi ke sini. Ada apa?" tanya Putra seraya berdiri mendekati papinya, lalu duduk di sofa. "Ada proyek besar di Singapura. Papi ingin kamu yang berangkat. Hanya sekitar satu minggu," ucap Surya membuat Putra terkejut. "Apa? Ke Singapura? Maaf, Pi. Kali ini Putra gak bisa," tolak Putra. Lelaki itu tidak mungkin pergi ke Singapura selama seminggu. Dia bisa rindu berat pada Safira. Gadis manis berkulit putih itu telah menjadi candu tersendiri baginya akhir-akhir ini. Lagipula gadis itu pasti tidak mau berlama-lama terpisah dari Putra. "Kenapa tidak bisa?" tanya Surya heran. Sebelum ini tidak pernah anak sulungnya itu menolak pekerjaan yang dia berikan. "Eum, kasihan Dinda kalau mesti aku tinggal sendiri, Pi," jawab Putra beralasan. "Kamu boleh ajak Dinda sekalian bulan madu. Mau lebih dari seminggu pun boleh," usul Surya. "Tapi, Dinda masuk kuliah, Pi. Suruh Om Panji saja yang menangani proyek itu. Dia kan sudah banyak pengalamannya," tolak Putra. Ceo tampan itu melirik ke arah papinya sekilas, berharap lelaki paruh baya itu menyetujui usulnya. Panji adalah adik bungsu Surya Adinata. Selain sudah lama membantu kakaknya menangani perusahaan, Panji juga selalu bisa di andalkan. Panji seorang duda yang istrinya meninggal setahun lalu karena sakit kanker. Sedangkan mereka belum di karuniai seorang anak pun. "Baiklah, untuk kali ini biar Panji yang menghandle proyek ini. Aku memaklumi, kamu masih pengantin baru. Tetapi lain kali, kamu tidak boleh menolak pekerjaan yang Papi berikan," tandas Surya. "Pasti, Pi. Lain kali aku tidak akan mengecewakan Papi," jawab Putra yakin. Ceo tampan itu terlihat senang karena papinya tidak memaksa. Surya percaya begitu saja dengan alasan yang dibuat anak sulungnya itu, padahal sebenarnya bukanlah Dinda yang sedang dipikirkan Putra, melainkan Safira. Setelah Surya keluar ruangan, Putra mengambil ponselnya dan menelepon wanita pujaan hatinya. Keduanya kembali janjian di kafe AA seperti biasa. Tak berapa lama kemudian, mobil BMW metalik milik lelaki itu sudah meninggalkan kantor membelah jalanan kota Surabaya yang mulai gelap. Malam itu, Putra kembali menemui Safira. Di kafe AA tempat yang biasa mereka kunjungi untuk menghabiskan malam. Keduanya bercanda tawa dan b******u cium dengan bebas tanpa takut ada yang menegur. Tanpa mereka sadari sepasang mata mengintai dan mengikuti dua orang yang di mabuk cinta itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD