Bab 3-Sangkar Emas

1230 Words
Seminggu setelah pernikahan dengan Putra, Dinda mulai kembali pada aktivitasnya. Hari ini, dia mulai berangkat ke kampus untuk kuliah. Ceo dingin bergelar suaminya itu memberinya ijin untuk ke kampus, asalkan diantar sopir. Pagi-pagi sekali, Dinda sudah bangun dan membantu Narti mempersiapkan sarapan di dapur. Sebenarnya wanita paruh baya itu sudah melarangnya agar tidak membantu, tapi wanita itu memaksa. Dinda memang sudah terbiasa menyiapkan segala keperluannya seorang diri. Sang papa, Andi Baskoro mengajarkannya mandiri sejak kecil, apalagi sepeninggal sang Mama. Setelah sarapan siap, Dinda mencoba membangunkan Putra. Namun, ceo tampan itu sangat sulit dibangunkan. Tentu saja karena setiap malam, Putra selalu pergi menemui Safira di kafe dan baru pulang menjelang subuh. Entah apa yang mereka lakukan, tetapi Dinda sudah tidak mempermasalahkan hal itu. Yang terpenting baginya sekarang adalah fokus kuliah agar kelak dia bisa memajukan perusahaan keluarga dan tidak bergantung pada pria dingin bergelar suaminya itu. "Mbok, tolong temani saya sarapan, ya!" pinta Dinda pada Narti. Meskipun Narti adalah asisten rumah tangga, tapi Dinda tidak terlalu menciptakan jarak. Wanita itu sudah menganggap Narti seperti anggota keluarganya sendiri, meskipun mereka belum lama saling mengenal. "Baik, Neng. Memangnya Den Putra belum bangun?" tanya Narti sembari duduk berhadapan dengan majikannya itu. Sementara Dinda hanya menggeleng. "Mbok sudah lama bekerja dengan Papi?" Dinda memulai percakapan sembari menyantap sarapannya. "Cukup lama, Neng. Sejak Den Putra berusia lima tahun. Ada apa?" Narti meletakkan sendoknya dan menatap majikannya. "Eum, Mbok pasti tau banyak tentang Mas Putra. Apa sejak dulu dia seperti itu?" tanya Dinda sembari terus melanjutkan sarapan. Mendengar pertanyaan Dinda, Narti mengangkat alisnya tanda tidak mengerti. "Eh, maksud saya ... apa sejak dulu dia malas bangun pagi?" Dinda membelokkan pertanyaannya. Sebenarnya tadi dia mau menanyakan apakah Putra sejak dulu memang dingin dan tidak berperasaan? Namun, dia urungkan karena takut Narti mengadu pada Surya Adinata. "Den Putra itu dulunya pemuda yang rajin, Neng. Karena itu Tuan Surya mempercayakan perusahaan atas kendalinya. Namun, dua tahun terakhir ini, Den Putra berubah. Tiap malam suka keluyuran dan menghamburkan uang." Narti menjeda sejenak ceritanya. Wanita paruh baya itu meneguk air putih di gelas hingga habis tak tersisa, sementara Dinda hanya diam menanti kelanjutan cerita dari Narti. "Sejak Den Putra punya hubungan khusus dengan gadis bernama Safira, dia berubah. Karena itulah Tuan Surya tidak menyetujui hubungan mereka, bahkan menentang keras." "Terus, kenapa Mas Putra menerima perjodohan dengan saya, Mbok?" tanya Dinda penasaran. "Itu karena Tuan Surya mengancam akan mencabut semua fasilitas keuangan yang diberikan pada Den Putra. Setahu saya, sih, begitu, Neng," jawab Narti. Dinda terdiam sejenak. "Jadi, Mas Putra mau menikah denganku karena takut miskin. Tetapi apa alasan Papi mencabut fasilitas keuangannya? Pasti Papi tahu sesuatu. Ah, kenapa aku harus terjebak dalam situasi seperti ini?" pikir Dinda. Wanita itu mendadak tidak selera makan. "Mbok, terima kasih untuk ceritanya. Saya berangkat ke kampus dulu. Tolong bangunkan Mas Putra nanti, ya," pinta Dinda. Narti mengangguk kemudian membereskan bekas sarapan mereka. Sementara itu, Dinda menyambar tasnya dan bergegas keluar. Di depan rumah, Alan sudah menunggu wanita itu. Supir pribadi keluarga Adinata itu kemudian membukakan pintu mobil untuk majikannya. "Kita berangkat sekarang, Neng?" tanya Alan. Dinda mengangguk kemudian masuk ke jok belakang mobil. Tak berapa lama, mobil keluar dari pekarangan rumah dan membelah jalanan kota Surabaya yang mulai padat menuju kampus Unesa. *** Kampus masih sepi saat Dinda tiba. Baru dua minggu dia tidak kuliah, tapi terasa sudah sangat lama. Biasanya dia ke kampus menggunakan motor metik berboncengan dengan Ayu, sahabatnya. Namun, semenjak menikah dengan Putra, kemana pun dia pergi harus diantar Alan. Gadis itu tidak berniat membantah perintah suaminya. Toh, percuma juga menentang karena ujung-ujungnya Dinda lah yang tetap harus mengalah. "Sabar, Din," batinnya setiap kali merasa ditindas oleh Putra. Selagi lelaki itu masih memperlakukannya dengan baik, bagi Dinda tidak ada masalah. Soal Safira pun, wanita itu tidak ingin ambil pusing. Dia membiarkan suaminya berhubungan dengan pacar gelapnya selagi tidak di depan matanya. Dinda tidak punya pilihan lain selain menjalani semua ini sesuai alurnya. Ketika turun dari mobil, Dinda sudah disambut histeris dua sahabatnya, Ayu dan Revi. Dua gadis itu langsung memeluknya seolah sudah sangat lama tidak bertemu. "Ya ampun, Dinda. Gue kangen banget, lho, sama lo," ucap Ayu sambil memeluk Dinda. Begitu juga Revi. Gadis manis berambut panjang itu memeluk sahabatnya erat setelah Ayu. "Mentang-mentang udah jadi nyonya Adinata sekarang lo gak mau nongkrong sama kita," ucap Revi setelah melepas pelukan. "Gue tetap Dinda yang dulu, gak ada yang berubah. Kalian juga akan tetap jadi sahabat istimewa gue," ucap Dinda sambil menatap Ayu dan Revi bergantian. "Oh so sweet," balas keduanya sambil kembali memeluk Dinda. Setelah acara peluk-pelukan, ketiganya berjalan menuju kelas. "Din, kita nongkrong, yuk. Hari ini kita bolos aja. Nggak papa. Iya kan, Rev," usul Ayu. "Betul, Din. Kangen nih, nongkrong bertiga," timpal Revi. "Ntar aja habis kuliah, gue gak mau bolos," jawab Dinda enteng. "Yah, Dinda. Gak asyik banget," ujar Ayu cemberut begitu pula Revi. "Ntar kita ke rumah gue aja. Kalian mau ngapain terserah, deh. Mau nonton, nyemil, makan sepuas kalian bisa. Bagaimana?" tawar Dinda. "Emang suami lo gak marah kalau kita main ke sana?" tanya Ayu ragu. "Kalian tenang aja. Suami gue udah jinak. Kita bebas melakukan apapun di rumah gue," terang Dinda. Ayu dan Revi saling memandang sejenak, lalu akhirnya setuju. Dinda senang bisa melupakan beban hidupnya meski hanya sebentar. Berinteraksi dengan teman-teman kuliah membuatnya melupakan masalah yang dia hadapi dalam rumah tangganya. *** Siang itu, selepas jam kuliah, Dinda mengajak Ayu dan Revi ke rumahnya. Rumah mewah di kawasan Royal Residence hadiah pernikahan dari mertuanya. "Gila, Din. Rumah lo gede banget! Apa bener rumah segede ini cuma lo tinggalin berdua sama suami?" tanya Ayu yang terkagum melihat kemewahan rumah Dinda. "Gak berdua, sih. Ada Mbok Narti dan Pak Alan tinggal bersama kami," jawab Dinda seraya mengajak kedua temannya naik ke kamar atas. "Oemji ... lo beruntung banget, Din. Meskipun dijodohkan, tapi lo dapet suami anaknya konglomerat terus ganteng pula," ucap Revi seraya berhenti di depan pigora foto pernikahan Dinda dan Putra yang di pajang di satu sisi dinding. "Bener, Din. Lo doa apa, sih? Ajarin gue, dong! Biar beruntung kek lo," ucap Ayu seraya menarik pergelangan tangan Dinda. "Eh, Din. Si Putra punya adik cowok gak? Kenalin ke gue, dong," pinta Revi memelas. "Kalian tuh, ya. Jangan pandang enaknya doang. Sebenarnya gue itu tak seberuntung seperti yang kalian pikirkan," ucap Dinda seraya menjatuhkan bobot tubuhnya ke ranjang setelah sampai di kamar, raut wajahnya terlihat sedih. "Eh, Din. Lo kenapa? Jangan sedih gitu, dong. Nanti cantiknya ilang, lho," ujar Ayu sambil duduk di samping Dinda dan merangkul pundak sahabatnya. "Lo ingat Satriyo, ya?" tanya Revi menyelidik seraya duduk di sisi Dinda yang lain. Kedua sahabat itu kini mengapit di sisi kanan dan kiri Dinda. Wanita itu menggeleng lemah, kedua matanya berkaca-kaca. "Din, jangan nangis, dong! Maafin kalau ada kata-kata gue yang bikin lo sedih," ucap Revi sambil memeluk Dinda, demikian juga Ayu. Mereka bertiga memang sahabat yang klop. "Kehidupan gue tak seindah yang kalian bayangkan," ucap Dinda sambil menghapus air mata setelah kedua sahabatnya itu melepaskan pelukan. Sementara Revi dan Ayu mendengar tanpa ingin memotong kalimat Dinda. "Hidup gue bagai di dalam sangkar emas. Suami yang tampan dan kaya seperti yang kalian bilang tidaklah nyata. Gue tidak bahagia." Dinda kembali menangis. Setelah berucap demikian, beban di pundak Dinda seolah sedikit berkurang. Dia tidak tahan lagi, ingin menceritakan semua beban hidup itu kepada dua sahabatnya. Sedangkan Ayu dan Revi masih tidak mengerti dengan arah pembicaraan sahabatnya itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD