Bab 8-Melihatmu Bersamanya

1250 Words
"Selamat siang, Pak Surya. Saya melihat Putra menemui wanita itu di kedai AA," ucap seorang pria yang tidak lain adalah Romi, orang kepercayaan Surya Adinata lewat sambungan telepon. "Bagaimana bisa? Tadi pagi dia berangkat dengan Dinda," ucap Surya kesal. "Putra mengantar Dinda ke kampus, lalu dia pergi menemui Safira," jelas Romi. "Kurang ajar! Ya sudah, lanjutkan tugasmu!" "Baik, Pak." "Harus dengan cara apa aku memisahkan kalian?" batin Surya kesal. Dia bukan tanpa alasan tidak menyetujui hubungan Putra dengan Safira. Masih teringat olehnya kejadian beberapa bulan yang lalu, saat Putra memperkenalkan Safira sebagai pacarnya di acara pertemuan para pengusaha se-Surabaya. Andreas, seorang pengusaha properti yang juga sahabat baik Surya tiba-tiba mendekatinya. "Apa Anda tidak salah memilih calon menantu, Pak Surya?" bisik lelaki bernama Andreas itu sambil melirik Safira. "Maksud Anda, Safira?" tanya Surya tak kalah lirih. "Benar, Pak Surya. Dia seorang Sugar Baby." Ucapan Andreas cukup mengejutkan Surya membuat kedua mata lelaki paruh baya itu melebar. "Anda yakin?" tanya Surya meyakinkan. "Dia pernah menjadi simpanan teman saya, seorang pengusaha properti dari Jakarta. Kalau Anda tidak percaya, silahkan selidiki!" Penjelasan Andreas membuat Surya tidak tenang. Akhirnya dia mengirim orang untuk menyelidiki Safira. Ternyata semua info Andreas tentang wanita itu benar adanya. Sejak saat itu, Surya menentang keras hubungan keduanya. Namun, Putra yang sudah di mabuk asmara tidak percaya jika kekasihnya ternyata seorang Sugar Baby. *** "Jadi, kamu tidur dengan Dinda?" Mata Safira melotot ketika Putra bercerita kejadian tadi malam. "Ya, mau bagaimana lagi? Ada Papi dan Mami, nggak mungkin aku keluar malam," jelas Putra. "Jangan bilang kalau kamu tadi malam khilaf dan--" "Aku nggak nglakuin apa-apa, Sayang! Udah kamu tenang aja. Aku gak bakalan berpaling dari kamu," sangkal Putra sambil mendaratkan bibirnya di pipi gadis seksi itu. Satu kecupan jatuh di pipi Safira membuat gadis itu tersenyum penuh kemenangan. Seorang Putra Alreza Adinata telah jatuh dalam genggamannya. Apapun yang dia inginkan pasti dipenuhi oleh anak konglomerat itu. Safira adalah seorang gadis yang terlahir dari seorang ibu tanpa pernikahan. Ibu dari Safira, Vonny hamil diluar nikah karena pacarnya tidak bertanggung jawab, lalu dia diusir oleh keluarga karena dianggap aib. Vonny yang putus asa dan hampir bunuh diri ditolong oleh seorang pria bernama Rudi, tapi kemudian pria itu menjadikannya pemuas nafsu. Setelah melahirkan Safira, Rudi menjual wanita itu pada para lelaki hidung belang. Akhirnya Vonny harus menerima takdir menjadi p*****r sampai akhir hayatnya. Wanita itu meninggal saat Safira berusia lima tahun karena menderita penyakit kelamin. Rudi kemudian membesarkan Safira dan menyatakan dirinya adalah adik dari Vonny. Setelah dewasa, nasib Safira tidak jauh beda dengan ibunya. Hanya saja, Safira lebih dominan menjadi simpanan om om golongan ekonomi kelas atas. Karena kecantikan dan kemolekan tubuhnya, Safira sangat diminati para Sugar Daddy yang rela mengeluarkan banyak uang untuk gadis itu. Tentu saja itu sangat menguntungkan Rudi. Namun, sejak mengenal Putra, Safira tidak lagi menjual diri. Dia punya misi besar untuk menjadi nyonya Adinata dan menguasai seluruh kekayaan keluarga konglomerat terkemuka di Surabaya itu. "Aku lagi suntuk, nih!" sungut Safira seraya mengaduk makanan di hadapannya tanpa berniat memakan. "Bagaimana kalau kita belanja? Biasanya moodmu akan menjadi baik kalau belanja." tawar Putra. "Boleh, Put. Ingat ya, bulan depan mobilku datang. Kamu beneran mau bayarin buat aku?" tanya Safira. Wanita itu mulai melancarkan serangan maut. "Ya beneran dong, Sayang! Apa sih yang enggak buat kamu!" jawab Putra seraya mencubit hidung mancung Safira. Wajah wanita itu seketika berubah cerah. Dia berdiri dan menarik tangan lelaki tampan di hadapannya. "Ayo, kita ke mall ya! Aku mau cari kado buat ulang tahun sepupuku," ucapnya seraya bergelayut manja di lengan kekar Putra. Keduanya berjalan mesra menuju parkiran mobil. Tanpa mereka sadari sepasang mata mengintai mereka. *** Suasana kampus Unesa siang itu begitu ramai. Para mahasiswa hilir mudik melintasi jalanan kampus. Tiga sahabat yang baru saja mengikuti kelas, keluar dengan penuh semangat. Dinda, Ayu dan Revi memesan taksi online yang akan membawa mereka ke mall untuk jalan-jalan. Siang itu, Dinda akan mentraktir semua belanjaan kedua sahabatnya. Tentu saja semua memakai kartu kredit dari Putra. "Kita makan dulu, ya! Laper, nih," ucap Dinda seraya memegangi perutnya. "Siap, Bu Bos," jawab Ayu dan Revi sambil tertawa cekikikan. Ketiganya kemudian mampir makan siang di sebuah rumah makan. "Din. Lo kok terlihat suntuk gitu? Harusnya lo bahagia, kan? Punya suami tampan, harta melimpah, mertua yang baik, pokoknya hidup lo itu sempurna," ucap Ayu di sela-sela menyantap makan siang mereka. Revi menyenggol lengan Ayu saat melihat kedua mata Dinda berkaca-kaca. "Din, maafin Ayu! Dia salah ngomong, ya?" tanya Revi hati-hati, takut menyinggung Dinda. "Nggak, kok. Kalian nggak salah apa-apa. Mungkin suasana hati gue saja yang sedang tidak baik," jawab Dinda. Ayu dan Revi saling memandang. "Din, kita sahabat lo, kan? Lo gak mau cerita apa-apa untuk berbagi beban?" Revi menggenggam tangan Dinda dan menatap lekat kedua mata sahabatnya itu. "Lo, ingat Satriyo?" Kali ini Ayu mendekati Dinda dan merangkul pundaknya. Wanita itu menggeleng. "Udahlah!! Kita ke sini kan mau bersenang-senang. Jadi, untuk sementara kita lupakan dulu semua." Dinda berdiri dan menghapus air matanya. "Lo beneran nggak papa, Din?" tanya Revi meyakinkan. "Nanti kalo udah siap, gue pasti cerita sama kalian," ucap Dinda sambil kedua tangannya memegang tangan sahabatnya. "Janji, ya!" Ayu mengacungkan kelingking kanannya. "Janji." Dinda pun menempelkan kelingking kanannya tanda setuju. Ketiganya kemudian meninggalkan rumah makan. Sebelum ke mall, mereka bertiga mampir ke sebuah butik. "Kita beli baju dulu, yuk! Buat ke acara ulang tahun Linda minggu depan," usul Ayu saat mereka telah sampai di depan butik langganan Ayu. "Boleh. Kalau nggak salah di pesta Linda nanti kita harus pakai gaun putih, ya?" tanya Dinda. "Iya, sedangkan aku gak punya gaun putih," ujar Revi. "Ya udah kita beli aja samaan. Kita kan geng," usul Dinda disambut persetujuan Ayu dan Revi. Linda adalah salah satu teman kuliah mereka yang minggu depan mengadakan pesta ulang tahun dan mengundang ketiganya. Pesta mewah yang akan di gelar di tempat terbuka dengan konsep pesta topeng. Jadi semua peserta wajib memakai topeng yang telah di berikan bersama undangan. "Oiya, sekalian kita beli kado juga, ya!" sahut Revi. "Boleh! Habis ini kita ke mall cari kado. Kalian yang pilih, ya! Gue ngikut aja," jawab Dinda santai. Revi dan Ayu tampak bersemangat memilih baju-baju.. Setelah membayar di Kasir, ketiga sahabat itu beralih ke mall. Suasana mall siang itu lumayan ramai. Mungkin karena banyak promo diskon. Ketika Ayu dan Revi sedang sibuk memilih kado di toko aksesoris, Dinda melihat seseorang yang amat dikenalnya sedang berjalan mesra dengan seorang wanita cantik di depan toko aksesoris. Mereka berhenti di toko perhiasan. "Din, lo liat apa?" Ayu tiba-tiba sudah di belakang Dinda. "Bukannya itu suami lo, Din?" tanya Ayu lagi. Gadis itu melotot tak percaya dengan apa yang dia lihat. "Ayo, kita samperin wanita itu! Beraninya dia mesra-mesraan gitu sama suami lo." Ayu menarik tangan Dinda, tapi wanita itu menahannya. "Kenapa lo diem aja, Din. Itu suami lo, kan?" Ayu tidak mengerti dengan sikap Dinda. Sahabatnya itu menolak untuk melabrak Putra dan selingkuhannya. "Ada apa?" Revi yang tiba-tiba muncul di belakang mereka memandang bingung kedua sahabatnya. Ayu hanya memberikan isyarat ke depan toko, dimana seorang wanita bergelayut mesra di lengan Putra sambil memilih perhiasan. "Putra Adinata ... siapa wanita itu?" Belum terjawab rasa penasaran Revi, Dinda sudah berlari keluar mall. Ayu dan Revi mengikutinya dari belakang. Ketiganya segera pulang dengan taksi. Air mata Dinda mulai mengalir membasahi pipi. Entah kenapa hatinya terasa sakit melihat Putra bersama wanita lain. Bukankah dia tahu benar, jika pria itu tidak pernah sedikit pun menganggapnya sebagai istri. Lalu untuk apa dia menangisinya? Sementara Ayu dan Revi hanya terdiam sambil memeluk sahabatnya tanpa berani bertanya apapun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD